
Aku bangun dari tempat menghampiri duda mengelapnya dengan tisu, dengan tangan yang gemetar aku menghapus sisa jus di mukanya dengan tatapannya membuat siapa saja takut bagai setan di tengah jalan.
" Eh …," kejutku akibat si Duda menarik tangan ku sampai diri ini terduduk di atas pangkuan nya.
Aku menelan ludah susah payah dengan tangannya memegang pinggang ku, apa lagi tanganku yang tadi menghapus sisa jus tertempel di bibirnya.
" Kenapa bibirnya pucat hem," ujarnya mendekat membuat ku hilang dari sadaran.
Woii, bukan pingsan melainkan aku tidak tahu cara pingsan melain pura-pura tidur, daripada terjebak dengan pesonanya siapa tahu sekalian di gendongnya.
Badan ku terasa di rebahkan di sofa dengan mulut tidak sengaja aku tersenyum, aku pikir akan melayang sesaat jarang-jarang ada duda yang akan digendonkan walau bukan selera melainkan untuk pamer pada orang.
Membuat mereka histeris ingin berada di posisi ku untuk sesaat, malah diluar dugaan.
Blurr.
Terasa dingin tapi bukan di hati atau di mimpi melainkan kena di pipi di seluruh muka, masker alias jus bekas ku tadi, seketika aku langsung bangun menatap si duda yang tersenyum ejek.
" Dasar akting yang basi …," ejeknya.
Aku masih belum percaya, melihat si duda yang akan melepaskan jasnya membuat ku waspada.
" Apa ?" Melepaskan dengan gaya coolnya lalu di lempar ke mukaku yang bengong.
" Apa lihat-lihat," sinisnya.
" Cuci, sekalian dengan celana kemaren, saya gak mau ambil sudah di pegang orang lain," ujarnya pergi meninggalkan aku.
" Apa ! Dasar kau duda …," keselku dengan Maya yang datang menertawakan muka ku yang kena jus dan tertutup jas yang dilempar oleh si Duda.
Aku bangun dari tempat menuju ke toilet, tetap saja Maya masih mentertawakan diri ini yang malang.
" Dasar Duda gak ada akhlak, cantik gini di tuangkan jus bukannya di usapin."
" Huhh, ngomong apa sih mulut ini," sedikit memukul mulut jangan sampai terkena virus Duda.
Drett ….
" Siapa sih, yang telpon ganggu orang saja ini pasti ulah Maya," tanpa melihat siapa yang telpon langsung saja aku mengangkat.
" Silahkan tertawa sampai puas May–"
" Muka kak Za, kenapa ? Sepertinya aku kenal dengan jas itu," aku pikir Maya yang telpon ternyata Raka.
Aku menganga melihat Raka yang heran dan ada Duda di belakang mengacak pinggang nya, langsung saja aku buang jas nya sembarangan arah, karena tanpa sadar aku mengelap muka dengan jasnya.
Habis aku …aku berpura-pura senyum seperti anak bodoh.
" Hai Rak, nanti kita lanjutkan lagi ya daah," langsung saja aku matiin.
Sesaat aku lega, belum beberapa menit hp berbunyi lagi pas kulihat ternyata.
' Virus Duda.'
Aku menetralkan suara, ehemm setelah itu baru kuangkat.
__ADS_1
" Ha-"
" Kemana buang jas saya ?"
" Hah, jas …jas ap," langsung saja aku teringat.
' yaa ampun kenapa aku bisa lupa lempar ke mana, ya ?'Aku menepuk jidat sendiri.
" Telinga mu masih sehat'kan ?"
" Ah, iya … jas ada sama aku," jawab ku cepat.
" Coba lihat."
Lalu si Duda beralih video call, segera aku mengambil jas yang teronggok di dalam sampah, dan menekan tombol hijau.
" Ini dia, tenang saja jasnya ada sama aku gak hilang kok," ujarku dengan pede meski tatapannya mengintimidasi .
" Kenapa banyak sampah di jas saya," dinginnya membuat ku gelapan.
" A-h aanu itu emm," aku mencoba mencari alasan yang tepat.
" Kamu harus ganti rugi atas jas saya ," ketusnya langsung mematikan satu pihak.
" Tu-nggu dulu, janga…ah sudah dimatikan rupanya," gerutu kesal.
