
Rasa rindu itu kubawa sampai di atas sajadah. Rindu yang tak pernah hilang walau sekejap. Semakin mencoba untuk menghapus, semakin kuat rasa itu mendera.
Kepalaku seperti terikat tali yang tak terlihat, penat, kencang, tegang sekali rasanya. Obat penghilang rasa nyeri pun tak sanggup untuk meredakannya.
Dan anehnya,,,
Ada saat saat tertentu ketika datangnya sakit kepala itu. Ba'da subuh hanya bayangannya saja yang datang menjelma. Sampai sekitar jam 9 pagi masih bisa menjalankan aktifitas normal. Di atas jam 9 pagi perasaanku mulai tidak tenang.
Rasa was was, gemuruh rasa didada. Berdebar debar tak karuan, pikiranku semakin kuat menuju kesana ( mengkhayal ingin bertemu dan berduaan dengan dia).
Puncaknya jam 12 hingga jam 1 siang serta habis maghrib.
Jam jam itu, aku seperti orang gila. Meskipun aku shalat, tapi aku tak bisa menghilangkan bayangannya. Bisa tiba-tiba aku menangis sendiri, marah sendiri. Menangis karena menahan rasa rindu padanya, marah karena menahan rasa rindu padanya juga.
Menangis karena benci sama suami. Marah karena suami juga memusuhiku.
Ku ambil telpon genggam ku, ku tekan nomor yang sudah ku hafal diluar kepala itu.
Langsung tersambung dan di angkat.
" halo,,, " jawabnya serak.
" ,,,,,? " aku mendengarkan suaranya.
Suara itu, ahh,,, sangat kurindukan. Membuat pikiranku mengembara dimana mana.
Hangat rasa tubuhku, merinding seluruh pori-pori kulitku, terasa ada yang berbisik dan menggelitik di kedua belah telingaku. Aku tak tahan,,, ingin dia,,,
Aku tak tahan.
Segera kumatikan sambungan telepon ku. Naik tekanan darahku rasanya. Emosi melanda jiwaku. Aku jengkel, aku marah, aku benci, entah apalagi yang kurasa. Semua bercampur aduk menjadi satu.
Ku beranjak pergi mengambil air wudhu untuk bersuci, walau berat godaan ku saat ini. Sebisa mungkin tak kutinggalkan menjalankan ibadah lima waktu sehari semalam.
Dalam sujudku aku memohon, kuatkan aku untuk menghadapi segala ujian yang DIA berikan padaku.
Karena ku sadar, segala sesuatu pergerakan kita di dunia adalah atas kehendakNYA.
__ADS_1
,,,,,,,
Ku duduk berdiam diri di atas peraduan indah ala ala putri raja. Semuanya berwarna putih keemasan bersinar cemerlang. Indahnya pakaianku seindah suasana hatiku saat ini. Hatiku terasa seperti bunga bunga yang tengah bermekaran di tengah taman bunga impian. Hatiku menghangat, membayangkan pangeranku yang akan segera datang menemuiku sebentar lagi.
Terdengar derap langkah kaki menuju peraduanku. Aku hanya diam mendengar sambil mengharap.
Klek,,, klek,,, ceklek,,, terdengar suara gagang pintu kamar di buka, ditutup kemudian dikunci dari dalam. Aku hanya bisa menahan nafas, pangeranku sebentar lagi akan masuk di dalam kelambu. Berdebar rasa hatiku, menghangat rasa badanku, gemetar rasa tubuhku.
Tampaklah dia menuju peraduan, berhenti sejenak entah apa yang dia perhatikan.
Apakah kau tak tahu, kalau aku juga sementara memperhatikanmu? bisikku dalam hati.
Dia sangat tampan. Berkulit putih, rambut hitam tebal, sorot mata tajam kadang datar tak berkedip dan tanpa ekspresi, hidung mancung, alis tebal seperti pedang, kumis tipis, jari jarinya indah, berbadan tinggi, tubuh atletis.
Betul betul laki-laki idaman semua wanita.
Segera dia membuka tirai kelambu, kemudian melangkahkan kaki menaiki ranjang di tempatku menunggu.
