
Aku pikir hanya bertiga saja ternyata ada teman Raka juga, sampai menikmati suasana pantai membuat diriku sejuk akan keindahan dalam pandangan bulan.
Ehem !
" Gak jelas senyum-senyum sendiri," aku menoleh ke arah Duda itu .
" Merusak mood orang saja," ketus ku.
" Heh, saya yang bawa kamu kesini, seharusnya berterima kasih jangan malu-malu in ," ujarnya memasukkan keduanya di kantong celana.
" Yaa elaa."
" Oh kakak bagaikan keindahan bagi kami dalam melihat pertama kali akan menyilau mata menembus hatiku akan getaran di dada," gombal salah satu teman Raka, yang lain ikut sorak.
" Eaaak, bungkus Vid ."
" Mulai dehh, sasaran anak orang Lo."
" Gak bisa lihat yang bening," ujar mereka lagi, sehingga lelaki hanya nyengir dan menyodorkan ayam bakar ke aku.
Aku melihat Duda itu membuang muka, langsung aku mengambi ayam bakar. " Btw, nama kamu siapa ?"
Ah, pasti dia perayu ulung setiap melihat wanita.
" Ra–"
" Bagaimana aku panggil sayang saja," potongannya membuat si Duda batuk.
" Anak kecil minggir gak boleh ganggu yang tua," ketusnya menarik tangan lelaki itu, lalu si Duda duduk di samping ku.
" Jangan genit, jaga pandangan."
Ya ela, siapa dia ngatur hidup ku, tetap ku abaikan sambil mencuci mata. Tiba-tiba tangan ku ditarik olehnya untuk menjauh dari mereka.
" Mau kemana sih, main pegang tangan segala," kesalku menarik tangan ku tanpa henti, bukannya ditarik lembut .
" Sakit tahu," aku menghempaskan tangannya.
" Disini saja, daripada ganjen," lalu dia menyodorkan jagung untuk ku.
Aku menggeleng, tetap saja menyuruh aku ambil. " Ambil atau tidak, pulang sendiri dengan kaki," ancamnya.
Menatap tajam dengan amarah di mukanya, lalu ia menghentak nafas dengan kesal.
Membuat ku ciut, terpaksa aku mengambilnya dan makan dengan asal.
" Makan yang anggun jangan seperti anak bayi," ujarnya duduk mepet dengan ku.
" Terserah akolah," keselku melihat kearah nya.
Aku bergeser disaat si Duda semakin mepet sampai tangan menahan pinggang ku agar tidak bergeser lagi ah…jauh dari orang sepi, membuat aku merinding jadinya.
Aku melihat kearah Duda dengan menautkan sebelah alisnya, aku malah mencebik .
" Ehh, apa-apaan nih," dia mendudukkan aku diatas pangkuannya.
__ADS_1
" Sudah saya bilang makan yang pelan-pelan," ia mengusap bekas jagung yang menempel di pinggir bibirku.
" Dan tutup mulutnya biar tidak masuk nyamuk," membuat ku sadar segera mengelap dengan tangan sendiri setelah menepis tangannya.
Saat ingin bangun si Duda malah memper-erat menahan diri ku. " Diam ! Duduk, untuk malam ini jadilah gadis yang menurut," ujarnya memakan jagung ditangan ku langsung.
Aku menganga melihat nya, situasi macam apa ini, sungguh aku gak tahann … membuat ku ingin nikah huwaa.
Si Duda berhenti makan jagung lalu melihat kearah ku, meniup muka ku …lagi-lagi aku terkejut dan mengelap air liur.
" Jadi orang jangan jorok, biar ada yang mau," ucapnya pelan.
" Ehem ! Oke, baiklah sekarang bisa lepaskan aku, sebelum aku masih waras menghadapi sikapmu ?"
Dia hanya tersenyum dengan kerling matanya si Duda malah meletakkan tangannya di pahaku lalu mengusapnya dengan pelan, dan mukanya semakin mendekat.
Aku membuang muka ke samping.
" Bukankah kamu ingin melihat berapa besar punya saya," bisiknya dengan pelan.
Ooh, jantungku jangan mulai berirama.
" A–pa maksud m-u ?" heranku.
" Bukankah kamu ingin lihat, saya dengar saat di cafe," ulangnya mengingat kan ku.
" Dengan mengintimidasi celana saya," ujarnya lagi.
