
Keluar dari gedung milik Sastrawan Grup, Nara berjalan pelan sambil memikirkan mau pergi kemana.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Pantas saja perutnya keroncongan. Nara belum makan siang, dan mendadak ia kepikiran soto daging yang ada di kantin Rumah Sakit. Apa ia ajak Damar saja untuk makan soto daging?
Karena terlalu ngidam, Nara pun memberanikan diri untuk menghubungi Damar meskipun harus menebalkan wajah karena sejak keluar dari Rumah Sakit baru kali ini Nara menghubungi.
Tuuttttt
Satu panggilan tidak terjawab.
Tuuttttt
Dua panggilan tidak terjawab.
Ya sudahlah, Nara pergi sendiri saja. Toh ia sudah hafal dengan lokasi Rumah Sakit yang tidak terlalu jauh dari kantor Mikail. Nara memilih untuk berjalan kaki di trotoar yang sudah diperbaharui oleh Pemerintah.
Semilir angin membuat rambut Nara sedikit berantakan, dan ia membiarkannya. Pikirannya agak kacau, bingung karena kini tidak ada yang tersisa dari dirinya.
Kedua orang tuanya pergi meninggalkan sebuah misteri yang kini membawa Nara harus memohon kepada Mikail. Yang Nara tahu, Mikail adalah orang yang berkuasa. Yang tidak ia tahu, Mikail jauuuhhh melebihi apa yang Nara bayangkan saat ini.
Dua puluh meter sebelum gerbang, ada suara klakson mobil berbunyi dari belakang Nara.
Damar. Lelaki itu tampak sedikit kusut, namun berusaha memberikan senyum sejuta watt pada Nara.
"Lho, Mas Damar. Kirain lagi tugas keluar kota atau lagi ada tindakan," dibanding menanyakan kabar, Nara memilih untuk menebak kondisi yang menyebabkan Damar tidak mengangkat teleponnya.
"Enggak. Barusan habis meeting sama klien bahas MoU (Memorandum of Understanding). Meetingnya alot bener, sampai nggak nemu ujungnya. Emang kenapa? Kamu nyariin saya?" Damar memang pintar membaca situasi.
Tiinnnnnn
Suara klakson mobil dari belakang menyadarkan Nara dan refleks membuat ia masuk ke dalam mobil yang kuncinya sudah dibuka Damar sejak melihat Nara dari belakang.
"Woy, kalo berantem jangan di tengah jalan dong!" seru mobil belakang tadi yang kini menyalip ke depan.
"Dih, sotoy!" jawab Nara keki.
"Kamu ada perlu apa ke sini? Kan belum waktunya kontrol," dibanding mengurusi mobil tadi, Damar lebih tertarik pada Nara.
"Aku mau makan soto daging di kantin."
Damar sudah melajukan mobilnya memasuki gerbang Rumah Sakit, kemudian parkir di wilayah yang ada tulisan 'Parkir Khusus Karyawan'.
"Mau makan soto daging doang? Jauh-jauh dari kosan ke sini, dengan pakaian begini?" tanya Damar yang sejak tadi memperhatikan penampilan Nara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nih anak makin lama cakepnya tidak santai!
__ADS_1
Andaiii, Nara bisa menerima Damar. Lelaki manis yang pinter ini. "Oh, tadi habis ada urusan di sekitar sini. Terus laper deh mau makan soto daging, jadi mampir ke kantin sini."
"Ya udah, ayo saya traktir."
Nara mengikuti Damar berjalan menuju ujung belakang Rumah Sakit sambil memperhatikan suasananya yang catchy sekali. Desain yang minimalis, warna warni pastel, aura yang membuat Rumah Sakit ini tampak ceria, tidak seperti Rumah Sakit lain.
"Kamu tadi telepon saya?" tanya Damar saat membuka handphone yang tadi ia masukkan ke dalam dashboard.
"Iya."
"Maaf, tadi saya lagi nyetir."
"Iya Mas, nggak apa-apa."
Suasana agak sedikit canggung. Dan saat mereka sampai di kantin, semua meja terisi penuh. Bahkan ada yang masih waiting list. Mungkin semuanya pada telat makan siang.
"Kamu ngidam soto banget?" tanya Damar.
"Ya iyasih, cuma lain kali aja deh." Nara tidak mau menyusahkan.
"Tunggu sini sebentar ya."
Damar berjalan ke arah gerobak soto, ia meminta mbaknya untuk mengantar ke ruangan Damar. Jadi mereka tidak harus antri di kantin. Tentu saja mbaknya setuju karena memang sudah kenal dengan Pak Dokter Ganteng, begitu para pedagang di kantin menyebut Damar.
