
Abad ke 21
Menuju ke rumah sakit untuk maggang, Liu Wei menggunakan gaun biru muda dan putih yang serasi dengan sepatu datarnya.
Dia cantik segar, dengan mata besar dan bibir yang selalu tersenyum. saat berjalan dengan sahabatnya Song Jia yi, dia tiba tiba menyaran kan,
" Cuacanya sepertinya sanggat bagus. mungkin nanti kita harus membeli es cokelat nanti. "
Song Jia Yi hanya tersenyum menatap sahabatnya yang sedang menatap langit sambil tersenyum cerah.Bodoh sekali, pikirnya.
" pagi dokter Lee !! pagi suster Mo !! " mereka menyapa senior mereka dalam perjalanan ke kamar masing - masing.
Di hari yang cerah, ia membaca novel dengan judul " The General " . dia meminjam dari perpustakaan yang terletak di seberang rumah sakit kemarin.
Saat sedang menjelajahi buku medisnya , dia secara kebetulan sebuah buku di ujung rak buku.
'Sepertinya buku tua ' batinnya.
Dia menatap buku itu sedikit lebih lama sambil berpikir apakah ia inggin membacanya atau tidak.
Sampul buku itu membuatnya terpikat. itu adalah gambar seorang pria memegang pedang yang luar biasa dengan punggung menghadap ke pembaca.
Liu Wei adalah salah satu penggemar berat novel romantis dan horor tetapi ia tidak tahu mengapa novel ini menariknya seperti magnet.
__ADS_1
Novel ini pada dasarnya bercerita tentang kehidupan dan kematian sang jendral, Dia belajar bahwa dia memiliki ke pribadian yang dingin dan kejam.
" Jika seseorang seperti dia ada di dunia ini, dunia kita akan damai kan ? " Liu wei menatap novel itu , saat ini dalam membaca bab pertamanya.
" Mungkin " Song Jia Yi berkata sambil mengerutkan kening karena sinar matahari.
" Dia tampak seperti pria yang hebat dan aku ingin tahu seperti apa tampangnya...."
Sebelum Liu Wei selesai bicara, dia diingatkan oleh suara alaramya, yang menandakan waktu istirahat telah usai.
Melanjutkan perkerjaanya sendiri, diisi dengan membantu pasien dan belajar lebih dalam lagi tentang bantuan medis.
Dalam perjalanan mereka kembali, mereka pergi ke kafe untuk mengambil minuman seperti yang mereka rencanakan sebelum nya, kemudian mereka ke kamar masing - mading yang Ada di asrama gadis itu.
Liu wei melambai pada sahabatnya yang saat ini sedang berjalan menuju kamarnya, Song Jia Yi hanya melambai dengan malas saat dia merasa sanggat lelah.
Masuk ke dalam kamarnya, dia merasa bahagia, melihat tempat tidurnya. ia segera mandi, memakai piyama polkadotnya dan langsung merebahkan dirinya di kasur kesayanganya.
' Mungkin aku harus tidur lebih awal hari ini '
Pikirannya mengembara dengan mata terpejam ketika ia sedang mencoba untuk tidur. tiba - tiba bayangan pria atau punggung jendal muncul di benaknya.
Matanya tiba tiba melebar dan ia melompat keluar dari tempat tidurnya dan mencari buku di tasnya.
__ADS_1
Mencarinya dengan tergesa gesa, dia akhirnya menemukanya. dia kemudian dengan cepat membalikan ke halaman ke empat diamana ia berhenti.
" Ayo kita melompat ke endingnya karena aku punya jadwal yang padat besok " dia berbicara dengan dirinya sendiri.
Menyadari ia tidak mungkin untuk menyelesaikan nya segera, dia melewati banyak bab. dia melihat sekilas ketika sang kaisar memilihkan seorang istri untuk jendral.
Liu Wei juga membaca bab yang sangat singkat dimana sang jendral di bunuh oleh musuhnya.
Dalam bab ini , kematian sang jendral sebenarnya di sebakan oleh musuhnya dan salah satu pasangannya sendiri yang mengkhianatinya dengan tidakan yang licik dan skema yang kejam.
Dalam bab ini Liu Wei tanpa sadar di selimuti oleh glombang emosi dan kesedihan.
Dia tidak tahu mengapa tapi matanya terasa sangat panas. kemudian air matanya jatuh seperti sungai.
' Kenapa aku merasa seperti ini ? mengapa saya merasa begitu patah hati untuknya ' Dia memikirkanya sambil menangis.
Meraih tumpukan tisu untuk menyeka air matanya tapi sepertinya itu tidak mau berhenti. dia merasa sangat sedih.
Tinggal beberapa halaman lagi, dia masih belum membaca tentang dalang dibalik kematian sang jendral itu, lalu Liu Wei dan pergi tidur.
Berbaring sambil melihat langit langit kamarnya, dia terus mengingat kematian sang jendral. akhirnya ia terus menangis sampai tertidur .
" Aku membacanya besok malam lagi "
__ADS_1