
Mikail dan Jeremy cukup mengusai bidang IT, tapi mereka berdua tidak dapat menemukan siapa pengirim email tersebut.
Mikail menarik kesimpulan bahwa ada seseorang dibalik munculnya Nara. Mungkin orang itu yang meminta Nara untuk memohon bantuan pada Mikail. Tapi siapa?
Tidak mau Nara menjadi korban, Mikail sudah memutuskan sesuatu.
"Je, tolong hubungi petugas kebersihan yang kemarin. Bilang bahwa mulai besok nggak usah kerja lagi karena saya akan bawa Nara ke Apartemen. Oh iya, jangan lupa beri pesangon."
Jeremy sedikit terkejut dengan ide Mikail. Kenapa juga Nara harus tinggal dengan Mikail? Memangnya tidak ada opsi lain?
Yang dipandang tentu saja merasa tertangkap basah. "Sebelum kasus orang tua Nara terbongkar, mungkin sebaiknya bocah itu berada di tempat yang aman," ujar Mikail, berusaha meyakinkan Jeremy.
"Pakbos, kalau Yang Mulia Tara sampai tahu, bisa jadi kalian berdua langsung dibawa ke penghulu daripada tinggal seatap begitu."
Mikail nyureng. "Ya makanya mama jangan sampai tahu. Awas ya kalau kebongkar, gaji ke-13 nggak turun! Lagian emang saya mau ngapain sama bocah itu?!"
Jeremy tertawa sambil mengangguk, kemudian menghibungi Aini yang kebetulan sedang bekerja di Apartemen. Tidak lupa Jeremy meminta Aini untuk membersihkan kamar tamu.
Sementara itu di Rumah Sakit...
Handphone Nara terus berbunyi namun ia tidak terbangun dari tidurnya. Antara kepo dan takut ada info penting, Damar yang tadinya sedang membaca laporan di meja jadi mendekat.
Nomor tidak dikenal. Sebelumnya sudah ada 7x panggilan tidak terjawab. Bangunin aja deh.
Damar menepuk kepala Nara pelan, namun seperti pingsan gadis itu tidak bangun. Akhirnya Damar coba berbisik di telinga Nara hingga ia terlonjak kaget.
"APAAN SIH MAS DAMAR!" bentak Nara sambil megang telinganya yang terasa geli.
Bukannya marah, Damar malah terkekeh. Duh, lagi kaget aja masih ngegemesin!
"Handphone kamu bunyi terus, dari nomer yang nggak dikenal. Takutnya penting, tapi saya nggak berani angkat."
Nara melihat handphone yang tergeletak di atas meja. Eh iya, kok tidak kedengaran ya? Terus kenapa kaki Nara bisa selonjoran di atas sofa yang telah dibongkar. Nara pra-pura tidak tahu kelakuan Damar saja lah.
Saat Nara sedang mengecek handphone, tiba-tiba ada telepon masuk lagi. Ini pasti dari Mas Ganteng!
Nara berjalan menuju beranda untuk mengangkat teleponnya.
"Halo, selamat sore dengan Nara."
__ADS_1
"Sore, Nara. Saya Jeremy, wakil dari Mikail. Saya ingin menginformasikan bahwa mulai nanti malam, kamu akan kami tunggu di kediaman Mikail."
Nara deg-deg-an. Eh, jadi Mikail menerima tawarannya? Baiklah, semoga misteri tentang orang tuanya bisa segera terungkap.
"Dimana alamatnya?" tanya Nara ragu.
"Nanti saya akan mengirimkan alamat beserta barang apa aja yang harus kamu bawa. Mulai hari ini, jadilah asiten yang baik untuk Mikail," Jeremy terdengar menahan tawa.
Nara lemas sendiri, ah bagaimana kalau Mikail meminta ia untuk jadi asisten yang aneh-aneh seperti di novel? Fantasi Nara sungguh tidak bisa ditahan. Dasar bocah baru puber!
"Bagaimana?" tanya Jeremy yang tadi tidak mendapat respon dari Nara.
"Baik."
Selesai menelepon, Nara kembali lagi ke dalam ruangan dengan wajah sedikit pucat. Damar pun merasa kasihan dan mengantar Nara pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Di dalam mobil, pikiran Nara bercabang namun semua bermuara pada Mikail. Ya, ia harus mencobanya. Entah apapun yang dilakukan Mikail, ia harus mencoba untuk berada di sisinya terlebih dahulu.
Mobil memasuki gerbang kosan. Saat Nara bersiap untuk turun, Damar mengusap lembut kepalanya.
"Kalau ada apa-apa, hubungi saya aja."
