
" Saya ingin bikin jebakan untuk orang yang telah mencelakai istri saya," aku menatapnya dengan serius begitu juga dengan dia menautkan alis.
" Jebakan bagaimana ? Jujur saja, aku lelah pura-pura baik . Kenapa gak langsung dipenjara saja, atau kita mempermalukannya di depan semua orang saat pesta aku nanti, gimana ?"
Aku menggeleng tidak setuju dengan rencananya. " Saya ingin bermain-main dulu dengan dia, sebelum di masuk ke penjara. Lagi pula gak ada bukti kuat, selain cuma itu."
Dia menghela nafas dengan pelan, menatap ke arah ku dengan kesal. " Kamu kan punya kekuasaan, itu mah gampang bagi mu," ujarnya menyilang kaki terlihat paha yang mulus .
Ketahuan aku memandangnya dia malah membukuk dadanya, terlihat setengah keluar.
Aku meraup muka dengan kasar, membuang muka untuk menetralkan apa yang membuat diri ini ingin, huhh.
Dia tersenyum menggoda. " Kenapa sayang, kamu ingin sesuatu," menyentuh lengan ku, aku menepisnya.
" Bisa diam May, rencana kita belum selesai. Gimana pesta di hotel, lancar ? Sudah siap ?"
" Tentu, semuanya sudah beres. Cuma orang tertentu juga yang aku undang, tinggal menunggu hari yang tiba nanti," senyumnya tetap saja dengan mata genit.
" Rencana apa yang kamu lakukan padanya?"
Aku mengetuk meja dengan rencana yang sudah aku lakukan, tinggal menjalani misinya. Dengan dia yang penasaran, belum aku bilang.
Karena apa? Kalau bilang sama dia pasti tidak setuju, apa lagi dengan sikapnya terus terang menunjukkan rasa suka berlebihan.
" Sudah saya bilang, ingin bermain dulu dengan dia sebelum masuk ke duruji yang dingin," senyum ku tidak sabar menunggu waktu untuk segera tiba.
" Maksud mu, jangan-jangan kamu ingin merusak masa depan nya," micing nya.
Aku hanya tersenyum, ternyata bisa tebak juga. " Huh, itu sungguh kejam. Tapi, tak apa lah. Setelah itu kamu harus masukin dia ke penjara, lalu kita nikah deh …" senangnya menyerupu minumnya dengan kedipan matanya.
Gak semudah itu aku masukin dia ke penjara sebelum aku ingin mempermainkannya atau membuatnya sakit hati. Dengan cara membuat nya jatuh cinta pada ku, lalu ku jatuhkan dia sampai sakit-sesakitnya. Hahaha.
Senyum jahatku membuat ku tidak sabar menghadapi dirinya yang akan kaget, apa lagi dengan seseorang yang sangat dipercaya mengkhianati nya.
Bisa bayangkan gimana sakit dan sedihnya jikalau sudah bongkar semuanya.
" Aku bergedip ngeri melihat senyuman misteri mu, kamu terlihat tidak sabar sekali."
" Hahaha, kamu benar sayang," dia pun ikut senang.
Kami menikmati suasana malam dengan rencana yang sudah tersusun rapi, hemm.
" Kita bersulang," mengangkat gelasnya yang berakohol.
" Bersulang…," ujarku dengan senyuman tipis.
" Pulang bersama," tawarnya.
" Tidak perlu, saya tidak ingin ada yang dilihat orang lain."
" Oh, oke. Aku mengerti, bye…sayang. Muachh…muachh."
Cup .
Mengecup keningnya setelah dia mencium dua pipi ku. " Hati-hati," dia mengedipkan matanya.
" Baik sayang…jangan rindu yaa? Dan mimpi indah…."
***
Duduk sejenak setelah memakan sarapan siang, semalam tidak pulang ke rumah memutuskan tidur di hotel. Mengingat belum kabarin Raka, langsung saja mem-vidio call.
" Baiklah," baru saja mau mematikan aku melihat sesuatu.
__ADS_1
" Tunggu Rak," aku mempertajamkan penglihatan.
" Ada apa, Paman ?" Herannya yang bingung.
" Sejak kapan bibi jemur beha, seperti punya anak gadis saja."
" Hehehe, bukan punya bibi. Paman." Raka menggaruk kepala, nyengir.
" Kok, paman bisa lihat. Padahal kan jauhh," ujarnya melihat ke arah jemuran di bawah hampir terhalang oleh pohon mangga.
" Terus punya siapa?" Aku tidak menjawab melainkan bertanya.
" Hehehe, i-tu puny–".
" Punya siapa?" Aku yang tidak sabaran memotong ucapannya.
" Ada dehh," nyengir nya .
" Udah dulu ya, Pa–"
" Eh, berani dimati. Paman gak kasih uang jajan lagi," mendengarnya, Raka malah cemberut.
" Paman kasih, bonus kalau jawab," langsung berubah sumringah mendengar bonus.
" Siap paman, punya…."
Akhirnya tahu juga, mungkin karena gak ada aku di rumah, makanya jemur di sana. Sampai bilang pada Raka, lagi jangan bilang sama siapa. Lebih-lebih kalau aku yang tahu.
