Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )

Terror Mimpi Mistis ( Kisah Nyata )
Rindu


__ADS_3

"Bikin sarapan udah kelar, mandiin anak udah kelar, ngurusin diri sendiri juga udah kelar" celoteh ku pada diri sendiri.


Ups,,, thor minta maap nih, bahasanya agak belepotan ya, soalnya biasa pake bahasa gaul sih. Juga karena tinggalnya suka pindah pindah dari daerah satu ke daerah lain, jadi banyak dialek deh🤭


Lanjut...


Saatnya cabut menuju ke tempat kerja. Balitaku yang kakak kutinggal sama papanya, sementara yang adek ku bawa di tempat kerja.


Tak terasa perjalanan kami menuju kantor sudah semakin dekat.


Sepanjang perjalanan pikiranku melayang layang. Kenapa aku merindukannya?


Di tempat kerja pun aku tak fokus untuk bekerja dan tak mampu menyelesaikan semua pekerjaan. Padahal sebelumnya semua jenis pekerjaan bisa ku selesaikan dengan baik.


Bagaimanapun caranya aku berusaha untuk menepisnya, namun semua sia sia saja. Kepalaku semakin berdenyut, leherku bagian belakang semakin tegang.


Aku merindukannya, aku merindukan dia. Bagaimana bisa? mengenal wajahnya pun belum mampu, membayangkan wajahnya pun masih samar samar.


Tapi kenapa tiba tiba aku sangat menginginkan dia?


Sangat ingin dia,,, Ya Allah,,, apa yang terjadi padaku?


Hufh,,,


Mulailah aku dirundung kegelisahan.


Sejak bangun tidur ingat dia, di atas jam 12 siang ingat dia, sore ingat dia, malam menjelang tidur ingat dia.


Bahkan karena saking mengingat nya terus, aku menjadi mengalami gangguan imsomnia. Menjelang subuh baru bisa tidur, orang bilang tidur tidur ayam gitu.


Kuhitung sejak pertemuan dengan Rey, sudah sekitar 2 hari ini aku seperti orang tidak waras.


Untung aku mampu menyembunyikan semuanya itu dari suamiku. Semua ku hindari, karena suamiku memiliki karakter yang temperamental walaupun sebenarnya dia seorang yang sangat penyayang pada keluarga.


Oh ya,,, Aku dan suamiku memiliki perbedaan umur yang sangat jauh. Jadi, suamiku yang lebih muda. Akulah yang tua. Walaupun suamiku lebih muda usianya, namun dia sangatlah dewasa.


Dan untuk diriku sendiri menurut penilaian sahabat sahabat ku, wajah dan usiaku tidak sebanding. Karena menurut mereka, wajahku lebih muda dari usiaku yang sebenarnya. Usiaku 36 tahun, namun wajahku seperti masih 25 tahun. Katanya sih,,,


Sesuai dengan usianya, suamiku memang kadang seperti masih kekanak-kanakan. Namun kami bisa saling mengimbangi.


Hanya satu yang kadang membuat kami berselisih. Suami masih suka mengungkit masa laluku saat aku masih menjanda. Padahal kami sudah memiliki komitmen untuk tidak membahas masalah masa lalu.

__ADS_1


Namun dia tidak teguh pendirian, plin plan kalau kata orang.


Sakit sebenarnya. Memang sering menyakiti hati. Tapi semua kusimpan dalam hati, dan ku anggap sebagai pelebur dosa dosaku.


Entahlah, karena terlalu sering menderita batin sejak kecil. Ditambah dengan masalah ini, membuatku menjadi seperti mati rasa. Perasaanku seperti mati, bahkan pada suami sekalipun.


Namun ku mencoba berusaha untuk menjalani dengan ikhlas.


......................


Kembali ke cerita awal.


Sejak aku bermimpi digigit anjing hitam, banyak perubahan pada fisik dan psikis ku.


Malam jum'at pertama mimpi digigit anjing hitam.