"Iya, kalau suatu saat aku butuh bantuan pasti akan cari Mas Damar," ujar Nara dengan senyum manis.
Yah, Damar meleleh.
Nara melambaikan tangan pada Damar, kemudian membaca pesan singkat dari Jeremy sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Alamat: Season Apartment, Tower Winter/22
Perlengkapan: Pakaian, peralatan pribadi, dll
Wow, ternyata Mikail tinggal di salah satu apartemen mewah di pusat kota. Pantas saja gayanya selangit.
"Non Nara, kok baru pulang?" tanya Aini saat melihat Nara membuka pintu.
"Iya Bi, aku ada urusan dari pagi," katanya berbohong.
"Makan Non, tadi Bibi dapet rezeki lebih dan beli beberapa makanan untuk Non." Aini membuka makanan yang tadi ia beli dari uang pesangonnya.
__ADS_1
Nara duduk di atas karpet dan memakan semuanya meskipun sedikit-sedikit, sambil berpikir bagaimana caranya pamit pada Aini.
"Bi Ai, mulai malam ini Nara akan kerja sebagai assisten seorang aktris. Makanya Nara memutuskan untuk tinggal sama dia. Bi Ai nggak apa-apa kan kalau tinggal sendiri? Nanti biar Nara yang bilang ke Dannis."
Itu adalah ide yang muncul secara spontan. Jadi asisten aktris, wow semoga Aini percaya. Tapi dari sorot matanya, sepertinya sih percaya saja. Lagian Nara bingung harus beralasan apalagi agar Aini bisa tenang.
Sejak Nara kecil, Aini sudah ada di dalam rumah. Ia yang mengasuh Nara, bahkan hingga kedua orang tuanya pergi. Kadang Nara kasihan, karena terlalu sibuk mengurus dirinya, Bi Ai sampai tidak menikah dan entah keluarganya dimana. Padahal usianya hanya lebih muda 2 tahun dari Mamanya, dan ia belum berumah tangga.
Aini terdiam, apapun keputusan Nara adalah yang terbaik bagi dirinya. Aini tahu bahwa Nara adalah gadis yang penuh pertimbangan saat memutuskan sesuatu.
"Ini buat jaga-jaga selama Non pergi. Bibi juga akan siapkan pakaian Non." Aini beranjak dari karpet setelah menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Ternyata Mikail memberikan pesangon yang cukup banyak.
Satu koper kecil berisi pakaian Nara yang tidak seberapa, peralatan mandi, make up, semuanya jadi satu. Serta sebuah ransel ukuran sedang untuk barang yang tidak muat.
Nara telah selesai mandi dan berganti pakaian yang lebih santai. Kaos polos berwarna pink pastel yang dilapisi cardigan warna senada, serta celana bahan warna navy polos diatas mata kaki.
"Hati-hati ya Non. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi Bibi." Aini mengantar Nara menuju taksi yang sudah dipesan.
"Bi Ai jaga diri ya selama Nara nggak ada. Jangan lupa makan yang teratur. Kalau lagi ke supermarket ada cowok ganteng juga boleh kok digebet," goda Nara.
Aini mengusap matanya yang sedikit perih, dan ikut tersenyum.
Dari dalam taksi, Nara melambaikan tangan dengan sudut mata yang juga basah. Malam ini mungkin terakhir kalinya ia akan merasakan kebebasan.
Nara membaca pesan dari Jeremy lagi. Jeremy bilang Nara harus sampai di tempat Mikail tepat pukul 20.00 WIB. Sesampainya di sana Nara diperiksa sebelum masuk gedung dan ia diberitahu Jeremy kode Apartemen Mikail agar bisa langsung masuk.
Nara berdiri di depan pintu, dengan napas yang menderu karena ini pertama kalinya ia akan satu atap dengan orang asing.
Clik!
Nara berhasil membuka pintu dan melihat sebuah ruangan besar yang gelap dan hanya di terangi cahaya lampu dari beranda yang masuk lewat jendela besar.
Nara berjalan mengendap, apa Mikail tidak ada di rumah? Kenapa gelap sekali.
Saat Nara ingin menyalakan lampu, ada sebuah tepukan di bahunya dan membuat Nara terlonjak hingga ia jongkok sambil berteriak.
Mikail berusaha menahan tawa, kemudian ikut jongkok di hadapan Nara.
"Kamu berani datang juga rupanya. Baiklah, mari kita saling menguntungkan mulai sekarang."
__ADS_1
Bagaikan sebuah perintah, suara Mikail menggema di kegelapan malam. Untuk sesaat Nara terpukau pada sepasang mata cokelat yang bersinar itu.