Tetangga Dengan Duda

Tetangga Dengan Duda
Bab 9 Tetangga Dengan Duda


__ADS_3

Andika Pratama, itu adalah nama ku. Menikah di usia muda bukanlah keinginan aku …menikah karena jasa dan mempertanggungjawabkan apa yang tidak kulakukan, diri ini merasa hancur sulit untuk ku terima. Menolak pun tidak akan mengubah keputusan, merasa frustasi menangis tiada arti .


Luna, yah… dia adalah istri saya . Mengandung di luar nikah tanpa tahu siapa pelakunya sesungguhnya. Menangis menangis hanya menangis yang dia lakukan, tidak menjawab selembut apa pun aku tanya tidak jawab selain minta maaf dan maaf.


" Aku sangat mencintaimu Kak, ku mohon balas lah jasa kakak pada kami dengan menikahi ku dan menerima janin tanpa berdosa ini …" lirihnya semudah itu berkata tanpa memikirkan perasaan aku.


Seakan-akan jasa itu bisa mengorbankan masa depan seseorang, mengepalkan kedua tangan menatap ke arah nya dengan sinis.


" Saya tidak mencintai kamu, hidup dengan saya akan menderita seumur hidup tanpa adanya cinta atau rasa. Ingat ! Saya hanya menikahimu untuk membalas jasa, buka cinta. Jangan harap saya akan mencintai mu walau seujung kuku pun ingat itu ! Karena kamu sudah menghancurkan masa depan saya, karena kamu sudah saya anggap sebagai adik sendiri !" Tegasku dengan dingin waktu itu.


Menangis tersedu-sedu, memukul dada mendengar ucapan saya. Menghentak nafas dengan kasar menatap ke arah saya dengan mata kacanya, berusaha tegar dan tetap tersenyum walau aku menyakitinya dengan kata-kata.


" Cinta bisa hadir karena biasa bersama, aku yakin kakak akan mencintai ku suatu saat ini," yakinnya dan tersenyum menghapuskan air mata .


" Terima kasih Kakak sudah bersedia menikahi ku, aku janji akan membuat kakak mencintai ku…" lirihnya bangun dan memeluk ku dengan erat.


Menolak pun tidak tega, manja … apa-apa nangis tidak menyusahkan selain ingin manja, mencari perhatian, menggunakan anak yang menginginkan. Dengan sikap saya yang dingin membuatnya tersenyum getir tapi, Luna tidak gampang menyerah walau berkali-kali aku menolak dekat dengan nya.


Hingga hari dimana atas kepergian Luna, selama-lamanya membuat ku terpukul walau tidak mencintai nya bukan berarti aku tidak menyayangi nya. Kecelakaan…hah ! Aku yakin itu bukan kecelakaan sembarangan, maka dari itu aku mencari bukti atas kecelakaan yang menimpa istri ku, yang sudah menganggap nya sebagai adik sendiri.


Menghapus air mata yang sudah memanas mengingat Luna, membuat ku sedih atas perlakuan ku yang tidak sesuai dengan harapannya.


" Maafkan kakak Luna, kakak belum bisa membahagiakan kamu selama ini …hingga kau pergi duluan," menatap ke depan sehingga teringat akan kenangan dengan nya.


" Kakak i miss you …maaf kan adikmu yang egois telah menghancurkan impian kakak…aku yakin kakak akan membaca surat ini setelah aku tiada. Terima kasih Kak, untuk selama ini telah menyanyangiku sebagai adik tersayang, orang lain pasti iri melihat sayang kakak kepada ku hehe. Jangan merasa bersalah setelah aku pergi, ini yang terbaik bagi kita…semoga kakak bahagia dan menemukan cinta sejati kakak yang akan mengganti posisi ku hiss …walau sedih aku sudah ikhlas, selamat tinggal kak…sampai ketemu di akhirat suatu saat nanti hehe. Dadahh muachh…."


Masih ku simpan surat terakhir kali darinya untuk ku menjadi kenangan dalam ingatan.


Sampai ada petunjuk dari seseorang, ada dibilang sengaja tertabrak atau tidak. Ini masih proses dalam menyelidiki walaupun keluarga Luna, mengatakan itu hanyalah kecelakaan biasa . Sudah takdir.


Tidak bagiku, harus selidiki untuk mendapatkan keadilan sesungguhnya.


