
Shakti terbangun pukul 6 seperti biasa, saat keluar
ia melihat April sudah duduk di meja dapur dan ada beberapa laporan yang sudah
selesai di print di atas meja
“Pagi pak” sapa April melihat Shakti keluar dari
kamar
“Aku buatkan espresso?”April menawarkan
“Boleh” jawab Shakti sambil menggaruk rambut
kusutnya, lalu membetulkan kacamata tebalnya
April bergerak dari depan laptop lalu menyalakan
mesin espresso. Ia sendiri sudah menghabiskan botol terakhir pocari sweat dari kulkas. Yang pertama kali
dilakukan Shakti adalah menelaah April, pagi ini April menggunakan pakaian
dalam lengkap. Nampaknya cuciannya sudah kering. April merapikan cuciannya
pagi-pagi sekali lalu langsung melanjutkan pekerjaannya semalam.
“Espressonya pak” April menyodorkan segelas espresso
lalu kembali menyelesaikan laporannya
“Kamu bangun jam berapa Pril?” tanya Shakti lalu
menyesap kopinya
“Sejam yang lalu pak” kata April
“Aku minta maaf soal semalam, aku agak lelah, maaf
kalau kamu jadi kaget”pinta Shakti
“Iya pak, it is fine, makanya aku bangun pagi-pagi
untuk menyelesaikan laporan, siapa tau suasana hati bapak bisa berubah melihat
laporan sudah selesai semua”kata April sambil tersenyum lalu berjalan ke
perpustakaan
“Kamu mau kemana?”tanya Shakti
“Ambil hasil report yang aku print di perpustakaan
pak, ini yang terakhir” Tak lama April
kembali dengan setumpuk kertas.
“Kamu kok bisa tau cara print dan lain-lain, aku kan
belum kasih tau”tanya Shakti, di atas meja kedua laptop sudah di set up agar
sesuai dengan report yang sudah di print oleh April.
“Itu mah basic pak, aku terbiasa cari jalan keluar
sendiri sebelum tanya orang lain”jawab April, ia lalu menyusun laporan dan
membiarkan Shakti membaca semuanya
“Wow, ini akurat Pril, aku kagum” April tersenyum
bangga mendengarnya
“Bapak perlu report-report ini untuk apa?”tanya April
melihat Shakti begitu serius
“Aku ingin bisa mengomentari monthly meeting minggu
depan, aku ingin tahu perkembangan perusahaan yang aku majukan sampai sebesar
ini, aku ingin tahu kemana arah development, apa saja rencana yang dibuat
perusahaannya, coba bayangkan Pril, aku yang membangun perusahaan ini sampai
sebesar ini, lalu sekarang aku benar-benar dibutakan dari segala urusan
perusahaan” April mengerti perasaan itu. Shakti pasti merasa dikhianati
terang-terangan oleh seluruh keluarganya, bahkan pacarnya yang sekarang menjadi
mantannya
“Berarti bapak perlu seluruh report bulan ini…”tebak
April
“Bulan ini dan 3 bulan ke belakang”tegas Shakti,
April nyengir
“Kalau aja laporan yang Nania berikan padaku seakurat
laporan kamu, aku ngga perlu belajar nyusun laporan sendiri” tambahnya sambil
menghabiskan espressonya
“Seengganya masih ada beberapa hari sebelum monthly
meeting pak, kita bisa bikin up to date report, laporan 3 bulan ke belakang,
dan bapak juga bisa bikin development dan planning estimation yang bapak perlu
untuk nanti ditanyakan di meeting”
“Oh My God….kamu benar-benar penyelamat hidup April…inilah
sekretaris yang aku perlukan” puji Shakti sambil memegang bahu April dengan
bangga
“Jangan lupa tanda tangan kontrak…”Shakti teringat
“Done…”April menyerahkan kontrak yang sudah di paraf
tiap halaman, dan ditandatangani di atas materai di halaman terakhir, Shakti
tertawa melihatnya. April Sekretaris sempurna.
