
Shakti berdiri di bawah guyuran air dingin yang
mengalir deras dari shower. Ia mencoba menghilangkan bayangan tubuh April yang
melekat di kepalanya, membuatnya tergoda. Perasaan yang aneh merayap dari
dadanya ke seluruh tubuh, hangat dan aneh.
Setelah menyelesaikan mandi Shakti berganti pakaian
dan berjalan keluar kamar. Suasana diluar kamarnya teduh dan senyap. Biasanya
jam segini bibi membuka semua jendela agar cahaya matahari bisa masuk. Lalu
terdengar dengungan vacuum dan TV yang berisik menayangkan FTV. Tapi siang ini
semua tirai tertutup rapat, lampu ruangan padam, hanya beberapa lampu dekorasi
yang menyala.
Shakti mengecek April yang tertidur pulas karena
sudah meminum obatnya. April juga terlihat lebih tenang daripada sebelum
meminum obat. Tidurnya nyenyak, keningnya tidak terlalu panas, dan April sudah
tidak mengigau.
Shakti lalu menuju ruang kerjanya. Perpustakaan
sekaligus ruang kerjanya sangat besar dan luas, seperti yang ia bilang, awalnya
ini adalah 3 kamar dan 3 kamar mandi, ditambah dulunya ada ruangan-ruangan lain
yang tak kalah besarnya, membuat perpustakaan dan ruang kerja ini sebesar aula.
Dengan koleksi buku puluhan ribu banyaknya. Ruangan dengan pengatur suhu itu
dialasi karpet tebal dan bantal-bantal besar di beberapa sudut, sofa-sofa
nyaman dengan standing lamp di sudut-sudut lainnya. Lalu di sebuah sudut yang
menghadap ke taman terdapat sebuah meja kerja besar lengkap dengan satu set
computer dengan 8 layar masing-masing 4 layar berderet, printer dan peralatan
kerja lainnya di sekelilingnya. Shakti berjalan mendekati meja itu, menyalakan
lampu yang ada di sekelilingnya, tapi saat ia akan menyalakan computer PC nya,
Shakti teringat April di living room. Shakti mematikan kembali lampu yang tadi
dinyalakannya, membawa laptop, beberapa buku dan jurnal, sebuah pulpen lalu
berjalan keluar dari perpustakaan menuju dapur. Ia memutuskan untuk bekerja
dari sana hari ini sambil mengawasi April.
Beberapa jam kemudian April terbangun lagi, panasnya
sudah mulai turun, tubuhnya sudah tidak banyak berkeringat. Kebetulan pas
waktunya makan siang.
“Mau kemana Pril?”tanya Shakti tanpa menoleh, ia
mendengar ada pergerakan dari living room tempat April tertidur.
“Toilet Pak” jawab April pendek, ia kaget ternyata
Shakti sedang duduk di dapur dengan laptop dan buku bertebaran di meja makan
“Pakai yang di kamarku aja, kalau ke depan kejauhan”
ujar Shakti, April mengangguk mengiyakan, ia masih merasa pusing untuk berjalan
ke toilet yang ada di perpustakaan depan ditambah ia merasa kedinginan dengan
kaus lusuh yang basah oleh keringat
Shakti menatap punggung April yang masuk ke kamarnya,
imajinasinya saat mandi tadi terulang lagi di kepalanya. Shakti mengacak-acak
rambutnya yang kusut untuk menghilangkannya. Shakti pun menyadari April memeluk
dirinya sendiri saat memasuki kamar. Shakti tahu betul kaus April basah karena
keringat.
Shakti berjalan menuju laundry roomnya, mengambil salah satu kausnya yang sudah dicuci
memasukkannya ke dalam lemari penyetrika otomatis miliknya agar pakaiannya
tidak kusut dan terasa hangat saat digunakan nanti. 5 menit kemudian kaus itu
selesai, hangat dan rapi. Shakti menggantungkannya di kursi lalu melanjutkan
pekerjaannya. April keluar dari kamar Shakti masih memeluk dirinya sendiri.
