
Nara geleng-geleng kepala melihat struk yang sudah ia keluarkan dari kartu milik Damar. Beli baju formal lah, sepatu lah, camilan lah. Belum dapat kerja saja, bon Nara sudah ada 2 juta kepada Damar.
Siang ini, Nara ada janji bertemu dengan Dannis yang kini numpang tidur di kantornya. Semakin cepat semakin baik, kasus Orang Tuanya harus diusut tuntas. Nara telah mempelajari data yang Dannis berikan, dan ia menarik kesimpulan bahwa kejadian tersebut ada hubungannya dengan Om Surya (adik dari Papa Nara). Masalahnya, Om Surya adalah salah seorang pendiri Black Window, sebuah organisasi "orang kaya" yang terlindungi.
Astaga, Nara pusing sampai rasanya mau minum es kopi susu terus kalau tidak ingat tagihan.
Selama ini ia mengganggap bahwa keluarganya biasa-biasa saja. Hanya orang yang kelebihan harta. Tapi ia tidak menyangka akan serumit ini.
Dannis yang melihat Nara pusing jadi gemas sendiri. Ia sibuk membolak-balik berkas yang Dannis beri sampai tidak sadar bahwa Dannis telah duduk manis di kursi depannya.
"Ehemn."
"Eh udah dateng." Nara menyisir rambutnya pakai jari agar tidak terlihat seperti singa.
Dannis menyerahkan 3 lembar berkas lagi pada Nara. Kini kepala Nara sudah meledak.
Orang pertama, Jason Adhiguna (41 tahun). Seorang pengusaha yang bergerak dibidang pertambangan. Jason sudah berumah tangga, namun memiliki banyak fair dengan wanita. Salah satunya adalah... Kintan Adinda Surya?
Nara menutup mulutnya tidak percaya. Kakak sepupunya yang baik hati itu seorang pelakor? Ini si Dannis dapat data dari mana sih bingung.
Orang kedua, Miranti Satrowardono (46 tahun). Pengusaha dibidang kecantikan dan istri dari seorang pejabat luar kota. Miranti diketahui memutuskan hubungan kerjasama dengan Papa Nara, sebulan sebelum kejadian tersebut. Saat ini tinggal di pulau kecil di luar kota.
Orang ketiga, Mikail Langit Sastrawan (32 tahun). Lelaki tampan dan lajang. Direktur dari Sastrawan Grup, saat ini menjadi pemegang separuh saham dari PT. Angkasajaya, perusahaan milik Om Surya.
"Data ini dapat dari mana sih?" tanya Nara.
"Nggak sia-sia kan kamu temenan sama aku. Itu semua data yang valid ya, jangan ragukan keahlianku."
Nara percaya kok, Dannis itu lelaki yang cerdas. Sejak sekolah ia sangat tertarik pada dunia jurnalis dan teknologi. Bahkan Dannis hampir saja membobol soal Ujian Negara andai Nara tidak melarang. Saat ini pun, Dannis bekerja di salah satu media cetak swasta Ibu Kota.
__ADS_1
"Terus aku harus deketin siapa? Ah, apa Kak Kintan aja ya?" Nara coba menilai siapa yang lebih baik ia dekati.
"Kintan dan Jason sedang ada di Lombok."
"Ngapain?"
"Ya honeymoon kali, bhahaha."
Dannis berhenti tertawa ketika melihat wajah polos Nara menahan marah. "Ya nggak tauuu. Alasannya sih memantau proyek pembangunan supermarket."
"Terus gimana dong?"
"Ya mau gimana lagi, deketin Mikail lah."
Nara menimbang kemungkinan ia mendekati Mikail. Lelaki itu, bahkan wajahnya saja begitu angkuh. Bagaimana kelakuannya?
Tapi Nara harus memilih. "Baiklah, aku bakal nemuin Mikail."
"Oke."
Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Kalau ia tidak cepat-cepat pergi, takutnya Mikail keburu makan siang. Nara melihat pakaiannya di cermin toilet. Memastikan bahwa kemeja putih tanpa lengan yang dibalut outer motif batik warna beige, serta rok dibawah lutut yang senada dengan outer cukup pantas dipakai ke kantor Mikail. Untung Nara sudah membeli pakaian baru. Oh jangan lupakan sepatu hak 5 cm berwarna hitam yang senada dengan hand bag miliknya.
Nara menaiki taksi menuju Sastrawan Grup yang jarak tempuhnya 15 menit dari kafe tadi. Disepanjang perjalanan, tangan Nara terasa dingin. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa ini adalah yang terbaik. Meskipun ia harus menyerahkan dirinya pada sosok bernama Mikail.
"Udah sampai Mbak," ujar sopir taksi yang membuyarkan lamunan Nara.
Nara terkejut dan mendadak tersendak. Sial, baru begini saja ia sudah grogi.
"Terima kasih ya pak," Nara menundukkan kepala setelah menyerahkan selembar uang 50 ribu kepada sopir taksi.
__ADS_1
Angka di argonya hanya 25.000, namun gadis itu memberikan dua kali lipat pada sopir taksi yang kebetulan hari ini belum dapat penumpang.
Dalam hati pak sopir berkata... "Semoga segala langkahmu membawa keberkahan."
Nara memasuki gedung yang tampak sangat berkelas dan kekinian setelah diperiksa oleh penjaga depan. Ia berjalan menuju meja resepsionis sambil merapikan rambutnya menggunakan jari.
"Selamat siang, apakah saya bisa bertemu dengan Bapak Mikail?"
Di dalam ruangan Mikail
Siang ini Mikail ada janji bentemu dengan Hannah. Kedoknya makan siang, namun dari kalimat yang Hannah ketik, ini lebih mirip ajakan berkencan. Mereka janji bertemu di kafe yang cukup jauh dari kantor Mikail, makanya Mikail berniat untuk pergi sejak pukul 11 siang.
Pada akhirnya, ada seorang gadis yang cukup menarik bagi Mikail. Hannah Alisya, seorang gadis berusia 28 tahun, mantan peserta kontes kecantikan. Rambutnya panjang, lurus dan sederhana. Matanya bulat dan hidungnya cukup mancung. Yang paling penting, ia memiliki tinggi badan 170 cm. Pas lah jika berdiri sejajar dengan Mikail.
Dibandingkan dengan gadis lain yang Ibunya kenalkan, Hannah yang paling sederhana dan membuat Mikail agak tertarik.
Apakah ini adalah pertanda, bahwa Mikail harus merelakan kejadian 7 tahun lalu?
Setelah memastikan bahwa tidak ada jadwal meeting lagi, Mikail meluncur menuruni lift menuju lobby.
"Maaf Mbak, untuk bertemu dengan Bapak Mikail harus membuat janji minimal 2 hari sebelumnya."
"Tapi mbak, saya benar-benar butuh ketemu sama Bapak Mikail," rayu Nara pada petugas resepsionis.
"Mohon maaf ya Mbak."
Sepasang mata Mikail menatap meja resepsionis. Memperhatikan kejadian tersebut dan merasa bahwa gadis itu memiliki nyali yang cukup besar karena berani datang ke sini tanpa ada janji terlebih dahulu.
Nara mengerucutkan bibirnya dan berbalik arah. Saat itulah, dua pasang mata bertemu. Mikail dengan tatapan tajamnya, dan Nara dengan tatapan polos.
__ADS_1
Sontak Mikail membatalkan acara kencan yang hampir saja ia lakukan.