Terjerat Cinta Mikail

Terjerat Cinta Mikail
Proposal Dari Damar


__ADS_3

Aini menekan lift menuju lantai 22 sebuah Apartemen mewah di pusat kota. Sudah 3 hari ini ia bekerja part time sebagai petugas kebersihan di apartemen ini sejak keluarga Wiguna mengalami kebakaran seminggu lalu. Karena Nona Nara belum stabil, Aini inisiatif mencari pekerjaan untuk biaya makan mereka berdua sehari-hari. Lalu dikenalkanlah Aini pada Jeremy, lelaki tampan yang langsung oke begitu melihat Aini. Di hari pertama, Jeremy memberikan training tentang apa saja yang bos-nya suka atau tidak.


Bosnya adalah seorang lelaki, sepertinya tampan namun Aini belum pernah bertemu langsung. Tapi yang pasti lelaki ini tidak pernah membawa wanita karena setiap siang Aini bebenah, tidak ada bekas parfum wanita yang tercium. Dan juga lelaki ini orang yang bersih. Pekerjaan yang tergolong ringan ini membuat Aini bisa kembali ke Rumah Sakit tepat waktu.


Click!


Aini terkejut ketika pintu apartemen terbuka tepat ketika ia ingin menekan tombol di pintu. Dua sosok lelaki tampan muncul dari dalam. Yang satu memakai setelan jas berwarna navy, bermata hitam pekat dan membawa setumpuk berkas. Ia adalah pria yang mengurus gaji Aini dan memperkenalkan tempat ini. Sedangkan yang satunya lagi, WOW... ganteng amat!


Pria itu memiliki tubuh yang menjulang seperti Jeremy, warna mata cokelat, hidung mancung, garis wajah tegas dan hanya sedikit senyum ketika Aini lewat. Pakaiannya kemeja putih polos yang tangannya digulung setengah, celana warna milo. Simpel namun tetap ganteng.


"Jika lelaki itu belum memiliki jodoh, tolong jodohkanlah dengan Non Nara, Tuhan..." bisik Aini ketika dua lelaki itu sudah masuk ke dalam lift. Do'a Aini di siang hari ini, saat adzan menggema, dan hujan jatuh menuruni bumi.


Keesokan hari...


Nara kepergok sedang duduk di sofa (biasanya ia selalu duduk di ranjang) saat Damar masuk ruangan itu. Ingin kabur, tapi kepalang tanggung. Akhirnya ia hanya membenarkan posisi duduknya.


"Nah, gitu dong jalan-jalan. Jangan kayak patung diem aja di kasur," ucap Damar sotoy, padahal kalau nggak ada orang Nara selalu jalan-jalan sih.


Nara melengos, tapi agak was-was ketika Damar bersimpuh di dekat kakinya.


"Kinara Alya Wiguna, bagaimana kalau kamu terima saya? Ya emang saya dan keluarga nggak seperti keluarga Wiguna, tapi saya yakin bisa menjaga kamu dan Bi Aini," ucap Damar sungguh-sungguh.


Nara menunduk, ingin menangis. Jika Damar mengatakan itu 7 tahun yang lalu, mungkin Nara akan menerimanya. Siapa sih yang tidak tertarik pada lelaki limited edition seperti Damar. Manis, ganteng, pintar, humoris, dari keluarga baik-baik. Hanya saja, keadaan Nara tidak termaafkan. Setidaknya bagi Nara. Bukan bukan, ini bukan masalah hancurnya keluarga Nara, melainkan sesuatu yang Nara yakin tidak akan ditoleransi oleh pihak keluarga yang konvensional seperti Damar.


Nara menjawab Damar dengan gelengan kepala.


"Kenapa, kamu sudah punya pacar?"


Nara mengangguk.


"Baru pacar Nara, janur kuning juga belum melengkung," sahut Damar, ngeyel.


Nara tetap menggeleng.


Sejak Nara kelas 2 SMP (ia kelas 2 SMA), Damar menaruh hati pada Nara. Salah satu murid bimbelnya yang mungil, cantik dan bawel. Hanya saja, Nara tidak tergapai. Maklum, Damar bukanlah berasal dari keluarga kaya raya seperti Nara. Makanya ia berusaha mati-matian agar menjadi orang sukses versi dirinya. Di usia yang ke 28 tahun, Damar berhasil menjadi Kepala Rumah Sakit swasta terkemuka di kota ini. Setidaknya ia punya sedikit modal untuk mendekati Nara.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita lihat siapa yang berhasil mengambil hati kamu."


Damar menepuk kepala Nara pelan sebelum meninggalkan ruangan.


Nara mendesah, sepertinya ia sudah tidak bisa berakting bisu lagi. Damar telah memergokinya, jadi sebaiknya Nara kembali lagi saja seperti dulu.


Nara menekan nomor handphone di urutan ke-3. Dan nomor tersebut baru diangkat setelah Nara mencoba telepon 3x.


"Dannis, ayo kita ketemu."


"Eh, udah sadar?"


"Emang kapan aku pernah nggak sadar?!"


