Tetangga Dengan Duda

Tetangga Dengan Duda
Bab 2 Tetangga Dengan Duda


__ADS_3

Kalau tidak dikembalikan gak papa juga lah, ternyata malah masuk dalam celananya. Aku membawanya ke laundry besok kukembalikan, meski malas berurusan dengannya.


[ Harus bersih, wangi jauh dari virus punya mu]


Ting !


Aku melihat sebuah pesan nomor baru, tidak kenal lalu ku abaikan.


[ Jangan lupa dikembalikan bisa-bisa di santet]


Ah, ternyata si duda …emang aku apaan mau santet punya dia .


[ Tenang saja, besok saya kembalikan…karena saya anti Duda]


[ Lihat saja nanti]


Pasti dari Raka dapat nomor ku, aku malas tanggapi pesannya.


***


Setelah mengambil celana si Duda di laundry aku langsung menuju ke rumahnya sebelum bekerja di cafe Maya.


Rencananya mau aku kasih lewat Raka, takutnya dia pikir yang aneh-aneh nanti …terpaksa aku membawanya sendiri sambil membawa buah tangan biar tidak terlalu curiga oleh Raka.


" Hai Rak, gimana keadaan mu selama ada paman ?"


" Kak Za, aku senang datang kesini … bawa apa?"


" Kue untuk mu tadi gak sengaja lihat kue kesukaan mu," manggut-manggut nya.


" Ah, kakak bisa aja kebetulan aku gi lapar."


" Ya udah makan sana, jangan lupa untuk pamanmu juga."


" Siap !" Hormatnya membuat ku terkekeh.


Ehem !


Dengan celana pendek tanpa baju bau keringat menghunus dalam hidungku, badan kekar yang membuat ku terpana kilau akan keringatnya.


" Sudah selesai melihatnya?" Ejeknya membuat ku mengusap mata.


Sadar Za, jangan terpesona dengan nya bahaya .


" Ehem ! Siapa juga yang lihat anda, saya datang ke sini untuk mengembalikan punya mu," ujarku dengan hp berbunyi, ternyata Maya.


Segera ku pamit dari Duda daripada melihat penampilan ku yang terintimidasi oleh matanya.


" Celananya…" dia mengangkat alisnya.


Membuat ku berhenti melihat kearah tangan masih memegang paberbag, malu pasti. Menunduk menyerahkan padanya tapi, tidak ambil juga.


" Orangnya diatas bukan di bawah, gak sopan," sinisnya.


Aku mengangkat kepala melihat kearah nya yang terus melihat ku, dengan kedua tangannya dilipat di dada.


Aku mundur saat ia mendekatiku sampai akhirnya aku terpejok di dinding, semakin mendekat…dan.


" Anti duda yaa tapi, kelihatannya tidak seperti itu," bisiknya lalu pergi begitu saja setelah mengambil paberbag di tangan.


Aku bisa menghela nafas dengan lega, kurang ajar ternyata dia kerjain aku sampai membuat ku mati kutu di tempat.


" Kenapa kak ? Sakit, kok keringatan begitu ?"


Suara Raka membuat ku sadar dari tempat apa yang membuat ku terhipnotis oleh keadaan.


" Gak kok Rak, mungkin karena suhunya panas kali yaa, aku duluan daa …sampai nanti," ujarku segera meninggalkan tempat ini.


" Aneh, padahal dingin kok dibilang panas."

__ADS_1


Segera aku naik motor matic ku, baru beberapa saat bisa bernafas lega …hp ku berbunyi, tanpa melihat siapa yang telpon aku langsung jawab.


" Hallo Maya, aku sudah sa–"


" Sengaja kirim celana kamu ."


" Maya, kok suara kamu jadi berubah jadi Duda itu?"


Pas kulihat siapa yang telpon ternyata…ah, aku menepuk jidatku. Langsung saja aku matiin, terus berbunyi lagi sampai tak bosan.


" I-ya ."


" Cepat kembali kesini, ambil punya mu kembalikan punya ku jangan-jangan kamu menjualnya yaa?"


Sabar-sabar aku hanya bisa mendengar suara yang membuat ku kesal tanpa sebab .


" Iya nanti setelah pulang dari kerja saya datang kembali ."


" Awas kalau tidak sesuai lagi…."


Tut.


" Iyaa akan sa–"


Ah, sudah dimatikan …menggaruk kepala tidak gatal memikirkan celana yang salah ambil.


Ah ya, baru teringat aku ambilnya dua dengan punya Maya juga, bearti Maya yang salah ambil …pantasan Maya telpon aku tadi .


Langsung saja aku menelponnya, satu dua detik akhirnya diangkat juga.


" Hal–"


" Ya ampun Za, kamu dari mana saja…aku telpon gak angkat dengan aku salah ambil celana lagi, sebenarnya ini punya siapa sih ! Gak mungkin punya kamu melihat dengan merek terkenal dan mahal–"


" Stop Maya, itu punya duda iyaa silahkan baaay."


Aku langsung mendengar dia teriak senang bisa ketemu duda, dari pada dengar ocehnya tidak ada habis-habisnya.


