Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Petaka Pertama


__ADS_3

Siang itu jalanan panas luar biasa. Sambil menenteng


tote berisi amplop-amplop coklat berisi CV dan surat lamaran kerja April


berjalan di bawah teriknya matahari. Perutnya lapar, karena sedari pagi hanya


diisi air putih, hanya itu yang ada di kostannya. Ia bertekad hari ini


bagaimana caranya ia harus mendapatkan pekerjaan. Bahkan walaupun ia harus


mengetuk pintu semua kantor satu per satu.


April berhenti di depan sebuah pagar tinggi, ia


membuka ponselnya melihat sekali lagi alamat yang diberikan Staff HRD padanya


saat menghubunginya melalui chat semalam. April memastikan itu benar alamat


yang tepat. April menoleh ke kanan dan ke kiri mencari security atau satpam,


tapi tidak ada seorang pun yang terlihat. Sampai akhirnya April melihat


intercom di dinding dekat pintu masuk.


“Selamat siang, saya dengan April, kandidat


sekretaris untuk PT Sigma” katanya ke intercom


“Tunggu sebentar” terdengar suara perempuan membalas


Lalu pintu gerbang bergeser. April terhenyak. Ini


bukan PT ataupun kantor. Ini hanya rumah biasa, tidak bukan…ini adalah rumah


tinggal yang amat sangat besar. April mengutuk dalam hati. Padahal ia sudah


mencari informasi tentang perusahaan ini tadi malam. PT Sigma Abadi Sentosa


adalah sebuah anak perusahaan multinasional Indonesia. Perusahaan yang bergerak


di bidang Elektronik, Teknologi dan perangkat lunak, Ekspansi yang dilakukan


perusahaan ini selama 10 tahun terakhir sangat baik, sehingga semua anak


perusahaannya berkembang dengan baik dan semuanya jadi perusahaan multinasional


bahkan multi internasional, salah satunya adalah PT Sigma ini. Harusnya tadi


malam ia curiga kenapa alamat yang diberikannya bukan di cluster perkantoran


biasa atau di jalan protocol. Ini memang perumahan elit di tengah kota, banyak

__ADS_1


juga PT yang beralamat disini tapi melihat dari bentuknya dan suasananya yang


sepi, sudah jelas ini rumah. Nampaknya April terlalu bersemangat karena


mendapatkan panggilan dari perusahaan bonafide jadi tidak teliti. Pintu pagar


otomatis sudah menutup di belakangnya. April pasrah, jika ini penipuan dan


April harus pulang dengan tangan kosong. Yang pasti kalau ini penipuan yang


mengharuskannya membayar, April akan menjawab tidak ada uang, karena memang itu


kenyataannya.


Seorang laki-laki menunggunya di pintu masuk rumah.


Pakaiannya resmi dan rapi, terlihat pas dengan tubuhnya, sekilas April bisa


menilai pakaiannya yang mahal, ikat pinggang dengan logo merek mahal, sepatu


tali berkilat dengan kulit yang berkualitas tinggi, kemeja dengan cutting rapi,


April bisa menebak outlet tempat laki-laki ini membelinya. Rambut yang dipotong


dengan mode terkini, pas dengan  bentuk


wajahnya dan dari jarak 5 langkah April bisa mencium parfum pria berharga  jutaan yang dipakainya. April mulai tenang,


ini adalah human trafficker atau sindikat penjual ginjal yang sedang marak,


orang ini terlalu stylish


“April?”tanya laki-laki itu sambil menyodorkan


tangannya


“Betul” April menyambutnya sambil tersenyum


“Saya Andra Head of HR Department, masuk” katanya


sambil menyilakan April masuk ke rumah.


Sebuah foyer bergaya American menyambutnya, mereka


lalu berbelok menuju lorong panjang berlantai ala maroko berwaran biru dan


putih, dinding kanan penuh dengan lukisan-lukisan pelukis Indonesia dan


internasional. April mengenali lukisan Barli, Basuki Abdullah, dan


lukisan-lukisan beraliran romantisme yang terlihat bukan buatan orang

__ADS_1


Indonesia. di sebelah kiri dinding-dinding kaca mengarah ke taman luar yang


penuh bunga dan tumbuhan yang ditata rapi, gorden-gorden tebal dan tinggi


bergantung anggun di kiri dan kanan.


Andra membawa April ke sebuah ruangan sangat besar


penuh buku yang nampaknya ruang kerja di rumah besar itu.


Andra mempersilakannya duduk, lalu mulai interview.


Interview yang panjang dan melelahkan. April berusaha setengah mati untuk


fokus. Bukan karena pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Lebih karena April


merasa sangat lapar. Berkali-kali ia menahan nafas agar suara perutnya tidak


meraung di ruangan yang hening ini. Andra mengakhiri interview dengan puas.


“Setelah ini interview lanjutan dengan CEO ya April,


silahkan ditunggu” kata Andra sambil berdiri dari duduknya.


“Pak Andra maaf jika saya lancang, kalau ini benar


interview untuk CEO PT. Sigma, kenapa kita tidak interview di kantor pak?” tanya


April, masih dengan perasaan curiga, walaupun interview yang dilakukannya


dengan Andra sangat meyakinkan. Andra berhenti di pintu dan menoleh sambil


tersenyum


“Kalau interview dengan CEO ini kamu lolos, aku akan


kasih tau alasannya” katanya lalu menghilang di balik pintu.


April kembali limbung, bukan karena jawaban


menggantung dari Andra, namun asam lambungnya yang bergolak, membuat kepalanya


pusing dan membuatnya ingin muntah. April berjalan terhuyung-huyung menuju


pintu, berniat untuk mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang hanya


terisi cairan lambung. Tepat di pintu masuk, mualnya semakin tidak tertahan,


pandangannya berputar, mulutnya penuh, lalu semuanya gelap.


-It’s Getting Better-

__ADS_1


__ADS_2