Dannis terkekeh. Oke fix, Nara sudah sembuh. Merekapun janji bertemu di kafe yang jaraknya hanya 10 menit via jalan kaki dari Rumah Sakit, setengah jam kemudian.


"Dannis," Nara melambaikan tangan ke arah lelaki berkacamata yang baru masuk kafe.


"Hay Nara, gimana keadaan kamu?" Dannis duduk di depan Nara dan mencomot kentang goreng yang ada di meja.


"Terus? Kamu mau sama dia?" tanya Dannis.


Mata Nara sibuk berkeliling. "Mungkin mau, tapi nggak bisa."


Dannis menghela nafas. 95% laki-laki, jika pertama kali melihat Nara pasti bawaannya mau ngehalalin aja, tapi kan tidak semudah itu. Butuh keberanian dan modal yang tidak sedikit mengingat asal usul Nara. Jadi kalau sampai ada yang berani, Dannis yakin bahwa lelaki itu sudah memiliki keduanya.


"Ayolah Nara, kamu nggak bisa kayak gini terus. Nggak semua lelaki mementingkan hal itu. Kalau kamu mau sama aku pun, aku senang hati menerima perempuan secantik dan sepintar kamu," Dannis kok jadi seperti buaya darat, ada celah dikit dia ikutan masuk.


Nara menjitak kepala Dannis, sembarangan kalau ngomong!


"Udahlah nggak jadi bahas itu lagi. Aku kan manggil kamu ke sini buat nyelidikin kasus papa. Mana data yang aku minta?"


"Ada di USB, nih. Kamu pelan-pelan aja periksanya. Ada beberapa yang janggal sih, tapi harus diselidiki lebih lanjut."


"Oke, oke. Oh iya, aku boleh tinggal di kosan kamu nggak sementara waktu? Kayaknya aku sama Bi Ai nggak bisa lama-lama di Rumah Sakit itu. Nanti Mas Damar bisa bangkrut karena bayarin kamar VIP aku, hahaha."

__ADS_1


Dannis menepok jidat. Kasihan kok setelah 8 hari baru sadar. Kemana saja anda, tagihan anda juga sudah banyak itu. Untung Damar punya diskon karyawan.


Setelah menghabiskan es kopi susu dan kentang goreng, Nara pamit dan tentu saja meninggalkan bill pada Dannis.


"Non Nara dari mana sih? Bibi cariin dari tadi," wajah Aini pucat dan ada setetes air mata diujung.


"Bi Ai..." Nara memeluk Aini diiringi isak tangis. Ah, ia telah menyusahkan wanita ini. Kini saatnya Nara membalas apa yang telah Aini lakukan.


"Jangan aneh-aneh lagi ya Non, jantung bibi takut nggak kuat nih. Kan bibi udah tua."


Nara mengangguk. "Bi Ai jangan pernah tinggalin Nara ya."


Setelah melepas pelukannya, Nara membantu Bi Ai untuk beberes barang mereka yang tidak seberapa. Nara pun menelepon Damar, berhubung Damar ada di Rumah Sakit, maka dalam waktu 2 menit ia sudah muncul di dalam kamar.


"Lho, kok?" Damar terkejut karena Nara dan Aini sudah selesai beberes pakaian.


"Aku dan Bi Ai sementara ini akan tinggal di kosan Dannis. Untuk biaya Rumah Sakit selama ini, tolong bayarin dulu ya, hehe. Nanti akan aku cicil kalau udah dapat kerjaan."


Ah, betapa rindunya Damar pada suara Nara.


"Kalau begitu biar saya antar. Dan pakai kartu ini untuk membeli apapun yang kalian butuhkan. Kalau ada apa-apa kamu tahu kan harus menghubungi siapa."


"Makasih ya Mas," tanpa malu-malu Nara menerima kartu yang Damar kasih.


"Saya harap kamu nggak mampu bayar supaya kamu bisa mengabdi pada saya seumur hidup," Damar menggoda Nara hingga wajahnya memerah. Baru dipanggil Mas lagi aja Damar sudah melayang seperti ini.


Saat berjalan menuju lobby Rumah Sakit, Nara melihat dua orang suster yang sering membicarakannya. It's time to show!


"Suster Calista, tahu nggak kenapa suster Amira senang temenan sama anda?"


Calista refleks menggeleng, kaget ternyata Nara sudah kembali normal. Dan ia ingin membalas kedua orang tersebut. Kebetulan Nara pernah melihat adegan Amira gandengan tangan sama pacarnya Calista yang bekerja sebagai staff IT di Rumah Sakit ini.


"Soalnya kalian cocok. Bahkan tipe pacar kalian pun sama. Iya kan, suster Amira? Bukannya anda juga suka sama pacarnya suster Calista?"


Mata Nara kini menatap Amira tajam. Sepertinya setelah Nara pergi, mereka berdua akan berkelahi. Damar pun menggelengkan kepala sambil menahan tawa. Nara jangan dilawan, dia kan wanita bar bar!

__ADS_1


__ADS_2