" Biasa lagi memperjuangkan calonnya ," jawabku duduk sambil santai setelah waktunya istirahat.


" Siapa? Emang ada yang mau ?"


" Ada banyak malah, yaa cuma Maya sendiri agak pilih sih ! Dengan dirinya udah mapan siapa yang tidak mau, emang kamu ?"


" Hehe Abang, masih proses untuk lamarin kamu Za," katanya tanpa dosa.


" Muntah dengar rayuan mu dalam kegombalan akan harapan anak orang Bang."


" Iyaa adek yang sabar yaa tungguin Abang manis ini," lanjutnya.


" Ish…ogahh, cari yang lain saja," segera pergi darinya dari pada semakin parah arah bicaranya.


" Zaa, yuhuii lihat siapa yang datang !" Teriak Maya dengan senang.


" What ! Dengan Duda?"


" Kenapa…jangan-jangan Maya dengan Duda," langsung saja aku menjitak jidatnya.


Duda datang duluan dengan Maya di belakang masing-masing mobil sendiri.


" Cemburu ."


" Bang Pon, diam …aku cuma melihat Maya saja."


"Masak, pandangan tidak terlepas."


" Ish, dasar kamu ," geramku langsung menuju ke belakang.


" Zaa, cepat tolong bawakan ini dari pada bengong di tempat, di ruang privasi yaa…."

__ADS_1


" Kenapa harus a-ku," sedikit merasa keberatan jikalau melihat Duda lagi.


" Sudahlah, aku yakin kamu gak genit emm, soalnya masih pembahasan tadi salah ambil celana masih bingung dia ," ini terasa aneh.


" Masak sih May, sediki–"


" Ah sudahlah, cepat daripada keburu kelamaan tunggu," aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus nya dengan sedikit kasar.


Kenapa aku dag dig dug gini, bukan cinta cuma gimana yaa, malas berurusan dengan nya apa lagi disambung dengan pesonanya.


" Permisi Dud– maksudnya, ah ini minumnya dan makanannya," aku menaruhnya dengan pelan karena gak berani melihat mata tajamnya dengan kancing terbuka tiga biji membuat ku terasa panas.


Dia mencondongkan tubuhnya kearah ku lalu memegang tanganku dengan sedikit remasan dengan usapan nakalnya.


" Kenapa hem, saya penasaran dengan kamu…apa benar anti duda," katanya dengan lembut, bisa kurasakan hembus nafasnya.


Membuat ku susah bernafas. " Kenapa bergetar, takut hem ," aku mengontrol diri sendiri sebelum terjebak dengan si Duda.


Dengan Duda sudah duduk di tempat tadi, yang masih memperhatikan ekspresi ku.


" Dasar Duda kesepian, siapa bilang takut hanya dengan itu, permisi," aku melangkah pergi dari pada membuat ku emosi dengan sikapnya.


Untung jantungku tidak tercopot berada di dekatnya, huh.


" Za …."


" Hampir saja membuat ku terkejut," aku mengusap dada, ku pikir siapa.


" Kenapa terkejut, aneh ."


" Gimana gak aneh, datang tiba-tiba tanpa suara membuat orang terkejut, kayak hantu saja."


" Hhhh, masak emang enak, makanya jangan melamun."


" Kita temani Duda yuk, ayoo," aku masih menolaknya.


" Gak ah, kamu aja aku malas dari pada jadi nyamuk," dia tawa lagi .


" Ah, ayolah nanti aku tambahin bonus dehh," tetap saja aku masih mikir-mikir.


" Nanti siapa yang antar minum ke orang lain."


" Hadehh Za, kan banyak karyawan yang lain aku bosnya dan kamu temanku lagian aku kasih bonus juga kalau gak mau aku suruh karyawan yang ka–"


" Ah, iya-iya aku mau, siapa yang gak mau temani kamu apa lagi ada bonusnya hehe," nyengirku.


" Kalau soal bonus pasti mau."


" Iyalah, semua orang pasti mau untuk tambahan juga kan."


Langsung saja kami menuju tempat privat yang ada di duda sendiri bergabung dengan nya. Dan Maya tak terlepas dari tatapan Duda meski sesekali nunduk katanya grogi sampai melihat ke kaca masih cantik atau tidak.


Belum ada yang mulai percakapan, melirik ke arah Duda yang santai sesekali aku menatapnya dengan kesal.


" Diika, saya permisi dulu ke toilet," pamit Maya.


" Aku ikut."


" Tetap disini ," tolaknya.


Oh nama Duda itu Dika, hem kelihatannya mereka udah mulai dekat.


Untuk meng-rileks kan diri aku meminum jus yang ada di depan daripada diawasi oleh mata elangnya terus, jangan sampai aku grogi seperti Maya.


Aku merasa ada yang menggelayar di kaki ku, membuat diri ini terasa merinding dan geli.


Pas kulihat ternyata kaki duda itu, dengan alis yang terangkat . " He–ntikan."


" Uhukk !"

__ADS_1


" Kamu …" aku menganga melihat air di mulutku tumpah ke muka si Duda itu.


__ADS_2