
[ Impas kan😎]
[ Gak adil ! Kamu mempermalukan aku didepan tetangga 😒]
" Heran Tante, kalian seperti anak kecil…seandainya Tante tidak melihat kamu basah, pasti sudah tertawa oleh orang-orang yang melihat mu," Untung ada Tante, masuk ke dalam mobilnya, kalau gak entah kemana membawa muka.
" Aneh ! Masak Raka, main sabun dengan kamu …" menatap ke arah ku dengan mata memicing tanda tidak terlalu yakin.
" Iya karena kami bersenang-senang dengan lulusan ujian yang terbaik nya ah, lupain aja Tan," gak mungkin aku bilang itu kerjaan si Duda itu, lebih baik pakai nama Raka sebentar.
" Baiklah Tante terima alasanmu," ujarnya.
Melihat Tante dengan pakaian yang kurang bahan, tidak memudarkan kecantikannya walau make up menor tetap menjaga penampilannya, dengan mata yang tajam .
" Apa lihat Tante seperti itu, masih normal kan?"
Aku tertangkap basah tergelapan.
" Iya Tan, masih normal. Melihat Tante semakin cantik sehingga menjadi perhatian banyak orang," membuatnya senang, melihat kearah orang lain.
Lalu menatapku . " Kenapa Tan ?"
Tante menghela nafas melihat kearah ku lagi, sesekali menatap ke samping dengan mengaduk minumannya.
" Kenapa kamu gak pulang ke rumah? Sudah lama tidak mengunjungi Tante jikalau bukan Tante yang ingin menemui mu duluan, lagian Tante sudah menganggap mu anak kandung sendiri walaupun kamu keponakan Tante tapi, Tante tidak ingin terjadi sesuatu pada mu Za. Mengertilah demi kebaikan kamu juga, pliss.. Za…" lirihnya menghapus air matanya.
Tanteku memang jarang menangis, diluar sana ia selalu tegas, sombong, sinis bagi yang tidak mengenalinya. Sedikit sesak melihat dia menangis tidak tega, bagaimana pun dia tetap ibu kedua setelah ibu kandung ku, yang telah merawat dan menjaga aku sampai sekarang.
Sampai rela menjadi istri kedua untuk mencari perlindungan di bawah kekuasaan seseorang, seperti keluar kadang buaya masuk ke kandang harimau.
Mataku memanas jikalau mengingat keadaan yang belum adil untuk ku dan Tante, jangan menangis Za. Ingat ! Ada Tante di samping, tunjukkan bahwa kamu kuat, tegar tidak gampang menyerah dan tetaplah tersenyum …tetaplah ceria, semangatku pada diri sendiri.
Menatap ke meja, menyentak nafas dengan pelan melihat Tante tidak menangis lagi selain memohon untuk kembali.
Aku tersenyum memegang tangan Tante, menatap nya dengan lembut menghapus sudut sisa air matanya, memberikan kekuatan bahwa semua baik-baik saja. Aku tidak ingin dia khawatir berlebihan, aku bisa menjaga diri sendiri.
" His…Tante jelek kalau nangis, itu bukan Tante ku," aku pura-pura ngambek buang muka.
" Aku ingin Tante ku yang tegas, tajam saat mendidiknya jangan gampang menangis dalam keadaan apapun. Jangan sampai jadi kelemahan musuh," Tante mencebik kesal.
" Dasar kamu ! Gak bisa bikin Tante senang atau sedih huhh !" Ucapnya dengan angkuh memakai kaca matanya kembali, menatap ke arah ku dengan tajam.
Aku melipat tangan di dada menatap ke arah Tante tak kalah tajam dan sinis, entah kenapa tiba-tiba aku ingin menembak seseorang yang telah berani memanfaatkan keadaan kami.
" Tenangkan dirimu ! Kalau kamu gak siap pulang gak papa, pintu selalu terbuka untuk mu sayang, jaga dirimu baik-baik …Tante harap kamu bisa berlindung di bawah kekuasaan Duda itu ," membuat ku mengeryit.
" Maksud Tante?"
__ADS_1
" Sudahlah, nanti tahu sendiri !"
Aku tidak ingin melibatkan orang lain, sudah cukup masalah jadi pening kepala. Entah kenapa suatu saat aku harus menghadapi si Duda dalam rangka apa, cuma firasat ku sedikit tidak tenang.
Aku mengibaskan tangan ke udara, meneguk minum sampai habis loh loh…aku pulang dengan apa, sedangkan Tante udah pulang, hadehhh.
Melihat ke seluruh juru ini siapa tahu ada yang kenal, mumpung lagi sendiri.
Seperti aku kenal seseorang netra nya yang terus tertuju ke arahku, dengan mata tersenyum menggoda bagaikan cari mangsa.
" Hay, manis sendirian saja ?" Mengedipkan sebelah matanya.
