
April dan Shakti makan di Tom’s sebuah restoran di
salah satu hotel bintang 5 di Ibukota, April ingin menyarankan untuk mereka
makan siang di tempat yang lebih humble, tapi suasana hati Shakti sedang sangat
baik, ia tidak mau merusaknya. Saat masuk ke restoran semua orang melihat
Shakti dari ujung rambut sampai ujung kaki, tentu saja karena penampilannya
yang norak. Shakti lalu meminta meja untuk 2 orang pada greeter di pintu masuk
restoran, Greeter itu bahkan tidak menutupi raut jijik di wajahnya melihat
penampilan Shakti. Untungnya Shakti tidak menyadarinya, ia asyik menelaah
botol-botol minuman di bar yang dipajang persis di samping meja greeter. Pada
kesempatan itu April berbisik pelan pada greeter itu
“Mba, walaupun penampilannya tidak meyakinkan, beliau
itu CEO PT Sigma” Seketika raut wajah greeter itu berubah 180 derajat, wajahnya
berubah sangaaaat ramah dan ia sendiri bahkan yang mengantarkan Shakti dan
April ke meja paling baik pemandangannya di samping jendela kaca besar. Shakti
memesan paket All You Can Eat yang paling mahal untuk berdua. Lalu Shakti
menceritakan tentang kejadian di meeting room
“Awalnya Nania menjelaskan pencapaian-pencapaiannya,
dia menjelaskan Revenue naik 4 persen lalu trend pembelian yang juga naik. Aku
cuma tanya kenaikan 4 persen berdasarkan apa dan dibandingkan dengan apa,
karena berdasarkan laporan yang kita buat semalam sampai 3 bulan yang lalu,
semua penjualan dan revenue terus menurun. Nania dan Juna tidak terima, oleh
karena itu perdebatan memanas. Aku selalu bisa mematahkan argument mereka
berdua berdasarkan summary yang kita buat semalam, mereka panik, gelagapan…”
“Aku bisa melihat Pak Andra tersenyum ditengah-tengan
perdebatan bapak dengan Nania dan Pak Juna”tambah April
“I bet he will” kata Shakti sambil tertawa tergelak
“Pada akhirnya Nania dan Juna kehabisan argument,
jadi mereka hanya berteriak-teriak tidak jelas sampai akhirnya Ayah menggebrak
meja dan kami dibubarkan. Meeting hari ini meeting paling memuaskan setelah
bertahun-tahun, aku baru merasakan lagi mengendalikan meeting hari ini semenjak
Nania menjadi direktur. Selama beberapa tahun terakhir aku sama sekali tidak
bisa mengikuti jalannya meeting karena data yang kumiliki terbatas, aku sama
sekali tidak mengetahui kemajuan perusahaan yang kubangun”
Waiter datang membawakan appetizer
“Aku benar-benar bersyukur kamu datang membantuku”
katanya lagi, April tersenyum senang, ia senang bisa berguna untuk bosnya.
Mereka lalu makan dengan tenang, agak sedikit kelaparan karena hanya sarapan
dengan selembar toast dan kopi.
Pada saat waiter membawakan bill, telepon masuk ke
ponsel Shakti, ia diminta kembali ke kantor. Shakti dan April bergegas kembali
ke kantor. Sesampainya di kantor Andra sudah menunggu di pintu masuk
“It look bad, really bad”katanya pada Shakti
“Setelah kalian pergi, mereka lanjut meeting.
Meetingnya tegang dan panas, sekretaris yang ikut di meeting sampai gemetaran
ngedengerinnya” kata Andra sembari menjajari Shakti dan April menuju lift
“Mereka berencana ngeluarin kamu dari perusahaan” kata
Andra di dalam lift, untungnya hanya ada mereka bertiga di dalamnya
“Gimana caranya, aku yang membangun perusahaan
ini”Shakti berang
“I have no Idea, tapi pastinya bakalan berdarah-darah
nanti di ruang meeting” Shakti dan Andra lalu melirik April
“Kamu mendingan jangan ikut ke ruang meeting Pril”
kata Shakti
“Iya, kamu ikut aku aja ke HR, kita selesaikan
kontrak kamu di kantor, kamu bawa salinan aslinya kan?” tanya Andra, April
mengangguk ia membawanya di dalam tasnya untuk diserahkan pada Andra, karena
kemarin Shakti dan April sibuk bekerja sehingga lupa mengirimkan hasil scan nya
via email.