Selama di kamar mandi ia juga mencuci muka dan membersihkan diri sebisanya
“Ganti baju nih Pril, baju kamu pasti basah sama
keringat”Shakti mengendik pada kausnya yang digantung di sampingnya, April
tidak menolak, karena hanya kaus ini satu-satunya baju tidur yang dipunyanya
“Udah waktunya makan siang juga, kamu bisa pesenin
aku makan siang engga, kamu juga kalau mau pesen makan siang sekalian” pinta
Shakti
“Bisa pak, gapapa pak, aku makan bubur aja yang tadi
pagi bapak belikan masih banyak”jawab April lalu membawa kaus itu ke ruang
laundry dan mengganti pakaiannya disana
“Baju kamu masukkin ke mesin aja Pril, biar sekalian
digiling sama baju yang lainnya” teriak Shakti dari dapur. Setengah hati April
memasukkan kaus lusuhnya ke dalam mesin cuci canggih berisi cucian bosnya,
termasuk piyama sutra reinassance yang dipakai Shakti semalam, sekilas April
menyadari gambar reinassance yang menjadi motif piyama itu ternyata merek
Versace. Tapi akhirnya April memasukkan kausnya sesuai perintah, menyalakan
mesin cuci sesuai dengan jenis kain di dalamnya lalu merapikan diri sebelum
kembali ke dapur. April men-cepol rambut sepunggungnya, memastikan kaus kebesaran
milik bosnya menutupi bagian atas lututnya, lalu berjalan menuju dapur.
Shakti sempat menoleh melihat April keluar dari ruang
laundry, dadanya bergetar, April terlihat sangat menggemaskan. Ada perasaan
kuat di dadanya untuk menariknya ke pangkuannya dan memeluknya.
“Bapak mau makan siang apa?”tanya April sambil
berjalan mendekat, suaranya sudah tidak serak
“Hmmm, kamu bisa carikan sesuatu yang sehat, aku udah
makan gorengan tadi pagi” jawab Shakti
__ADS_1
“Sushi gimana pak?”April menawarkan
“Boleh, anyway kamu panasin bubur sendiri bisa kan
Pril? Anggap aja dapur sendiri”kata Shakti sambil menyodorkan ponselnya pada
April untuk digunakan memesan makanan
“Bisa pak” April dengan cepat meng-google salah satu
restoran sushi terkenal di kota, Chefnya orang Jepang, restoran ini pun salah
satu tujuan para ekspatriat untuk makan di kota.
“Bapak ada alergi?”tanya April sebelum memesan,
Shakti menggeleng
“Bapak ada preferensi, kesukaan, yang selalu dipesan
kalau makan sushi?”tanya April lagi, ia terbiasa menanyakan hal ini pada bos
dan managernya sebelum memesankan makanan untuk mereka
“Kayanya hari ini aku lagi ngga pengen makan mentah
Pril, itu aja”April mengangguk mengerti lalu mulai memesan sushi untuk Shakti.
Sambil memesan makanan, tangannya membuka-buka lemari mengeluarkan dua buah
gelas, lalu menuangkan air dingin dari dispenser kulkas 3 pintu milik Shakti.
Salah satu gelas diberikan April pada Shakti, ia pun selesai mematikan
sambungan telepon. Shakti memandanginya takjub
“Kenapa pak?”April malah bertanya melihat Shakti yang
keheranan
“Ini minum buat siapa?”tanya Shakti
“Buat bapak, aku lihat di meja belum ada gelas,
berarti dari semenjak aku tidur bapak belum minum air putih” jawab April sambil
tersenyum
“Kamu bisa tau letak gelas, dan bisa tangannya sambil
gitu, sambil nelepon, sambil pesen, sambil nanya menu, nanya total, bisa tau
juga alamat rumah disini”Shakti bingung sekaligus takjub, April tergelak
“Aku multitasking pak, semalam aku perhatiin bapak
ambil gelas dari mana, simpen piring dimana, cuci piring gimana, alamat rumah
aku inget dari alamat yang Pak Andra chat 2 hari lalu”
“Inget sedetail itu?”
“Iya pak,untuk beberapa hal penting aku cepat ingat,
diminum pak” April menggeserkan gelas Shakti, sementara ia pun menenggak
miliknya
“Pantes ya Andra bilang kamu bagus” komentar Shakti
lalu menghabiskan air miliknya, April tersenyum mendengarnya
“Kamu masih pusing, badan kamu gimana?”Shakti lalu
merapikan meja dari buku, jurnal dan laptopnya untuk persiapan makan siang
“Masih pusing dan lemas pak, tapi sudah ada tenaga
dan sudah merasa baikan sekarang”jujur April. Shakti mengangguk puas
makananku juga datang” April mengangguk lalu mengeluarkan kotak bubur dari
kulkas, dan menghangatkannya di microwave, mengeluarkan pocari sweat, dan
menata jeruk wokam di keresek ke mangkuk besar dan menyimpannya di meja makan.
