
Selamat membaca
.
.
Di kediaman santosa, ada seorang pria tampan yang masih bobok cantik bergelung di dalam selimut mengabaikan teriakan sang mama yang menggedor gedor pintu kamarnya.
Tok… tok… tok… (suara pintu diketuk dengan keras)
“Ray…bangun ini udah mulai siang, katanya mau ada pertemuan nanti di perusahaan papa.” Teriak Mama Lisa membangunkan putranya.
Karena tak mendengar sahutan dari dalam, membuat Mama Lisa geram dengan kelakuan putra semata wayangnya. Mama Lisa memilih pergi memangil Pak Kusno untuk mendobrak pintu kamar Ray. Namun ketika akan beranjak pergi dari depan pintu kamar Ray, Mama Lisa melihat pembantunya yang bernama Bibi Asih lewat sambil membawa pakaian kotor. Jadi beliau memutuskan menyuruh Bibi Asih yang akan memanggil Pak Kusno.
“Bibi tahu Pak Kusno ada dimana?” Tanya Mama Lisa pada Bibi Asih yang kebetulan lewat di depan kamar
Ray.
“Pak Kusno lagi motong rumput di kebun belakang nyonya.” Jawab Bibi Asih sopan
“Oh… kalau begitu bibi panggil Pak Kusno untuk datang ke sini.” Perintah Mama Lisa
“Baik nyonya.” Jawab Bibi Asih kemudian meninggalkan Mama Lisa menuju kebun belakang
Setelah sampai di taman belakang, bik Asih menghampiri Pak Kusno yang sedang fokus mencabuti rumput. Sedangkan Pak Kusno yang dihampiri tak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di depannya.
“Pak Kus…” Panggil Bik Asih agak lumayan keras.
“Astagfirullah…Asih Asih ngagetin saya aja, coba kalau saya punya penyakit jantung udah langsung innalilahi saya di sini.” Kaget Pak Kusno sambil mengelus dada.
“Lha wong saya biasa saja panggilnya, Pak Kus aja yang terlalu fokus sama kerjaan.” Protes Bik Asih.
“Lha emang ada apa to? sampai manggil manggil saya.” Tanya Pak Kusno
“Hampir saja saya lupa, tadi itu saya disuruh nyonya buat panggil Pak Kus.” Kata Bik Asih
“Emang nyonya suruh saya untuk apa?” Tanya Pak Kusno penasaran
“Saya juga nggak tahu, tapi tadi kelihatan kalau nyonya sedang marah-marah di depan kamar Den Ray.”
__ADS_1
Jawab Bik Asih
“Ya wis lah, saya tak kesana dulu.” Ujar Pak Kusno
Setelah mencuci tangan bersih, Pak Kusno melangkah menuju ke dalam guna bertemu dengan Mama Lisa yang sudah menunggu di depan kamar Ray.
“Pagi nyonya, tadi kata Bik Asih nyonya manggil saya. Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya Pak Kusno
“Iya, saya mau minta tolong sama Pak Kusno buat dobrak pintu kamar Ray karena dari tadi Ray dipanggil nggak nyaut nyaut.” Jawab Mama Lisa
“Apa tidak pakai kunci cadangan saja nyonya?” Tanya Pak Kusno
“Saya juga sebenarnya mau pakai kunci cadangan pak, tapi dari tadi saya cari belum ketemu. Karena keburu siang, jadi saya minta Pak Kusno buat dobrak pintu kamar Ray saja. Soalnya nanti Ray disuruh papanya buat datang di perusahaan jam 10 pagi. Sedangkan sekarang sudah jam 9 lebih. Saya takut nanti Ray dimarahin sama papanya.” Jelas Mama Lisa.
“Oalah ternyata begitu ceritanya toh, kalau gitu saya mau coba dobrak nyonya.” Jawab Pak Kusno
Pak Kusno pun bersiap siap untuk mendobrak pintu kamar Ray. Sedangkan Mama Lisa di belakang memberi aba-aba pada Pak Kusno.
Satu….
Dua….
Tiga….
Setelah pintu terbuka, Mama Lisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya. Bahkan suara dobrakan pintu yang keras tak dihiraukan oleh Ray. Membuat Mama Lisa rasanya ingin memukul wajah tampan Ray menggunakan wajan penggorengan yang ada di dapur. Tapi walaupun semarah marahnya seorang ibu, takkan pernah tega melukai fisik anaknya sendiri.
