Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Tergoda


__ADS_3

Shakti berdiri di bawah guyuran air dingin yang


mengalir deras dari shower. Ia mencoba menghilangkan bayangan tubuh April yang


melekat di kepalanya, membuatnya tergoda. Perasaan yang aneh merayap dari


dadanya ke seluruh tubuh, hangat dan aneh.


Setelah menyelesaikan mandi Shakti berganti pakaian


dan berjalan keluar kamar. Suasana diluar kamarnya teduh dan senyap. Biasanya


jam segini bibi membuka semua jendela agar cahaya matahari bisa masuk. Lalu


terdengar dengungan vacuum dan TV yang berisik menayangkan FTV. Tapi siang ini


semua tirai tertutup rapat, lampu ruangan padam, hanya beberapa lampu dekorasi


yang menyala.


Shakti mengecek April yang tertidur pulas karena


sudah meminum obatnya. April juga terlihat lebih tenang daripada sebelum


meminum obat. Tidurnya nyenyak, keningnya tidak terlalu panas, dan April sudah


tidak mengigau.


Shakti lalu menuju ruang kerjanya. Perpustakaan


sekaligus ruang kerjanya sangat besar dan luas, seperti yang ia bilang, awalnya


ini adalah 3 kamar dan 3 kamar mandi, ditambah dulunya ada ruangan-ruangan lain


yang tak kalah besarnya, membuat perpustakaan dan ruang kerja ini sebesar aula.


Dengan koleksi buku puluhan ribu banyaknya. Ruangan dengan pengatur suhu itu


dialasi karpet tebal dan bantal-bantal besar di beberapa sudut, sofa-sofa


nyaman dengan standing lamp di sudut-sudut lainnya. Lalu di sebuah sudut yang


menghadap ke taman terdapat sebuah meja kerja besar lengkap dengan satu set


computer dengan 8 layar masing-masing 4 layar berderet, printer dan peralatan


kerja lainnya di sekelilingnya. Shakti berjalan mendekati meja itu, menyalakan


lampu yang ada di sekelilingnya, tapi saat ia akan menyalakan computer PC nya,


Shakti teringat April di living room. Shakti mematikan kembali lampu yang tadi


dinyalakannya, membawa laptop, beberapa buku dan jurnal, sebuah pulpen lalu


berjalan keluar dari perpustakaan menuju dapur. Ia memutuskan untuk bekerja


dari sana hari ini sambil mengawasi April.


Beberapa jam kemudian April terbangun lagi, panasnya


sudah mulai turun, tubuhnya sudah tidak banyak berkeringat. Kebetulan pas


waktunya makan siang.


“Mau kemana Pril?”tanya Shakti tanpa menoleh, ia


mendengar ada pergerakan dari living room tempat April tertidur.


“Toilet Pak” jawab April pendek, ia kaget ternyata


Shakti sedang duduk di dapur dengan laptop dan buku bertebaran di meja makan


“Pakai yang di kamarku aja, kalau ke depan kejauhan”


ujar Shakti, April mengangguk mengiyakan, ia masih merasa pusing untuk berjalan


ke toilet yang ada di perpustakaan depan ditambah ia merasa kedinginan dengan


kaus lusuh yang basah oleh keringat


Shakti menatap punggung April yang masuk ke kamarnya,


imajinasinya saat mandi tadi terulang lagi di kepalanya. Shakti mengacak-acak


rambutnya yang kusut untuk menghilangkannya. Shakti pun menyadari April memeluk


dirinya sendiri saat memasuki kamar. Shakti tahu betul kaus April basah karena


keringat.


 Shakti berjalan menuju laundry roomnya, mengambil salah satu kausnya yang sudah dicuci


memasukkannya ke dalam lemari penyetrika otomatis miliknya agar pakaiannya


tidak kusut dan terasa hangat saat digunakan nanti. 5 menit kemudian kaus itu


selesai, hangat dan rapi. Shakti menggantungkannya di kursi lalu melanjutkan


pekerjaannya. April keluar dari kamar Shakti masih memeluk dirinya sendiri.


