
Siang itu jalanan panas luar biasa. Sambil menenteng
tote berisi amplop-amplop coklat berisi CV dan surat lamaran kerja April
berjalan di bawah teriknya matahari. Perutnya lapar, karena sedari pagi hanya
diisi air putih, hanya itu yang ada di kostannya. Ia bertekad hari ini
bagaimana caranya ia harus mendapatkan pekerjaan. Bahkan walaupun ia harus
mengetuk pintu semua kantor satu per satu.
April berhenti di depan sebuah pagar tinggi, ia
membuka ponselnya melihat sekali lagi alamat yang diberikan Staff HRD padanya
saat menghubunginya melalui chat semalam. April memastikan itu benar alamat
yang tepat. April menoleh ke kanan dan ke kiri mencari security atau satpam,
tapi tidak ada seorang pun yang terlihat. Sampai akhirnya April melihat
intercom di dinding dekat pintu masuk.
“Selamat siang, saya dengan April, kandidat
sekretaris untuk PT Sigma” katanya ke intercom
“Tunggu sebentar” terdengar suara perempuan membalas
Lalu pintu gerbang bergeser. April terhenyak. Ini
bukan PT ataupun kantor. Ini hanya rumah biasa, tidak bukan…ini adalah rumah
tinggal yang amat sangat besar. April mengutuk dalam hati. Padahal ia sudah
mencari informasi tentang perusahaan ini tadi malam. PT Sigma Abadi Sentosa
adalah sebuah anak perusahaan multinasional Indonesia. Perusahaan yang bergerak
di bidang Elektronik, Teknologi dan perangkat lunak, Ekspansi yang dilakukan
perusahaan ini selama 10 tahun terakhir sangat baik, sehingga semua anak
perusahaannya berkembang dengan baik dan semuanya jadi perusahaan multinasional
bahkan multi internasional, salah satunya adalah PT Sigma ini. Harusnya tadi
malam ia curiga kenapa alamat yang diberikannya bukan di cluster perkantoran
biasa atau di jalan protocol. Ini memang perumahan elit di tengah kota, banyak
__ADS_1
juga PT yang beralamat disini tapi melihat dari bentuknya dan suasananya yang
sepi, sudah jelas ini rumah. Nampaknya April terlalu bersemangat karena
mendapatkan panggilan dari perusahaan bonafide jadi tidak teliti. Pintu pagar
otomatis sudah menutup di belakangnya. April pasrah, jika ini penipuan dan
April harus pulang dengan tangan kosong. Yang pasti kalau ini penipuan yang
mengharuskannya membayar, April akan menjawab tidak ada uang, karena memang itu
kenyataannya.
Seorang laki-laki menunggunya di pintu masuk rumah.
Pakaiannya resmi dan rapi, terlihat pas dengan tubuhnya, sekilas April bisa
menilai pakaiannya yang mahal, ikat pinggang dengan logo merek mahal, sepatu
tali berkilat dengan kulit yang berkualitas tinggi, kemeja dengan cutting rapi,
April bisa menebak outlet tempat laki-laki ini membelinya. Rambut yang dipotong
dengan mode terkini, pas dengan bentuk
wajahnya dan dari jarak 5 langkah April bisa mencium parfum pria berharga jutaan yang dipakainya. April mulai tenang,
ini adalah human trafficker atau sindikat penjual ginjal yang sedang marak,
orang ini terlalu stylish
“April?”tanya laki-laki itu sambil menyodorkan
tangannya
“Betul” April menyambutnya sambil tersenyum
“Saya Andra Head of HR Department, masuk” katanya
sambil menyilakan April masuk ke rumah.
Sebuah foyer bergaya American menyambutnya, mereka
lalu berbelok menuju lorong panjang berlantai ala maroko berwaran biru dan
putih, dinding kanan penuh dengan lukisan-lukisan pelukis Indonesia dan
internasional. April mengenali lukisan Barli, Basuki Abdullah, dan
lukisan-lukisan beraliran romantisme yang terlihat bukan buatan orang
__ADS_1
Indonesia. di sebelah kiri dinding-dinding kaca mengarah ke taman luar yang
penuh bunga dan tumbuhan yang ditata rapi, gorden-gorden tebal dan tinggi
bergantung anggun di kiri dan kanan.
Andra membawa April ke sebuah ruangan sangat besar
penuh buku yang nampaknya ruang kerja di rumah besar itu.
Andra mempersilakannya duduk, lalu mulai interview.
Interview yang panjang dan melelahkan. April berusaha setengah mati untuk
fokus. Bukan karena pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Lebih karena April
merasa sangat lapar. Berkali-kali ia menahan nafas agar suara perutnya tidak
meraung di ruangan yang hening ini. Andra mengakhiri interview dengan puas.
“Setelah ini interview lanjutan dengan CEO ya April,
silahkan ditunggu” kata Andra sambil berdiri dari duduknya.
“Pak Andra maaf jika saya lancang, kalau ini benar
interview untuk CEO PT. Sigma, kenapa kita tidak interview di kantor pak?” tanya
April, masih dengan perasaan curiga, walaupun interview yang dilakukannya
dengan Andra sangat meyakinkan. Andra berhenti di pintu dan menoleh sambil
tersenyum
“Kalau interview dengan CEO ini kamu lolos, aku akan
kasih tau alasannya” katanya lalu menghilang di balik pintu.
April kembali limbung, bukan karena jawaban
menggantung dari Andra, namun asam lambungnya yang bergolak, membuat kepalanya
pusing dan membuatnya ingin muntah. April berjalan terhuyung-huyung menuju
pintu, berniat untuk mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang hanya
terisi cairan lambung. Tepat di pintu masuk, mualnya semakin tidak tertahan,
pandangannya berputar, mulutnya penuh, lalu semuanya gelap.
-It’s Getting Better-
__ADS_1