
Selamat membaca
“Pah, Ray mau keluar dulu.” Izin Ray
“Emangnya kamu mau kemana?” Tanya Papa Denis
“Ray mau ketemuan sama Angga di café miliknya.” Jawab Ray
Note: Angga adalah teman SMA Ray dan memiliki café sendiri.
“Ya udah, papa izinin karena hari ini memang belum ada tugas buat kamu. Tapi kalau besok kamu udah mulai sibuk.” Kata Papa Denis memberi izin dan mengingatkan Ray.
“Okey deh pah, kalau begitu Ray berangkat.” Jawab Ray
“Kamu mau pakai mobil sendiri atau diantar Pak Cipto?” Tanya Papa Denis
“Ray mau pakai mobil sendiri aja.” Jawab Ray
“Kalau begitu kamu hati-hati, jangan ngebut.” Pesan Papa Denis
“Iya pa.” Jawab Ray singkat
“Emang aku anak kecil yang harus dinasihati mulu tiap hari.” Gerutu Ray dengan kesal di dalam hati sambil melangkah keluar dari ruangan papanya.
Sesampainya di parkiran, Ray masuk mobil dan melajukan mobilnya keluar dari area kantor. Ray yang merasa jalanan sedikit sepi memilih menambah kecepatan. Namun siapa sangka di pertengahan jalan, motor di depannya tiba-tiba berhenti mendadak. Karena tidak ada persiapan sama sekali, Ray menabrak pengendara di depannya membuat pengendara terjatuh dan motornya menimpa tubuh pengendara.
Ray yang melihat itu langsung keluar, bukannya membantu pengendara di depannya. Dia malah melihat bagian depan mobilnya apakah ada yang lecet.
“Gimana sih kalau bawa motor, kenapa harus berhenti mendadak bikin mobil aku lecet aja.” Kata Ray dengan marah dan kesal.
“Loh bukannya bapak yang salah, kenapa malah nyalahin saya.” Jawab si pengendara yang tak lain adalah Fira.
Karena melihat Ray memakai jas Fira memilih memangilnya bapak atau pak.
“Kok aku sih bukannya kamu, kenapa juga harus berhenti mendadak.” Kata Ray masih dengan nada kesal.
“Apa bapak nggak lihat di depan sana ada kecelakaan? otomatis saya berhenti, bapak aja yang dari sananya terlalu ngegas jadi nggak bisa persiapan buat ngerem.” Kata Fira dengan kesal.
“Yang di bilang mbaknya benar mas, mas aja yang salah. Lagipula masnya nggak kenapa napa sedangkan tubuh mbaknya ketimpa motor. Seharusnya mas nolongin dong bukannya malah dimarahin.” Kata pengendara lain yang melihat kejadian itu.
“Mending sekarang mas antar mbak ini ke rumah sakit, saya lihat mbak ini nahan sakit di kakinya.” Saran bapak penjual minuman yang kebetulan melihat kejadian itu.
“Iya mas, tanggung jawab dong. Lha wong situ yang salah kok.” Kata ibu-ibu dengan kesal yang kebetulan ada di lokasi kejadian.
“Mending aku bawa wanita ini ke rumah sakit, dibanding diamuk orang yang lihat kejadian ini.” Kata Ray dalam hati.
__ADS_1
Tanpa menjawab ocehan orang-orang di sekitarnya, Ray langsung membantu Fira dan membawanya masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan menuju rumah sakit khusus keluarga Santosa.
“Loh pak, saya mau dibawa kemana?” Tanya Fira saat Ray sudah melajukan mobil.
“Aku mau bawa kamu ke rumah sakit.” Jawab Ray dingin
“Lha terus motor saya gimana pak?” Tanya Fira cemas mengenai motornya
“Nanti asisten aku yang ambil.” Jawab Ray masih dingin.
“Bapak kalau nggak ikhlas nolongin, mending turunin saya di sini biar saya pulang sendiri aja. Lagipula kaki saya cuma sakit sedikit.” Kata Fira saat melihat orang yang menabraknya berbicara dingin padanya.
Ray tak menanggapi ucapan Fira. dia tetap menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Ray menyuruh Fira keluar dari mobilnya.
