Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Perempuan Kuat


__ADS_3

Shakti terbangun pukul 6 seperti biasa, saat keluar


ia melihat April sudah duduk di meja dapur dan ada beberapa laporan yang sudah


selesai di print di atas meja


“Pagi pak” sapa April melihat Shakti keluar dari


kamar


“Aku buatkan espresso?”April menawarkan


“Boleh” jawab Shakti sambil menggaruk rambut


kusutnya, lalu membetulkan kacamata tebalnya


April bergerak dari depan laptop lalu menyalakan


mesin espresso. Ia sendiri sudah menghabiskan botol terakhir  pocari sweat dari kulkas. Yang pertama kali


dilakukan Shakti adalah menelaah April, pagi ini April menggunakan pakaian


dalam lengkap. Nampaknya cuciannya sudah kering. April merapikan cuciannya


pagi-pagi sekali lalu langsung melanjutkan pekerjaannya semalam.


“Espressonya pak” April menyodorkan segelas espresso


lalu kembali menyelesaikan laporannya


“Kamu bangun jam berapa Pril?” tanya Shakti lalu


menyesap kopinya


“Sejam yang lalu pak” kata April


“Aku minta maaf soal semalam, aku agak lelah, maaf


kalau kamu jadi kaget”pinta Shakti


“Iya pak, it is fine, makanya aku bangun pagi-pagi


untuk menyelesaikan laporan, siapa tau suasana hati bapak bisa berubah melihat


laporan sudah selesai semua”kata April sambil tersenyum lalu berjalan ke


perpustakaan


“Kamu mau kemana?”tanya Shakti


“Ambil hasil report yang aku print di perpustakaan


pak, ini yang terakhir”  Tak lama April


kembali dengan setumpuk kertas.


“Kamu kok bisa tau cara print dan lain-lain, aku kan


belum kasih tau”tanya Shakti, di atas meja kedua laptop sudah di set up agar


sesuai dengan report yang sudah di print oleh April.


“Itu mah basic pak, aku terbiasa cari jalan keluar


sendiri sebelum tanya orang lain”jawab April, ia lalu menyusun laporan dan


membiarkan Shakti membaca semuanya


“Wow, ini akurat Pril, aku kagum” April tersenyum


bangga mendengarnya


“Bapak perlu report-report ini untuk apa?”tanya April


melihat Shakti begitu serius


“Aku ingin bisa mengomentari monthly meeting minggu


depan, aku ingin tahu perkembangan perusahaan yang aku majukan sampai sebesar


ini, aku ingin tahu kemana arah development, apa saja rencana yang dibuat


perusahaannya, coba bayangkan Pril, aku yang membangun perusahaan ini sampai


sebesar ini, lalu sekarang aku benar-benar dibutakan dari segala urusan


perusahaan” April mengerti perasaan itu. Shakti pasti merasa dikhianati


terang-terangan oleh seluruh keluarganya, bahkan pacarnya yang sekarang menjadi


mantannya


“Berarti bapak perlu seluruh report bulan ini…”tebak


April


“Bulan ini dan 3 bulan ke belakang”tegas Shakti,


April nyengir


“Kalau aja laporan yang Nania berikan padaku seakurat


laporan kamu, aku ngga perlu belajar nyusun laporan sendiri” tambahnya sambil


menghabiskan espressonya


“Seengganya masih ada beberapa hari sebelum monthly


meeting pak, kita bisa bikin up to date report, laporan 3 bulan ke belakang,


dan bapak juga bisa bikin development dan planning estimation yang bapak perlu


untuk nanti ditanyakan di meeting”


“Oh My God….kamu benar-benar penyelamat hidup April…inilah


sekretaris yang aku perlukan” puji Shakti sambil memegang bahu April dengan


bangga


“Jangan lupa tanda tangan kontrak…”Shakti teringat


“Done…”April menyerahkan kontrak yang sudah di paraf


tiap halaman, dan ditandatangani di atas materai di halaman terakhir, Shakti


tertawa melihatnya. April Sekretaris sempurna.


