
" Za, pergi ke rumah disamping yuk … dengar-dengar dia baru datang kemaren ," aku tidak menyahut.
Yang ada di dalam pikiran ku gimana jemur dalaman sedangkan, disamping adalah rumah yang dikatakan oleh Maya, barusan temanku .
Ya, aku selalu jemur disamping di jendela dari pada jemur di depan berhadapan dengan jalan.
Tapi, sekarang lagi ada tetangga lain mampir di rumah samping, kalau mereka lihat keatas … mau di bawa kemana muka ku yang cantik ini .
Karena aku tidak menyahut Maya, pergi sendiri. Walau tadi mengatainku seperti patung.
" Rauza … kamu tau gak! Ternyata dia adalah paman Raka, adik angkat kamu ."
" Apa ?" Menggaruk kepala tidak gatal.
" Iya, Raka berharap tadi kamu datang, eh aku bilang kamu gak enak badan."
Maya, berceloteh habis pergi disana membawa apa yang ada sebagai perkenalan. Mulai sekarang pamannya Raka, tinggal bersamanya. Baguslah jadi, gak kesepian lagi atau sekedar menemaninya jikalau sakit.
Sebenarnya penasaran sih, cuma ya gitu . Malas keluar enaknya tidur, mengambil hp melihat apa ada pesan dari Raka, dia sudah kuanggap sebagai adik sendiri, sekolah baru satu SMP, sekarang mau kelas dua.
" Kakak sakit ya … nanti Raka, mampir untuk membawa oleh-oleh dari pamanku yang hot , cepat sembuh kakak Za, muachh."
Apa-apaan nih, kenapa pesannya begini. Apa maksudnya. Raka, selalu begitu kalau ingin dimanja oleh sosok dekat dengan nya.
Apa Maya, ada bicara aneh-aneh ?
" Kalau kakak gak boleh aku cium, lewat chat boleh ya … tapi, kalau Raka, gi sakit pengen manja sama kakak, boleh ya ? "
Masih ku ingat Raka, dengan tampang seperti anak SD yang kehausan kasih sayang dengan kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.
Hem, melihat kedua matanya membuat aku tidak tega.
Tok tok !
Itu pasti Raka, baru juga kepikiran. " Masuk Rak, sekarang gak sepi lagi dong. Eh, benar Rak paman kamu sudah pul–"
Ehem !
Baru sadar ternyata bukan Raka, tapi seseorang kelihatannya dewasa dan matang , dengan umur kira-kira daerah 30-an. Matanya yang tajam melihat di tangan ku, yang sedang lipat baju. Ku lihat di tangan ternyata kolor.
Refleks ku lempar ke samping kardus malah jatuh didepan lelaki itu, dengan tangan sedikit gemetar aku mengambil dan menyembunyikan di belakang.
" Cek … sudah tau." Dia berlalu begitu meninggalkan sesuatu dekat kasur ku.
Dengan keadaan aku yang masih malu, dan menetralkan jantung yang … dag dig dug.
Suara hp berbunyi. " Maaf kak, itu paman aku mengantar oleh-olehnya, katanya sambil lihat kosan disana , udah dulu ya kak, by …."
Ah, pantasan kok bisa tahu aku dikosan diatas.
" Rauza ! Yuhui …"
Ternyata Maya, mulai lagi makan disini sampai kotor. Bercerita ini itu yang tidak ada habis.
__ADS_1
" Jangan makan di kasur, semut gigit aku nanti," dia nyengir dan turun lanjut lagi makan dengan bercerita tentang paman Raka.
" Ternyata Za, dia adalah duda tanpa anak loh, badan gagah, matanya tajam bagaikan elang memangsa mangsanya, tubuh kekar, kumis tipis dengan sedikit ada brewok, dan dengan bibir—"
" Stop Maya, kau menodai pikiran ku dengan perkataan mu, aku mau jemur dalaman dulu selagi matahari terik."
Maya tidak terima aku mengabaikan nya dia masih tetap membayangkan duda samping rumah dengan senyuman genit di bibirnya.
Parah ternyata virus duda, bisa membahayakan anak gadis orang atau para emak, sebaiknya aku tidak boleh dekat dengan nya sebelum virus nya mengenai ku.
Kalau sampai itu terjadi, bergedik ngeri . Tidak! Jangan sampai aku ikut-ikutan terpesona dengan duda.
Asik melamun sambil jemur, kolor ku jatuh ke samping rumah Duda, ah, gawat nih. Kalau ada yang lihat bisa berabe nih !
Aku menyelesaikan sisanya, lalu turun untuk mengambil kolor warna hitam. Dengan kayu di tangan, melihat ke kiri dan kanan berharap tidak orang termasuk duda.
" Ayo , dikit lagi," ah, jatuh lagi padahal udah nyangkut di kayu dengan susah payah aku mencoba lagi, sangking fokus nya kesana.
Dalam ku sudah pindah di tangan ….
Sarung mana ? Aku ingin sembunyi.