Pokoknya aku tidak mau menggantikan apa yang tidak aku perbuat, salah sendiri ngapain nyuruh aku nyuci padahal yang kotor mukanya, kenapa harus jasnya di suruh nyuci.
" Iss, sebelnya," kesel ku memukul jas di tembok, ah baru sadar punya orang, bahan mahal.
" Maafkan aku jas sudah menganiaya dirimu."
" Ditinggal nikah," jawabku asal.
" Tenang ada bang Pon yang siap jadi penggantinya," pedenya.
" Narsis amat bang," ejek ku.
" Ciee, ada yang suka nih," ah, Maya malah nyambungin lagi.
" Apa cie2, sini celana Duda itu."
Diambil diruang kerjanya lalu diserahkan pada ku, kulihat dan meneteng jangan sampai salah lagi.
" Ukuran punya Duda berapa ya kira-kira ?" Tanyanya.
" L mungkin," jawab si Pon.
" Ukuran celana," alisku menaut.
" Bukan taapi itu, itu lohh," dengan malu-malu Maya ….
Langsung aja aku masukin kembali dari pada jadi objek Maya akan hayalan di luar batasnya.
" Zaa, iss cepat kali dia pergi," cemberutnya.
__ADS_1
" Kalau punya ku ingin kau tah–"
" Gak perlu, awas kalau aneh-aneh aku pecat," ancam Maya pada si Pon.
Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua sebelum aku pergi dengan motor matic ku.
" Awas kamu Za," kesal Maya.
Aku hanya menjulur lidah dan meningkatkan tempat ini.
Saat ditengah jalan aku dihadang oleh sebuah mobil, membuat ku berhenti mendadak.
Dengan gaya yang cool keluar lah tukang pesona dengan seorang laki-laki disampingnya.
" Ikuti saya !" Tegasnya dingin.
Aku menggeleng kepala tidak mau, dengan terpaksa aku ditarik diambil kunci motor ku lalu.
" Jangan ! Mau bawa kemana kunci motor ku?" Heranku seakan-akan aku membuat masalah yang membuat nya marah seketika.
Tidak jawab masih menyeret tanganku, kuncinya di kasih ke orang tadi.
" Pulang dengan saya," aku menciut tanpa bantah lagi langsung menaiki mobilnya.
" Motor mu asisten saya yang membawa pulang," ujarnya.
" Terus kenapa menyerat aku untuk mengikuti mu, kenapa gak biarin aku bawa pulang dulu," belum ada jawaban membuat ku kesel .
" Sebenarnya saya punya urusan dengan mu karena telah mengintimidasi punya saya," dinginnya.
" Maksudnya a-pa?"
" Sudahlah, nanti tahu sendiri. Raka ingin makan malam bersama dengan mu atas lulus ujian sekolah nya dengan baik," jelasnya.
" Oh ya, baguslah akhirnya tidak sia-sia dia belajar, aku senang dengarnya," senyum ku membuat si Duda itu berdecih.
" Sok manis," ketusnya.
Membuat ku memandang ke arah nya. " Aku emang manis looh, malah lebih manis dari gula," godaku.
" Oh iya," sahutnya.
" Bearti bolehlah saya cicipi sebagai ganti jas saya ," ujarnya tanpa salah.
Mematikan mobilnya di pinggir jalan, melihat kearah ku dengan seringai di sudut bibirnya secara perlahan mendekat ke arah ku, membuat diri ini gugup tidak tahu harus bagaimana.
" Aapa yang kamu lakukan, aaku hanya bercanda tadi iya … aku tidak manis jauh sana aku terasa pahit," aku memalingkan muka darinya.
" Ge-er, saya memeriksa kamu bau atau tidak untuk makan malam bersama Raka nanti, saya tidak mau kamu memalukan nanti," bisiknya lalu duduk di tempat semula dengan menghapus jas nya saat mengenai badanku.
" Aapa ?" Aku malu sendiri.
" Buang jauh-jauh pikiran kotormu."
Mana ruang ajaib aku ingin sembunyi his2 … dasar diri ini, aku menepuk jidat sendiri.
__ADS_1
" Kenapa? Dasar aneh !"
" Ah itu, ada nyamuk … iya nyamuk," ulangku.