Tetangga Dengan Duda

Tetangga Dengan Duda
Bab 11 Tetangga Dengan Duda


__ADS_3

Akhirnya aku puas juga membalas sakit hati ku karena telah menganiaya kan beha kesayangan ku, bayangkan sampai terbelah dua lagi . Heran deh ! Apa si Duda itu masih normal, masak pakai begituan. Jangan-jangan saat dengan istrinya dulu, seperti itu kelakuannya, iss…amit-amit dahh.


Ngeri kalau apa yang kubayangkan itu benar, hiih belok…iya kah.


Melihat fotonya nya tadi ada bh di ketiak, dengan rambut acak-acakan seperti orang gila. Kusut setelah aku memukulnya dengan kesal, haisy…tidak seperti dirinya seperti biasa. Hihihi, lucu . Ini menjadi kartu as ku kalau dia sampai macam-macam.


Drett !


Menggeser layar hp ternyata Maya, pasti sudah sampai di bawah. " Iya Maya, oh oke. Sudah selesai nih, iya…lagi turun . Baiklah."


Tut.


Hari ini aku pergi ke rumah Maya, makan bersama dengan keluarganya sambil membahas pestanya nanti jikalau ada kurang. Bukan pesta pernikahan tapi, pesta ulang tahunnya yang ke 24, itupun hanya orang tertentu diundang katanya.


Aku melambaikan tangan pada Maya, lalu masuk ke dalam mobil. " Makin cantik saja kamu, Maya," dia hanya tersenyum dengan sombongnya.


" Iyalah… sampai banyak yang antri."


Persis seperti Duda, aku hanya tersenyum kecut. Antri, hemm…pantasan belum nikah-nikah juga. Is…kenapa aku membatin seperti itu, aku kan juga belum menikah meski baru umur 22 tahun sih.


" Kenapa melamun, Za?"


" A-h, gak kok. Cuma pusing saja," ngelasku.


" Mau ke rumah sakit ?"


" Ah, gak perlu."


"Ooh. Bdw, Dika kemana ya ? Kok gak, kelihatan ?"


" Kamu ada undang dia ?"


" Iyaa pasti ada.. lah, Za. Spesial, untuk dia. Orang pertama yang aku undang," sombongnya dalam senyum yang berbeda membuatku mengeryit. Seakan-akan ada sesuatu.


" Kenapa lihatin aku seperti itu, Za ?"


" Cantik, cocok untuk si Duda. Apa lagi spesial lagi, cieee ada yang kasmaran dengan Duda," godaku membuat nya malu.


Tittt.


Telah sampai di sebuah gerbang yang di buka oleh satpam. Seorang perempuan berumur 45 sedang bicara dengan seseorang, masih kelihatan cantik segar. Aku tersenyum sendiri, ada rasa hangat di saat memandang ke arah nya.


Pernah waktu itu dia bertanya. " Apakah kita pernah bertemu, saya lihat di mata mu ada rindu yang tersimpan ?"


Aku menggeleng. " Tante cantik, mengingat aku pada lbu saya yang telah pergi," jawab ku dengan tersenyum.


" Melihat kamu, mengingat saya pa-"


"Maa, lagi bicara apa ? Serius amat, kelihatannya?"


" Zaa, kenapa bengong ayo masuk !" Aku tersenyum melamun sendiri, menggeleng kepala lalu mengikuti langkah Maya.


" Tante…apa kabar ?" Aku memeluknya dengan kasih sayang.

__ADS_1


" Baik, kamu sendiri semakin manis saja," aku tersenyum mendengar.


" Maa, anakmu yang paling manis dan cantik nomor satu !" Sahut Maya tidak terima jikalau ada yang paling cantik selain dia.


Apa lagi kalau mamanya bilang aku cantik atau apa, pasti Maya protes karena dia lebih dari itu. Huhh, tidak habis pikir dengan dia. Aku pikir beriring berjalan waktu sikapnya yang itu akan berubah, ternyata masih sama gak mau kalah.


"Kenapa kamu geleng-geleng kepala, Za?"


" Ah, tidak Tante."


Hingga keheningan menyelimutinya kami, yang sibuk dengan pikiran masing-masing.


" Ayo Za, tambahkan lagi makannya. Jangan malu-malu, biar kamu berisi," ucap Tante.


Membuat ku tersenyum. " Ngapain kamu, tawarin mulu. Kalau dia mau lagi, pasti ambil sediri !" Ketus om suaminya Tante, ayahnya Maya.


Entah kenapa aku heran melihat tingkah ayah Maya, yang terus terang menunjukkan sikap tidak sukanya pada ku, saat aku datang kesini ataupun hanya mampir. Saat pertama datang saja, aku seperti diintimidasi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan tatapan tajamnya, dia pikir aku takut.


Cuma aku bersikap seperti biasa saja, seakan-akan aku tidak tahu dengan sikap nya terhadap aku. Aku berpikir karena status tidak setara dengan nya.


