Terjerat Cinta Mikail

Terjerat Cinta Mikail
Panggilan Dari Hannah


__ADS_3

Aris melirik Mikail dari kaca spion dalam, memikirkan jawaban apa yang sekiranya bisa membuka sedikit pemikiran pakbosnya itu tentang pernikahan.


"Ehemn," Aris berdehem. "Jadi begini pakbos, nikah itu enak sih. Pakbos lihat sendiri kan gimana tiap pagi saya keramas, ya itu semua karena nikah!" Aris terkikik geli membayangkan kalau setiap malam ia harus menahan gerah karena berebut kipas angin dengan anaknya sehingga saat bangun tidur kepalanya gerah dan butuh keramas.


Terbiasa keramas pagi karena nge-gym membuat wajah Mikail memerah, ia ingin membayangkan adegan yang Aris ceritakan itu dengan wanita cantik. Tapi otaknya sedang tidak singkron karena yang terlintas adalah Nara.


Mikail menggeleng keras.


"Ah pakbos, makanya cepetan nikah. Kalau saya mah keramas karena kegerahan di rumah kontrakan, ya tapi kadang karena hal yang lain juga sih. Tapi selain hal yang lain itu, nikah itu butuh tanggung jawab yang besar. Setiap hari ngadepin orang yang sama dengan karakter yang kadang berbeda itu bikin saya stres juga, hahaha. Makanya sebelum nikah kita harus mastiin kalau dia itu orang yang kita sayang banget pakbos." Aris mengakhiri kultumnya sebelum mobil masuk ke parkiran kantor.


Oke, oke, Mikail cukup paham. Intinya ketika memutuskan menikah, maka harus dengan orang yang tepat.


"Nanti siang lunch dimana pakbos?"


"Belum tahu. Nanti saya chat deh Ris."


"Oke siap, pakbos!"

__ADS_1


Sesampainya di ruangan, Jeremy telah duduk di meja tamu Mikail dan memegang 2 tumpuk berkas. Yang satu mengenai pekerjaannya, dan yang satunya lagi mengenai kasus Orang Tua Nara.


Mikail membereskan pekerjaannya terlebih dahulu. Membahas beberapa vendor untuk klinik kecantikan milik Mamanya yang meski sudah berusia setengah abad lebih, masih cantik jelita bak usia 40-an awal. Saat melihat vendor untuk piyama dan perintilan pakaian wanita, Mikail melihat nama Kintan Adinda Surya sebagai Manager Pemasaran di proposal tersebut. Setelah menghitung material dan budgetnya, tanpa pikir panjang Mikail segera meminta Jeremy untuk menghubungi pihak Indovio untuk membuat MOU.


Dengan wajah tegang Mikail mengambil tumpukan berkas yang berisi data mengenai keluarga Nara. Rencananya, Mikail akan membeli saham di perusahaan milik Ayah Nara yang harganya sedang jatuh sejak berita kebakaran tersebut. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang sewa alat laboratorium.


Sebenarnya Mikail menaruh minat karena berhubungan dengan salah satu usaha keluarganya, sewa alat itu cukup menjanjikan di saat kondisi pancaroba yang akhir-akhir ini menimpa berbagai macam negara. Namun di saat sedang menekuni, Jeremy tiba-tiba berteriak kencang.


"GILA!"


"Apaan sih?" tanya Mikail heran.


"Cari informasi siapa dalang dibalik nama Nara itu."


Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul setengah 12 siang. Iseng Mikail melihat CCTV yang ada di rumahnya dan mendapati jemari Nara yang sedang sibuk mengetik di laptop dengan kaki yang duduk bersila di atas sofa, sesekali gadis itu menyibak rambutnya turun karena terkena angin AC yang tepat berada di ubun-ubun kepalanya. Awas saja kalau anak ini besok ijin tidak bebenah rumah karena masuk angin.


Sedangkan Jeremy sejak setengah jam lalu ijin ke luar kantor untuk makan siang dengan istrinya di restoran yang jaraknya hanya 15 menit dari kantor mereka. Sebuah kebiasaan seminggu sekali yang Jeremy lakukan ditengah kesibukan pekerjaan mereka.

__ADS_1


Dddrrttt, dddrrrtttt


Hp Mikail bergetar, ada nama Hannah muncul di layar. Cepat atau lambat memang pertemuan dirinya dan Hannah akan terjadi.


"Hallo."


"Hai Mikail, aku Hannah."


"Iya, ada apa An?" harusnya Mikail menyebut Han, tapi kok seolah ia menyebut Haniy (Honey) ya.


"Makan siang yuk. Kebetulan aku lagi ada di dekat kantor kamu. Bisa lah ya kamu ke sini sebentar," pinta Hannah tanpa basa basi.


Wow, Mikail tidak menyangka bahwa Hannah bisa meminta langsung seperti itu. Mungkin kapok kalau dia tidak berpendirian teguh maka akan gagal kembali seperti sebelumnya.


Mikail tertawa kecil. "Oke, 15 menit lagi saya ke sana."


"Thank you ya Mikail," ujar Hannah sopan.

__ADS_1


Sebelum merapikan pekerjaannya, Mikail sempat melihat CCTV kembali dan nyaris menyemburkan air mineral yang baru saja masuk ke tenggorokannya ketika ia melihat Nara sudah tertidur pulas dengan leher menjulur di sofa dan mulut yang terbuka lebar.


Dasar orang aneh!


__ADS_2