Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )

Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )
Semakin Tak Terkendali


__ADS_3

Tak terasa airmataku menetes. Entahlah, tak tau kenapa aku bisa menangis. Padahal saat ini bukan bawang yang ku iris. Apa karena aku merindukannya?


Baper mungkin sebutan orang orang zaman sekarang. Tapi aku bingung, kok bisa bisanya aku baperin orang yang gak jelas kayak gini, keluhku dalam hati. Dan untuk usiaku yang tak lagi muda, rasanya macam tak pantas mengalami perasaan yang pantasnya hanya untuk anak anak remaja.


Sembari memasak di dapur ku putar musik melankolis. Nah lo,,, jadi makin baper deh!


Kebetulan lagunya lagu yang berjudul "Buku Harian". Author pinjam dulu ya lagunya,,,,


Tak terasa menetes air mataku. Rasanya seperti terbawa kembali ke masa lalu.


Masa lalu saat bersamanya, walaupun aku tak tau masa lalu dalam bentuk apa itu.


Karena sama sekali aku tak memiliki sebuah kenangan pun bersamanya dimasa lalu.


Namun dalam bayangan dan pikiranku, seolah olah aku memiliki kenangan bersamanya di masa lalu.


Seolah olah aku telah lama mengenalnya. Dan membuatku semakin terasa merasuki di jauh lubuk hatiku.


Rasanya dia ini seperti suamiku yang sesungguhnya.


Padahal masih ada suamiku yang memang sesungguhnya.


Aku menangis kembali.


Seperti tidak kuat menahan kerinduan ini.


Rasanya ingin selalu bertemu dengan nya tiap saat.


......................


Hari berganti hari, pikiranku semakin kacau.


Namun kuusahakan untuk tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang hamba Allah yang baik.


Seberat apapun rasanya, sesulit apapun situasinya.


Aku selalu berusaha untuk tidak meninggalkan kewajibanku yang 5 waktu dan tadarusan setiap ba'da maghrib dan subuh.


Meskipun pada saat menghadap Sang Pencipta, pikiranku terkadang sempat goyah.


Namun selalu berusaha ku tepis.


Aku sadar,,, dimasa lalu aku hanyalah hambaNya yang berlumur dosa.


Dan aku tidak munafik untuk mengatakan jika aku berlumur dosa. Dosa bohong ada, dosa zina pasti ada, dosa membunuh tidak ada (manusia, dan semoga saja tidak akan pernah), dan dosa dosa lain


Namun sejak 3 tahun lalu, aku sudah selalu berusaha untuk taat padaNya. Dan berusaha untuk memperbaiki diriku sendiri.

__ADS_1


Kadang aku pun berpikir. Sholatku tepat waktu, mengaji Insya Allah tidak kutinggalkan.


Tapi kenapa masih bisa lolos sesuatu yang tidak disangka sangka itu.


Hmmm jadi ingat, ada cerita yang kudengar dari orang tua. Bahwa Nabi kita SAW pun masih mampu di tembus sihir. Padahal kalo dipikir beliau adalah hamba yang paling sangat bertaqwa.


......................


Semakin hari perasaanku padanya makin tak terkendali.


Mulailah aku merancang pertemuan dengannya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Jadi pada saat aku pergi ke kabupaten karena memiliki urusan di kantor,


Aku pun menghubunginya untuk meminta segera bertemu.


Hasratku untuk bertemu dan berduaan dengannya sangat besar. Bahkan aku kehilangan hasrat untuk pasangan sahku sendiri.


Kadang aku bimbang dan ragu.


Di tengah perjalanan kala aku ingin bertemu dengannya, pikiranku makin kacau.


Antara keinginan kuat tak terkendali untuk segera bertemu dengannya, dan keinginan kuat untuk menghindari pertemuan dengannya pula.


"Ya Allah,,, aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku sangat menginginkan nya, aku tau, bahwa apa yang ada dipikiranku ini adalah dosa. Namun aku seperti tak mampu untuk menolaknya, Ya Allah,,, " keluhku dalam hati di sepanjang jalan.