Aku mulai kehilangan selera makanku. Tak ada sesendok pun nasi mampu mengisi perutku.


Menu makanan yang biasa menjadi menu favorit pun tak ada yang membuatku menjadi penggugah selera makanku.


Aku hanya mau makan jika ada menu makanan baru. Tiap saat hanya dia yang memenuhi ruang pikirku. Tidak ada sedetikpun celah untuk dapat menghilangkan atau mengalihkan pikiranku dari darinya.


Bahkan saat menjalankan sholat lima waktu pun, bayangan Rey masih terus menggoda di pelupuk mata dan pikiranku.


Setiap saat rasanya ingin menemuinya.


Setiap saat rasanya ingin mecarinya.


Anehnya, bayangan masa lalu itu hadir mengisi ruang hatiku yang seolah kosong tak berpenghuni.


Emosiku menjadi tak stabil.


Ketegangan di leherku kurasakan setiap saat menyerang. kadang aku berpikir mungkin aja hipertensi, atau kolesterol.


Sebisa mungkin ku atur emosiku dalam menghadapai kedua balitaku. Sebisa mungkin kunetralkan emosiku dan perasaanku dalam menghadapi suamiku.


Karena ku tau, hanya akan sia sia jika suamiku tau apa yang tengah terjadi padaku. Semua hanya akan menjadi bumerang bagiku.


Itulah kadang yang membuatku lebih baik menyimpan semua masalahku dalam hati, ketimbang memecahkan masalah itu dengan suami. Karena tak akan menemui titik temu yang berakhir manis.


Makan hati adalah makananku sehari Hari. Namun aku berusaha untuk menunjukkan bahwa semua baik baik saja. Ditambah dengan peristiwa ganjil yang ku alami ini, akan semakin runyam jika suami mengetahui.

__ADS_1


Semua kusimpan sendiri, semua berusaha ku atasi sendiri.


......................


Hari hari mulai kulalui dengan sedikit mencekam dan penuh ketegangan.


Aku semakin merindukannya, merindukan Rey yang belum cukup seminggu kutemui. Mengenal lekuk wajahnya pun aku tak bisa, bagaimana bentuk matanya pun aku tak tau.


Yang ku tau hanya si Rey itu berpostur pendek. Itu aja, aneh kan? kok bisa bisanya aku kangen sama dia?


Ku ambil telpon seluler di atas nakas. Kucoba menghubungi Rey. Dan dengan cepat dia mengangkat telpon dariku.


Kudengar nafasnya memburu, sangat berat.


Setengah berbisik kudengar suaranya.


",,,,,,,,,,? " aku hanya mematung mendengar suaranya. Aneh kedengarannya. Terdengar lebih seksi suaranya batinku.


Tak banyak cakap kami.


"Dimana? " pertanyaan nya to teh point.


"dirumah" jawabku singkat.


"Saya rindu kau" cerocosnya dengan percaya diri.


",,,,,,,,,,? " aku diam mendengarkan, karena bingung mau bicara apa.


Segera ku matikan ponsel.


Sambil bersandar di dinding, pikiranku kalut. Apa sebenarnya yang terjadi.


Aku sangat merindukannya. Aku sangat menginginkan nya.


Ku cari kedua balitaku, oh ternyata mereka sementara bermain dengan teman temannya di teras rumah. Aman, pikirku.


Ku lanjutkan aktifitasku di sore hari, seperti biasa. Tugas ibu ibu yang baik, mencuci, memasak, mengurus anak anak. Kebetulan hari hari libur kantor, jadi lebih banyak waktu dirumah. Dan kujadikan hari untuk istirahat dari lelahnya pekerjaan di kantor.


Kedua jari jariku sibuk menari nari di atas talenan, sibuk mengieis bumbu bumbu.


Tak lupa pikiranku tetap melayang layang pada Rey.

__ADS_1


Tak terasa airmataku menetes. Entahlah, tak tau kenapa aku bisa menangis. Padahal saat ini bukan bawang yang ku iris. Apa karena aku merindukannya?


__ADS_2