Selama di kamar mandi ia juga mencuci muka dan membersihkan diri sebisanya


“Ganti baju nih Pril, baju kamu pasti basah sama


keringat”Shakti mengendik pada kausnya yang digantung di sampingnya, April


tidak menolak, karena hanya kaus ini satu-satunya baju tidur yang dipunyanya


“Udah waktunya makan siang juga, kamu bisa pesenin


aku makan siang engga, kamu juga kalau mau pesen makan siang sekalian” pinta


Shakti


“Bisa pak, gapapa pak, aku makan bubur aja yang tadi


pagi bapak belikan masih banyak”jawab April lalu membawa kaus itu ke ruang


laundry dan mengganti pakaiannya disana


“Baju kamu masukkin ke mesin aja Pril, biar sekalian


digiling sama baju yang lainnya” teriak Shakti dari dapur. Setengah hati April


memasukkan kaus lusuhnya ke dalam mesin cuci canggih berisi cucian bosnya,


termasuk piyama sutra reinassance yang dipakai Shakti semalam, sekilas April


menyadari gambar reinassance yang menjadi motif piyama itu ternyata merek


Versace. Tapi akhirnya April memasukkan kausnya sesuai perintah, menyalakan


mesin cuci sesuai dengan jenis kain di dalamnya lalu merapikan diri sebelum


kembali ke dapur. April men-cepol rambut sepunggungnya, memastikan kaus kebesaran


milik bosnya menutupi bagian atas lututnya, lalu berjalan menuju dapur.


Shakti sempat menoleh melihat April keluar dari ruang


laundry, dadanya bergetar, April terlihat sangat menggemaskan. Ada perasaan


kuat di dadanya untuk menariknya ke pangkuannya dan memeluknya.


“Bapak mau makan siang apa?”tanya April sambil


berjalan mendekat, suaranya sudah tidak serak


“Hmmm, kamu bisa carikan sesuatu yang sehat, aku udah


makan gorengan tadi pagi” jawab Shakti

__ADS_1


“Sushi gimana pak?”April menawarkan


“Boleh, anyway kamu panasin bubur sendiri bisa kan


Pril? Anggap aja dapur sendiri”kata Shakti sambil menyodorkan ponselnya pada


April untuk digunakan memesan makanan


“Bisa pak” April dengan cepat meng-google salah satu


restoran sushi terkenal di kota, Chefnya orang Jepang, restoran ini pun salah


satu tujuan para ekspatriat untuk makan di kota.


“Bapak ada alergi?”tanya April sebelum memesan,


Shakti menggeleng


“Bapak ada preferensi, kesukaan, yang selalu dipesan


kalau makan sushi?”tanya April lagi, ia terbiasa menanyakan hal ini pada bos


dan managernya sebelum memesankan makanan untuk mereka


“Kayanya hari ini aku lagi ngga pengen makan mentah


Pril, itu aja”April mengangguk mengerti lalu mulai memesan sushi untuk Shakti.


Sambil memesan makanan, tangannya membuka-buka lemari mengeluarkan dua buah


gelas, lalu menuangkan air dingin dari dispenser kulkas 3 pintu milik Shakti.


Salah satu gelas diberikan April pada Shakti, ia pun selesai mematikan


sambungan telepon. Shakti memandanginya takjub


“Kenapa pak?”April malah bertanya melihat Shakti yang


keheranan


“Ini minum buat siapa?”tanya Shakti


“Buat bapak, aku lihat di meja belum ada gelas,


berarti dari semenjak aku tidur bapak belum minum air putih” jawab April sambil


tersenyum


“Kamu bisa tau letak gelas, dan bisa tangannya sambil


gitu, sambil nelepon, sambil pesen, sambil nanya menu, nanya total, bisa tau


juga alamat rumah disini”Shakti bingung sekaligus takjub, April tergelak


“Aku multitasking pak, semalam aku perhatiin bapak


ambil gelas dari mana, simpen piring dimana, cuci piring gimana, alamat rumah


aku inget dari alamat yang Pak Andra chat 2 hari lalu”


“Inget sedetail itu?”


