
Mikail membaca ulang MoU yang diemail oleh Kintan. Tepat pukul 14.30, Mikail menjemput Tara di lobby dan mereka berjalan menuju ruang rapat di lantai 2.
Tuk, tuk. Langkah kaki Tara melintasi lobby. Suara high heels 7 centi berwarna hitam yang senada dengan outfitnya.
Semua mata tampak takjub melihat Tara Sastrawan yang masih awet muda di usianya yang menginjak 59 tahun. Sore ini ia memakai kemeja warna hitam polos dengan lengan 7/8 serta rok sebetis motif bunga-bunga merah. Tidak lupa ia menjinjing sebuah tas berwarna hitam yang harganya sama seperti motor baru.
"Kamu udah makan, sayang?" tanya Tara sambil merangkul Mikail ke dalam ruangan.
"Udah ma. Mama sendiri udah makan belum? Udah sore kan ini."
Tara masih berdiri di dekat bangku besar di sisi kanan, dengan wajah memelas menjawab. "Mama belum makan nih, nanti setelah ini temenin mama makan yuk. Kita ajak Hannah juga ya," rayu Tara sambil mengusap tungkai tangan Mikail.
Mikail mendengus. Bisa amat ini akal-akalannya. Tapi mengingat tadi siang ia baru bertemu Hannah, maka ia tolak saja Mamanya dari sekarang. Lagipula hari ini ia belum makan di rumah.
"Enggak ah Ma, tadi siang Mikail udah ketemu Hannah. Ntar dia over dosis kebanyakan lihat Mikail," jawab Mikail enteng.
Tara yang sedang merapikan posisi duduknya hampir terjungkal karena mendengar penolakan Mikail. Eh, tumben Hannah nggak laporan.
"It's okay, mama bisa makan sendiri di rumah. Lagian sebelum mama pergi Bi Inah masak sayur asem, ikan asin sama sambel terasi kesukaan mama," sahut Tara dengan senyum luar biasa manis.
Setelah mengatur ruang rapat, Mikail kembali duduk di kursi tengah. Tempat dimana ia biasa mengintimidasi partner kerjanya.
Pukul 14.50, Jeremy mengetuk pintu dan mempersilahkan dua orang wanita masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Wanita pertama bermata sipit, berambut panjang dan dikuncir kuda, memakai kemeja lengan pendek polos berwarna navy dan celana panjang berwarna beige serta flat shoes yang membuat penampilannya terlihat praktis sebagai aspri.
Sedangkan wanita kedua berambut panjang bergelombang, bermata bulat, memakai setelan blazer lengan panjang dan rok pendek selutut berwarna biru pastel dengan kemeja warna putih di dalamnya. Serta high heels 12 centi dan tas warna senada yang harganya 11 12 dengan outfit Tara. Wanita kedua inilah yang bernama Kintan.
"Halo, selamat sore. Perkenalkan saya Kintan Adinda Surya, Manager Pemasaran Indovio. Dan ini Diana, aspri saya." Jabatan tangan Kintan terasa lembut namun tegas. Wanita ini benar-benar tahu cara menarik perhatian di sekelilingnya.
Tara menyambut uluran tangan Kintan dengan sama yakinnya. "Sore, Kintan. Perkenalkan saya Tara."
Kintan mengangguk hormat dan tersenyum manis. Tipe princess sejak lahir. Tangannya kemudian terjulur ke arah Mikail.
"Mikail," sapa Mikail seraya menyambut uluran tangan Kintan.
Setelah obrolan singkat, Kintan berdiri di sebelah layar yang menampilkan presentasi. Dengan fasih ia menjelaskan dari A-Z tentang beberapa produk yang rencananya akan dipakai oleh klinik kecantikan Tara.
Mata Mikail sesekali memperhatikan Kintan. Ia memang cantik, tinggi, berkelas. Namun wajahnya mengingatkan Mikail pada Nara. Mereka berdua sangat familiar!
Kinindi ruang rapat tinggal mereka bertiga dan Jeremy sedang mengumpulkan segala berkas yang ada di atas meja agar dapat di file oleh sekretasinya. Sedangkan Tara masih menyesap tehnya yang sudah dingin.
"Je, kapan-kapan kita makan malem bareng yuk. Nanti tante ajak Hannah juga biar Mikail ada coupel-nya," ajak Tara pada Jeremy.
Jeremy hampir saja memuncratkan air mineral yang baru ia teguk. Ini tante nggak ada takut-takutnya sama si Mikail.
"Maaa," tegur Mikail yang sedang fokus melihat sesuatu di layar handphone-nya.
__ADS_1
Jeremy menenggakkan kembali posisi duduknya setelah tadi sempat bersantai. Ibu dan Anak ini benar-benar tidak bisa membuat hidup Jeremy tenang.
"Ya nggak apa-apa kan? Kalau kalian temanpun, nggak masalah kan makan malem bareng?" Tara mendelikkan bahu tidak peduli dengan wajah Mikail yang sudah semerah saos sambal ekstra pedas.
"Ya nggak apa-apa sih tante, tapi kalau lihat kelakuan Mikail sepertinya Jeje khawatir Hannah nggak bisa bertahan, xixixi." Jeremy terkikik geli. Ia senang melihat kedua orang ini bertengkar, suasana jadi ramai.
"Hahhh," Tara menghembuskan nafas dalam. "Bener juga ya kamu. Ini aja tante nggak tau si Hannah mau lanjut apa enggak."
"Udah jam 4. Yuk pulang yuk. Jangan pada ngerumpi."
Mikail berdiri dan bersiap untuk keluar ruangan.
"Lihat tuh Je, cemen banget emang si Mikail," Tara masih mencibir Mikail.
"Ma, patokannya bukan Hannah. Lagian kan mama udah punya cucu 2, ngapain sih masih ngejar-ngejar Mikail?" protes Mikail sambil melipat tangan di depan dada.
Sebelum putra bungsunya ngambek, Tara segera merangkul lengan Mikail yang tingginya jauh melebihi dirinya. "Iya, iya, mama nggak ngejar kamu. Buat mama pilihan kamu sendiri yang terpenting, tapi sih Hannah lumayan juga sebenernya." Meski kesannya menghentikan perdebatan, namun masih ada nama Hannah di dalamnya.
"Dengan atau bukan Hannah, kalau udah waktunya juga Mikail bakalan nikah."
"Iya, iya, mama tungguin. Yaudah mama pulang dulu mau makan sayur asem. Bye anak ganteng mama." Tara kabur setelah mencium pipi Mikail dan Jeremy.
Dengan mata memincing Mikail melihat mamanya berjalan cepat menuju pintu lobby utama. Kabur setelah membuat anaknya kesal setengah hidup!
__ADS_1
"Main yuk, Je."
Jeremy menoleh. Tumben Mikail mengajaknya main, yang artinya mereka akan ke coffee shop tempat sahabat mereka sejak SMP yang bernama Romi. Lesehan di ruangan dalam dan main PS pertandingan bola yang itu-itu saja.