“Aku nemu materai di salah satu laci di perpustakaan,
kontrak sudah aku scan juga, tinggal bapak kirim ke Pak Andra”
“Kamu tuh luar biasa tau ngga?”puji Shakti lagi,
tiba-tiba ponselnya berdering Shakti menerimanya, itu dari Andra, sesaat Shakti
memuji Andra karena memilihkan April untuknya, namun sedetik kemudian raut
wajahnya berubah serius, lalu keningnya berkerut ia terlihat marah
“Mereka pasang apa…?!”teriak Shakti kesal
“Mereka pasang pemberitahuan setiap kamu download
data apapun dari system, pagi ini IT support nemuin kamu download data banyak
banget dari system, mereka lapor ke Nania, dan dia panik, monthly report yang
harusnya minggu depan ditarik jadi besok, lagian kamu ngapain juga download
data sih Ti, kamu ngga bisa juga bikin summary nya”keluh Andra
“Shit, Aku perlu terlibat di monthly meeting Ndra,
udah berapa lama Aku dibiarin kaya orang bego ngang ngong ngang ngong tiap
meeting karena Nania selalu ngasih data yang ngga akurat, ini perusahaan yang
aku bangun dan aku besarkan Ndra you know it”ucap Shakti dengan nada tinggi
“Yeah, I know its sucks, dan aku selalu kesal kalau
Nania memanipulasi meeting dengan ngejelekin kamu biar dia dianggap berhasil
dan berprestasi di depan CEO, padahal apa yang dia tau sekarang, semuanya kamu
yang ajarin” kata Andra
“Dan sayangnya aku ngga bisa bantu, she is my boss
after all, tapi gara-gara ini semua anak buahku harus lembur ngejain laporan,
mereka bakalan merajuk sampai waktu gajian” keluh Andra lagi
“I’ll send something to the office, bantu cc
reportnya ya Ndra” pinta Shakti
__ADS_1
“I’ll see what I can do” jawab Andra lalu memutus
sambungan telepon
Shakti terlihat kacau, April melihatnya dan
mendiamkannya sejenak sampai Shakti menghampiri April lalu menceritakan
percakapannya dengan Andra
“BESOK PAK?”tanya April kaget
“Iya besok”wajahnya terlihat stress, April langsung
bereaksi
“Tenang pak, tarik nafas, gini… lihat sisi baiknya,
aku sudah bikin summary dari laporan 3 bulan ke belakang, kita bisa mulai dari
sana, untuk yang month to date nanti kita tunggu cc dari dari Pak Andra”usul
April. Mata Shakti akhirnya bersinar
“Thank you for being my secretary, oke sekarang kita
mulai dari mana dulu?” Shakti lalu duduk menghadap laptop di meja makan,
“Kita mulai dengan sarapan dulu, mandi lalu mulai
bekerja pak” kata April, Shakti setuju
“Telepon Ricky kamu atur untuk sarapan kita, kemarin
dia janji mau kirim bubur untuk sarapan kan” Shakti memberikan ponselnya, April
menerimanya tanpa melihat dan tangan mereka bersentuhan dengan tidak sengaja.
Reflek Shakti dan April saling menatap. April buru-buru memalingkan wajahnya,
karena walaupun ia tidak bisa melihat mata Shakti dengan jelas karena tertutup
rambut yang kusut dan kacamata yang tebal, fakta bahwa 2 hari yang lalu April
sudah melihat seluruh tubuh Shakti secara nyata membuatnya canggung.
Dilain pihak, menatap mata April menjadi candu untuk
Shakti. Sejauh ini apa yang dilakukan April untuknya sangat ajaib.
April menego Ricky agar penawarannya untuk
mengirimkan makanan 3 hari berturut-turut digantikan dengan makanan untuk makan
3 kali hari ini, dan Ricky setuju.
