Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )

Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )
Pertemuan


__ADS_3

Tahun 2016, 5 tahun lalu.


Aku termenung memikirkan kesehatan anak keduaku yang sedang berada jauh di kota, dalam rangka menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas atau SMA.


Berapa hari yang yang lalu aku menerima telepon dari mantan mertuaku (aku telah bercerai dengan suami pertama). Bahwa anakku yang di Jogja sedang sakit.


Kontan saja pikiranku langsung tidak tenang. Mondar mandir cari biaya pengobatan, karena belum ada kartu jaminan kesehatannya atau kalau sekarang disebut BPJS.


Tiba-tiba handphone ku berdering, kutatap hpku tanpa sedikitpun tertarik untuk mengangkat panggilan tersebut. Ah nomor baru batinku, pasti orang iseng lagi nih,,, pikirku.


Handphone berdering untuk yang kedua kalinya, masih tetap kubiarkan hpku bernyanyi sampai berhenti sendiri.


Dan untuk yang ketiga kalinya handphone berteriak teriak, menandakan ada panggilan serta pesan masuk. Kuraih telepon genggam ku, dan kubaca pesan singkat di HP jadul ku tanpa tertarik untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


Memang jika kita memiliki firasat tidak enak, pastilah akan terjadi sesuatu. Karena kata orang tua tuh, hati itu gak pernah bohong gitu katanya,,, bener gak ya?


Kubaca pesan singkat yang beruntun berjumlah 3 pesan masuk secara bersamaan.


Terlalu singkat memang pesannya.


"Aku Rey, teman sekolah dulu" ujarnya.


"Sombong sekali kamu" imbuhnya lagi.


"Aku Rey" cecarnya lagi tak berhenti.


Sejenak aku menerawang, memikirkan siapakah Rey yang mengaku ngaku sebagai teman ini.

__ADS_1


Ah, buntu sekali otakku rasanya. Sampe pusing kupikir masih belum ketemu juga siapa Rey ini.


Teman sekolah apakah?


Teman sekolah dimanakah?


Atau hanya orang iseng yang sengaja ngerjain aku? pikirku lagi.


"Fix,,, pasti hanya orang jail bin iseng aja tuh yang lagi usil pengen ngerjain aku" gitu kata hatiku.


Jadi selama 3 bulanan gak pernah ku gubris itu panggilan dan pesan masuk. Karena diapun tak pernah lagi menelpon atau mengirim pesan.


Tiba saatnya aku kalang kabut butuh bantuan, sangat kebingungan entah pada siapa aku ingin meminta pertolongan. Walaupun aku tau, bahwa kalau kita meminta pertolongan itu hanyalah pada Allah SWT semata. Bukan pada yang lain.


Tapi aku kan hanya manusia biasa, yang masih banyak sekali dosa dan khilaf ku.


Berpegang dengan prinsip mahluk sosial itulah diriku akhirnya mulai luluh dan mencoba mencari tau siapakah manusia yang mengaku sebagai temanku itu.


Kucari cari kontak baru yang masuk sekitar 3 bulan yang lalu, ku otak atik pesan masuk 3 bulan yang lalu.


Dan taraaa,,,


Akhirnya aku masih menemukannya.


Ah, sedikit berbinar mataku. Sedikit senang hatiku, karena kupikir aku segera mendapatkan bantuan.


Dengan sedikit gemetar, sedikit dag dig dug jantungku. Rasanya seperti mau menghubungi mantan pacar yang lama sekali tidak pernah ketemu, atau seperti hendak menghubungi presiden gitulah tepatnya.

__ADS_1


Ku misscall sajalah dia, cukup sekali aja deh, batinku...


Tak kusangka, tak kuduga.


Tak cukup hitungan 10 detik, tiba tiba dia menelpon ku.


"Halllooo,,, " ujarnya di seberang sana.


"Ya, halo juga" jawabku.


"Kamu ini, sombong sekali. Tidak ada perubahan sampe sekarang. Tunggu kita ketemu, saya mau bikin kamu tidak sombong lagi sama saya" omelnya.


"Oh ya? " jawabku bingung, dan benar-benar bingung.


Pikirku aneh kan, masa baru nelpon kok udah ngomel-ngomel gak karuan. Seolah-olah antara aku dan dia itu memanglah teman lama yang lama sekali tak jumpa. Kalau dihitung hitung ya sekitar 21 tahun.


Tapi kupikir pikir, ku coba ingat ingat. Rasanya rambutku sampe rontok, tetap aja gak kudapat siapa si Rey ini sebenarnya.


Didorong rasa penasaran, dan paling utama adalah ingin meminta bantuan. Maka kuterima ajakannya untuk mengadakan pertemuan.


Maka di aturlah rencana dimana tempat kami mau bertemu. Awalnya aku takut, was was. Karena memang aku lupa ingatan sekali sama si Rey ini.


Tibalah saatnya kami bertemu, diwaktu senggang saat jam istirahat kantor. Karena pada saat itu, aku lagi ada urusan di kantor dinas kependudukan.


Dan kebetulan sesuai perjanjian, aku juga meminta bantuan sama si Rey ini. Karena berhubung dia setuju mau membantu, makanya aku maulah untuk ketemuan sama dia.


Ditelpon lah aku untuk menanyakan dimana posisiku saat itu.

__ADS_1


Maka bertemulah kami, tanpa ada rasa curiga ku sama si Rey ini (ah, kalau kuingat pertemuan ini, pertemuan yang membuatku mengalami pengalaman pahit sejak saat itu. Kalau ku tau kejadiannya akan seperti ini. Pastilah aku tak mau. Tapi Allah SWT. memang udah merencakan lain, Dia sudah merencanakan semuaNya). Dan kita manusia hanya bisa menjalaniNya.


__ADS_2