
Pov Dika atau di Duda
Setelah membalas perbuatan Za, dengan menyiram dia air sabun membuat ku tersenyum, tidak bisa kubayangkan dia ditertawa oleh orang sepanjang pulang.
Menyelesaikan aktivitas untuk segera meeting dengan klien. Dengan hati senang aku bersiul-siul.
" Menggemaskan sekali," menghapus sudut bibir.
Setelah selesai meeting, rasanya ingin pergi ke taman untuk mencari ketenangan. Baru turun beberapa anak tangga mataku tidak sengaja melihat seseorang yang begitu kenal, sampai mengucek mata benar apa tidak.
Ternyata benar apa lagi di goda oleh teman Raka membuat dadaku panas kesal terasa sesak di dada, menarik dasi yang tiba-tiba terasa panas melihat dua joil kasmaran.
Dari sana aku berpura-pura jadi pasangan romantis pada Za, dihadapan anak kecil itu. Bisa kulihat matanya yang terkejut seakan-akan tidak menyangka. Begitu juga dengan Za, sampai akhirnya mengikuti permainan aku.
Padahal ingin rasanya memberi pelajaran pada anak kecil ku, karena Za sudah menarik tangan ku untuk menjauh dari sana.
Huhh, menyebalkan dan kenapa juga aku panas sendiri melihat Za, dekat dengan orang lain apa lagi dengan bocah bau itu ! Yang berani-beraninya suka gombal orang sembarangan, bisa kulihat anak itu bukan orang baik yang selalu mempermainkan wanita.
Apa lagi tidak memandang usia ! Dasar ! Sampai tidak sadar membawa mobil dengan kencang, terdengar ketakutan Za yang belum menikah atau apa lah ngocehnya baru aku berhenti dan sedikit amarah ini turun melihat tingkahnya yang lucu.
Seketika aku mempunyai ide untuk mengerjainya, senyumku di balik ide ini. Membuat Za, was-was. Sungguh menggemaskan bukan !
" Hey, tenangkan diri mu. Saya tidak kesurupan atau apa ? Lihat tangan mu sampai sakit memukul pintu mobil," karena tidak tega melihat dia yang panik yang terus memukul pintu mobil.
Hahaha, masak dikira aku keserupan sampai membaca mantra yang tidak mempan. Orang nya baik-baik saja gimana kemasukan jin, heh.
" Benar kamu tidak kesurupan ?" Masih dengan keadaan takut.
" Iya benar…kamu aneh ! Dasar, orang baik-baik saja dibilang kesurupan," senyum ku mengejek kearahnya.
" Ooh, jadi kau Duda! Sengaja kerjain aku ya? Iya…kan, ngaku saja deh !" Dia bersikakap dada dan melotot kesal, marah karena di permainkan.
" Heh ! Kamu saja yang berpikiran begitu, padahal mah, orang biasa ja," aku tidak mau kalah ataupun mengaku, apa dia bilang walau emang benar.
" Dasar aneh ! Gak, ngaku lagi . Aku tahu kamu seperti apa ? Tidak biasanya bersikap seperti itu kalau bukan iseng," ketusnya membuang muka ke depan.
" Yaya, terserah kamu. Kamu sendiri yang pikir saya yang tidak-tidak tadi. Jadi…saya yang salah, apa kamu. Hem?" Aku menautkan alis melihat kearah nya yang merajuk.
Aku tersenyum sendiri di dalam hati, jadi …dia ngambek nih, ceritanya.
" Hahaha, kamu lucu kalau lagi marah," aku gak tahan kalau ketawa melihatnya.
" Gak lucu !"
" Cieee, ciee marah nihh. Hem ?"
" Apaan, sih !"
Aku menarik tangannya yang dilipat di dada. " A-pa yang kamu lakukan ? Lepaskan tanganku ? Jangan bikin ulah lagi atau isen-"
" Diam atau saya cium," bibirnya mengerucut seperti bayi yang dimarahi ibunya.
__ADS_1
Ituukan menggemaskan ingin rasanya cium lagi. Tapi, melihat keadaannya tidak pas yang terus merajuk.
" Lihat nih, tangan kamu merah-merah akibat pukul pintu mobil. Sini, saya oles salep biar gak infeksi," mengambil obat yang selalu ada di mobil untuk jaga-jaga contohnya seperti ini.
" Tidak perlu, ini tidak seberapa yang kamu lakuin terhadap aku !" Dia menarik tangannya, aku tidak membiarkan tangannya lepas dari ku, lebam merah ini dibiarkan akibat gengsi atau mengutamakan kemarahan. Sungguh, itu tidak baik.