“Iya pak,untuk beberapa hal penting aku cepat ingat,


diminum pak” April menggeserkan gelas Shakti, sementara ia pun menenggak


miliknya


“Pantes ya Andra bilang kamu bagus” komentar Shakti


lalu menghabiskan air miliknya, April tersenyum mendengarnya


“Kamu masih pusing, badan kamu gimana?”Shakti lalu


merapikan meja dari buku, jurnal dan laptopnya untuk persiapan makan siang


“Masih pusing dan lemas pak, tapi sudah ada tenaga


dan sudah merasa baikan sekarang”jujur April. Shakti mengangguk puas


makananku juga datang” April mengangguk lalu mengeluarkan kotak bubur dari


kulkas, dan menghangatkannya di microwave, mengeluarkan pocari sweat, dan


menata jeruk wokam di keresek ke mangkuk besar dan menyimpannya di meja makan.


Tepat ketika microwave berdenting, intercom depan pun berbunyi


“Biar aku aja yang ambil”kata Shakti sambil berdiri,


gerbang depan sangat jauh, ia kuatir April pingsan dijalan


“Tadi aku bilang paymentnya pake credit card ya


pak”ujar April sambil mengeluarkan mangkuk dari lemari. Shakti mengangguk lalu


bergegas ke kamarnya mengambil dompet, sekilas April bisa melihat dompet


panjang dengan merek mahal namun dengan model yang tidak trendy ditenteng


Shakti. April bertanya-tanya apa yang terjadi dengan bosnya ini. Shakti adalah


seorang old money, dalam beberapa hal, seperti seni, pengetahuan apalagi


perpustakaannya yang nampaknya koleksinya bisa mengalahkan perpustakaan daerah,


Shakti terlihat sangat well educated. Tapi kacamata super tebalnya, yang April


yakin minusnya pasti diatas minus 8, rambutnya yang selalu acak-acakan seperti


tidak terurus, piyama reinassance nya, mobilnya, dompetnya ada beberapa hal


yang membuatnya tidak trendy dan cenderung cupu, apalagi jika dibandingkan


dengan Pak Andra kemarin, seperti langit dan bumi. Padahal kalau dibandingkan


soal keuangan, nampaknya Shakti tidak kekurangan apapun. April menebak-nebak


apakah Shakti salah satu yang orang bilang konglomerat bergaya nyeleneh, yang


semakin kaya semakin ajaib penampilannya.


Tak lama Shakti datang membawa sekantung makanan dan


setumpuk kertas.


“Kamu pesen sup Pril?” tanya Shakti sambil mengangkat


kantung makanan


“Sup salmon pak buat bapak, udara agak dingin, aku


kuatir bapak ketularan sakit” ujar April, Shakti terkekeh


“Dingin tuh kata kamu aja, karena kamu lagi sakit,


tapi aku hargai pemikiran kamu. Kamu tau resto ini dari mana?”tanyanya sambil


memberikan kantung makanan pada April, yang langsung mengeluarkan makanan dan


menatanya di atas meja


“Aku suka baca review restoran dan hotel pak, sebagai


sekretaris, ini salah satu informasi yang aku harus tau. Restoran ini terkenal


diantara ekspatriate, jarang orang local yang tau, tadi aku sempat jual nama


bapak sama order takernya, makanya dia mau terima delivery, maaf ya pak” kata


April sambil nyengir, mendengarnya Shakti tergelak, memang luar biasa sekretaris

__ADS_1


barunya ini


Mereka lalu menikmati makan siang bersama, Shakti


memuji pilihan sushi April yang beragam, juga pilihan restorannya yang ternyata


sangat lezat.


“Nanti kalau udah ngga pusing dibaca itu ya, aku


minta kontrak kamu dari Andra, sementara sampai kamu sembuh kamu tinggal disini


aja dulu baru kita pikirin housing kamu gimana, kamu nanti cari kost dekat sini


aja, di kontrak aku state kamu kerjanya work from anywhere, tapi aku prefer


kamu kerja dari sini, pilih aja salah satu sudut di perpustakaan, nanti aku


minta orang install working desk dengan printer, photocopier apapun yang kamu


perlu” ujar Shakti sambil memakan sushinya


“Aku fix diterima pak?”tanya April kesenangan


“Ya fix lah, aku udah cerita masalah internal


perusahaan, udah nyuapin kamu juga, masa iya ngga diterima, inget kontrak 100


tahun” April bergerak-gerak kesenangan mendengarnya, ia lalu menyambar tangan


Shakti dan menjabatnya erat


“Makasi paaaaaaaaaakkkkk”jeritnya kesenangan sampai


tersedak, Shakti buru-buru menuangkan pocari sweat ke gelasnya lalu menyuruhnya


minum


“Udah lanjut makan, abis ini makan obat terus tidur


lagi biar cepet sembuh” kata Shakti


“Bapak mau lanjut kerja pak, ngga perlu aku


bantu?”tanya April sambil menunjuk tumpukan jurnal di ujung meja makan


“Kamu sembuh dulu aja, nanti baru bantu aku ya” April


mengangguk semangat dan berjanji dalam hati, besok ia harus sudah kembali sehat


.