“Aku nemu materai di salah satu laci di perpustakaan,


kontrak sudah aku scan juga, tinggal bapak kirim ke Pak Andra”


“Kamu tuh luar biasa tau ngga?”puji Shakti lagi,


tiba-tiba ponselnya berdering Shakti menerimanya, itu dari Andra, sesaat Shakti


memuji Andra karena memilihkan April untuknya, namun sedetik kemudian raut


wajahnya berubah serius, lalu keningnya berkerut ia terlihat marah


“Mereka pasang apa…?!”teriak Shakti kesal


“Mereka pasang pemberitahuan setiap kamu download


data apapun dari system, pagi ini IT support nemuin kamu download data banyak


banget dari system, mereka lapor ke Nania, dan dia panik, monthly report yang


harusnya minggu depan ditarik jadi besok, lagian kamu ngapain juga download


data sih Ti, kamu ngga bisa juga bikin summary nya”keluh Andra


“Shit, Aku perlu terlibat di monthly meeting Ndra,


udah berapa lama Aku dibiarin kaya orang bego ngang ngong ngang ngong tiap


meeting karena Nania selalu ngasih data yang ngga akurat, ini perusahaan yang


aku bangun dan aku besarkan Ndra you know it”ucap Shakti dengan nada tinggi


“Yeah, I know its sucks, dan aku selalu kesal kalau


Nania memanipulasi meeting dengan ngejelekin kamu biar dia dianggap berhasil


dan berprestasi di depan CEO, padahal apa yang dia tau sekarang, semuanya kamu


yang ajarin” kata Andra


“Dan sayangnya aku ngga bisa bantu, she is my boss


after all, tapi gara-gara ini semua anak buahku harus lembur ngejain laporan,


mereka bakalan merajuk sampai waktu gajian” keluh Andra lagi


“I’ll send something to the office, bantu cc


reportnya ya Ndra” pinta Shakti

__ADS_1


“I’ll see what I can do” jawab Andra lalu memutus


sambungan telepon


Shakti terlihat kacau, April melihatnya dan


mendiamkannya sejenak sampai Shakti menghampiri April lalu menceritakan


percakapannya dengan Andra


“BESOK PAK?”tanya April kaget


“Iya besok”wajahnya terlihat stress, April langsung


bereaksi


“Tenang pak, tarik nafas, gini… lihat sisi baiknya,


aku sudah bikin summary dari laporan 3 bulan ke belakang, kita bisa mulai dari


sana, untuk yang month to date nanti kita tunggu cc dari dari Pak Andra”usul


April. Mata Shakti akhirnya bersinar


“Thank you for being my secretary, oke sekarang kita


mulai dari mana dulu?” Shakti lalu duduk menghadap laptop di meja makan,


“Kita mulai dengan sarapan dulu, mandi lalu mulai


bekerja pak” kata April, Shakti setuju


“Telepon Ricky kamu atur untuk sarapan kita, kemarin


dia janji mau kirim bubur untuk sarapan kan” Shakti memberikan ponselnya, April


menerimanya tanpa melihat dan tangan mereka bersentuhan dengan tidak sengaja.


Reflek Shakti dan April saling menatap. April buru-buru memalingkan wajahnya,


karena walaupun ia tidak bisa melihat mata Shakti dengan jelas karena tertutup


rambut yang kusut dan kacamata yang tebal, fakta bahwa 2 hari yang lalu April


sudah melihat seluruh tubuh Shakti secara nyata membuatnya canggung.


Dilain pihak, menatap mata April menjadi candu untuk


Shakti. Sejauh ini apa yang dilakukan April untuknya sangat ajaib.


April menego Ricky agar penawarannya untuk


mengirimkan makanan 3 hari berturut-turut digantikan dengan makanan untuk makan


3 kali hari ini, dan Ricky setuju.