" Jangan keras kepala, kalau tangannya sudah sembuh kamu bisa pukuli saya lagi. Biar amarahmu puas akan kejadian ini," ujar ku malah dia membuang muka lagi, aku menyentak nafas dengan pelan.
Sebelum mengoles salep, aku mencium tangannya yang ada di lebam merah. Dia terpekik terkejut, aku menenangkan nya biar tidak marah atau naik tensi darah.
" Senyum, hem. Ayolah senyum, kalau gak aku yang cium biar kamu senyum." Aku gak suka lihat dia cemberut terus dengan muka di tekuk gak ada habis-habisnya.
" Iya, udah kan !"
Senyumnya dengan terpaksa walau sesaat, aku hanya mengangguk. Kalau sedikit ancaman baru mau, huhh dasar.
Drett.
Suara hp memecahkan keheningan setelah mengoles salep pada Za. Ah, ternyata dia.
Tidak ku hiraukan suara hp yang mati sendiri, Za yang mendengar pun tidak peduli.
Menyetir dengan sesekali melihat ke arah Za, melihat ke samping jendela. Aku menggeleng kepala, Za yang menoleh.
" Huh, mengganggu saja. Angkat, tuh telponnya. Siapa tahu penting," ujarnya masih ada perhatian, aku tersenyum dan mengangguk.
" Jangan bicara sambil nyetir bahaya, aku masih ingin hidup panjang," sambungnya lagi.
" Siap Bu bos," ledekku membuatnya mencebik.
" Apaan, sih !"
" Ya !"
" kamu dari mana sih ! Aku telpon dari tadi, baru diangkat. Panas aku tunggu kamu di taman gak muncul-muncul juga ?"
Nih, cewek pacar bukan apa lagi calon. Udah main semprot saja, baru juga bikin kesepakatan.
Udah dianggap kekasihnya saja, untung cantik dan selevel . Huhh, walaupun cerewet posesif ingin dikabarin. Sungguh, aku tidak menyukai sikapnya yang berlebihan.
" Sa-yang…kok diam, sih ! Kenapa? Sakit, ya. Atau sibuk? Sayang…" manjanya.
" Hueakk," melihat kearah Za, yang di buat muntah.
" Sayang, kok seperti orang muntah," aku memijit kepala mendengar suara nya.
"Tidak apa-apa, tolong kendalikan dirimu dan bersikap seperti biasa ! Saya masih dengan klien, mungkin tidak bisa pergi ke taman."
Bisa ku dengar dia keberatan. " Hehe maaf sayang, lain ka–"
Klik.
__ADS_1
Malas mendengar ocehannya langsung aku matiin, menyentak nafas dengan kesal . Lalu melihat Za, seperti meniru kata ' sayang' dengan manja yang dibuat-buat dengan mulut nya walau tanpa suara.
Sadar sudah ketahuan Za, hanya nyengir dan memukul mulutnya.
" Aduhh, aku ini. Kenapa seperti ini, sih !" Gerutunya sendiri.
Melihat kearah ku. " Apa !" Ketusnya.
" Kenapa kamu? Sakit ?" Aku balik bertanya.
Menoleh sesaat langsung menatap ke depan.
" Gak papa, lagi gak mood. Apa lagi mendengar suara seperti kenal," jawabnya.
" Suara siapa ?" Aku memicing mata.
" Hah, eh tidak-tidak. Bukan siapa-siapa, tidak ada," jawabnya cepat.
" Masak ?"
" Emm, i-tu yaa. Seperti suara kucing aku yang sering memberi makanan," sahutnya dengan tersenyum.
Aku melihat sekitar dan benar aku melihat dua kucing yang ada di depan yang sedang bertengkar dalam ….
" Jadi…kamu melihat kucing kawin," menatapnya sampai dia menutup mata.
" E– eh bukan i-tu, kenapa ada kucing disana ?"
Meeoongg…meeonggg….
" Gak ngaku lagi, lihat kucing ka–"
" Tidak kok, kamu yang lihat sendiri malah nuduh orang lain !" Melihat mukanya yang bersemu merah.
Dia mendesis lalu keluar dari mobil, karena kosnya tidak terlalu jauh lagi.
" Haha…dia malu, sampai berkerutu sendiri," gumanku.
Mengambil hp lalu.
Ceklek, ceklek.
Aku mengirimnya, foto kucing yang sedang bertengkar.
[ Bagus kan ?]
Ting .
[ Dasar, mesum]
[ Siapa yang mesum, saya bilang bagus kan. Pemandangan di depan]
__ADS_1
Gak, di balas lagi pasti dia malu. Bisa kulihat dia menyebak gorden lalu tersenyum malu menutup muka.
Dia pikir aku gak lihat apa.