“Rayn Alif Santosa bangun.......” teriak Mama Lisa di dekat Ray
“Apa sih ma, teriak-teriak.” Jawab Ray dengan suara khas bangun tidur
“Kamu itu udah dewasa, seharusnya kamu bisa bangun pagi trus bantu papa di kantor bukannya molor mulu dari tadi. Huh… capek mama tiap hari harus bangunin kamu kayak gini trus.”Ceramah Mama Lisa
“Dan kamu itu udah waktunya nikah, umur kamu itu udah mau kepala tiga tapi kelakuan kamu kayak anak TK tahu.” Sindir Mama Lisa
“Iya udah dong ma, aku itu baru bangun masak udah dihadiahi omelan super duper bawel.” Keluh Ray sambil menghela nafas
“Makanya kalau dibilangin itu nurut. Mama juga nggak yakin, apa nanti ada gadis yang bakalan mau jadi istri kamu? Mama aja nggak tahan lihat kelakuan kamu yang tiap hari bisanya bikin kesel apa lagi istri kamu nantinya.” Kata Mama Lisa mencoba menggoda putranya.
“Mama ngremehin ketampanan Ray, cuma cari istri sih kecil mah buat Ray, pasti banyak yang mau. Bahkan ada juga yang sampai ngajuin diri buat jadi asisten, sekretaris, pembantu, pacar, tunangan, istri pertama, istri kedua, istri ketiga dan seterusnya. Hahaha…” Jawab Ray dengan sombong diselingi tawa.
__ADS_1
“Sombong banget kamu, mentang mentang banyak yang suka. Mama doain, semoga kamu dapat istri yang bisa
buat kenarsisan kamu sampai nggak berkutik sama sekali. Kayak papa kamu yang dulunya seperti singa bisa berubah jadi kucing yang takut sama tikus. Hahaha….” Doa Mama Lisa di selingi tawa.
“Dan ingat pesan mama Ray, punya istri itu harus satu nggak boleh lebih kalau sampai kamu punya istri lebih dari satu, awas aja nanti mama akan langsung coret nama kamu dari kartu keluarga kita.” Ancam Mama Lisa
“Ray bercanda ma, mana mungkin Ray mau punya istri lebih dari satu. Mikirin punya satu aja yang kayak mama aja udah bikin pusing apalagi ada kedua dan ketiga. Pasti Ray nanti bisa mati muda mah.” Jawab Ray sambil mengusap wajahnya.
“Bagus deh. Kalau begitu sekarang kamu mandi, siap-siap trus sarapan buat nyusul papa kamu di perusahaan. Soalnya mama ada urusan sama teman mama, biasa urusan arisan. Dan jangan sampai telat, kalau telat tanggung sendiri akibatnya nanti kena marah sama papa.” Kata Mama Lisa memberitahu Ray.
“Okey mah.” Jawab Ray
Mendengar jawaban Ray, Mama Lisa memilih keluar dari kamar Ray menuju kamarnya guna mengambil tas dan berangkat ke rumah teman arisannya. Sedangkan Ray sekarang sudah mandi dan masih merapikan pakaian serta setelan jas yang dipakai Ray saat ini. Walaupun Ray di rumah selalu malas malasan tapi kalau soal penampilan dia
selalu mengutamakannya. Dan selalu diakhiri dengan kalimat “this is perfect” di depan cermin dengan senyum tampan.
Setelah merasa dirinya tampan, Ray melangkah keluar kamar menuju meja makan. Di sana sudah ada bibi Asih yang menunggu kedatangan Ray.
“Mari den Ray, sarapan dulu.” Ujar Bibi Asih
“Iya bi, apa mama udah berangkat?” Tanya Ray sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Sudah den baru saja, tadi juga nyonya berpesan kalau aden setelah sarapan langsung berangkat ke perusahaan. Di luar juga udah ada Pak Cipto yang siap mengantar aden ke perusahaan tuan.” Jelas Bibi Asih
“Oh… kalau begitu saya berangkat dulu bi.” Pamit Ray setelah menyelesaikan makannya.
“Iya den.” Jawab Bibi Asih
Setelah pamit pada Bibi Asih, Ray melangkah keluar dan masuk ke mobil yang sudah disiapkan Mama Lisa. Pak Cipto yang melihat majikannya masuk mobil, bergegas menyalakan mobil dan melajukan mobil meninggalkan kediaman keluarga santosa menuju Perusahaan Santosa Group.
Walaupun Ray dari keluarga yang terbilang kaya, dia tak pernah menyombongkan diri bahkan juga tak segan bersikap ramah pada seluruh pekerja di rumah termasuk Bibi Asih yang sudah dianggap sebagai bagian keluarga bagi dirinya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa setelah membaca, di like ya
Terima kasih