Shakti keluar dengan rambut basah setelah mandi, kali
ini dengan piyama yang tak kalah norak dan menor seperti yang sebelumnya.
“Aku sudah pesan makanan dari Ricky untuk hari ini,
jadi dia akan kirim makan pagi, siang dan malam untuk kita alih-alih breakfast
untuk 3 hari ke depan” Shakti mengangguk setuju, lalu menyilakan April
menggunakan kamar mandinya.
Setelah mandi, April menggunakan kembali kemeja milik
Shakti yang digunakannya 2 hari lalu, kemeja itu kini kering dan bersih karena
sudah dicucinya kemarin. April tidak menggunakan pakaian kerja yang
dimilikinya, ia kuatir besok Shakti akan mengajaknya untuk ikut meeting di
kantor, dan April hanya memiliki satu pakaian kerja yang pantas.
Saat April keluar dari kamarnya menggunakan kemeja
putihnya yang terlihat sangat kebesaran di tubuhnya yang mungil isi kepala Shakti
menggila. Betapa ia berharap April adalah kekasihnya sehingga ia bisa melakukan
apapun yang gairahnya inginkan saat ini.
“Teeet” terdengar suara dari intercom, itu Ricky
mengantar makanan. Shakti buru-buru berlari ke gerbang sebelum tubuhnya yang
terangsang menguasainya. Ricky bilang akan datang lagi untuk makan siang dan
mengatur nafas dan berusaha fokus dengan apa yang akan dikerjakannya.
April sudah mengatur meja makan untuk mereka bekerja.
Mereka lalu sarapan dengan cepat, dan mulai bekerja.
Memiliki April di sampingnya merupakan anugerah untuk
Shakti. Sebagai sekretaris April membantu Shakti fokus dengan apa yang harus
dipikirkannya. April mengetik rapi semua catatan Shakti. Ia pun memberikan
masukkan yang cerdas pada Shakti untuk meetingnya besok pagi. Waktu berjalan
sangat cepat, tiba-tiba saja sudah malam dan Ricky mengantarkan makan malam
yang dipesan April.
“Pak, tadi pagi bapak bilang mau mengirimkan sesuatu
ke karyawan yang lembur di kantor?” April mengingatkan
“Ah iya, mereka semua pasti sedang lembur sekarang, menurutmu
pesan apa ya yang semua orang suka?”tanyanya
“Pizza?” saran April, Shakti mengangguk setuju.
“Kirim berapa Pak?” tanya April sambil membuka situs restoran
pizza terbesar di Indonesia
“Bagaimana kalau lima, untuk departemen HR” jawab
Shakti, April lalu berfikir sebentar
“Aku ada ide yang mungkin bisa bikin bapak bangkrut”
kata April sambil memperhatikan Shakti yang mengeluarkan makanan dari kantong
“Shoot…”jawab Shakti menantang
“Saat ini pasti semua karyawan bapak sedang lembur
karena monthly meeting diubah besok, bagaimana kalau kita kirim saja mereka
semua pizza, mencegah ada kesenjangan social juga kalau bapak hanya mengirim ke
departemen HR” usul April
“Setuju, karyawanku kurang lebih ada 436 orang,
menurutmu kita harus kirim berapa?”April lalu menghitung,
“Delapan puluh pizza rasanya cukup Pak” kata April
“Pesankan 100, jadi kalau ada sisanya bisa mereka
bawa pulang” kata Shakti
“Oke, karena kalau pesan 100 langsung dari 1 outlet
akan memakan waktu lama, aku akan pesan dari 5 outlet sekaligus” Shakti mengangguk setuju lalu menyerahkan
Black Cardnya pada April
“Pesankan minumannya juga sekalian, jangan
pelit-pelit” katanya sambil mengambil alat makan dari lemari. April mengangguk
setuju lalu mulai memesan.
