Terjerat Cinta Mikail

Terjerat Cinta Mikail
Olahraga Jantung


__ADS_3

Setelah Jeremy menelepon Nara tentang persiapannya pindah, Mikail langsung membereskan pekerjaan yang tersisa. Pokoknya pukul setengah delapan malam Mikail harus sudah sampai rumah.


Jeremy sampai geleng-geleng kepala karena Mikail mengerjakan semuanya secara kilat. Tapi baguslah, dengan begitu Jeremy juga bisa sampai rumah lebih cepat.


Aris yang sedang ngopi sambil main gaplek sama security di pos satpam terkejut ketika pakbos-nya menelepon. Tumben, biasanya Mikail akan pulang paling cepat pukul 20.00 WIB.


"Tumben pakbos udah pulang," ujar Aris sambil melirik kaca spion dalam.


"Ada urusan penting," jawab Mikail singkat.


Perjalanan kali ini terasa agak lama, sesekali Mikail melirik jam tangannya. Padahal hanya seorang Nara, apa pentingnya sampai Mikail tergesa seperti ini? Mikail merasa lucu sendiri.


Sesampainya di Apartemen, Mikail membersihkan tubuhnya, kemudian memakai polo shirt warna putih dipadu dengan celana training hitam.


Pasti Nara akan mengikuti perintahnya (tentu saja jika Nara masih waras), makanya Mikail bersiap di dekat pintu ketika menjelang pukul 20.00 WIB dan mematikan semua lampu. Sengaja, agar suasananya lebih dramatis.


Click!


Nara membuka pintu dan masuk dengan hati-hati. Matanya menyapu ruangan yang gelap, dan ketika tangan Mikail menyentuh bahunya, ia menjerit sambil jongkok. Kena!


Mikail berusaha menahan tawa, kemudian ikut jongkok di hadapan Nara.


"Kamu berani datang juga rupanya. Baiklah, mari kita saling menguntungkan mulai sekarang."


Bagaikan sebuah perintah, suara Mikail menggema di kegelapan malam. Untuk sesaat Nara terpukau pada sepasang mata cokelat yang bersinar itu.


"Hemn," Mikail berdehem dan menyadarkan Nara kembali.


Lampu telah dinyalakan dan membuat mata Nara dimajakan oleh suasana minimalis dari rumah Mikail.


"Ikut saya."

__ADS_1


Nara mengikuti Mikail sambil membawa tasnya. Mikail berhenti dan membuka sebuah pintu berwarna hitam yang berada di ujung kiri ruangan.


"Mulai sekarang, tinggalah di kamar ini. Segala hal yang perlu kamu pelajari dan lakukan udah saya email, dan kamu boleh pakai laptop yang ada di laci itu. Setiap pagi, setelah kamu selesai bersih-bersih rumah, Jeremy akan mengirimkan berbagai pelajaran."


Mata Nara berbinar.


"Sekarang saya mau tidur, besok pagi siapin telur rebus 2 sama jus mangga jam 7 pagi," perintah Mikail.


"Siap pakbos!" seru Nara sambil hormat pada Mikail.


Nara memasuki kamar tersebut setelah Mikail masuk ke kamar utama. Kemudian matanya berbinar. Bagaimana ya menjelaskannya. Kamar ini tidak terlalu luas, namun nyaman. Di dalamnya ada ranjang berukuran queen, meja kursi belajar yang menghadap jendela kecil, lemari pakaian yang tidak terlalu besar, sebuah tv yang menempel dinding dan ada kamar mandi dalam.


Nara membuka laci meja dan mendapati laptop merk apel terbaru. Enak juga ya jadi anak buah Mikail.


Setelah merapikan barang bawaannya yang tidak seberapa, Nara duduk di atas kasur sambil membuka laptop. Cek email, lalu drive dan sosmed. Siapa tahu ada yang menghubunginya.


Tanpa terasa malam datang, Nara tertidur dengan laptop dan lampu yang masih menyala. Tepat pukul 05.00 WIB, Nara terbangun dengan tubuh yang agak pegal. Setelah cuci muka, sikat gigi dan melakukan kewajibannya, Nara bergegas menuju dapur.