" Hay, brondong ngapain kesini?"Bukan menjawab aku malah bertanya.
" Antar bokap kesini, pas lewat eh gak sengaja lihat bidadari cantik," senyumnya memangku kedua tangannya.
Dia adalah teman Raka di pantai waktu itu.
" Aku bukan pemandangan yang bisa dilihat kapanpun, dong."
Dia menarik sudut bibirnya." Kamu adalah pandangan yang terindah bagiku," gombalnya.
Membuat ku ingin muntah, aku menyentak nafas dengan kesal menghadapi bocah ingusan ini. Menggaruk kepala gak gatal.
" Sayang ngapain kamu dengan dia ?"
Uhukk !
Mencubit pinggang nya dengan sedikit kencang sehingga dia mengaduh.
" Beraninya kamu cubit saya, nanti saya balas gak bisa nahan ," bisiknya.
Seakan-akan dimata orang kami sangat romantis.
Aku berdiri menatapnya pura-pura ngambek.
" Haisy…kenapa lama banget jemput aku sih ! Kan aku kelamaan nunggu," aku merajuk melingkar tangan di lengannya sesekali mengusapnya dan tersenyum ke arah brondong.
" Maaf sayang tadi macet," ujarnya mengusap kepala dengan lembut.
Awas Duda beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan, keselku dalam hati, brondong hanya bengong melihat kearah kami dengan kepala menggeleng dan berdecih.
" Ya udah, ayo kita pulang," menarik tangannya menjauh dari brondong.
" Dong, aku duluan sampai jumpa lagi," pamit ku.
" Iya hati-hati ," si brondong memberi kiss bye dari jauh dengan senyuman genit.
__ADS_1
Si Duda yang melihat pun, ikut kesal terus membawa ku jauh memasuki mobil dengan amarah yang kesal.
Dum !
Pintu mobil di tutup dengan keras membuat ku heran menatap ke arah nya. Aneh.
" Apa ?!"
Aku hanya mengedipkan bahu, melihat ke depan tidak sengaja melihat ke samping dimana si brondong di depan pintu restoran melambaikan tangan.
Duda yang memperhatikannya memberikan bogeman lewat tangannya kepada brondong, ia pun tidak peduli dengan bersiul sendiri …haduhh kau brondong cari gara-gara saja.
Aku memegang tangan Duda untuk segera pulang, dia yang ngerti langsung saja cap gas.
" Dud Duda jangan kencang bawa mobilnya, aku belum menikah belum malam pertama, belum punya anak keluarga suuami …" pelanku diakhir karena mobilnya sudah berhenti.
Melihat kearah nya sedang melipat lengan baju, melepaskan tiga kancing baju menatap ke wajahku.
Aku mengerjap mata dengan polos melihat kelakuannya apa lagi yang dia lakukan, lalu mendekat.
" Apa lagi yang belum ?" Tanyanya mendekat.
Aku menggigit bibir, bingung harus bilang apa. Semakin dekat .
" Eh, ciuman hah …," refleks aku menutup mulut, bilang apa aku tadi.
Menggeleng bukan itu maksudnya, semakin mendekat aku menutup mata siapa tahu si Duda menjauh tetapi, diluar dugaan.
" Uuhh, gemesnya sampai di goda sama brondong…ganjen, keselnya…kamu gak boleh digombalin atau dikerjain oleh orang lain selain aku," si Duda terus mencubit kedua pipi ku antara ingin marah, kesal atau ingin melahap orang hidup-hidup.
Membayangkannya aku bergedip sendiri, menggeleng kepala tidak ! Aku tidak ingin jadi korban si Duda, bisa bahaya.
Atau si Duda kesurupan tidak tidak ! Tidak bisa nih, aku harus pikir cara agar si Duda tidak mencubit pipi ku lagi.
Memeluk dia mengusap dadanya. " Oh syetan atau iblis keluarlah kalian dari Duda kesepian…jangan ganggu dia walau masih sendirian…fiuhhh," aku meniup dadanya, muka dan terhenti meniup ketika ingin meniup di matanya .
Cup !
Langsung si Duda mengambil kesempatan mencuri bibirku, aku memukul dadanya dengan keras baru ia melepaskan.
" Wahai syetan bin salabin–"
" Diamm !"
Aku yang terkejut menjauh darinya, menatap ke arah nya dengan takut-takut cemas.
" Apa lihat-lihat !"
__ADS_1
Si Duda mengambil nafas menatap ke arah ku lagi lalu tersenyum, aku yang merasa was-was ingin keluar dari mobil dengan rasa panik takut di makan hidup-hidup oleh si Duda yang aneh.
" Pliss jangan makan aku … aku ingin keluar kenapa di kunci," kesel ku memukul pintu mobil sangking paniknya melihat seringai di bibir si Duda.