April lalu memesankan masing-masing 20 pizza ukuran
jumbo dan berbotol-botol softdrink dari 5 outlet di sekeliling kantor PT.
Sigma, lalu meminta 100 dus pizza itu dibagikan ke setiap departemen.
“Ti, ini kamu yang kirim pizza sebanyak
ini?”tiba-tiba Andra menelepon Shakti
“I told you I’ll send something” kata Shakti sambil
tersenyum pada April, April membalas senyumannya senang
__ADS_1
“Semua karyawan langsung senang dan semangat bikin
laporan, Nania kaget dan semakin marah, dia pikir ini cara kamu untuk mengambil
hati karyawan”kata Andra sambil tertawa
“Is it works?”tanya Shakti
“Bisa jadi, kalau melihat mereka kesenangan seperti
ini sih, aku sudah pastikan juga ke tiap departemen untuk mention bahwa Pak
Shakti yang kirim ini ke kantor”Shakti tertawa mendengarnya
“Aku udah cc semua laporan ke emailmu, nanti kalau
Nania tanya aku akan jawab kalau emailmu dimasukkan ke sub email oleh IT” Andra
tertawa lagi dengan nada licik, Shakti ikut tertawa.
“Oke, See you on the warzone tomorrow, thank you
again”Andra lalu menutup sambungan telepon
“Kita makan dulu, setelah itu kita bedah email
laporan yang dikirim Andra” perintah Shakti, April mengangguk mengerti lalu
membereskan meja makan untuk mereka berdua makan.
“Kamu lahir di
kota ini Pril?”tanya Shakti sambil menyendok butter rice nya, April menyodorkan
ayam wijen dan tumis brokoli jamur padanya
“Aku lahir di kota kecil pak, Ibu dan ayahku kawin
lari, makanya aku tidak kenal satupun saudara dari ayah ataupun ibu. Setelah
aku lahir ayah membawa kami pindah ke kota ini. Kami hanya bertiga, dari satu
kontrakan ke kontrakan yang lain. Kami tidak kaya tapi ayah dan ibu selalu
memberikan aku kasih sayang dan pendidikan yang terbaik” cerita April panjang
lebar, matanya nanar, Shakti mendengarkan dengan seksama ia bahkan menghentikan
kegiatan makannya sementara
“Sayangnya, sebelum aku menyelesaikan kuliahku mereka
berdua meninggal karena sakit. Ayah meninggal saat aku masuk kuliah, ibu
meninggal saat aku mulai menyusun skripsi, ia meninggal karena kelelahan. Ibu
tidak mengizinkanku bekerja sama sekali selama aku kuliah, kampusku adalah
kampus negri yang sangat bagus dan mahal. Walaupun aku mendapatkan beasiswa
tapi tugas, project, kunjungan industry, semuanya tidak murah dan aku sekuat
tenaga menjaga biaya tambahan itu tidak sampai ke telinga ibu dengan cara
menjual jasa joki. Tapi tetap saja, ibu yang bekerja sendiri menghidupi kami
berdua kelelahan” suara April tersendat, Shakti menyodorkan segelas air dengan
sedikit menyesal kenapa ia mengungkit masa lalu April tadi
“Aku menjual barang-barang dirumah untuk membiayai
kuliahku yang tinggal skripsi, aku berjanji bagaimanapun caranya akan
menyelesaikan kuliah sesuai yang orang tuaku inginkan. Lalu aku pindah ke kost
yang lebih kecil, mencari kerja, ditipu pacar dan sahabatku, dan sekarang
bertemu bapak” April mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Shakti balas
tersenyum
“Kamu perempuan kuat Pril” komentarnya lalu
menyendokkan brokoli ke piring April. April tersenyum lalu mulai makan, begitu
juga dengan Shakti.
