Tetangga Dengan Duda

Tetangga Dengan Duda
Bab 6 Tetangga Dengan Duda


__ADS_3

Apes banget capek antri ingin mandi airnya habisnya, terpaksa deh numpang di rumah Duda setelah telpon Raka.


Ingin rasanya mandi lama-lama disini, mengingat ini tempat sendiri lagian sudah terbiasa mandi cepat. Entah kenapa ada yang beda tapi, apa ya ?


Aku taruh handuk di kepala duduk santai di luar, lumayan juga sofanya empuk, dengan pandangan di depan akan haruman yang tenang.


" Eh, Dud…bikin orang kaget saja dengan handuk masih tetap," aku mengusap dada, istighfar Za, ingat ! Dosa, lihat kearah lain.


" Oh, kamu berharap saya melepaskan handuk agar melihat punya saya, seberapa punya saya ya? Sampai datang kesini ," desisnya dengan melipat kedua tangannya di dada.


" Loh…kok fitnah aku sih, siapa bilang seperti itu," dia tersenyum miring.


" Ngaku saja deh! Buktinya gak pulang-pulang, nungguin saya kan ?" Tudingnya membuat ku kesal memaling muka hendak pergi dari sini.


" Mau kemana kamu ?" Hadang nya, aku berdecih.


" Pulanglah."


" Tidak dulu, sekarang kamu harus melakukan apa yang saya suruh ingat! Hukuman kemaren ."


Daripada berdebat aku mengikuti permintaan nya, lumayan juga bisa makan gratis disini bersantai walau benar-benar di panggil.


" Rak, lihat CD paman gak ?"


Uhuk uhuk !


" Pelan-pelan Kak, gak ada yang rebut," Raka menyodorkan air putih.


Dengan menepuk dada yang sesak dan perih di hidung.


" Rak, lihat–"


" Gak lihat paman," potong Raka cepat.


Jangan-jangan aku yang salah…yaa ampun aku menutup muka sendiri. Ehem…untuk menetralkan jantung yang berirama aku harus bersikap biasa lalu pamit.


" Lalu siapa juga yang masuk ke kamar mandi bawah ?"


" Bukannya kamu bilang dia mand…oh jangan-jangan," si Duda memicingkan matanya ke arah ku.


" Oh Rak, aku pulang duluan …komfor lupa dimatiin," baru saja mau siap-siap ambil langkah.


Si Duda malah menarik kerah bajuku di belakang. " Mau kemana kamu ?!" Tudingnya dengan mata yang tajam aku hanya tersenyum bodoh .


" Gak, mungkin kalau Kak Za, pakai CD paman kan ?" Nyahut Raka, aku hanya nyengir pantasan terasa beda.


" Parah…parah, sebegitunya ingin mengetahui punya saya, sampai nyulik punya saya dan memakainya," ia menepuk kedua tangannya.


" Paman aku sekolah dulu, cepat selesai kan urusan kalian berdua…siapa tahu jodoh hehe…dada kak Za, paman muachh…."


Aku sempat memohon pada Raka, malah pergi begitu saja melihat kearah Duda dengan memelas nyaliku jadi ciut.

__ADS_1


" Bu-kan …aku tidak sengaja pakai punya mu, padahal aku tidak membawa kolor," lirihku pelan, berharap dia percaya atau setidaknya tidak perlu diperpanjang kan dengan irt tadi ketawa melihat derita ku ini.


" Ck ck , saya tidak percaya ! Sini kamu ikut saya ke atas," dia menarik tanganku menunju ke atas dengan aku yang gelapan.


" Nga-pain ke atas," aku mencoba menarik tangan dengan sedikit takut atas sikap si Duda yang ubah-ubah.


" Hiss…lihat saja nanti," ketusnya membuat pintu kamar lalu di tutup dengan kasar.


Dummm !


" Ambil nih, ganti lalu kasih ke bibi…ini punya istri saya dulu cepatan !" Menyodorkan kolor merah muda, aku pikir apa.


Mengambilnya dengan sedikit getar. " Ambil kalau bisa," tantangnya mengangkat semakin tinggi kolornya.


Aku menjijit mengambil, dengan dia yang tersenyum smirk …memegang di bahunya untuk mengambilnya sampai aku dapat dan.


Muachh. " Menggemaskan," membuat ku mengerjap mata melihat kearah nya yang tersenyum menang.


" Apa?" Seolah tidak terjadi apa-apa baginya yang sudah membuat jantung ini berpacu melihat tingkahnya.


" Dasar Duda sepi !"


" Cepat ganti !"


Aku beranjak pergi ke kamar mandi dengan cepat menggantikan nya, lalu menyembunyikan di belakang dengan duda duduk santai di pinggir kasur, sedangkan fokus main hp, sudah ngerjain aku sekarang giliran aku.