Ah, aku teringat. " I-ya tapi, bukan aku yang ingin, melainkan Maya," jawabku.
" Kamu ingin melihatnya kan," senyumnya mengambil tanganku ingin …langsung saja aku bangun darinya dengan sekuat tenaga, sungguh aku gak kuat dengan godaannya.
Sampai kami terjatuh dengan aku diatas tubuhnya.
" Wow, hebat ! Ingin seperti ini," kerlingnya dengan genit.
Langsung saja aku bangun, melihat dari belakang ternyata rombongan Raka dengan temannya mendekat ke sini.
" Kak Za, gak papa, kok Paman bisa jatuh ?" Herannya.
" Gak papa."
Untung aku cepat bangun, kalau gak pasti mereka berpikir … entahlah, setidaknya aku merasa lega.
" Ingin pulang atau masih ingin disini ?"
" Pulang saja," jawabku.
Akhirnya kami pamit untuk pulang duluan, ingin rasanya pulang dengan Raka dari pada si mesum Duda yang membuat ku was-was dengan sikapnya.
" Kenapa lihatin saya seperti itu ?"
Ituukan tertangkap basah aku memandangnya dengan bergedip ngeri mengangkat bahu dan menggeleng .
" Sungguh Duda sangat bahaya kalau terlalu dekat," nyahut ku.
__ADS_1
" Kamu nyindir saya ?" Dia menghentikan mobil .
" Syukur deh kalau sadar," jawabku.
" Oke, dimana letak bahayanya nya ?" Ia mencondongkan tubuhnya kearah ku.
" Pesona dalam rayuan ala gombalan akan bangkit rasa …ah, sudahlah kita pulang," dari pada sikapnya berulah lagi membuat ku pusing seperti di permainan oleh rasa.
" Apa ?"
Aku merasa was-was melihat si duda malah semakin dekat. " Gigimu bauu," rupanya dia hanya memasang seat belt.
" Pasti kamu pikir yang aneh-aneh ya? Iya kan, ngaku deh," ujarnya membuat ku kesal dan malu.
" Kamu saja yang ingin cari kesempatan dalam kesempitan, malah pura-pura makek ini pula," balas ku.
Apa salahnya juga berjaga dengan kelakuannya yang bikin diri ini kadang ke hal lain.
" Kamu saja yang kepedean, berharap seperti didalam pikiran kotormu," sinisnya.
" Ogah, aku sama Duda."
Tanpa terasa sudah sampai di kos tingkat dua yang berhadapan samping dengan tetangga alias si Duda.
Banyak para emak, remaja, gadis kagum dengan Duda ini, berharap berjodoh dengan anak mereka…setiap saat pasti ada yang mencari perhatian walau sekedar lihat si Duda.
Hadehh mengresahkan saja, seperti ini sudah ada yang nunggu untuk melihat si Duda dengan siapa pulang.
" Turun aku di sini, dari pada diserang para emak nanti," mataku tetap menyusuri mereka yang menunggu si Duda.
" Itu yang saya inginkan," balasnya .
Aku menelisik ke wajah Duda yang serius kemudi, dengan kancing di lepas dua biji yaa ampun kenapa mata ku jatuh kesana .
" Apa lihat-lihat," sinisnya tanpa menoleh.
Tampan sih, sayang…duda membuat ku tidak terlalu suka, entah dimana mereka menyukai si Duda. Terasa nyebelin berada di dekatnya his…kenapa jadi mikirin Duda, nanti dia ke ge-eran lagi.
" Kenapa dengan mata mu, ingin saya tiup," aku mengerjap mata lalu beralih melihat ke depan.
Lalu melihat kearah nya lagi. " Kenapa? Ada yang aneh, kesambet jin sana?" Ejeknya membuat ku kesel.
" Haisy…apaan sih!"
Melihat kearah nya lagi ." Saya emang ganteng," pedenya tersenyum manis.
" Gimana ... masih anti Duda juga ?"
" Iya masih, emang kenapa?" Ketus ku.
" Tidak seperti kelihatan dari memandang saya," jawabnya dengan sedikit ejek.
" Maka dari itu aku tidak mau terkena virus Duda, sangat bahaya bagi mata ku," aku menyentak nafas dengan kesal, melihat Duda menggeleng kepala tidak percaya.
" Klise, saya tidak percaya. Mulut boleh berbohong mata tidak bisa."
__ADS_1
" Terserah...."