“Kamu ngga mau gantian nanya soal keluarga aku
Pril?”tanya Shakti sambil terus makan. April tersenyum
“Aku sempat baca memoir ayah bapak semalam” Shakti
tergelak
“Of course you are” komentarnya ringan sambil
melanjutkan makan
-It’s Getting Better-
Shakti Rajendra Maheswara adalah anak bungsu dari 4
bersaudara. Ayahnya Robby memulai bisnis dari dasar. Ia hanya anak dari
penjahit di pasar. Setelah lulus Sekolah Dasar Robby tidak melanjutkan sekolah,
ayahnya menyuruhnya bekerja menjadi kuli panggul di pasar untuk membantu
perekonomian keluarga. Saat itu upahnya hanya 5 rupiah sekali angkut. Tertekan
karena kemiskinannya, Robby mencari cara untuk mencari uang lebih banyak. Ia
lalu mulai berdagang di pasar. Robby mengumpulkan sayuran yang dibuang pedagang
lalu membersihkannya dan dijualnya kembali. Setelah uangnya terkumpul,
alih-alih membantu orang tua dan ke 5 adiknya, Robby menggunakan uang yang
dikumpulkannya untuk modal berjualan radio. ‘Tough love’ itu yang Robby
tuliskan di memoirnya. Ia melakukan hal itu untuk meningkatkan dulu bisnisnya,
agar nantinya bisa membantu keluarganya dengan uang yang lebih banyak.
Penjualan radionya berjalan baik, pada tahun 70 an ia sudah memiliki kios kecil
di pasar. Lalu pada tahun 70 an akhir Robby membuat gebrakan dengan menjual TV
tabung berwarna sekaligus service TV di tokonya. Gebrakan itu membuat bisnisnya
meroket. Pada awal tahun 80 an Robby adalah orang pertama yang mengimpor TV
tabung berwarna massal ke Indonesia. Dengan resiko sebesar itu ditambah Indonesia
baru menyiarkan siaran TV berwarna tahun 1977 dan belum merata ke seluruh
daerah membuat bisnisnya diujung tanduk. Akhir tahun 80an Robby membuat
gebrakan baru dengan membuat TV berwarna yang dirakit sendiri di Indonesia.
Gebrakan itu yang membuatnya menjadi salah satu konglomerat Indonesia.
Pabriknya bermunculan, selain TV ia pun membuat barang-barang elektronik lain
dengan kualitas yang tidak kalah dengan buatan luar negri dan harga yang murah.
Bisnisnya terus menanjak bahkan krisis ekonomi tahun 1998 pun sama sekali tidak
menggoyangkannya. Robby pun menambahkan nama Maheswara di belakang namanya
untuk mengukuhkan kekaisaran kekayaannya di Indonesia.
Awal tahun 2000an, Robby mencoba ekspansi dibantu
oleh anak-anaknya. Mereka mencoba membuat mall, tempat hiburan, taman hiburan,
bahkan yang paling ekstrim mencoba ekspansi membuka pabrik otomotif yang gagal
total sehingga menghabiskan hampir 80%
harta kekayaannya.
Pada tahun 2010 Robby mencoba lagi ekspansi bisnis,
dibantu anak-anaknya, dan berhasil. Ekspansi itulah yang membentuk PT Sigma
Internasional yang sekarang dikenal di Indonesia dengan 1 Perusahaan utama
yaitu PT. Sigma Jaya Abadi dan 3 anak perusahaan PT. Sigma Cahaya Abadi, PT.
Sigma Ahli Abadi dan PT. Sigma Abadi Sentosa. Dua anak perusahaannya dipegang
oleh anak-anaknya yaitu Arby Raditya Maheswara, yang memegang PT. Sigma Cahaya
Abadi bersama Rezha Artha Maheswara putra ketiga Robby. Lalu PT. Sigma Abadi
__ADS_1
Sentosa yang dipegang oleh Arjuna Nayaka Maheswara anak kedua Robby dan Shakti
Rajendra Maheswara anak bungsunya.