His…aku menarik sudut bibir, seakan-akan mempunyai rencana untuk membuatnya marah. Pasti sangat menggemaskan, hadehhh.
Mari kita beraksi, langsung keluar dari sini menuju ke rumah. Melihat singa betina, yang belum nampak hidungnya.
Tak butuh waktu yang lama sudah sampai, belum juga masuk ke dalam. Raka, sudah menunggu di depan gerbang.
Seakan-akan aku benar-benar belum pulang.
" Makasih, Paman," senangnya, memeluk ku sesaat lalu pergi begitu saja.
" Tunggu, ada uang ?"
" Hehehe, kalau kasih mah. Mau," ujarnya dengan nyengir.
" Dasar, nih !" Aku kasih 5 lembar warna merah.
" Makasih Paman ku…yang paling ku sayang."
" Sudah-sudah, cepat pergi !"
" Siapp …!"
Aku terus melangkah dimana ada jemuran, yang membuat ku tersenyum. Walaupun jauh dari rumah dengan halaman jauh, karena Raka yang lagi santai tanpa sengaja nampak jemuran.
Hem, menyenangkan kalau si empunya tahu. Aku mengusap dagu dengan senyuman dan tidak sabar melihat reaksinya.
Ah, ternyata tertutup dengan jilbab segiempat tapi, dari kejauhan terlihat bentuknya. Menyibaknya mengambil satu warna merah muda. Mungkin, kesukaan nya.
Mencari tempat untuk video call yang pas.
1, 2, 3, hitung ku dalam hati .
" Huuamm, ngapain telpon aku ."
" Lihat nih, apa yang saya pegang," aku menjinjingkan punya dia dengan mata mengerling.
__ADS_1
Sampai dia mengucek matanya beberapa kali, lucu.
" Da-ri mana kamu dapat ?" Dia memicingkan matanya.
" Menurut mu ?"
Tiba-tiba matanya membalak. " DUDA…! Kurang ajar kamu, mengintimidasi beha ku !"
Aku malah menempelkan di dada, seperti pura-pura pakai untuk melihat reaksinya dia. Aku tertawa jahat melihat dirinya marah.
" Letakkan balek Dud ! Awas kalau sampai lecet punyaku! Aku tidak akan maafin kamu !"
Antara marah dan malu, dia membuang muka dengan nafas memburu yang sudah sampai ke rumah.
Tutt.
Langsung saja aku matiin vc nya. Menunggu dengan debaran yang ada.
" DUDA…dimana kau!"
Ah, ternyata dia mengaman jemuran yang lain, biar gak ada yang diculik lagi. Ck ck ck.
" Diatas Za," senyum ku menjulur lidah kearahnya, dengan bh sudah menempel di dadaku.
Entah kenapa aku gak risih memakainya, seharusnya aku jijik. Malah aku membuat kelucuan untuk melihat kemarahan, Za.
" Kembalikan punya ku Dud, sini. Membuat ku agak jijik kena virus mu ?!" Tatapan yang di buat seperti melihat najis saja.
Loh loh, seharusnya aku yang jijik sudah pakai punya dia.
Baru saja mau lepas, bh nya putus dua. Sangking ketatnya karena gak muat, aku paksain memuatnya sampai terpakai. Terputus, kendor lagi.
Za, menganga melihatnya tidak menyangka akan seperti ini. Aku menggaruk kepala tidak gatal, hanya nyengir gak tahu gimna.
" Hehehe, putus Za. Kualitas murah."
Udah nanar ditangan ini, aku kasih. Dia ambil, melihat ke bh nya yang putus sudah terpisah.
" Dalamanku … kesayangan lagi …" lirihnya menatap ke arah ku dengan amarahnya membuat ku was-was.
" Ehh, tenangkan diri mu, Za. Salah sendiri kamu pakai yang murah, makanya gak tahan bahannya," dia terus maju dengan senyuman menakutkan di bibirnya.
" Bukan masalah murah atau tahan ukurannya tidak sesuai dengan badan kamu, Dud ! Murah yaa, pantasan kamu ikutan pakek!" Sinisnya membuatku mundur dan mundur, yang terus dia maju….
Puk puk puk !
Dia malah memukul ku dengan keras .
" Ampun Za, ampun ampunnn. Saya, janji akan mengganti nya yang lebih bagus dan lebih dari satu," mohonku dalam penawaran.
"Emang, enak. Rasain nih, pukulan yang akan menghapus sakit hatiku ! Kau telah menganiaya punya aku, Dud!"
" Hentikan, Za. Saya, mohonn."
" Bodoh amat, kau telah membuat ku marah. Membangunkan singa yang sedang ketiduran! Ambil, nih. Aku gak butuh lagi, awas kalau di lepas sebelum aku pergi," ujarnya dengan senyuman sedikit puas di matanya.
Bh yang putus tadi dipakaikan di pergelangan tangan kanan dan kiri sampai ke ketiak. Aku hanya mematung biar adil, tanpa sangka dia malah.
Ceklek ceklek .
Setelah keadaan ku yang memprihatinkan dia malah memfoto nya, barulah aku tersadar dan mengejar setelah pergi duluan.
" Zaa, dasar kamu gak adil main foto sembarangan, tanpa izinn !"
__ADS_1