
Hari Senin adalah hari dimana seluruh orang akan melakukan kembali aktivitas setelah hari libur. Itu juga terjadi pada sosok gadis cantik bernama Fira. Di kediaman rumah Fira yang sederhana, Fira sedang menyiapkan kebutuhan dia untuk berangkat bekerja. Ibu Fira yang bernama Lilis sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Sedangkan ayah Fira bernama Anton memilih membaca Koran di teras rumah. Sebenarnya Ayah Anton dulu bekerja sebagai supir pribadi keluarga kaya. Tapi karna faktor usia yang sudah tua dan kondisi fisiknya yang mudah lelah, Ayah Anton memilih berhenti dan menyibukkan diri dengan burung kesayangannya bernama Petruk di rumah.
“Ayah…Fira… sarapannya sudah siap, ayo kita sarapan dulu.” Teriak Ibu Lilis memanggil Ayah Anton dan Fira
“Iya bu sebentar, Fira lagi ngerapiin rambut.” Ucap Fira menyahuti ibunya.
Setelah merapikan rambut dan memoles sedikit make up, Fira keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana sudah Ayah Anton dan Bu Lilis yang menunggunya.
“Nak, kamu kalau sarapan di banyakin, supaya kamu di sana kerjanya semangat.” Ucap Bu Lilis menasehati Fira karena melihat porsi makan Fira yang sedikit.
“Iya nak, kata ibumu benar. Kamu harus makan agak lebih banyak, supaya kamu di sana nggak gampah lelah dan lapar. Maafin ayah yang belum bisa bahagian kamu, seharusnya ayah yang harus kerja bukan kamu.” Ucap ayah Anton sedih
“Fira nggak papa kok Yah, di tempat kerja Fira semuanya pada baik sama Fira. Jadi ayah nggak usah merasa bersalah, sudah kewajiban Fira sebagai anak untuk mencukupi kebutuhan ayah sama ibu.” Jelas Fira dengan lembut.
Mendengar penjelasan Fira, Ayah Anton dan Bu Lilis merasa terharu. Mereka bangga memiliki anak seperti Fira. Pekerja keras, cantik, ramah dan paling utama dia mengorbankan waktunya demi membahagiakan keluarga.
Setelah selesai sarapan, Fira melihat jam dinding dan ternyata menunjukan sudah hampir pukul 07.00 pagi. Itu menandakan sebentar lagi akan masuk kerja. Melihat itu Fira buru-buru pamit pada kedua orang tuanya.
“Ya udah, kalau begitu Fira berangkat ya…” Pamit Fira pada kedua orang tuanya
“Ya nak, kamu hati-hati bawa motornya jangan ngebut dan sebelum pergi baca doa dulu.” Ujar Bu Lilis memberi nasehat pada Fira.
__ADS_1
“Ya bu” Ucap Fira
Setelah berdoa dan berpamitan pada kedua orang tuanya, Fira melajukan sepeda motor meninggalkan kediaman rumahnya menuju tempat kerja. Sepanjang perjalanan, Fira masih mengingat ucapan dirinya pada Ayah Anton. Sebenarnya di tempat kerja Fira, ada yang selalu mencemooh dirinya. Sebut saja namanya Nindi. Fira juga tidak
tahu apa sebabnya. Karena semenjak dia masuk kerja pertama kali, Nindi sudah menatap sinis dirinya seolah olah Fira sedang merebut sesuatu berharga dalam hidup Nindi. Bahkan tidak segan mengerjainya. Namun Fira tak pernah membalas sedikit pun perbuatan yang dilakukan Nindi. Karena Fira tahu bahwa setiap kejahatan belum tentu harus dibalas kejahatan juga. Bisa saja suatu hari nanti, Nindi sadar dan merenungi perbuatannya tersebut.
.
.
.
Sesampainya di tempat kerja, Fira sudah ditunggu oleh kedua sahabatnya bernama Fando dan Elis. Mereka adalah sahabat Fira mulai dari SMP sampai sekarang. Alasan mereka memilih menjadi cleaning servis juga sama yaitu karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan ke jenjang kuliah.
“Iya nih, tadi gue keasikan ngobrol sama ayah dan ibu jadi lupa waktu hehe…” Ucap Fira sambil cengengesan.
“Ya udahlah buruan masuk, soalnya kata Bu Lidia nanti itu ada pimpinan perusahaan sama anaknya mau datang.” Ucap Fando memberitahu kedua sahabatnya.
“Fan, kenapa nggak bilang dari tadi sih. Kan gue bisa siap-siap, mana hari ini bagian pekerjaanku banyak.” Protes elis sambil cemberut
“Udahlah nggak usah ribut, nanti gue bantu ngerjain.” Kata Fira menenangkan Elis.
“Untung gue punya sahabat pengertian kayak Fira, nggak kayak lo Fan, bisanya cuma bikin gue kesel.” Gerutu Elis
__ADS_1
“Gini-gini gue juga sahabat lo Lis. Coba kalau lo nggak nebeng gue tadi berangkat ke perusahaan. Lo mau naik apa coba? Jalan kaki juga jauh, mau naik angkutan nggak akan ada yang lewat karena rumah lo itu bagian pelosok. Masih kurang apa coba gue jadi sahabat lo.” Kesal Fando
“Hehe…iya juga ya, sorry deh gue lupa. Jangan marah dong Fan, tadi gue becanda kok.” Ucap Elis
membujuk Fando.
“Giliran di gituin baru nyadar, dari tadi kemana lo.” Kata Fando masih kesal.
“Ya udah deh Fan jangan dibahas mulu, plis… maafin gue. Tadi itu cuma becanda kok, Fando itu baik trus ganteng dan yang penting lucu imut kayak marmot.” Bujuk Elis sambil tersenyum manis.
“Udah deh gue maafin, eneg gue lihat senyum loh.” Kata Fando dengan nada mengejek
“Gue tarik pujian buat lo yang tadi, udah dipuji malah di bilang senyum gue bikin eneg. Gimana gue nggak kesel tiap hari sama lo.” Ucap Elis kesal
“Udah deh, kalian nggak usah berantem, nanti siapa tahu kalian jodoh. Hahaha…” Ucap Fira sambil tertawa.
“Gue jodoh sama dia, bisa darah tinggi trus gue ngadepin sikapnya.” Kata Elis sambil cemberut
“Lo bilang nggak mau, awas aja kalau sampai terpesona dengan ketampanan abang Fando seorang.” Kata Fando menyombongkan dirinya.
“Nggak minat dan nggak akan pernah terjadi.” Balas Elis
“Ya udah deh, ayo buruan masuk katanya nanti ada pimpinan dan anak pimpinan mau ke perusahaan. Nanti kita bisa diomelin sama Bu Lidia loh kalau masih di sini.” Kata Fira menengahi pertengkaran kedua sahabatnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Fira, Fando dan Elis sadar dan kembali berbaikan seperti sedia kala. Walaupun tadi mereka sempat terjadi pertengkaran, tak membuat mereka memutuskan persahabatan yang sudah terjalin sejak lama. Bahkan menurut mereka pertengkaran itu hanya sebagai bumbu-bumbu manis dalam menjalani sebuah ikatan persahabatan.