
Di sebuah ruangan nampak sekumpulan keluargaku yang tengah bercengkerama bergurau secara berkelompok. Sebahagian dari mereka tampak sibuk, sebagian lagi santai, serta yang lainnya nampak serius entah apa yang mereka perbincangkan.
Nampak pula barisan menu masakan berjejer tersusun rapi dan siap di santap.
Sementara aku berada di ruangan lain, entah apa yang sedang kutunggu.
Di seberang kamarku, nampak lah sosok kakak lelaki ibuku. Atau biasa kusebut dengan pa'dhe.
Mataku liar seperti mencari sesuatu, namun ku tak tahu apa yang sedang kucari.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki mengetuk pintu serta mengucapkan salam. Kemudian salah satu budheku membukakan pintu untuk orang tersebut dan sekaligus mempersilahkan masuk.
"ini dia yang ditunggu tunggu" seru suara seseorang yang membuatku terkejut.
Muncullah nenek. Nenek tergopoh gopoh menyambut kedatangan tamu lelaki tersebut. Dari raut wajahnya, seolah-olah menggambarkan bahwa memang orang tersebut yang sedang ditunggu kedatangannya.
Ramai seluruh keluargaku menyambut kedatangan tamu tak diundang tersebut. Termasuk nenek yang tengah menunggu kedatangannya.
Kaki lelaki itu melangkah langsung menuju ke arah nenek. Dari gerak geriknya, dia seperti meminta restu. Nenek selaku kepala keluarga dirumah tersebut menyetujui, nampak dari gerakannya dengan mengulurkan tangan dan menyambut uluran tangan dari lelaki itu.
Deg...
Deg...
Deg...
Berdesir rasanya darah di pembuluh jantungku. Berdetak bertalu-talu bagai alunan genderang yang siap berperang.
Dari postur tubuh, rupanya cukup ku kenali orangnya. Tapi kenapa wajahnya nampak buram, seperti tidak jelas?
__ADS_1
Apa karena pengaruh suasana yang menjelang senja, sehingga mempengaruhi aura wajah seseorang. Entahlah,,, sungguh membayangkan.
"Assalamualaikum, nek,,, " seru lelaki itu dengan sopan dan ramah.
"Wa'alaikumsalam,,, " jawab nenek.
"ini dia yang ditunggu tunggu" lanjut nenek lagi.
"Nek, saya mau jemput istriku " pinta lelaki itu.
"Ya, silahkan" timpal nenek.
Nenek bergegas mencariku.
Sambil memanggil namaku, nenek berseru mengatakan bahwa suamiku datang menjemputku.
Whaaat...!? pekik ku setengah tak percaya.
Aku terkejut, dan lebih terkejut lagi kok aku punya suami kayak gini? bener bener aneh deh, gumamku.
Sepertinya aku juga sedang menunggu kedatangannya.
Lalu dia berjalan menuju ke arahku.
Kemudian kami masuk kamar yang letaknya di seberang kamarku. Tepatnya di depan kamarku deh, daripada bingung yaaah,,,
Sedikit berbasa basi, lelaki itu masuk dan mengucapkan salam. Kemudian disambit oleh Pa'dhe ku.
Disaat aku melangkah sambil berpikir kok bisa ya, kok bisa ya,,,
__ADS_1
Tiba-tiba terlintas dibenakku, untuk apa dia menjemputku?
Aku tak punya niat ingin bepergian kemanapun.
Sambil melangkahkan kakiku, aku berpikir. Jika tiket pesawat saja bisa di batalkan, maka aku akan membatalkan rencana kepergianku ini.
Jadi aku langsung berubah arah, serta mengatakan bahwa aku batal ikut lelaki itu.
Hosh
hossh
Hoshhh
Tiba-tiba aku sudah ada di atas ranjang. Peluhku bercucuran membasahi baju malamku.
Sambil membayangkan apa yang baru saja kualami dalam mimpi tersebut.
Sebenarnya ada apa ini?
Deg,,,
Oh, ternyata aku sedang mimpi.
Kurangkai semua kejadian yang kualami di alam mimpi tersebut.
Aku baru sadar, bahwa ternyata semua keluargaku yang hadir di mimpi itu adalah mereka yang telah berpulang ke Sang Maha Pencipta sejak puluhan tahun silam.
Sebagian ada yang baru meninggalkan dunia (meninggal) baru baru ini.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang terjadi?