Tepat ketika microwave berdenting, intercom depan pun berbunyi
“Biar aku aja yang ambil”kata Shakti sambil berdiri,
gerbang depan sangat jauh, ia kuatir April pingsan dijalan
“Tadi aku bilang paymentnya pake credit card ya
pak”ujar April sambil mengeluarkan mangkuk dari lemari. Shakti mengangguk lalu
bergegas ke kamarnya mengambil dompet, sekilas April bisa melihat dompet
panjang dengan merek mahal namun dengan model yang tidak trendy ditenteng
Shakti. April bertanya-tanya apa yang terjadi dengan bosnya ini. Shakti adalah
seorang old money, dalam beberapa hal, seperti seni, pengetahuan apalagi
perpustakaannya yang nampaknya koleksinya bisa mengalahkan perpustakaan daerah,
Shakti terlihat sangat well educated. Tapi kacamata super tebalnya, yang April
yakin minusnya pasti diatas minus 8, rambutnya yang selalu acak-acakan seperti
tidak terurus, piyama reinassance nya, mobilnya, dompetnya ada beberapa hal
yang membuatnya tidak trendy dan cenderung cupu, apalagi jika dibandingkan
dengan Pak Andra kemarin, seperti langit dan bumi. Padahal kalau dibandingkan
soal keuangan, nampaknya Shakti tidak kekurangan apapun. April menebak-nebak
apakah Shakti salah satu yang orang bilang konglomerat bergaya nyeleneh, yang
semakin kaya semakin ajaib penampilannya.
Tak lama Shakti datang membawa sekantung makanan dan
setumpuk kertas.
“Kamu pesen sup Pril?” tanya Shakti sambil mengangkat
kantung makanan
“Sup salmon pak buat bapak, udara agak dingin, aku
kuatir bapak ketularan sakit” ujar April, Shakti terkekeh
“Dingin tuh kata kamu aja, karena kamu lagi sakit,
tapi aku hargai pemikiran kamu. Kamu tau resto ini dari mana?”tanyanya sambil
memberikan kantung makanan pada April, yang langsung mengeluarkan makanan dan
menatanya di atas meja
“Aku suka baca review restoran dan hotel pak, sebagai
sekretaris, ini salah satu informasi yang aku harus tau. Restoran ini terkenal
diantara ekspatriate, jarang orang local yang tau, tadi aku sempat jual nama
bapak sama order takernya, makanya dia mau terima delivery, maaf ya pak” kata
April sambil nyengir, mendengarnya Shakti tergelak, memang luar biasa sekretaris
__ADS_1
barunya ini
Mereka lalu menikmati makan siang bersama, Shakti
memuji pilihan sushi April yang beragam, juga pilihan restorannya yang ternyata
sangat lezat.
“Nanti kalau udah ngga pusing dibaca itu ya, aku
minta kontrak kamu dari Andra, sementara sampai kamu sembuh kamu tinggal disini
aja dulu baru kita pikirin housing kamu gimana, kamu nanti cari kost dekat sini
aja, di kontrak aku state kamu kerjanya work from anywhere, tapi aku prefer
kamu kerja dari sini, pilih aja salah satu sudut di perpustakaan, nanti aku
minta orang install working desk dengan printer, photocopier apapun yang kamu
perlu” ujar Shakti sambil memakan sushinya
“Aku fix diterima pak?”tanya April kesenangan
“Ya fix lah, aku udah cerita masalah internal
perusahaan, udah nyuapin kamu juga, masa iya ngga diterima, inget kontrak 100
tahun” April bergerak-gerak kesenangan mendengarnya, ia lalu menyambar tangan
Shakti dan menjabatnya erat
“Makasi paaaaaaaaaakkkkk”jeritnya kesenangan sampai
tersedak, Shakti buru-buru menuangkan pocari sweat ke gelasnya lalu menyuruhnya
minum
“Udah lanjut makan, abis ini makan obat terus tidur
lagi biar cepet sembuh” kata Shakti
“Bapak mau lanjut kerja pak, ngga perlu aku
bantu?”tanya April sambil menunjuk tumpukan jurnal di ujung meja makan
“Kamu sembuh dulu aja, nanti baru bantu aku ya” April
mengangguk semangat dan berjanji dalam hati, besok ia harus sudah kembali sehat
.
