Tetangga Dengan Duda

Tetangga Dengan Duda
Bab 5 Tetangga Dengan Duda


__ADS_3

Aku mengambil ancang untuk melompat ke luar dari mobil duda, melihat si duda yang masih fokus ke depan .


" Apa !" Ketusnya, aku hanya menggeleng.


Dengan tangan sudah memegang pintu mobil. " Berani melompat saya cium kamu," ia memicing mata saat aku mau melompat.


Tanpa mempedulikan nya aku mau melompat, sayang aku lupa melepas seat belt …bisa bayangkan gimana jadinya, membuat ku malu saja.


" Sok mau lompat yaa," ia berdecih.


Setelah melepas seat belt nya, pintu sudah dikunci oleh nya. " Apa? Lihat saya seperti itu," ketusnya dengan senyum ejeknya.


" Haisy … tau ah," keselku.


Aku bersembunyi di bawah saat mobil sudah dekat dengan gerbang, dengan ibu-ibu sudah menunggu di sana.


" Nak, Dika dari mana saja ? Kami dari tadi nunggu lohh , membawa makan malam," ujarnya salah satu diantaranya.


" O-m eh, Abang ganteng pasti rayain kemenangan dengan Raka atas lulus ujian terbaiknya ya?" Ucapnya dengan lembut, membuatku agak gimana gitu.


" Saya ada sesuatu buat Abang gantengg," lanjutnya dengan sedikit manja.


Ah, sungguh aku tidak suka berada di situasi macam ini, huhh.


" Kenapa kamu ?" Tanyanya padaku, aku mengisyaratkan untuk diam, jangan ajakku bicara.


" Ah, saya gak papa," jawab perempuan itu.


" Bukan kamu !" Ketus Duda.


" Maaf semuanya saya masuk duluan, silahkan serahkan saja kepada satpam," ujarnya meninggalkan mereka walau ada sedikit kesel.


" Semoga mimpi indah ganteng."


" Mimipiin saya calon suami ku."


" Ah, dia calon mantu saya…awas kalau berani mengambilnya…."


" Bukannya milik kalian tapi, milikku sorang,"lanjut ku pelan.


" Apa kamu bilang ?"


" Ah, eh gak kok," jawabku dengan malu, hiss.


Aku melihat kearah nya, masih tatapan dinginnya. " Kenapa?"


" Cepat keluar !" Lanjutnya.


Aku mencebik langsung keluar dari mobilnya, menutup pintu dengan kencang. Melihat kearah Duda yang mau mendekati aku.


" Kamu ! Berani-beraninya kasarin pintu saya," melihat si duda yang marah aku membalikkan badan lari darinya menuju ke samping.


Sesekali melihat ke belakang ternyata dia ngejar aku . " Haduh! Gak ada kerjaan lain saja ikut ngejar aku," keselku.


" Dasar tidak tahu terima kasih! Ngapain lari …saya ingin tunggu ucapan maaf darimu bukannya joging malam-malam !" Aku hanya nyengir melihat duda berkacak pinggang dengan mata yang melotot.

__ADS_1


Aku yang sudah naik atas pagar keluar dari sini, daripada di depan dilihatin para emak-emak.


Saat melangkah kaki ke luar sana tiba-tiba mendengar suara merdu dari celana.


Sreek .


" Hahaha, warna pink kena…wahh pertunjukan sangat menarik …."


Malu aku, mencoba melihat ke bawah, aku menepuk jidat sendiri ngapain ikut lihat punya sendiri jikalau celana terasa sobek.


" Haisy…senang melihat derita orang lain," aku menyentak nafas dengan sebal sekaligus malu, melihat satpam mau kesini ketika tawa si duda tidak henti dengan memegang perutnya.


Sebelum itu aku sempat melotot ke arah nya.


" Apa ? Melotot saya !"


" Ada apa pak ? Ada terjadi sesuatu?"


" Tidak ada, kembali di tempat!"


Langsung saja aku pergi dari sana dengan menutup muka huhh.


Anggap saja semua tidak pernah terjadi oke, ingat ku pada diri sendiri … dengan badan lelah segera melangkah cepat ke kos di tingkat dua.


Huhh akhirnya sampai juga, melempar tas ke sembarang arah. " Ya ampun baru teringat celana dengan jas si Duda ada didalam mobilnya," aku menepuk jidat sendiri.