" Ular …," aku melempar kolor warna hijau tepat di mukanya dan segera aku berlari.


Tukk !


" Aduhh !" Aku mengusap kening akibat disapa oleh pintu yang terkunci.


Hap !


" Ampun Dud, aku khilaf lemparnya tolong…lepaskan aku, a-ku janji tidak akan ngerjain kamu pliss," aku memohon takut …dengan perasaan aku yang tidak beraturan setelah si Duda memelukku tanpa di lepaskan.


" Kenapa gak tadi memohon sebelum kau merencanakannya, hem?" Ucapnya dingin membuat ku tidak berani melihat kearah nya.


Dia membalikkan badan ku menghadap ke arah nya, aku mencoba menutupi muka dengan tangan tapi, di tahan olehnya tanpa melepaskan tatapan nya bagaikan singa kelaparan yang mengintai mangsanya.


Aku menggeleng kepala dengan suasana mencekam tanpa biasa, Duda mengangkat dagu ku tanpa sengaja netral ku tertuju di sebuah foto pernikahan entah kenapa aku merasa pernah melihat nya.


Mencoba mengingat tapi, tidak tahu dengan Duda mengambil kesempatan untuk mencium bibir ini. Tersadar segera aku meronta untuk lepas dari nya.


" Lihat kearah saya, kalau lagi ngomong," dinginnya, membuang muka tidak berani menatap ke arah nya.


" Lepaskan Dud, sakit …" dilepaskannya aku .


Bagaimana tidak sakit terus ditekan di pintu dengan tatapan marahnya, masih dengan handuknya berkacak pinggang melihat aku dari ujung kaki sampai ujung rambut.


" Apa !" Dia hanya berdecih, mengambil kolor tadi di jenjeng di depan mataku. Membuat ku malu.

__ADS_1


Aku menggigit bibir dengan keadaan seperti itu, jantung tak hentinya meraton antara gugup dan takut. " Maaf …" lirihku ingin berakhir dengan suasana seperti ini.


" Apa kamu bilang, maaf. Sudah terlambat, lihat baik-baik," masih dengan tatapan sinisnya dia mengangkat kolornya pas di depan mukaku.


" Apa ini ?" Tanyanya dengan melotot.


" K-olor," membuat ku gugup menggigit jari seperti anak dimarahi ibunya.


" Bukan ular," sinisnya, membuat ku semakin gugup dengan tatapannya.


Dengan mataku yang mengerjap mengontrol diri agar tidak keluar air mata, meski terasa sesak di intimidasi seperti tertangkap maling saja oleh majikannya.


" Bu-kan ular, ma-af aku hanya bercanda tadi aku nyerah," membuang nafas melihat kearah nya yang tersenyum.


" Hahaha…kamu lucu kalau lagi takut, haha…sungguh hebat-hebat ," dia menepuk tangan, memegang perutnya yang terus tertawa atas penderitaan orang lain.


Aku sangat kesal dengan dirinya, walau lega tapi…jikalau dipermainkan begini membuat ku geram. Menatapnya dengan tajam, inginnya rasanya mengguliti kulitnya dengan pisau huhh.


Harus punya sabaran ekstra untuk menghadapi kelakuannya yang tidak tentu dengan suasana hati nya, mengambil kunci dari samping nakas .


Klekk.


Melihat kearah nya dengan senyuman di bibirku, dengan duda masih tertawa.


" Apa ! Mau marah ?"


Mengambil sesuatu yang jatuh saat ia tertawa, aku menyumpal dalam mulut. Baru aku lari ke luar.


Uhuk !


" Zaaa ! Awas kamu ya…tunggu pembalasan saya !"


" Haha…emang enak makan kolor ijo," tawaku senang menjulur lidah kearahnya.


Saat kaki Duda ingin mengejar ku tidak jadi, melihat kondisinya masih mengenakan handuk…si Duda mengepalkan tangannya dengan amarah yang ingin meledak apa lagi urat dilehernya terlihat jelas.


Lalu dihembuskan nafasnya dengan kasar, mengontrol amarahnya. Setelah ia masuk ke kamar menerima telpon dari seseorang.


Hingga sesaat, setelah menghirup nafas dengan lega.


Blurr.


Baru saja aku senang, melihat diriku sudah nanar oleh perbuatan Duda dengan senyuman sinisnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Mendongak ke atas lagi, dengan keadaan sudah basah, Duda itu mengguyurkan diriku dari atas.


Aaakk…aku kesel dengan nya tidak ada habis-habisnya jikalau tidak ada yang mengalah. Basahh lagi dengan air sabun busa lagi .


Ting


[Impas kan😎]

__ADS_1


__ADS_2