
Seorang lelaki menghirup aroma kopi hitam yang baru saja dibawakan oleh sekretarisnya. Paling tidak kopi hitam bisa mengurangi sakit kepala yang ia derita akhir-akhir ini karena banyaknya pekerjaan.
Dialah Mikail Langit Sastrawan. Lelaki tampan dan mapan. Memiliki tinggi badan 180 cm, hidung mancung, bola mata berwarna cokelat dan rambut sedikit ikal. Ia digadang-gadang berada di urutan nomor 7 sebagai pria yang paling ingin diajak kencan versi sebuah majalah metropop. Tentunya yang memilih Mikail hanyalah anak-anak konglomerat serta artis Ibu Kota saja. Sedikit orang yang tahu bahwa ada seorang Mikail di dunia ini.
"Iya ma," Mikail menjawab telepon ketika wajah Ibunya mucul di panggilan.
"Tolongin mama dong, nanti sore mampir ke sini ya."
"Ada apa?"
"Ini, tv di rumah rusak. Masa mama nggak bisa nonton tv sih. Padahal bulan ini mama sudah bayar tagihan lho."
Alis Mikail mengeriting. "Jadi internetnya yang mati? Tv-nya nggak rusak? Tapi buat handphone kok masih nyala?"
"Ih, orang mama sekarang pakai kuota internet. Dari semalem tuh mati. Makanya mama nggak bisa nonton sinetron kesayangan mama."
"Kalau gitu Mikail hubungi teknisinya aja ya."
"Ehhh, jangaaannn," jerit mama. "Kalau ada kamu, ngapain juga mama harus keluarin uang untuk bayar teknisi. Udah ah mama maunya kamu, titik. Jangan lupa jam 6 sore sampai rumah ya. Bye, anak ganteng mama."
Sudah Mikail duga, ini hanyalah akal-akalan mamanya. Kalau memang jaringan internetnya masalah, mana mungkin kita disuruh bayar teknisi. Dan juga apalah arti uang yang tidak seberapa itu bagi mamanya. Heumn, Mikail patut curiga. Tapi ya sudahlah, mungkin mamanya sedang rindu pada anak bontotnya.
"Je, tolong ke sini sebentar... " Mikail menelepon Jeremy melalui intercom.
Ketuk pintu 2x, wajah Jeremy muncul dari balik pintu. "Ada apa pakbos?"
"Sore ini saya ada jadwal nggak?"
__ADS_1
Jeremy membuka note di handphone-nya. Ternyata sore ini jadwal Mikail kosong. "Nggak ada sih pakbos, jadwalnya kosong. Emang mau kemana sih?" tanya Jeremy dengan nada meledek. Mikail mah, kalau bukan urusan mamanya ya musuhnya. Dua jenis itu saja sudah.
"Biasalah... Tante anda mau gangguin saya," nyinyir Mikail.
"Yha, namanya juga buibuk."
Jeremy geli sendiri membayangkan kelakuan Ibu dan Anak itu. Jeremy adalah anak dari kakak laki-laki Tara, alias mamanya Mikail. Berusia satu tahun di atas Mikail dan sejak SMP sekolah di tempat yang sama. Seolah Jeremy sudah ditakdirkan untuk jadi wakilnya Mikail.
Berbeda dengan Mikail yang gemar cari onar dan berkelahi karena ia pemegang sabuk hitam, Jeremy tidak. Jeremy bisa berkelahi, namun jika masih bisa bernegosiasi cara damai akan ia lakukan. Tidak main asal tabok seperti kelakuan Mikail.
"Ya sudah pulang sana, hari ini saya mau mampir ke rumah Mama. Oh iya, petugas kebersihan yang baru itu bagus juga kerjanya. Selama dia nggak cari masalah, tolong gaji dia tepat waktu."
"Baik pakbos."
Pukul 17.15 WIB
"Mampir rumah mama dulu ya, Ris."
"Siap pakbos."
Rumah keluarga Sastrawan tidak terlalu jauh dari kantor Mikail, hanya saja daerah ini terkenal sangat macet ketika jam pulang kantor. Mikail baru sampai rumah ketika jam menunjukkan pukul 17.56 WIB.
Nuansa cokelat kehitaman menyambut Mikail ketika memasuki rumah yang terletak di salah satu komplek perumahan elit kota ini. Rumah itu posisinya hook, terdiri dari 2 lantai, lebih luas dibandingankan dengan rumah-rumah lain sekitar.
"Selamat sore Mas Mikail," sapa beberapa pelayan yang melihat Mikail masuk ke dalam rumah.
Mikail mengangguk singkat. Ia berkeliling mencari mamanya, dan menemukan di dalam ruang nonton yang dulunya dibuat untuk nobar Mikail dan Ayuni (kakak perempuan satu-satunya Mikail). Setelah Ayuni menikah dan Mikail memilih tinggal di apartemen, ruang itu jadi milik mamanya.
__ADS_1
"Hay anak mama," Tara memeluk Mikail begitu anaknya itu masuk.
"Mana sih yang rusak?"
"Itu kamu cek aja sendiri. Oh iya, kamu udah makan belum?"
Mikail melihat ke belakang tv, dan mendapati salah satu kabel sambungan wifinya putus. Pantas saja mati, sampai 7 turunan juga tidak akan nyala kalau begini. Huh, mamanya terlalu mudah ditebak. Masa iya ada banyak penghuni tapi tidak bisa menemukan kendalanya.
"Mama masak apa hari ini?" Mikail meraih remote tv dan sedetik kemudian acara tv kembali menyala. Sambungan wifi di handphone juga sudah bisa.
"Tadi mama masak ikan balado, sop daging, ayam bakar. Sebentar lagi kita makan malam ya. Kamu ganti baju dulu sana."
Mikail menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2. Sejak punya apartemen 7,5 tahun lalu, Mikail memang lebih sering tinggal di sana.
Akhirnya Mikail mengambil kaos polos warna hijau botol dan celana training warna navy. Sengaja ia tidak mandi karena sampai di apartemen nanti dia mau gym.
Pintu kamar Mikail diketuk oleh salah satu pelayan dan mengatakan kalau makan malam sudah siap.
Mikail menuruni tangga, dan agak terkejut ketika melihat mamanya duduk berhadap-hadapan dengan seorang wanita di ruang makan.
"Oh, jadi ini akal-akalan mama," gumam Mikail dalam hati.
"Mikail kenalin, ini Hannah anaknya tante Lisa. Hari ini Hannah kebetulan lagi antar bunga pesanan mama, jadi sekalian aja mama ajak makan malam. Nggak apa-apa kan?" ucap mama yang lebih mirip pernyataan ketimbang pertanyaan.
Hannah tersenyum manis dan menunculkan lesung pipi di kanan kiri. Mikail menjawab dengan anggukan kecil.
Lalu mengalirlah percakapan antara Mamanya dan Hannah selama makan malam berlangsung.
__ADS_1