Terjerat Cinta Mikail

Terjerat Cinta Mikail
Sebuah Permohonan


__ADS_3

"Duduk!" titah Mikail kepada Nara.


Dengan tubuh gemetar Nara duduk di kursi depan Mikail. Ya Tuhan, tolong bantu aku.


Mikail menatap wajah Nara dengan tatapan menusuk. Entah karena apa, gadis ini berhasil menarik perhatian Mikail dan membuatnya membatalkan janji makan siang dengan Hannah.


Yang ditatap bagai lelehan es, apalagi begitu Jeremy masuk ke dalam. Ditatap oleh dua lelaki tampan membuat Nara mati kutu.


"Ada perlu apa sama saya?" tanya Mikail tanpa basa basi.


"Saya mau meminta tolong sama anda," jawab Nara ragu. Sebuah permohonan yang agak kurang masuk akal. Mengingat bahwa mereka berdua belum pernah bertemu dan saling kenal sebelumnya.


Mikail tertawa geli. Memangnya dia kira, Mikail adalah lembaga kemasyarakatan yang bisa dengan mudahnya dimintai tolong.


"Apa yang bisa kamu berikan untuk saya?"


Perlahan Nara menatap mata Mikail. Ada sesuatu di sana. Seolah Nara ternggelam ke dalam mata cokelat itu.


Sadar kalau ia sedang bernegosiasi, Nara memikirkan harus membalas Mikail dengan apa. Uang? Ia tidak punya. Tubuh? No way!


"Emn, saya akan kerja pada anda tanpa digaji."


Hanya itulah yang dapat Nara berikan untuk saat ini. Dan itu membuat Mikail kembali terkekeh. Mau main-main juga ada batasnya, gadis.


"Pekerjaan apa aja?"

__ADS_1


Eh iya, kenapa Nara tidak kepikiran. Mulutnya ini memang suka sembarangan berucap. Kalau nanti Mikail minta pekerjaan yang aneh-aneh bagaimana.


"Baiklah, kalau begitu malam ini saya akan memberikan training kepada karyawan baru," mata Mikail seolah berkata bahwa Nara akan mati malam ini.


Nah lho, Nara pakai acara macem-macem segala sih. Sudah tau kere, tapi menawarkan diri untuk kerja sosial. "Ba-baik."


Mikail merasa puas. "Oke, sekarang apa yang kamu butuhkan dari saya?"


Mengalirlah cerita dari bibir penuh milik Nara. Mikail dan Jeremy sibuk menyimak. Jeremy memperhatikan alur cerita yang Nara katakan, sedangkan Mikail memperhatikan wajah polos dengan mata bulat, hidung mancung dan bibir penuh itu.


"2 minggu lalu, rumahku kebakaran saat aku baru pulang dari rumah Om Surya. Anehnya, dari sekian banyak penghuni rumah hanya Papa dan Mama yang ditemukan tewas di dalam kamar utama. Seluruh pelayan selamat, dan mereka nggak ada satupun yang menyelamatkan kedua orang tuaku."


Mikail tertegun. Om Surya? Apa yang Nara maksud adalah Surya Adhiguna? Jika dikatakan bahwa kebakaran itu sebuah kecelakaan, memang tidak masuk akal sih.


"Baik, saya akan cari informasi tentang hal itu. Tapi segala bantuan yang saya lakukan akan disesuaikan dengan service yang kamu berikan. Paham?"


"Sekarang kamu boleh pergi, nanti sore Jeremy akan menghubungi kamu."


Nara mengangkat kepalanya sedikit, kemudian menunduk lagi. "Iya, terima kasih."


Sepeninggal Nara, Jeremy mengambil laptop kemudian mencari informasi tentang Nara sesuai dengan titah dari Mikail sambil duduk di sofa nyaman di sudut ruangan Mikail. Jeremy sesekali mengambil kentang goreng yang ia celupkan ke saos sambal.


Mikail sedang asik makan ayam goreng tepung kesukannya. Padahal Hannah sudah reservasi di restoran bintang 5, tapi Mikail justru berakhir dengan makan ayam goreng dari restoran makanan cepat saji di dekat kantor.


Selagi Jeremy mencari informasi tentang gadis tersebut, Mikail melihat kembali proposal yang diajukan oleh beberapa vendor untuk klinik kecantikan yang dibuat oleh Mamanya. Hingga satu panggilan dari Mama membuat Mikail berhenti seketika.

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Kok kamu gitu sihhhhhhh."


"Kenapa?"


"Batalin janji makan siang sama Hannah. Padahal dia udah berharap banget lho."


"Mikail ada urusan mendadak."


"Alasan!"


"Yeee, serius Ma. Ada masalah di bagian gudang, jadi Mikail harus cek ke gudang langsung," Mikali meyakinkan mamanya yang sedang ngambek.


Aneh, kenapa pembicaraan mereka bedua lebih mirip sepasang kekasih ketimbang Ibu dan Anak.


"Ya udah kalau begitu, kerja lagi sana."


"Emangnya Hannah ngadu apa aja ke Mama?" tanya Mikail tanpa basa basi. Ternyata Hannah sama saja dengan wanita lain yang pernah dikenalkan oleh mama.


"Eh... Heumn, Hannah nggak ngadu kok. Cuma tadi Mama aja yang iseng nanya kalian jadi lunch apa enggak. Ternyata nggak jadi."


Ada sedikit rasa lega setelah mendengar pengakuan mama. Untuk masalah wanita, Mikail yakin 1000% akan kejujuran mamanya. Seorang Tara Sastrawan pantang bohong ke anak, apalagi sok sok membela wanita yang dikenalkan ke anaknya. No way!


"Yaudah kapan-kapan Mikail akan buat jadwal makan siang ulang sama Hannah," ucap Mikail yakin. Sepertinya mood Mikail saat bertemu Hannah sedang bagus. Jadi sampai sekarang ia masih berniat untuk melanjutkan hubungannya dengan Hannah.

__ADS_1


Tanpa Mikail sadari bahwa sejak siang ini, dirinya sudah terikat dengan si gadis polos bernama Nara.


__ADS_2