"Ya Allah, kenapa Kau buat aku menjadi Merindukannya? sementara kerinduan untuk suamiku malah sirna? " keluhku dalam doa di perjalanan.


"Ya Allah, aku seperti tak mampu menahan hasratku yang menggebu. Jika aku sampai bertemu dengannya, ENGKAUlah yang lebih Tahu SegalaNya dari pada aku" rintihku disela sela tangis.


Ku telusuri sepanjang jalan di area pertama kali kami berjumpa. Mengharapkan bisa bertemu dengannya.


"Aah, mobil itu! " seruku dalam hati.


Segera ku ambil telepon seluler ku, dan kucoba hubungi dia segera.


"Hallo,,, " jawabnya


"Dimana? " sambungnya lagi


"Didepan kantormu" jawabku singkat.


"Tunggu disitu, saya mau kesana" Jawabnya lagi.


Aah,,, mau tau gak gimana rasa hatiku?


Ya Allah,,, rasanya seperti orang yang baru pertama kali mengenal cinta.


Berdebar, dah dig dug gitu rasanya.

__ADS_1


Panas dingin badanku, gugup dan terlebih lagi,,, aku membutuhkannya. Aku rasanya seperti wanita kesepian. Padahal aku memiliki suami. Namun hasratku untuk suami sirna begitu saja, ketika sejak pertama bertemu dengan Rey.


Kulihat dia keluar dari gedung pencakar langit tempat kerjanya.


Tampak tergopoh gopoh dia keluar dari pintu kantor itu.


Kulihat diapun juga gemetar, entah gemetar karena apa, aku tak tahu.


"Ya Allah, kenapa KAU pertemukan aku dengannya? " keluhku dalam hati.


Rasanya aku ingin lari menghindar, namun aku tak bisa. Berat kaki ini melangkah meninggalkan nya.


Sedikit rasa tegang di kepalaku berkurang setelah melihatnya. Apakah sakit kepalaku hanya ingin melihatnya? batinku bertanya tanya.


Segera dia menuju ke arah mobilnya, dan akupun mengekorinya dari belakang.


Masuk mobil dan lalu duduk disebelahnya bangku kemudi.


Kamipun berjalan dengan mengendarai mobilnya. Sepanjang jalan kami hanya membisu.


Rasanya jantung ini seperti mau lompat dan keluar dari sangkarnya di dalam dada. Gelisah kurasa,,, dan ku lirik dia. Diapun sepertinya lebih gelisah dari yang kukira.


Di raih nya tanganku sebelah kanan. Diapun menggenggam tanganku, dan di tariknya tanganku kemudian di tempelkan di dadanya. Tampak terasa sekali, ternyata debaran jantungnya lebih kencang dari yang kukira.


Bodohnya, kenapa aku hanya diam membiarkannya. Padahal ku tahu, itu dosa.


Lagi lagi aku hanya mengeluh dalam hati.


Kenapa KAU biarkan aku bertemu dengan dia Ya Allah,,, batinku


"Apakah KAU hanya ingin mengujiku? " sambung ku lagi dalam hati.


"Jangan biarkan aku lama lama dengannya di sini Ya Allah,,, aku takut, aku semakin tak mampu mengendalikan diriku sendiri" bisik batinku.


Tak ada yang kami perbincangkan. Masing masing tenggelam dalam ruang pikiran yang memenuhi segala penjuru.


Di tariknya kepalaku untuk segera mendekat di kepalanya. Oh,,, sekali lagi, kenapa aku cuma berdiam diri. Dia menatapku begitu dalam, dalam sekali. Sehingga aku ingin larut dan terbuai bersamanya di dalamnya.


Ingin sekali aku menyentuhnya, namun semua keinginan itu ku tahan.


Dia pun tampaknya sudah tak tahan juga. Dengan gemetar, disentuhnya bibirku. Kemudian diapun mulai mendekatkan bibirnya padaku.


Namun, sebsia mungkin kucoba kutahan badannya agar tak mendekati ku.


Dari kejauhan samar terdengar suara adzan Ashar.


Alhamdulilah,,, Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan ku, batinku.

__ADS_1


__ADS_2