Tampaknya Mikail belum bangun, pintunya masih tertutup rapat. Nara membuat pesanan Mikail saja lah.


"Heumn," Nara menarik nafas agak kencang.


"Kok tarik nafas?" tanya Mikail yang tiba-tiba muncul di belakang Nara.


Nara terlompat kaget. "Bisa nggak sih pakbos itu jangan ngagetin saya mulu. Kalau saya mati muda gimana?" protes Nara kesal.


"Bayi baru lahir kalau udah takdirnya meninggal ya meninggal aja, nggak perlu harus muda dulu," jawab Mikail aneh.


Kesal juga ya meladeni Mikail. Akhirnya Nara beranjak dan melanjutkan pekerjaannya. Ia menaruh panci berukuran kecil yang terbuat dari keramik untuk merebus telur. Jika diperhatikan, dapur Mikail ini berisi barang-barang mewah, sayang kulkasnya kosong.


Mikail sendiri berjalan menuju pintu di ujung kanan ruangan. Entah itu ruangan apa, yang pasti setengah jam kemudian ketika pintunya kembali terbuka, Mikail terlihat, uh.

__ADS_1


Jantung Nara kembali berolahraga. Baru selesai menaruh telur dan jus mangga di meja panjang ala-ala bar, Mikail muncul dengan tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat. Mengalirkan sesuatu yang menyetrum di hati Nara.


"Kenapa?" tanya Mikail saat melihat Nara membuka sedikit mulutnya.


Begitu tersadar, Nara mengalihkan pandangannya ke langit-langit. "Nggak kenapa-kenapa kok."


Masih dengan pakaian yang basah, Mikail duduk dan menyantap sarapannya. "Nanti siang kamu boleh belanja di supermarket bawah, tapi jangan lama-lama ya. Dan mulai sekarang, kalau kamu mau pergi keluar harus laporan sama saya."


"Iya."


Mikail menyadari bahwa hidungnya mencium aroma sesuatu. Wajahnya mengerenyit ketika sadar bahwa Nara bau belum mandi (padahal sendirinya belum mandi juga, shombong amat!).


"Mandi sana! Besok-besok mandi dulu baru keluar kamar."


Nara tersinggung dan mengendus tubuhnya sendiri. Nara itu nggak bau ya, hanya saja kalau keringetan lehernya suka mengeluarkan aroma asem gitu, wkwk.


Akhirnya Nara kembali ke kamarnya. Mandi secepat kilat dan kembali keluar kamar. Ternyata Mikail sedang bersiap ke kantor. Kalau begitu nanti saja Nara bebenahnya. Bisa-bisa setiap gerak geriknya dikomen kalau bebenah masih ada Mikail.


Mikail keluar dari kamarnya dan membuat jantung Nara kembali berdetak melebihi batas wajar. Rambutnya masih agak basah berantakan dan pakaian yang warnanya serba gelap membuat kesan misterius. Ini Mikail baru keluar dari kamar apa dari surga sih? #eaaa


"Tolong ambilin tas saya."


Nara menyerahkan tas Mikail yang tergeletak di sofa. Ia jadi tersipu sendiri, begini kali ya rasanya jadi seorang istri.


"Kenapa?" Mikail kembali bertanya saat melihat Nara senyum-senyum sendiri.


"Heumn, selamat jalan pakbos. Semoga hari ini menyenangkan," ujar Nara tulus.


Mikail hanya mengangguk, kemudian membuka pintu dan turun menggunakan lift. Sesampainya di dalam mobil, Mikail jadi senyum-senyum sendiri. Oh, jadi seperti ini kali ya rasanya punya istri. Pantas saja Jeremy dan Aris memilih untuk nikah muda.


"Ris, nikah itu enak nggak sih?" tanya Mikail tiba-tiba.

__ADS_1


Hampir saja Aris ngerem mendadak, ada angin apa pagi gini pakbosnya bertanya tentang pernikahan.


Aris menatap kaca spion dalam dan melihat Mikail senyum tanpa henti. Baiklah, Aris akan memikirkan jawaban yang oke untuk pakbosnya.


__ADS_2