Untuk mengalihkan tatapan tajamnya aku menyibukkan diri dengan main hp atau membantu bibi masak jikalau Maya, gak mau diganggu alias pengen sendiri jikalau keinginannya sudah selesai.


" Mas, sudahlah. Kan aku cuma mengingatkan, biar Za gak sungkan jikalau ingin menambah atau mau apa gitu. Yaa kan, Za ?"


" Hehe, iya Tante. Gak papa, maafkan aku om jikalau membuat om sedikit tidak nyaman," jawabku dengan tidak terlalu nyaman kalau om menunjukkan sikap seperti itu.


Om menyentak nafas dengan kesal, makanan yang belum habis. " Aku udah kenyang, kalian lanjutin saja," ujarnya pergi duluan, kalau gak mood lagi makannya.


" Maaf ya, Za . Membuat mu tidak nyaman," aku hanya mengangguk lalu Tante menyusul om.


" Sebentar aku bicara dengan ayah dulu, karena belum diskusi kenapa aku membatasi orang," aku hanya mengangguk.


Ting .


[ Kamu dimana?]


Merogoh hp didalam tas, mengusap layar. Aku menyipitkan mata, melihat sebuah pesan.


Eh, kesambet apa si Duda tanya aku dimana, aneh.


Aku mengabaikan pesannya tanpa ada niat membalasnya.


Drett !


Melihat siapa yang telpon, ternyata orang yang sama.


[ Kenapa di baca, doang. Angkat !]


Hiss, apa lagi rencana si Dud. Kenapa suka sekali ganggu orang, menyentak nafas dengan kesal, melihat kiri ke kanan sepi .


" Ya, ada apa?"


" Di telpon susah banget diangkat, kenapa ?"

__ADS_1


" Sibuk."


" Pantasan saya mengetok kos mu, eh. Ehem ! Kamu dimana sekarang?"


" Kamu pergi ke kosan ku, ya ?"


" Dimana kamu sekarang!"


" Di ru-mah, Maya."


" Kirimkan alamatnya, saya jemput !"


Tut .


" E-h, nga-pain…."


Haisy…seeenaknya saja matiin, ada perlu apa si Dud, sampai mau jemput ke sini.


" Maaf ya, Za. Lama."


Aku hanya mengangguk dan bilang padanya bahwa si Duda akan menjemput ke sini, dia senang mendengarnya tiba-tiba raut wajahnya sedikit tidak senang.


" Kenapa telpon kamu, kenapa gak aku ?"


Oh, aku pikir kenapa. Cuma masalah telpon, jadi seperti itu. " Tenang, mungkin si Duda pikir kamu sibuk ," dia tidak memikirkan itu yang penting hatinya senang akan menunggu si Duda.


" Oh ya, Za. Nanti saat pesta malamnya, setiap orang tamu wajib memakai topeng. Biar ada perbedaan, pasti menyenangkan. Sambil menunggu datang Dika, pergi ke mol kita sekalian beli topengnya dengan gaun juga. Gimana menurut kamu?"


" Emmm, bagus juga idenya. Aku setuju, selama membuat kamu senang."


"Aaak, makasih Za," peluknya sesaat lalu memperbaiki penampilannya menambah sedikit bedak, lipstik. Untuk menampilkan yang terbaik terhadap si Duda.


Aku lebih menyibuk diri dengan hp, dari pada melihat penampilan.


Titt tiit.


Maya, duluan lari kedepan. Huhh, dasar.


Masuk didepan dengan si Duda. Dia pikir aku mau rebut duduk di depan apa, sama sekali enggak.


Maya, yang berbicara dengan Duda untuk rencana tadi berbelanja. Walau aku tahu si Duda melihat kearah ku sekali-kali lewat kaca, aku tidak ambil pusing.


Sampai pulang kembali untuk menjemput Raka, setidaknya aku tidak jadi nyamuk. Duda pun tidak terlalu respon dengan ucapan atau cerita Maya, palingan nyahut seadanya.


" Naik, di belakang ."


" Oke, siap bos…kak Za, aaak kangennya," kami berpelukan dengan si manja Raka, membuat kami jadi perhatian di depan yang belum berangkat mobilnya. Aku mendorong Raka, walau mulutnya cemberut.


" Tidak boleh lama-lama, udah besar pun. Ingat umur," ucapku yang hanya tersenyum dan menggaruk kepala melihat ke depan.


Lalu Raka melihat kearah ku. " Ada apa ?"


Raka menunjukan di depan, aku yang heran pun melihat kedepan. " Seperti pernah lihat itu tapi, punya siapa? Kok ada di sapi ," ujarnya.

__ADS_1


Seketika aku membelalakkan mata, lalu menoleh ke arah Duda yang tersenyum dengan Maya dan Raka tertawa keras. Apa lagi Maya sempat Vidio.


__ADS_2