April membereskan meja makan dan memasukkan peralatan


makan yang sudah kering di mesin pencuci piring ke lemari. Ia yang kesenangan


tidak menyadari gerak-geriknya diamati dengan seksama oleh Shakti yang semakin


lama semakin tertarik dengan April.


April tertidur cukup lama setelah minum obat. Saat ia


terbangun langit sudah gelap. Shakti tidak terlihat dimanapun. Pintu kamarnya


terbuka tapi Shakti tidak terlihat disana. April yang sudah merasa segar


berjalan kearah perpustakaan. Ia melihat salah satu standing lamp menyala,


Shakti terlihat tertidur di sofa dengan kacamata bergantung di tangannya dan


buku tebal di dadanya. Seperti biasa rambut kusut menutupi sebagian wajahnya,


April sangat penasaran dengan wajah dibalik rambut kusut itu. Karena selain itu


April sudah melihat seluruh tubuh Shakti yang tidak dibalut apapun. Dadanya


yang bidang, perutnya yang berlekuk 8, pahanya yang kencang, dan…


“April, astaga, kamu bikin aku kaget berdiri disana


kaya gitu” Shakti mengerejat terbangun, tentu saja penampakan April dengan


rambut terurai, kaus putih dan berdiri di tempat remang-remang pasti


mengejutkan apalagi Shakti tidak menggunakan kacamatanya.


“Maaf pak, aku ngga bermaksud mengagetkan”ujar April


dengan nada menyesal


“Udah lama kamu bangun, gimana perasaan


kamu?”tanyanya lalu memasang kacamata dan berusaha duduk


“Sekitar 10 menit pak, aku udah merasa lebih segar”


“Good, kita makan diluar malam ini” katanya lalu


berdiri dan mematikan lampu. Buku yang dipegangnya dikembalikan ke rak, lalu ia


berjalan ke samping April


“Aku mandi dulu kalau gitu pak”


“Nanti aja pulangnya biar sekalian tidur” tukas


Shakti


“Tapi badanku bau keringat dan lengket pak”


“Kamu pakai parfum aku aja, banyak tuh di


kamar”Shakti lalu jalan mendahului ke kamar. April mengaduk keresek pakaiannya


dan mengeluarkan celana jeans satu-satunya miliknya. Ia memasukkan kaus


kebesaran ke dalam jeans agar terlihat agak rapi, lalu mengikat rambutnya


“April, ayo sini pilih parfumnya kalau kamu mau” seru


Shakti dari kamar. Dengan perlahan April memasuki kamar, Shakti terlihat


menggunakan celana jeans dengan potongan yang sangat longgar, dan melepaskan


kemeja kotak-kotak merah hitam dari gantungan. April terhenyak dengan pilihan


pakaian Shakti, lagi-lagi tidak trendy.


“Di lemari ujung” tunjuk Shakti, April mendekati


lemari itu, Sementara Shakti memuji penampilan April yang lagi-lagi chic


walaupun dengan kaus kebesaran miliknya. Berbotol-botol parfum milik Shakti


berjejer rapi di lemari. Sayangnya lagi-lagi parfum yang Shakti miliki sangat


tidak trendy, baunya aneh walaupun keluaran rumah fashion terkenal. Secepat


kilat April mengendus satu per satu parfum yang ada di lemari, sampai ia


menemukan satu parfum usang di barisan belakang nampaknya sudah lama sekali


tidak digunakan, parfum dengan merek calvin klein seri BE, satu-satunya parfum


yang enak baunya menurut April.


“Ayo?” ajak Shakti dengan penampilannya yang unik,


rambut kusut yang seperti biasa menutupi sebagian wajahnya, kacamata super


tebal, kemeja kotak-kotak dan celana jeans gombrong.

__ADS_1


April mengangguk lalu mengikuti dari belakang.


-It’s Getting Better-


__ADS_2