Shakti keluar dengan rambut basah setelah mandi, kali


ini dengan piyama yang tak kalah norak dan menor seperti yang sebelumnya.


“Aku sudah pesan makanan dari Ricky untuk hari ini,


jadi dia akan kirim makan pagi, siang dan malam untuk kita alih-alih breakfast


untuk 3 hari ke depan” Shakti mengangguk setuju, lalu menyilakan April


menggunakan  kamar mandinya.


Setelah mandi, April menggunakan kembali kemeja milik


Shakti yang digunakannya 2 hari lalu, kemeja itu kini kering dan bersih karena


sudah dicucinya kemarin. April tidak menggunakan pakaian kerja yang


dimilikinya, ia kuatir besok Shakti akan mengajaknya untuk ikut meeting di


kantor, dan April hanya memiliki satu pakaian kerja yang pantas.


Saat April keluar dari kamarnya menggunakan kemeja


putihnya yang terlihat sangat kebesaran di tubuhnya yang mungil isi kepala Shakti


menggila. Betapa ia berharap April adalah kekasihnya sehingga ia bisa melakukan


apapun yang gairahnya inginkan saat ini.


“Teeet” terdengar suara dari intercom, itu Ricky


mengantar makanan. Shakti buru-buru berlari ke gerbang sebelum tubuhnya yang


terangsang menguasainya. Ricky bilang akan datang lagi untuk makan siang dan


mengatur nafas dan berusaha fokus dengan apa yang akan dikerjakannya.


April sudah mengatur meja makan untuk mereka bekerja.


Mereka lalu sarapan dengan cepat, dan mulai bekerja.


Memiliki April di sampingnya merupakan anugerah untuk


Shakti. Sebagai sekretaris April membantu Shakti fokus dengan apa yang harus


dipikirkannya. April mengetik rapi semua catatan Shakti. Ia pun memberikan


masukkan yang cerdas pada Shakti untuk meetingnya besok pagi. Waktu berjalan


sangat cepat, tiba-tiba saja sudah malam dan Ricky mengantarkan makan malam


yang dipesan April.


“Pak, tadi pagi bapak bilang mau mengirimkan sesuatu


ke karyawan yang lembur di kantor?” April mengingatkan


“Ah iya, mereka semua pasti sedang lembur sekarang, menurutmu


pesan apa ya yang semua orang suka?”tanyanya


“Pizza?” saran April, Shakti mengangguk setuju.


“Kirim berapa Pak?” tanya April sambil membuka situs restoran


pizza terbesar di Indonesia


“Bagaimana kalau lima, untuk departemen HR” jawab


Shakti, April lalu berfikir sebentar


“Aku ada ide yang mungkin bisa bikin bapak bangkrut”


kata April sambil memperhatikan Shakti yang mengeluarkan makanan dari kantong


“Shoot…”jawab Shakti menantang


“Saat ini pasti semua karyawan bapak sedang lembur


karena monthly meeting diubah besok, bagaimana kalau kita kirim saja mereka


semua pizza, mencegah ada kesenjangan social juga kalau bapak hanya mengirim ke


departemen HR” usul April


“Setuju, karyawanku kurang lebih ada 436 orang,


menurutmu kita harus kirim berapa?”April lalu menghitung,


“Delapan puluh pizza rasanya cukup Pak” kata April


“Pesankan 100, jadi kalau ada sisanya bisa mereka


bawa pulang” kata Shakti


“Oke, karena kalau pesan 100 langsung dari 1 outlet


akan memakan waktu lama, aku akan pesan dari 5 outlet sekaligus”  Shakti mengangguk setuju lalu menyerahkan


Black Cardnya pada April


“Pesankan minumannya juga sekalian, jangan


pelit-pelit” katanya sambil mengambil alat makan dari lemari. April mengangguk


setuju lalu mulai memesan.


