
"Non Nara, hari ini bibi bawain sayur asem kesukaan Non lho. Sengaja jagung sama kacang tanahnya bibi banyakin, biar bisa digado. Oh iya, ada ikan asinnya juga Non, dijamin mantab deh!" ujar seorang wanita paruh baya bernama Aini dengan nada ceria. Sambil merapikan makanan yang tadi ia sebutkan di atas meja makan.
Kinara, perempuan yang disapa Non oleh wanita paruh baya tersebut hanya diam dan menatap ke satu titik. Ia enggan menjawab.
"Bibi taruh di sini ya Non, selamat makan. Nanti jam 5 sore bibi akan datang lagi." Aini menggenggam tangan Nara dan merapikan rambut Nara ke belakang telinga.
Nara masih terdiam, tak lama kemudian Aini menutup pintu. Memberikan ruang bagi Nara untuk menyantap makan siangnya.
"Permisi sus, saya pergi dulu ya," pamit Aini pada beberapa suster yang ada di lorong Rumah Sakit.
"Iya, bu."
Dua orang suster itu membicarakan Aini dan Nara. Mereka sibuk menerka seperti apa hubungan antara keduanya. Tante dan keponakan? Sepertinya bukan karena penampilan Aini berbeda dengan Nara. Pelayan dan Majikan? Ah, wanita paruh baya itu terlihat terlalu menyayangi 'si gadis bisu'.
"Kasihan ya Ibu itu, mau aja dikerjain!" nyinyir suster berkacamata bulat yang bertugas menangani Nara sejak hari pertama masuk Rumah Sakit.
__ADS_1
"Tau, beban banget tuh perempuan!" sahut suster lainnya.
"Hemn," seorang pria yang sejak 5 menit lalu menguping berdehem dari samping mereka. Gemas karena dua orang tersebut bukannya kerja malah mengghibah.
"Eh ada pak dokter. Siang Dokter," sapa suster berkacamata, kemudian kabur karena takut dengan tatapan Damar.
"Rumah Sakit Pelita Jaya, selamat siang dengan Calista ada yang bisa dibantu?" suster satunya buru-buru mengangkat suara telepon dari luar dihitungan pertama bunyi. Bersyukur karena ada alasan untuk kabur juga dari Damar.
Damar menghela nafas. Sial, kenapa mereka berdua bisa semudah itu kabur. Kemudian Damar mengambil data Nara yang sudah disiapkan di atas meja. Siang ini jadwal Damar untuk kunjungan. Setelah menatap suster penerima telepon dengan pandangan dingin, Damar menyusuri lorong untuk menuju kamar VIP tempat Nara dirawat.
Seperti biasa, Nara hanya terdiam. Damar merasa iba, tapi hal ini sudah ia diskusikan bersama dengan dokter lain, bahwa kenyataannya, yang membuat Nara Sakit adalah dirinya sendiri.
"Wah, makan siangnya enak banget itu. Ada sayur asem, ikan asin, sambel terasi, ayam keepci keepcian. Bagi lah," Damar mencomot paha ayam yang menggoda, tidak lupa pakai sambal terasi.
"Kamu mau begini sampai kapan sih? Kamu nggak kasihan sama Bi Ai? Kamu nggak kasihan sama tagihan Rumah Sakit yang harus saya bayar?" tanya Damar serius.
__ADS_1
Nara masih terdiam. Setelah 10 menit memperhatikan Nara sambil makan ayam, Damar membuang sisa tulang dan berjalan menuju wastafel. Dari cermin, ia memperhatikan Nara yang lebih mirip seperti bocah ngambek.
"Selamat makan siang, saya pergi dulu."
Pada akhirnya, Damar menyerah. Hari ini usahanya masih gagal, entah kapan akan berhasil. Padahal Damar sudah memancing keributan lho, hebat Nara masih bertahan dengan sikap batunya itu.
Sepeninggal Damar, Nara beranjak dari tempat tidur menuju balkon. Dibukanya pintu kaca itu dengan lebar. Nara keluar dan memperhatikan pemandangan sekitar dari lantai 3. Langit sedang mendung, bunyi petir terdengar di ujung, detik itu juga Nara menangis kencang.
Seperti hujan yang akhir-akhir ini terjadi di awal tahun yang mengakibatkan banjir. Tangisan Nara kencang, bibirnya kelu, sekujur tubuhnya bergetar.
Nara tahu ia kekanakan, tapi ia masih ingin meratapi nasibnya. Tentang kehilangan kedua orang tuanya seminggu lalu. Dengan cara tragis yaitu kebakaran yang menewaskan kedua orang tua serta seluruh harta benda di dalamnya dalam waktu semalam.
Malam itu, Nara dan Aini baru pulang dari rumah pamannya karena diminta mengantarkan makanan dari Mama. Namun 1 km menuju rumah, dari dalam mobil Nara melihat kobaran api dari arah rumahnya. Dan benar saja, rumah yang letaknya paling ujung itu sedang dilahap oleh si jago merah. Nara ingin melompat namun ditahan oleh Aini. Satu jam ia menangis kencang, dan ketika tim damkar selesai, kedua orang tuanya ditemukan di dalam kamar mandi dengan keadaan tak bernyawa. Anehnya, hanya kedua orang tuanya yang jadi korban meskipun di rumah itu ada 8 orang penghuni.
Nara pingsan, saat itu Aini langsung menghubungi Damar dan akhirnya mereka berdua dibawa ke Rumah Sakit tempat Damar bekerja. Tubuh Nara tidak ada luka sedikitpun, tapi jiwanya terguncang. Itulah yang menyebabkan Nara menjadi 'si gadis bisu'.
__ADS_1
Kini, bagaimana Nara harus tampak baik-baik saja?