
Hannah memoles lip tint berwarna pink orange pada bibirnya, mengatupkan sekali agar lip tint itu merata. Tidak lupa ia menyibak rambutnya ke belakang telinga agar sepasang anting ceplik dengan berlian mungil itu terlihat jelas.
Hannah melirik jam tangannya, oh ternyata masih ada waktu 4 menit lagi. Ia pikir sudah lama menunggu Mikail. Saat ia melirik kembali ke arah pintu masuk, ia melihat sosok Mikail jauh melebihi apa yang ia bayangkan saat pertemuan pertamanya dulu.
Lelaki itu masuk ke dalam restoran dengan senyum angkuh (yang entah kenapa terlihat cocok di wajah Mikail) pada security yang membuka pintu untuknya. Ia memakai setelan jas berwarna navy dengan turtleneck hitam, sepatu kulit hitam yang mengkilat, serta rambut cokelatnya yang tidak diberi gel.
Detik itu juga Hannah bersumpah akan mengejar Mikail seperti saran dari Mamanya.
"Udah lama nunggu?" tanya Mikail sambil menarik kursi di hadapan Hannah.
Hannah melirik jam tangannya sekilas, "Yaaa, udah 13 menitan lah."
Mikail mengangkat bahu, "Yang penting nggak telat kan."
Hannah terkejut ketika Mikail tiba-tiba menatap matanya. Ia segera mengalihkan pandangan pada buku menu dihadapannya. "Kamu mau makan dan minum apa? Biar saya pesenin sekalian."
"Iga bakar + nasi, japanese ice," jawab Mikail singkat.
"Oke."
Hannah memanggil server yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kemudian memesan apa yang Mikail bilang barusan, serta tenderloin steak dan jus stroberi untuk dirinya sendiri.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang memulai pembicaraan. Mikail sibuk memandang lalu lintas di luar jendela, sedangkan Hannah berusaha curi-curi pandang sambil sesekali memainkan handphone-nya.
"Apa ini kencan?" bibir Hannah terasa kelu saat menanyakan pertanyaan yang menurutnya amat sangat bodoh tapi patut dicoba. Sejak lahir kadar pede dalam diri Hannah sudah 93%.
Mikail memajukan tubuh serta menaruh kedua tangannya di atas meja. Dengan wajah datar ia justru bertanya balik. "Menurut kamu?"
Hannah tergagap. Kepalang tanggung, hajar aja lah!
__ADS_1
"Iya dong," jawab Hannah.
Mikail mengangguk singkat, kemudian menjawab dengan nada kalem. "Ya terserah kamu juga sih nganggepnya apa. Saya cuma mau nepatin janji."
Hannah tersenyum manis. Lalu mengalirlah beberapa pertanyaan basic yang Hannah lontarkan sampai makanan mereka datang. Meskipun Mikail menjawab seadanya, namun Hannah cukup puas. Mikail yang terkenal dingin, ternyata mau menjawab pertanyaan darinya.
Pukul 14.00 WIB. Setelah satu setengah jam Mikail dan Hannah bersama, kini saatnya Mikail kembali ke kantor. Ia mengantar Hannah sampai masuk ke dalam taksi. Mikail tidak menjanjikan apapun, namun Hannah terus memberi kode bahwa akan ada pertemuan ketiga, keempat dan seterusnya pada mereka berdua.
"Sampai jumpa lagi, semoga kamu nggak kapok ketemuan sama saya." Hannah memperlihatkan barisan gigi rapinya beserta sepasang lesung pipi.
Mikail hanya menanggapi dengan senyum kecil. Kemudian masuk ke dalam mobil setelah Aris muncul di hadapannya.
"Ciyeh, udah kepikiran untuk nikah nih pakbos ceritanya?" goda Aris yang sempat melihat pakbosnya lunch sama wanita. Pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat.
"Hushhhhhhhh, terlalu cepat narik kesimpulan itu nggak baik!"
Asris terkekeh. "Tapi cantik kok yang tadi. Biarpun agak kurang cocok aja kelihatannya. Gimana ya, biarpun saya yakin lebih tua pakbos, tapi kalau sejajar gitu kelihatan dewasa perempuannya."
"Cuma temen Ris, kebetulan pas ke rumah Mama kemarin janji bakal makan siang sama dia."
Aris mengangguk sambil senyum-senyum.
Setelah sampai kantor, Jeremy sudah menunggu di ruangan dengan draft MoU yang sudah di email oleh pihak Kinan. Rencananya pukul 3 sore nanti Kinan sendiri yang akan mengunjungi kantor Mikail untuk bertemu dengan Tara.
...***...
Sementara itu di Apartemen, Nara terlihat puas setelah menyusun belanjaan yang ia beli di supermarket bawah. Mikail memberinya uang cukup banyak dan ia belanjakan 30%, sisanya ia taruh di atas meja tamu.
Perut Nara keroncongan, dengan cepat ia memotong pakcoy, cabai rawit dan merebus telur setengah matang untuk topping mie instan rasa soto yang tadi ia beli beberapa untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Nara duduk di kursi bar, kemudian mengetikkan pesan singkat di handphone sembari menunggu mie-nya agak dingin. Ya, Nara memang tidak bisa makan sesuatu yang menurut orang-orang sudah tidak panas, tapi menurut dia masih panas banget.
Aini membalas pesan rindu yang Nara ungkapkan. Saat sedang asik mengetik pesan, ada sebuah panggilan dari nomor telepon kantor.
"Halo," sapa Nara.
"Halo selamat siang, dengan Nara?"
"Iya, saya Nara. Ini dengan siapa ya?"
"Saya Ruslan, Nara. Masih ingat kan? Saya sekretaris Bapak Wiguna di kantor."
"Slurrrppp, oh Om Ruslan. Iya kenapa Om?" tanya Nara sambil sesekali menyeruput mie-nya.
"Besok pukul 10 pagi kamu saya tunggu di kantor. Kita akan bertemu dengan pengacara Bapak untuk membicarakan tentang surat wasiat yang masih tersimpan."
"Emangnya Nara masih punya warisan, Om?" tanya Nara polos.
Ruslan tertawa. "Tentu aja ada. Cuma karena Bapak memiliki hutang di beberapa tempat, jadi warisan kamu tidak terlalu banyak."
Nara terdiam. Oh iya ya, beberapa minggu ini Nara terlalu sibuk jadi orang yang terlalu susah, sampai ia lupa bahwa surat warisan dari Papanya belum diberikan oleh pengacara. Ya, setidaknya Nara bisa membayar hutang pada Damar dan tidak perlu ngebabu pada Mikail.
"Baik Om, besok Nara akan datang ke sana."
"Ya sudah, besok kami tunggu ya. Terima kasih dan selamat siang Nara."
"Siang."
Mie di dalam mangkuk telah habis. Setelah mencuci peralatan masak dan menaruh pada tempatnya, sesekali Nara memandang tempat tinggalnya ini.
__ADS_1
"Nanti kalau aku punya uang, aku pergi dari sini ya?" Nara bergumam sendiri.
Harus Nara akui sedikit hatinya terasa dingin. Mikail adalah orang pertama yang tinggal dengannya selain kedua orang tua dan seluruh penghuni rumahnya dulu. Rasanya agak sedikit tidak rela jika harus melepas lelaki setampan dan seangker Mikail.