April lalu memesankan masing-masing 20 pizza ukuran


jumbo dan berbotol-botol softdrink dari 5 outlet di sekeliling kantor PT.


Sigma, lalu meminta 100 dus pizza itu dibagikan ke setiap departemen.


“Ti, ini kamu yang kirim pizza sebanyak


ini?”tiba-tiba Andra menelepon Shakti


“I told you I’ll send something” kata Shakti sambil


tersenyum pada April, April membalas senyumannya senang

__ADS_1


“Semua karyawan langsung senang dan semangat bikin


laporan, Nania kaget dan semakin marah, dia pikir ini cara kamu untuk mengambil


hati karyawan”kata  Andra sambil tertawa


“Is it works?”tanya Shakti


“Bisa jadi, kalau melihat mereka kesenangan seperti


ini sih, aku sudah pastikan juga ke tiap departemen untuk mention bahwa Pak


Shakti yang kirim ini ke kantor”Shakti tertawa mendengarnya


“Aku udah cc semua laporan ke emailmu, nanti kalau


Nania tanya aku akan jawab kalau emailmu dimasukkan ke sub email oleh IT” Andra


tertawa lagi dengan nada licik, Shakti ikut tertawa.


“Oke, See you on the warzone tomorrow, thank you


again”Andra lalu menutup sambungan telepon


“Kita makan dulu, setelah itu kita bedah email


laporan yang dikirim Andra” perintah Shakti, April mengangguk mengerti lalu


membereskan meja makan untuk mereka berdua makan.


“Kamu lahir di


kota ini Pril?”tanya Shakti sambil menyendok butter rice nya, April menyodorkan


ayam wijen dan tumis brokoli jamur padanya


“Aku lahir di kota kecil pak, Ibu dan ayahku kawin


lari, makanya aku tidak kenal satupun saudara dari ayah ataupun ibu. Setelah


aku lahir ayah membawa kami pindah ke kota ini. Kami hanya bertiga, dari satu


kontrakan ke kontrakan yang lain. Kami tidak kaya tapi ayah dan ibu selalu


memberikan aku kasih sayang dan pendidikan yang terbaik” cerita April panjang


lebar, matanya nanar, Shakti mendengarkan dengan seksama ia bahkan menghentikan


kegiatan makannya sementara


“Sayangnya, sebelum aku menyelesaikan kuliahku mereka


berdua meninggal karena sakit. Ayah meninggal saat aku masuk kuliah, ibu


meninggal saat aku mulai menyusun skripsi, ia meninggal karena kelelahan. Ibu


tidak mengizinkanku bekerja sama sekali selama aku kuliah, kampusku adalah


kampus negri yang sangat bagus dan mahal. Walaupun aku mendapatkan beasiswa


tapi tugas, project, kunjungan industry, semuanya tidak murah dan aku sekuat


tenaga menjaga biaya tambahan itu tidak sampai ke telinga ibu dengan cara


menjual jasa joki. Tapi tetap saja, ibu yang bekerja sendiri menghidupi kami


berdua kelelahan” suara April tersendat, Shakti menyodorkan segelas air dengan


sedikit menyesal kenapa ia mengungkit masa lalu April tadi


“Aku menjual barang-barang dirumah untuk membiayai


kuliahku yang tinggal skripsi, aku berjanji bagaimanapun caranya akan


menyelesaikan kuliah sesuai yang orang tuaku inginkan. Lalu aku pindah ke kost


yang lebih kecil, mencari kerja, ditipu pacar dan sahabatku, dan sekarang


bertemu bapak” April mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Shakti balas


tersenyum


“Kamu perempuan kuat Pril” komentarnya lalu


menyendokkan brokoli ke piring April. April tersenyum lalu mulai makan, begitu


juga dengan Shakti.


