Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )

Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )
Bayangan hitam


__ADS_3

Hari hari kulalui dengan berat. Kenapa kubilang berat?


Karena seolah-olah aku ini hidup sendiri. Memiliki suami tapi seperti sendiri. Muak rasanya melihat suamiku, benci rasanya melihat suamiku. Belum lagi dari pihak suami sendiri sering cari cari masalah.


Tak ada masalah di bikin menjadi masalah, masalah kecil di besar besarkan gitu sih kata orang.


Rasanya jadi makin ribet deh urusannya.


,,,,,


Hari menjelang senja, tampak jam dinding menunjukkan pukul 14.46 waktu setempat.


Leherku terasa tegang sekali, kepalaku penat rasanya. Sakit juga tidak, tapi rasa seperti mencengkeram. Seperti ada sesuatu yang mengikat di bagian belakang kepalaku.


Jangan tanya lagi kemana pikiranku sekarang ini. Yang pasti lamunanku hanya tertuju pada Rey. Rey yang asli dan Rey yang di alam mimpi. Sementara suamiku sendiri?


Aneh rasanya, tak pernah aku memimpikannya. Apalagi merindukannya. Dia seperti orang asing bagiku.


Dia seperti tak ku kenal. Yang ku tahu dia hanyalah bapak dari anak-anakku.


Tiba-tiba,,,


Settt,,,


Nampak sekelebatan bayangan di kesana kemari, seolah-olah mengikuti kamana pun aku pergi. Sebenarnya sudah lama aku merasakan ini, merasa selalu diikuti mahluk tak kasat mata. Namun aku tak dapat untuk melihatnya.


Ketika ujian itu datang, setelah pertemuanku dengan Rey. Semua akhirnya semakin jelas.


Mulai dari mimpi mimpi aneh, serem, horor, pokoknya penuh misteri deh.


Kubiarkan bayangan tak kasat mata itu kesana kemari tak tentu arah. Karena aku juga tak tahu, apa tujuannya menggangguku.


Adzan maghrib datang, segera aku bersih bersih dan mandi dilanjutkan bersuci, membersihkan diri dari segala yang membuatku terkena najis. Baik itu najis yang terlihat, maupun najis tak terlihat.


Ku ambil air wudhu untuk segera menghadap kepadaNYA.


Kucoba untuk khusyuk saat menemuiNYA. Meskipun bayangan Rey selalu datang mengganggu di pikiran dan pulupuk mataku.


Selesai shalat maghrib ku lanjutkan dengan zikir rutin harian ba'da shalat. Tak lupa kubaca Q.S Al-ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat kursy.


Serta doa doa pendek lainnya. Kemudian ku lanjutkan lagi dengan membaca Al-Qur'an, walau hanya selembar dua lembar timbal balik.


Waktu antara maghrib dan isya kuhabiskan untuk zikir dan mengaji, mengajar sendiri anak anakku membaca iqra dan menulis, serta jika ada waktu ku lanjutkan dengan membaca buku buku hadits ataupun kajian kajian dari para ustadz tersohor.

__ADS_1


Biasanya sebelum shalat, telah ku atur makan malamnya suamiku dan buah hatiku. Setelah makan mereka pun melanjutkan dengan belajar membaca iqra atau pun bermain seperti biasa.


Malampun berlalu, kedua balitaku telah tertidur dengan lelapnya. Begitu pula dengan suamiku.


Namun aku masih gelisah, kepalaku masih sakit rasanya. Segala macam obat pereda nyeri tak mampu menghilangkan rasa sakit itu.


Kakiku melangkah menuju dapur.


Kuambil cerek dan mengisinya dengan sedikit air, lalu ku taruh di atas kompor dan menyalakan apinya.


Sambil menunggu mendidih nya air, segera kuambil cangkir, sendok, gula dan kopi.


Ku ambil kursi kemudian duduk di atasnya.


Pikiranku mengkhayal kemana mana. Penat rasa tubuhku, entah kenapa aku merasa seperti cepat lelah.