April turun di lantai 23, sementara Shakti meneruskan
perjalanan ke lantai 33.
Shakti langsung menuju meeting room dimana Ayahnya,
ketiga kakaknya dan Nania menunggunya
“Langsung saja” kata Robby memulai meeting
“Kami sudah memutuskan kamu akan dikeluarkan dari
jajaran CEO seluruh perusahaan Sigma”kata Juna
“Efektif mulai hari ini”tambah Nania
“What, kalian gila ya, mana bisa aku dikeluarkan dari
seluruh perusahaan Sigma, aku salah satu Board of Directors, aku punya saham,
namaku tercatat dalam akta notaries seluruh perusahaan”tolak Shakti
“Saham kamu tidak akan diganggu gugat, hanya saja
kamu dipecat dan tidak bisa bekerja lagi di semua perusahaan Sigma”kata Juna
“Apa alasan kalian memecatku?” tanya Shakti
menantang, darahnya bergolak, ia sangat marah
“Kamu ngga bisa mengamuk seperti itu di meeting
tadi”kata Nania
__ADS_1
“Aku…mengamuk…aku menanyakan pertanyaan relevan di
meeting bulanan yang sudah seharusnya ditanyakan di setiap meeting, tapi tidak
bisa karena kalian berdua menyabotase laporan yang kalian kirimkan padaku”
tunjuk Shakti pada Nania dan Juna
“Tapi kamu mempermalukan aku di depan semua peserta
meeting” teriak Nania
“Kamu tidak akan malu kalau kamu bisa menjawab pertanyaanku”
ujar Shakti tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun
“Pokonya kamu DIPECAT”teriak Nania kesal
“Kamu cuma Direktur Nania, kamu ngga bisa memecat
CEO”kata Shakti, lagi-lagi tanpa menaikkan nada suaranya, yang membuat Nania
semakin menggila karena kesal
“Aku yang memecat kamu, sudah cukup kamu bikin onar
di perusahaan ini”kata Juna membela Nania
“Aku…aku Jun bikin onar, aku yang membangun
perusahaan ini Jun, dari 0 sampai sebesar ini”bantah Shakti
“Ya, itu benar tapi setelah Nania jadi direktur kamu
tidak berperan dalam kemajuan perusahaan” tukas Juna
“Itu karena kalian mengurangi ruang lingkup
pekerjaanku, dan membuat jadwalku penuh dengan kunjungan ke exhibition, lagian
menurut kalian siapa yang mengajari Nania sampai bisa menjadi Direktur?”menerima
kenyataan seperti itu wajah Nania memerah, Juna pun semakin marah
“Tanda tangan, kamu sudah tidak dibutuhkan lagi
disini” Nania melemparkan map berisi surat pemutusan kerja Shakti dengan marah
“No, alasan kalian ngga logis” tolak Shakti
“Adapun kalau mau kalian yang dipecat karena ketidak
mampuan memimpin perusahaan” ketus Shakti lagi. Juna menggebrak meja marah
namun tidak bisa membalas
“Kalau memang kamu merasa sehebat itu, kamu buat aja
lagi perusahaan ngga perlu bantuan Ayah” kata Juna yang sudah kehabisan
argument
“Apa-apaan ini, aku yang membantu expansi perusahaan,
disaat kalian buang-buang uang ayah dengan alasan ekspansi. Aku yang memulai
Sigma Cahaya Abadi, membangun kerjasama dengan China untuk mendapatkan harga
lebih murah, membangun kerjasama dengan pemerintah, dengan corporate, sampai
setelah perusahaan itu besar Ayah bilang serahkan pada Rezha dan Arby biar
mereka yang kelola. Apa aku marah saat itu, tidak, aku berikan perusahaan itu
karena aku sibuk dengan Sigma Abadi Sentosa ini, lalu setelah perusahaan ini
besar, aku akan ditendang juga…ayah ayo bicara, ini maksudnya apa?”