“Kamu ngga mau gantian nanya soal keluarga aku


Pril?”tanya Shakti sambil terus makan. April tersenyum


“Aku sempat baca memoir ayah bapak semalam” Shakti


tergelak


“Of course you are” komentarnya ringan sambil


melanjutkan makan


-It’s Getting Better-


Shakti Rajendra Maheswara adalah anak bungsu dari 4


bersaudara. Ayahnya Robby memulai bisnis dari dasar. Ia hanya anak dari


penjahit di pasar. Setelah lulus Sekolah Dasar Robby tidak melanjutkan sekolah,


ayahnya menyuruhnya bekerja menjadi kuli panggul di pasar untuk membantu


perekonomian keluarga. Saat itu upahnya hanya 5 rupiah sekali angkut. Tertekan


karena kemiskinannya, Robby mencari cara untuk mencari uang lebih banyak. Ia


lalu mulai berdagang di pasar. Robby mengumpulkan sayuran yang dibuang pedagang


lalu membersihkannya dan dijualnya kembali. Setelah uangnya terkumpul,


alih-alih membantu orang tua dan ke 5 adiknya, Robby menggunakan uang yang


dikumpulkannya untuk modal berjualan radio. ‘Tough love’ itu yang Robby


tuliskan di memoirnya. Ia melakukan hal itu untuk meningkatkan dulu bisnisnya,


agar nantinya bisa membantu keluarganya dengan uang yang lebih banyak.


Penjualan radionya berjalan baik, pada tahun 70 an ia sudah memiliki kios kecil


di pasar. Lalu pada tahun 70 an akhir Robby membuat gebrakan dengan menjual TV


tabung berwarna sekaligus service TV di tokonya. Gebrakan itu membuat bisnisnya


meroket. Pada awal tahun 80 an Robby adalah orang pertama yang mengimpor TV


tabung berwarna massal ke Indonesia. Dengan resiko sebesar itu ditambah Indonesia


baru menyiarkan siaran TV berwarna tahun 1977 dan belum merata ke seluruh


daerah membuat bisnisnya diujung tanduk. Akhir tahun 80an Robby membuat


gebrakan baru dengan membuat TV berwarna yang dirakit sendiri di Indonesia.


Gebrakan itu yang membuatnya menjadi salah satu konglomerat Indonesia.


Pabriknya bermunculan, selain TV ia pun membuat barang-barang elektronik lain


dengan kualitas yang tidak kalah dengan buatan luar negri dan harga yang murah.


Bisnisnya terus menanjak bahkan krisis ekonomi tahun 1998 pun sama sekali tidak


menggoyangkannya. Robby pun menambahkan nama Maheswara di belakang namanya


untuk mengukuhkan kekaisaran kekayaannya di Indonesia.


Awal tahun 2000an, Robby mencoba ekspansi dibantu


oleh anak-anaknya. Mereka mencoba membuat mall, tempat hiburan, taman hiburan,


bahkan yang paling ekstrim mencoba ekspansi membuka pabrik otomotif yang gagal


total sehingga  menghabiskan hampir 80%


harta kekayaannya.


Pada tahun 2010 Robby mencoba lagi ekspansi bisnis,


dibantu anak-anaknya, dan berhasil. Ekspansi itulah yang membentuk PT Sigma


Internasional yang sekarang dikenal di Indonesia dengan 1 Perusahaan utama


yaitu PT. Sigma Jaya Abadi dan 3 anak perusahaan PT. Sigma Cahaya Abadi, PT.


Sigma Ahli Abadi dan PT. Sigma Abadi Sentosa. Dua anak perusahaannya dipegang


oleh anak-anaknya yaitu Arby Raditya Maheswara, yang memegang PT. Sigma Cahaya


Abadi bersama Rezha Artha Maheswara putra ketiga Robby. Lalu PT. Sigma Abadi

__ADS_1


Sentosa yang dipegang oleh Arjuna Nayaka Maheswara anak kedua Robby dan Shakti


Rajendra Maheswara anak bungsunya.


__ADS_2