"Kemana ya?" Nara bertanya was was.
"Ke ruangan saya, nanti biar sotonya di antar. Daripada kita nungguin di sini."
"Oke." Akhirnya Nara ada tempat menunggu untuk nanti sore. Karena ia ingat bahwa Mas Mas Ganteng di sebelah Mikail tadi akan menghubunginya, tentu saja jika Mikail menerima tawarannya.
Nara dan Damar sama-sama berkelana dengan pikirannya masing-masing. Hingga sampailah mereka pada lantai 5. Damar punya ruangan sendiri yang di dalamnya ada meja dan kursi untuk bekerja, sofabed untuk menerima tamu dan ketika Damar harus standby di Rumah Sakit, serta kamar mandi yang cukup luas.
Nara duduk dan mengecek handphone-nya. kemudian menepuk kepalanya kencang. Dasar si Nara oneng, bagaimana Mikail bisa menghubunginya jika tadi saja Nara tidak meninggalkan nomor telepon.
Keluar dari Kamar Mandi, Damar terlihat lebih fresh setelah cuci muka. Rambut hitam tebalnya sedikit basah, membuat ada yang nyentrum sedikit di hati Nara.
"Kenapa?" tanya Damar yang masih melihat tangan Nara yang masih menempel di kepala.
"Nggak kenapa-kenapa kok."
"Kamu mau minum apa?" tanya Damar sambil membuka lemari yang di dalamnya ada kulkas kecil.
"Teh dingin."
__ADS_1
Damar menyerahkan sebotol teh dingin dan saking hausnya, Nara langsung menghabiskan setengah botol. Damar membatin, apakah nih anak habis jalan kaki sampai sehaus ini?
"Kamu mau lagi?"
"Enggak, nanti aja. Kalau aku kebanyakan minum keburu kenyang, hahaha," padahal sudah habis setengah botol, dasar nggak nyadar diri.
Damar tertawa dan duduk di sebelah Nara. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Damar sambil menyelipkan rambut Nara ke belakang telinga.
Yang disentuh, tentu saja jantungnya tidak mau kompromi. "Ba-baik. Kan kita baru beberapa hari nggak ketemu."
"Rasanya lama Nara. Kalau kamu naksir saya sedikiiit aja, pasti rasanya lama." Damar maju terus pantang mundur.
Melihat Damar yang benar-benar tambah maju, Nara mojok di ujung sofa. Saat jarak mereka tinggal 15 cm lagi, ketukan di pintu membuyarkan segalanya.
Selamet lagi ni bocah! batin Damar.
Nara menghebuskan napas yang sempat tertahan, lega. Damar bisa membuat jantungnya copot kalau begini caranya.
Soto daging telah datang, ditambah nasi dan emping 2 porsi. Wajah Nara sumringah, dan itu membuat Damar senang.
Mereka makan dalam diam, sebuah kebiasaan yang selalu keluarga Nara tanamkan sejak kecil. Makanya di keluarga Nara tidak pernah ada obrolan hangat di meja makan.
Selesai makan, Nara merapikan meja dan mencuci tangan serta wajahnya di wastafel. Rasanya segala kejadian hari ini membuatnya lelah. Tanpa terasa, Nara menyandarkan kepalanya pada sofa, kemudian terlelap.
Ruangan Mikail
Mikail baru selesai mencuci wajahnya dengan air dingin. Sebuah kebiasaan yang ia lakukan ketika kepalanya sedang pusing.
Ternyata, Nara bukanlah gadis biasa. Ada banyak teka teki di dalam hidupnya, dan yang sejak tadi ia baca mungkin baru 30%. Kini ia menyesal menawarkan diri untuk masuk ke dalam hidup Nara.
Ting!
Sebuah notif email masuk ke dalam handphone Mikail, membuatnya penasaran karena hanya ada subject di sana. Tidak ada email pengirim. Apakah ini adalah sebuah spam?
Yang Terhormat, Tuan Mikail
Mohon bantuannya untuk Nara, karena hanya Tuan Mikail yang bisa. Terima kasih.
Seketika itu juga, Mikail meminta Jeremy untuk menghubungi Nara.
...***...
Hay, perkenalkan aku Ndin. Kenapa pakai nama aneh? Ya gapapa sih, aku punya 2 akun. Sebelumnya pernah nulis dengan judul Jani & Juno dengan nama asli tapi kemudian mandek. Semoga kalau yang ini nggak mandek ya. Salam kenal semua 🙂
__ADS_1