Lelah rasanya, sesak rasanya dadaku.


Tak terasa air sudah mendidih, segera ku seduh air didalam cangkir agar segera mendapatkan cita rasa kopi panas yang nikmat dan segar. Ku aduk campuran kopi, gula dan air di dalam cangkir.


Uhm,,, wanginyaaa,,, nikmat apa yang akan kau dustakan wahai manusia. Tiba-tiba teringat petikan terjemahan Surat Ar-Rahman.


Kuhirup panasnya kopi, agar dapat menghilangkan beban sakit di kepalaku.


Semua rasa kupendam sendiri, kuceritakan pada temanpun mereka tak ada yang mempercayai ku. Seakan-akan mereka mengatakan jika aku ini hanya halusinasi. Termasuk suamiku sendiri.


Jadi aku hanya sendirian, menikmati rasa sakit, menikmati semua rasa dan ada yang ada dan sedang kuhadapi saat ini.


Ku lirik dengan ekor mataku bayangan bayangan hitam yang kerap mengikutiku. Cuek,,,? iya, sedikit cuek.


Karena sudah biasa, dan pertanda akan ada yang datang di pertengahan malam nanti saat aku mulai terlelap dalam mimpiku.


Kuraih telepon genggam, diam diam ku telepon Rey. Tak perlu waktu lama untuk mengangkat telepon dariku.


" Halo,,, " bisiknya.


" Aku benci kamu " jawabku singkat


" Jangan, dosa kalau kau benci saya " cecarnya.


" Tidak dosa saya benci kau " kilahku lagi.


" Saya suamimu, tidak boleh istri benci suami " tambahnya lagi.

__ADS_1


" Saya sudah punya suami, kau bukan suamiku" sanggah ku dengan sadar.


" Dia bukan suamimu, aku suamimu" ujarnya tegas.


Emosi. Kumatikan sambungan telepon ku.


" Dasar egois,,, " pekik ku dalam hati.


Tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Dadaku terasa sesak, tak terasa menetes air mataku. Aku menangis, iya, aku menangis. Entah apa yang kutangisi.


Nasibku kah, atau apa. Aku tak pernah tahu.


Kalau bukan karena pertemuan itu, tak mungkin begini. Namun aku sadar kembali, bahwa semua sudah dalam rencanaNYA.


Aku tak boleh mengeluh, sekalipun pada suami sendiri, aku tetap tak boleh mengeluh karena semua akan menjadi bumerang bagiku.


,,,,,,,


Aku berlari lari di antara rumah penduduk, posisi dijjalan di tengah keremangan malam.


Ada sesuatu yang sedang mengejarku. Sesuatu itu adalah ular,,, iya, ular hitam kecil dan panjang. Ular hitam itu terbang cepat mengejarku.


Saking seriusnys lari mencari jalan aman, tak sadar kakiku terantuk kayu yang melintang di depanku. Jatuhlah aku terjerembab mencium bumi.


Lupa aku akan ular hitam yang mengejarku. Tiba-tiba ular itu telah ada di depanku dan siap siap mematuk apa saja bagian dari tubuhku.


Geli sekali aku melihat binatang melata itu. Kucoba berkelit dari serangan ular hitam.


Tiba-tiba moncong ular hitam itu telah sampai di dekat pahaku.


Hahhh,,, hahh,,, hahhh,,, nafasku terengah engah. Keringat membasahi seluruh tubuhku.


Mataku terbelalak lebar, nyalang kesana kemari mencari ular tersebut.


Kulihat disekitarku, ternyata aku bukan di jalan. Aku berada di kamarku sendiri, lengkap dengan suami juga kedua balitaku.


Ternyata mimpi itu datang lagi.


Terasa seperti nyata. Capeknya pun terasa nyata.


Semuanya terasa nyata.


Kuingat ingat lagi sebelum tidur, pasti ada yang terlupakan.

__ADS_1


Ya, aku lupa baca doa.


__ADS_2