Capek dehh, sebaiknya aku mandi dulu biar badan segar. Sebaiknya aku suruh Duda cuci sendiri lagian dia mempunyai art pulang pergi, lebih baik di ganti dengan hukuman lain, dari pada barangnya lama disini membuatku sedikit kesal jikalau dia banyak untuk ngerjain aku dengan alasan itu huhh.


Kepala terasa lebih baik dari pada tadi, membuka gorden lewat samping terlihat si Duda sedang santai dengan minuman kopinya, seolah dia tahu aku sedang memperhatikannya dari jauh, dengan senyumannya dia menawarkan minum .


[ Celana dengan jas mu ada di mobil, suruh cuci sama irt saja…gantikan aku hukuman yang lain sebagai gantinya ya, Dud]


Kok, aku jadi deg degan sih dengan keputusan yang lama, sambil menggigit bibir dia menoleh lagi seolah-olah. 'Apa lihat-lihat!'


Ting.


[Oke, sebagai gantinya kamu harus ada disaat saya membutuhkan kamu dalam keadaan apapun gimana, deal.]


Sejenak aku pikir, akhirnya aku setuju.


[Oke, saya setuju] balasku, meski agak ragu.


Kantuk menyerang membuat ku gak bisa melihat Duda yang sudah masuk ke kamarnya.


***


Huamm….


Aku menguap mengerjap mata dengan pelan, mengupil mata untuk melihat silau matahari.


Ternyata sudah siang seketika aku langsung duduk melihat sebuah pandangan seakan-akan aku sedang menonton TV.


Ah, si Duda telah menodai mata suciku his…ngapain olahraga diatas itupun pas bersampingan dengan tempat kos ini.


Tiba-tiba aku ada ide untuk memvidiokan dirinya lalu ku kirim untuk Maya, wahh boleh juga nih.

__ADS_1


Mengambil hp disamping kasur saat kameranya sudah pas tinggal menekan merekam saja tiba-tiba si Duda udah telpon duluan.


Aku menggaruk kepala, apa dia marah saat aku ketahuan ingin videonya ya ? Heranku antara mengangkat atau tidak.


Akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.


" Iya ha-"


" Ingin menggoda saya, ya ?" Aku mengernyit tanda tidak tahu maksudnya.


" Enak saja, seharusnya aku yang tanya kamu kenapa godain anak orang tanpa pakai baju," balasku.


" Kamu tahukan saya lagi olahraga, kenapa godain anak orang bukannya bisa cuci mata," aku melihat kearah nya.


Lalu ia membentukan tangannya di dada.


" Kenapa gak sekalian bukain semuanya," ucapnya dengan sedikit lembut.


Aku yang masih belum mengerti melihat kearah matanya kemana dilihat, gegas aku mengikuti pandangannya.


Yaa ampun, langsung saja aku menarik gorden dengan nafas sedikit memburu.


" Memalukan," desisku sendiri.


" Tahukan maksudnya, is…pura-pura lagi padahal sengaja," desisnya disana.


Tutt.


Bagaimana tidak malu kancing baju ku terlepas tiga biji, gimana nihh ! Aku malu sendiri malah dikatain sengaja goda Duda lagi hiss.


Dasar, dasar …aku ini ceroboh ku pukul kepala sendiri dengan kesal, gak tahu harus bawa kemana muka ini saat berhadapan dengan Duda.


Dengan jantung sedikit berdebar dengan kejadian memalukan, semalam pun begitu pasti di Duda itu mengejekku .


Ting .


[ Saya suka warnanya dann terlihat seksi… 😉]


What ! Si Duda mulai kelewatan …dan kenapa dengan aku ini uhh, jantung sedikit berirama tidak jelas akan malu yang tak terasa terjadi begitu saja, bagaimana menghadapi si Duda itu nanti ya ?


[ Dasar mesum, Duda kesepian]


Aku menggigit jari sendiri antara malu dan kesel, lalu mengintip dari jendela yang sedang memegang ponsel, duduk santai sesekali lihat kearah sini langsung ku tutup gorden.


[ Sepi-sepi gini banyak yang naksir dan atri ]


Jantung yang berdetak entah kenapa, menghela nafas untuk menetralkan apa yang telah terjadi tadi, tenang…tenang huhh.


[ Narsis …tukang petebar pesona pada anak orang, pantasan antri]


[ Termasuk kamu kan😉, ngaku saja deh]


[ Ogah🤮, jauh-jauh sana… bawa virusnya]


[ Kamu ! Awas saja nanti, kamu akan menjilat air ludah sendiri !]

__ADS_1


[ Siapa takut 😛]


[Tunggu saja nanti😎]


__ADS_2