Jantungku seperti berhenti berdetak saat dia menatap tajam mataku. Aku meneguk salivaku.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh ku. Kusambut dengan sukacita uluran tangannya itu.
" Kau istriku " bisiknya pelan.
" Kau istriku sampai kapanpun " mengulang bisikannya, lirih.
" ,,,,, " aku tak menjawab bisikannya.
" Kau milikku sampai mati " lanjutnya lagi.
Aku tak menjawab apa yang dia utarakan. Karena aku telah hanyut dalam buaian asmara permainannya. Lembut perlakuannya, membuatku makin tenggelam di dasar samudera cinta.
Disentuhnya ujung jariku, naik dan naik sampai di bahu. Membuatku menggelinjang kegelian. Di raupnya wajahku, kemudian diapun mendaratkan kecupan tipis di bibirku. Uh,,, nikmatnya. Aku ingin lagi, bisik hatiku🤭
Kemudian dia mendaratkan kecupan hangat di keningku, turun di kedua belah pipiku, turun lagi di hidungku, dan berakhir di bibirku. Rasanya seperti tersengat aliran listrik ribuan watt.
Setelah sekian lama bibirnya bermain di bibirku, segera lidahnya menyeruak masuk di rongga mulutku. Tak mau diam, akupun menyambut hangatnya madu asmara yang dia persembahkan untukku. Terasa aku yang mendominasi gerakan nya.
__ADS_1
Tak mau kalah, diapun mulai melancarkan serangan andalannya. Dia buat diriku mengerang kenikmatan, dia jadikan aku seolah-olah putri khayangan yang sesungguhnya.
Tangannya mulai liar tak terkendali, menelesuri setiap medan terjal yang ada di permukaan tubuhku. Ketika sampai di kedua bukit kembarku, terdengar lirih erangan kenikmatan.
" aaahhh,,, emhhh,,, " terdengar rintih kenikmatannya.
Masih terus menjelajahi medan perang yang dia ciptakan sendiri. Melalui berbagai rintangan dan dataran mulus yang di penuhi sedikit rumput rumput halus. Kemudian berakhir di lembah lembab yang sudah tak sabar menanti kedatangannya.
Ditatapnya sejenak lembah berongga tersebut, ditepikannya sedikit demi sedikit ilalang tebal dan panjang yang menurutnya menghalangi penglihatannya. Tak lama kemudian, alat tempurnya telah beroperasi perlahan-lahan namun pasti.
Gerakan demi gerakan dia ciptakan, memompa kelancaran hulu ledak nya apakah berfungsi atau tidak. Seketika itu juga, peralatan tempur yang berupa rudal jumbo itu mulai kehilangan kendali. Siap memuntahkan amunisi.
Akupun terpancing untuk memuntahkan lahar yang telah lama penuh dan mendesak ingin keluar.
Sepersekian detik, dan tak lama kemudian,,, Puncak pertempuran itupun telah mencapai klimaksnya. Dan,,,
"Aaaaaghhhh,,, " erangan kenikmatan kami berdua pun terdengar syahdu di telinga kami.
Kecupan sayang mendarat di keningku, usapan lembut jarinya menyapu kepalaku.
Makin erat dia memeluk tubuhku, tak ingin terpisahkan.
" Kau istriku, kau istriku, kau istriku sampai mati" ucapnya berulang ulang.
Akupun tertidur damai dalam pelukannya.
,,,,
Kubuka mataku, berat rasanya. Lelah rasanya setelah pertempuran sengit semalam. Kupandangi semua isi kamarku, beda sekali dengan yang semalam.
Perabotan sederhana tampak tersusun rapi di kamarku. kedua balitaku nampak masih terbuai di alam mimpi mereka. Tidak ada suami asliku di ranjang, karena memang dia sementara tak ada dirumah.
Nanar mataku menatap di ruangan kosong agak temaram. Entah apa yang kulihat, entah apa yang kucari, aku tak pernah tahu.
Aku rindu, masih rindu, rindu dengan sosok rey di alam mimpi.
Mimpi mimpi itu kian menjerat ku.
__ADS_1
Astaghfirullah,,, aku lupa. Saking lelahnya sampai lupa baca doa sebelum tidur. Akhirnya dia datang lagi.