" Nih, ambil lain kali jangan pikirkan saya kalau ingin lihat."
Dengan wajah tanpa dosa, si duda itu mengembalikan dalaman ku dengan cara jijik pegangan menjauh dari mukanya.
Aku mencebik melihat nya, tanpa melihat kearah nya aku mengambil dari tangan nya, dan malah di angkat tinggi.
" Ambil yang benar ."
" Ambil kalau bisa ," tantangannya sedikit mengejek, warna hitam. Dan memutar melihat.
Tidak ! Aku tidak sanggup lagi melihat dia mengintimidasi dalaman ku, dan melihat ekspresi diri ini, dengan senyuman mengejek.
Orang tetangga melihat itu menghampiri kesini, membuat ku was-was. Meninggalkan duda itu tanpa mengambil punya ku.
Dari pada di viral, itu sangat memalukan. Dia pasti berpikir ingin menggodanya dengan status nya ah, sudahlah.
Terserah mau di apa in, nanti bisa beli lagi. Nyesek banget lihat dia, dengan tampang tak berdosa nya uh, sungguh ingin sekali mencabik ginjalnya.
" Oh, ya. Kamu kenapa bertemu dengan duda disamping rumah nya, penasaran ya … apa aku katakan. Gimana pendapat mu saat melihat nya ?"
" Biasa aja, ga ada istimewa."
" Gak percaya buktinya kamu habis dari sana," aku menggaruk kepala.
" Itupun terpaksa kesana jikalau…ah, sudahlah," aku langsung pergi dari hadapan maya sebelum menanyakan hal yang lain.
Dengan mood yang kesal aku langsung menuju tempat tidur, menutup muka dengan bantal, berharap itu hanya mimpi.
" Zaa … ish cepat bangat tidurnya, kamu tau gak tadi melihat senyuman Duda itu membuat ku meleleh sampai ke dada ."
" Ish…bangun dulu," Maya mengguncangkan tubuh.
__ADS_1
" Ada apa sih, Maya? Aku ngantuk lain kali cerita duda itu, lagian aku lagi kesel."
" Ya ela … kesal kenapa sih ! Lagian kamu jarang tidur jam segini, ya udah sebaiknya kita cari makan aku yang traktir."
Aku langsung bangun dan siap-siap, selagi ada yang traktir kebetulan lagi suntuk.
" Ayo," ujarku.
Melihat muka Maya yang sebel. " Soal makanan cepat banget bangun, gak ngantuk?"
" Hehe…enggak kalau udah dengar makanan soalnya cacing pada demo."
"Yyy asalkan kamu harus denger cerita ku tentang Duda itu," aku hanya manggut-manggut saja.
" Beres asalkan perut ku harus kenyang ," kami mencari makan yang terdekat dengan mendengar cerita Maya tentang Duda tanpa beranak.
Aku asik makan tanpa tidak terlalu peduli oceh Maya, udah dua kali aku menambahkan mie goreng .
Tiba-tiba Maya memanggil seseorang lewat lambai tangannya, aku tidak terlalu peduli selain memakan saja.
" Kak Za," aku mendengar suara tidak asing mendekat, lalu menoleh belakang.
" Uhuuk !"
" Ituhkan kamu saja sampai batuk melihat si duda ," ujarnya menyodorkan minuman .
Raka yang sedikit khawatir langsung ke sini.
" Kakak gak papa?"
" Gak papa, oh ya dari mana ?"
" Cari angin sambil lihat sekitar sini."
Dengan Maya tak henti-hentinya memandang si Duda tanpa kedip, sampai akhirnya mereka bergabung.
" Aku gak mau makan lagi ," ujarku.
" Lahh, udah dua kali tambah tanpa sisa …apanya yang gak mau makan lagi," nyahut Maya membuat ku sedikit malu.
" Gak papa kalau nambah lagi, biarkan paman Raka yang bayar…lagian kakak Za kurus gak kelihatan makan banyak," sambungnya.
" Hehe… nanti aku lihat lagi ," nyengir ku, Maya hanya menggeleng melihat ku, apa lagi tatapan Duda membuat ku risih.
Sampai akhirnya kami pulang bersama mereka meski sudah ku tolak, karena diancam oleh Maya yaa …sedikit terpaksa pulang dengan mereka.
" Kapan lagi coba barengan duda, bisa menikmati banyak hal dengan nya," aku hanya memutar bola mata dengan malas.
Aku lebih memilih berjalan di belakang dari pada beriringan, dengan es krim di tangan…aku menikmati dann.
" Nih, ambil. Lain kali jangan ditinggal sebelum bawa milik sendiri," aku yang bingung atas sodoran si Duda.
Aku membuka paberbag yang diberikan, katanya kolor aku, pas kulihat celananya sendiri. Ada secarik kertas lalu aku mengambilnya.
__ADS_1
' Punya mu ada dalam kantong celana saya, terpaksa masuk ke sana, karena tetangga yang lain keduluan datang, sekalian cuci celana saya akibat kena virus punya mu !'