“Kamu! keluar dari mobil.” Perintah Ray
Saat Fira akan keluar dari mobil, dia merasakan kakinya sakit sekali membuat dia lama keluar dari mobil. Itu membuat Ray yang di luar merasa tidak sabar, tanpa berkata apapun Ray langsung mengendong tubuh Fira dan membawanya masuk ke rumah sakit.
“Pak turunin saya disini, saya malu dilihat sama orang orang.” Kata Fira sambil menutup mukanya.
“Udah diem aja deh, aku gendong kamu juga karena lama keluar dari mobil.” Jawab Ray masih dengan nada
dingin.
Karena Ray adalah anak pemilik rumah sakit, jadi dia langsung membawa Fira menuju ruangan khusus untuk keluarganya. Dokter Farid selaku dokter pribadi sekaligus sahabat Ray terkejut melihat seorang Ray yang dingin mengendong wanita, membuat dirinya merasa penasaran.
“Emang dia kenapa bro?” Tanya Farid kepo
“Dia jatuh dari motor gara-gara aku tabrak tadi.” Jawab Ray
“Oh gitu, mana yang sakit nona?” Tanya Farid pada Fira
“Pergelangan kaki saya sakit dok.” Jawab Fira
“Oh, ini bengkak tapi untuk sementara waktu jangan dibuat berjalan supaya cepat sembuh dan saya beri salep supaya bengkaknya berkurang.” Kata Farid memberitahu Fira.
Setelah memberikan salep, Dokter Farid keluar karena harus menangani pasien lain. Fira menatap secara saksama wajah Ray yang sedang bertelepon dengan asistennya untuk memberitahu mengenai motor, menurut dia wajah itu tak asing baginya.
Selesai Ray bertelepon, dia melihat ke arah Fira yang sedang menatapnya begitu intens.
“Kamu, kenapa ngeliat aku kayak gitu.”Tanya Ray dingin
“Nggak kenapa napa kok.” Jawab Fira sedikit gugup.
“Ya udah ayo buruan saya anter pulang.” Kata Ray
__ADS_1
Fira turun pelan-pelan dari brankar sambil memejamkan mata menahan sakit.
“Kamu bisa cepetan nggak sih, lelet banget jadi orang.” Kata Ray dengan kesal
“Bapak kenapa sih, dari tadi marah-marah mulu nanti cepet tua tau.” Kata Fira dengan kesal sambil mengejek.
“Gara-gara kamu, aku nggak jadi ketemuan sama sahabatku.” Ujar Ray kesal sambil menunjuk Fira menggunakan jari telunjuknya.
“Saya terima kasih atas bantuannya, tapi ini juga kan salah bapak bukan saya. Seandainya bapak nggak nabrak saya, sekarang bapak udah sampai di tempat tujuan.” Kata Fira
“Ya makanya ayo buruan jalan.” Perintah Ray
“Apa bapak nggak lihat, kaki saya bengkak jadi harus pelan pelan jalannya.” Kata Fira kesal.
“Halah bilang aja modus, biar aku gendong lagi kayak tadi.” Kata Ray mengejek
“Saya nggak ada niatan modus pak, emang kaki saya masih sakit.” Jawab Fira seadanya
“Ya udah sini aku gendong, tapi kamu jangan sampai kegeeran.” Kata Ray
Ray langsung mengendong Fira ala bridal style.
“Orang ini kenapa sih, tadi dingin sekarang jadi orang sok banget.” Gerutu Fira kesal yang sudah berada digendongan Ray.
Sesampainya di mobil, Ray mulai mendudukan Fira di bagian samping kursi pengemudi. Kemudian dia masuk ke dalam mobil.
“Alamat rumah kamu dimana?” Tanya Ray sambil menjalankan mobilnya keluar rumah sakit.
“Rumah saya ada di Jalan xx.” Jawab Fira
Selama perjalanan hening tidak ada yang memulai percakapan. Sesampainya di tujuan, Fira keluar dari mobil.
“Terima kasih pak, atas tumpangannya.” Kata Fira
“Ya dan ini kartu nama aku, jika masih ada gejala sakit yang lain tinggal hubungi nomor di situ.” Kata Ray sambil menyerahkan kartu namanya kemudian menjalankan mobilnya pergi.
Setelah melihat mobil Ray sudah tak terlihat, dia mulai melangkah masuk ke dalam rumah dengan pelan-pelan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya
See you next time