Sampai ada seseorang datang, dia menyukaiku sejak lama . Sering melihat aku di acara pesta atau kolega bisnis, ayahnya yang seorang pembinis sering membawa keluarganya.

__ADS_1


Menawarkan sebuah kerja sama, dia memberikan bukti-bukti kecelakaan Luna dengan satu syarat aku harus menikahinya.


Sejenak aku pikir-pikir walau harus mengorbankan masa depan ku lagi demi Luna, tetap aku tidak ingin mengulang hal yang sama.


" Saya akan membuktikan sendiri bukti yang kamu bawa, jikalau itu benar maka…seperti yang kamu inginkan ," ucapku dengan dingin.


Dia hanya mengangguk angkuh, cantik, seksi, kaya hampir sempurna apa salahnya aku mencoba menyukainya .


Aku mengetuk meja dengan tatapan dia yang menggoda aku tidak terpengaruh sebelum tujuan tercapai terlebih dahulu, sampai membuat sebuah rancangan dengan dia untuk berteman dengan sangka yang dia bilang.


Walau bukti mengarah ke arah seseorang itu yang dia berikan buktinya tetapi, didalam hati kecilku ingin mencari bukti kuat sebelum gegabah.


" Oke, baiklah sampai nanti dalam akting mu sayang," dia mengedip sebelah matanya, berjalan bersoak-soak anggun dengan bokong bergoyang-goyang.


Hah ! Pikir apa aku ini . Mengetuk kepala dengan kesal, huhh.


Sampai akhirnya memutuskan tinggal bersama Raka.


Dreett.


Mengambil ponsel di nakas.


" Iya May, iya saya sudah tinggal di sini. Paman Raka, hemm iya. Oke."


Langsung saja aku matiin, terasa sedikit pusing dengan banyak pikiran dengan Raka yang tak hentinya bercerita tentang wanita kak Za, katanya.


Melihat tetangga bersilih masuk, dengan status ku yang membuat mereka heboh ingin mencalon anaknya. Menggeleng kepala melihat tingkah mereka seperti merebut permen .


Sampai datang seseorang yang begitu aku kenal masuk pura-pura tidak kenal dengan penampilan dia yang beda.


" Hay mass, gantengnya membuat ku ingin jadi calonnya," kekehnya dengan malu-malu.


" Hadehh, Maya. Itu buat anak saya, kamu jangan serakah jadi orang," serang oleh ibu-ibu.

__ADS_1


" Betul-betul tuhh, lagian kamu kaya pasti dapat yang lebih baik selain Duda," eh eh, apa salahnya dengan status duda, banyak rebutannya malah.


" Itu calon suami saya mbak."


Melihat muka Maya yang cemberut , aku tersenyum melihat kearah nya. Sampai ketahuan aku di lototin, menautkan alis seolah apa ?


Hingga melihat Raka yang mau pergi membuyar lamunan aku. " Mau kemana?"


" Kasih oleh-oleh buat kak Za," senyumnya seperti orang rindu tidak lama ketemu.


Aku memicing mata melihat kearah nya yang aneh. " Daripada pusing di rumah," katanya lagi mau melangkah.


Aku mengadang nya. " Biar paman saja, urus mereka," tunjuk ku pada para ibu-ibu.


" Emang paman tahu ?"


Muka di tekuk tidak ingin aku pergi. " Kan kamu ceritakan tadi, yang ngekos samping rumah kita kan ?"


Raka menggaruk kepala tidak gatal, menatap ke arah ku menghembus nafas dengan kasar.


" Yaa dehh, paman yang antar," lesunya tidak senang.


" Tenang, paman kasih bonus untuk kamu," membuatnya seketika kembali senang.


" Oke paman hati-hati," senangnya .


Sampai disinilah aku benar-benar melihat perempuan yang selalu Raka ceritakan, di momen pertama saja sudah membuat ku tersenyum dengan tingkahnya.


Ada tamu seganteng ini malah sibuk sendiri melipat baju lebih-lebih yang di pegang kolor, sampai ketahuan baru nyadar ada orang di depan.


Dengan tingkahnya yang lucu, ingin ketawa aku nahanin sampai aku taruh oleh-olehnya di pinggir kasur. Lalu pergi dari sana …tanpa sadar sudut bibir ku tersenyum. Saat mengingat sesuatu senyuman ini pudar menjadi rasa benci.


Huhh. Tunggu pembalasan ku apa yang telah kamu lakukan.

__ADS_1


__ADS_2