“Kamu buat saja perusahaan lagi Ti, nanti Ayah modali
biar jadi anak perusahaan Sigma Internasional” katanya enteng, Juna dan Nania
tidak bisa menahan senyuman kemenangannya
“Ayah juga…ayah lupa aku yang membantu perusahaan
ayah agar mendapatkan modal dari IPO setelah ayah memodali pabrik otomotif Juna
yang bangkrut total, menghabiskan 80 persen harta kekayaan ayah, membuat modal
yang diminta Arby untuk membuat Mall yang juga bangkrut dan modal yang diminta
Rezha yntuk membuat taman hiburan dan tempat hiburan malam yang juga bangkrut
itu seperti recehan. Aku…. Aku ayah yang membangun Sigma Internasional sebesar
ini dan ayah setuju dengan Juna dan Nania yang bukan bagian dari keluarga kita
untuk mengeluarkan aku dari perusahaan ini?”tanya Shakti frustasi
“HEH, JAGA MULUT KAMU YA” Arby berang ia langsung
berdiri dari duduknya dan menunjuk Shakti
“Setiap usaha ada pasang surutnya Shakti, kamu Cuma
beruntung aja” tambah Rezha yang kesal karena kegagalannya diungkit
“Bukan pasang surut kalau sudah gagal dari awal” kata
Shakti yang membuat Rezha membanting kursinya ke dinding, membuat seluruh
dinding kaca bergetar, mengagetkan ketiga sekretaris yang sedang bekerja
diluar. Untung saja dinding kaca itu tebal dan kuat sehingga tidak pecah dengan
lemparan sekuat itu
“Obsesi kamu berbahaya Shakti” kata Robby lagi
“Obsesi, obsesi apa yang ayah maksud?”tanya Shakti
heran
“Obsesi ingin menguasai semuanya” jawab Robby kali
ini dengan suara tegas
“Menguasai apa Ayah, apa salah kalau aku ingin
usahaku dihargai dan aku ingin perusahaan yang aku bangun dari nol berkembang
dengan baik?” tanya Shakti lagi
“Apa jangan-jangan ayah juga takut aku mengambil alih
perusahaan ayah, kalau iya ngapain aku membantu mengembangkan perusahaan ayah
saat ayah akan bangkrut, padahal orang-orang yang membuat perusahaan merugi
tenang-tenang saja tidak merasa bertanggung jawab?”tanya Shakti
“SUDAH CUKUP, kamu dipecat Shakti, dengan ataupun
tanpa tanda tangan kamu surat itu valid karena berisi tanda tangan kami semua.
Mulai hari ini jangan pernah menginjakkan lagi kaki di Sigma manapun” teriak
Robby lalu berdiri dan meninggalkan meeting room diikuti kakak-kakaknya dan Nania.
__ADS_1
Pikiran Shakti kacau, ia menghubungi Andra,
memintanya untuk menemuinya di Lobby.
“ Aku ngeliat Pak Robby, kakak-kakak mu dan Nania
keluar kantor berbarengan” kata Andra begitu ia bertemu dengan Shakti
“Kacau, parah, bener aku dipecat, gila” Shakti
bergerak-gerak kesal
“APA, terus gimana?”tanya Andra tidak percaya
“Aku ngga tau, aku ngga bisa berfikir jernih” kata
Shakti lalu pergi ke mobilnya. April yang bingung dan kaget berlari
mengikutinya masuk ke mobil. Shakti menatap April yang ikut masuk ke mobil
“Oh iya ada kamu ya…shit **** shit….” Jeritnya kesal
sambil memukuli setir
“Kalau bapak mau aku bisa pergi pak” ucap April
ketakutan
“Ngga, ngga, kamu bahkan ngga uang dan tempat
tinggal…SHIT” jeritnya lagi lalu menyalakan mobil dan memajukan mobilnya dengan
kencang. April buru-buru memasang seat belt dan memeluk tasnya.