April membereskan meja makan dan memasukkan peralatan
makan yang sudah kering di mesin pencuci piring ke lemari. Ia yang kesenangan
tidak menyadari gerak-geriknya diamati dengan seksama oleh Shakti yang semakin
lama semakin tertarik dengan April.
April tertidur cukup lama setelah minum obat. Saat ia
terbangun langit sudah gelap. Shakti tidak terlihat dimanapun. Pintu kamarnya
terbuka tapi Shakti tidak terlihat disana. April yang sudah merasa segar
berjalan kearah perpustakaan. Ia melihat salah satu standing lamp menyala,
Shakti terlihat tertidur di sofa dengan kacamata bergantung di tangannya dan
buku tebal di dadanya. Seperti biasa rambut kusut menutupi sebagian wajahnya,
April sangat penasaran dengan wajah dibalik rambut kusut itu. Karena selain itu
April sudah melihat seluruh tubuh Shakti yang tidak dibalut apapun. Dadanya
yang bidang, perutnya yang berlekuk 8, pahanya yang kencang, dan…
“April, astaga, kamu bikin aku kaget berdiri disana
kaya gitu” Shakti mengerejat terbangun, tentu saja penampakan April dengan
rambut terurai, kaus putih dan berdiri di tempat remang-remang pasti
mengejutkan apalagi Shakti tidak menggunakan kacamatanya.
“Maaf pak, aku ngga bermaksud mengagetkan”ujar April
dengan nada menyesal
“Udah lama kamu bangun, gimana perasaan
kamu?”tanyanya lalu memasang kacamata dan berusaha duduk
“Sekitar 10 menit pak, aku udah merasa lebih segar”
“Good, kita makan diluar malam ini” katanya lalu
berdiri dan mematikan lampu. Buku yang dipegangnya dikembalikan ke rak, lalu ia
berjalan ke samping April
“Aku mandi dulu kalau gitu pak”
“Nanti aja pulangnya biar sekalian tidur” tukas
Shakti
“Tapi badanku bau keringat dan lengket pak”
“Kamu pakai parfum aku aja, banyak tuh di
kamar”Shakti lalu jalan mendahului ke kamar. April mengaduk keresek pakaiannya
dan mengeluarkan celana jeans satu-satunya miliknya. Ia memasukkan kaus
kebesaran ke dalam jeans agar terlihat agak rapi, lalu mengikat rambutnya
“April, ayo sini pilih parfumnya kalau kamu mau” seru
Shakti dari kamar. Dengan perlahan April memasuki kamar, Shakti terlihat
menggunakan celana jeans dengan potongan yang sangat longgar, dan melepaskan
kemeja kotak-kotak merah hitam dari gantungan. April terhenyak dengan pilihan
pakaian Shakti, lagi-lagi tidak trendy.
“Di lemari ujung” tunjuk Shakti, April mendekati
lemari itu, Sementara Shakti memuji penampilan April yang lagi-lagi chic
walaupun dengan kaus kebesaran miliknya. Berbotol-botol parfum milik Shakti
berjejer rapi di lemari. Sayangnya lagi-lagi parfum yang Shakti miliki sangat
tidak trendy, baunya aneh walaupun keluaran rumah fashion terkenal. Secepat
kilat April mengendus satu per satu parfum yang ada di lemari, sampai ia
menemukan satu parfum usang di barisan belakang nampaknya sudah lama sekali
tidak digunakan, parfum dengan merek calvin klein seri BE, satu-satunya parfum
yang enak baunya menurut April.
“Ayo?” ajak Shakti dengan penampilannya yang unik,
rambut kusut yang seperti biasa menutupi sebagian wajahnya, kacamata super
tebal, kemeja kotak-kotak dan celana jeans gombrong.
__ADS_1
April mengangguk lalu mengikuti dari belakang.
-It’s Getting Better-