“Kamu punya passport?”tanya Shakti tiba-tiba
“Ngga pak” jawab April gemetaran
“SHIT” umpatan Shakti semakin keras, ia lalu
mengeluarkan ponselnya dari saku, dan mencari sebuah nomor, Shakti menyalakan
handsfree dan melemparkan ponselnya ke dashboard
“Shakti, apa kabar bro….”terdengar suara laki-laki
saat sambungan telepon terhubung
“Bill, aku butuh bantuan…”kata Shakti, matanya terus
fokus ke jalan yang ramai
“Sure, apa yang bisa kubantu?” kata Bill
“Aku butuh passport untuk sekretarisku, bisakah aku
drive thru ke kantormu sekarang?” tanya Shakti lagi
“Tergantung, kalaupun dia bawa data yang kita
butuhkan, aku perlu waku untuk input, sekitar setengah jam, kalau tinggal foto
tandatangan dan cetak 5 menit cukup” jawab Bill
“A-aku punya foto Akta Lahir, KK dan KTP di ponselku”
cicit April pelan
“Good, kirimkan via wasap, kamu tinggal datang untuk
foto dan tanda tangan” ternyata Bill bisa mendengar suara April
“Thank you Bill, I owe you” ucap Shakti
“Kaya ke siapa aja Ti, anyway makasi wine nya ya,
kamu emang paling jago kalau soal milihin wine”
“Anytime bro, aku sampe ke kantor sekitar setengah
jam lagi ya”ucap Shakti
“OK” lalu sambungan telepon terputus
April buru-buru mengambil ponsel Shakti lalu
mengirimkan data dirinya melalui Whatsapp pada Bill. Sementara Shakti memacu
mobilnya semakin cepat, ia masuk ke tol dalam kota agar bisa menghindari
kemacetan. April sama sekali tidak ingin bertanya pada Shakti tentang apa yang
terjadi. Ia hanya berharap Shakti akan membaik seiring waktu.
Tak lama mereka sampai di kantor imigrasi besar.
Seorang pria dan wanita berseragam sudah menunggu mereka berdua. Shakti
memarkirkan mobil di dekat mereka. Ia lalu turun dan menyapa Bill yang ternyata
adalah seseorang dengan pangkat cukup tinggi di kantor imigrasi, sementara
April dibawa ke dalam kantor untuk foto. 5 menit kemudian buku passport terbaru
sudah tercetak rapi, siap untuk digunakan. April berterima kasih pada wanita
berseragam itu, lalu kembali ke parkiran. Bill terlihat sedang menepuk bahu
Shakti menguatkan.
“Semua beres?”tanya Bill saat April berjalan
mendekatinya
“Sudah Pak” jawab April
“Oke, safe flight ya. Take care Shakti” katanya pada
Shakti dan April
“Makasi banyak Bill” ucap Shakti sebelum menutup
pintu mobil.
Mobil pun melaju lagi, Shakti lagi-lagi mencari
sebuah nomor di ponselnya, memencetnya dan kembali melemparkannya ke dashboard
mobil
“Selamat siang Tuan Muda, ada yang bisa
dibantu?”terdengar suara pria saat telepon menyambung
“Siapkan pesawat jet, aku mau pergi” kata Shakti.
April terhenyak mendengar perintah Shakti yang meminta pesawat jet disiapkan,
begitu juga dengan panggilan Tuan Muda
“Baik Tuan, siap dalam 20 menit. Untuk perjalanan
kemana Tuan?” tanya orang itu lagi
“Singapore, langsung atur izin lepas landas dan
mendarat ya aku ngga mau ribet di Changi nanti”kata Shakti
“Baik Tuan Muda”lalu sambungan telepon diputus.
__ADS_1
Shakti lalu menginjak gas nya lagi menuju Bandara.
-It’s Getting Better-