
🎵It will rain-Bruno Mars
...Happy Reading...
Pagi hari Raina terbangun dengan tangannya yang juga melingkar di pinggang Abi. "Ya ampun, nih tangan aku kok bisa di pinggang Kak Abi juga sih." batin Raina.
Raina kemudian menarik tangannya pelan-pelan berharap Abi tidak terbangun dari tidurnya. setelah tangannya bebas, Raina berusaha lagi untuk melepas tangan Abi di pinggangnya namun bukannya lepas Abi malah semakin mengeratkan pelukannya.
Raina yang sudah tidak tahan lagi ingin membuang air kecil pun bersuara, "Kak, bangun, aku mau buang air kecil." cicit Raina berharap Abi melepaskan pelukannya.
"Lima menit lagi, jangan di lepas pelukannya." pinta Abi masih dengan mata yang tertutup.
"Tapi Kak, aku udah nggak tahan mau buang air kecil." ucap Raina memelas.
Tanpa berkata apapun, Abi melepaskan pelukannya membiarkan Raina pergi ke kamar mandi. Raina segera beranjak turun dari tempat tidur setelah Abi melepaskan pelukannya.
Setelah selesai dengan panggilan alamnya, Raina pun keluar dari kamar mandi dan masih mendapati Abi yang tertidur lelap di atas tempat tidur dengan memeluk guling.
"Kak, bangun!!" Raina mengguncang bahu Abi pelan.
"Aku masih ngantuk banget Rai, kamu sini aja temenin aku tidur dulu." ucap Abi dengan menarik Raina untuk tidur lagi.
Abi kembali memeluk Raina erat, kembali ke alam mimpinya. Raina berusaha berontak, tapi pelukan Abi sangat erat jadinya Raina pasrah saja dan berusaha kembali memejamkan matanya.
***
Pasangan pasutri itu terbangun kembali dari tidur mereka setelah matahari merangkak naik di atas kepala, "Good morning Rai," sapa Abi membuka matanya setelah di bangunkan Raina.
"Astaga Kak, ini udah jam 12 dan kita belum sarapan sama sekali. Ayo bangun nanti sore kita harus check out," ucap Raina panik karena hari ini adalah hari terakhir mereka menginap di hotel.
"Santai aja," jawab Abi seraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Raina yang menatapnya kesal.
"Enak banget Kakak bilang santai, ntar aku doang yang sibuk beres-beres naro barang kita ke koper." ucap Raina dengan suara yang sedikit keras agar Abi mendengar ucapan di dalam kamar mandi.
"Ntar aku bantuin," teriak Abi dari dalam kamar mandi.
Setelah Abi keluar dari kamar mandi, mereka berdua kemudian turun ke restoran hotel untuk makan. Setelah mereka berdua sudah merasa kenyang, mereka pun kembali ke kamar mereka.
"Kak, ayo kita beresin barang-barang kita sekarang." ucap Raina setelah beberapa menit mereka duduk di sofa, Raina yang tadi menonton acara di tv dan Abi yang sibuk dengan gawainya.
__ADS_1
"Sebentar, lagian masih lama lagi kok, kita check out." jawab Abi sibuk dengan gawainya.
"Kan aku bilang juga apa tadi, pasti aku doang yang sibuk beres-beres nanti." ucap Raina kesal seraya beranjak dari duduknya.
"Bentar aku bantuin," ucap Abi membuat Raina semakin dongkol.
"Bintir iki bintiin, bantuin duduk iya!!" ejek Raina dengan suara yang sangat kecil agar Abi tidak mendengar ucapannya..
Raina mulai membereskan semua barang-barang miliknya Dan juga milik Abi ke dalam koper mereka masing-masing, semuanya sudah hampir beres namun Abi masih belum juga selesai dengan gawainya.
"Katanya tadi mau bantuin, ini udah mau selesai masih belum ada tanda-tanda bakal dibantuin." gerutu Raina kesal menatap Abi yang masih fokus ke gawainya.
Benar saja Abi sama sekali tidak membantu Raina beres-beres, bahkan setelah Raina selesai dan ikut duduk di sofa kembali Abi sama sekali tidak mempedulikannya. Raina melongos kesal dengan Abi yang bukannya minta maaf tidak membantunya, malah sibuk dengan dunianya sendiri.
Karena kesal Raina pun mengabaikan Abi juga dan memilih fokus menonton acara yang sedang berlangsung di tv, bahkan hingga sore pun mereka berdua tak juga kunjung bergerak dari tempat mereka hingga suara bunyi bel mengalihkan atensi mereka.
Raina berjalan terburu-buru kearah pintu kamar dan membukakan pintu bagi orang yang menekan bel, "lho, Mama sama Papa kok kesini?" tanya Raina menatap kedua mertuanya yang berada di depannya.
"Lho, bukannya hari ini, hari terakhir kalian disini? Mama sama Papa udah nungguin kalian dari tadi, tapi kalian belum pulang juga makanya kami kesini nyamperin kalian." jelas Papa Abi.
"Silahkan masuk Pa, Ma," ajak Raina.
"Halah palingan kamu sok sibuk 'kan dengan gawai kamu tadi, makanya lupa!" sarkas mama Abi tepat sasaran.
"Hehehe, sorry Ma, lagian tadi ada kerjaan yang deadline-nya besok." jawab Abi mengusap tengkuknya yang tiba-tiba dingin karena di tatap dengan tatapan yang membunuh oleh mamanya.
"Kamu tuh ya, dari dulu gitu mulu! Harusnya kamu prioritasin istri kamu!! Untung Raina sabar dengan tingkah kamu itu," ucap mama Abi marah.
"Iya maaf," ucap Abi pelan.
"Jangan minta maaf sama Mama, minta maaf sama istri kamu!"
"Maaf Rai, lain kali ini nggak akan terjadi lagi." cicit Abi tertunduk merasa bersalah.
"Iya nggak apa-apa,"
"Udahan marah-marahnya, kalian udah beresin barang-barang kalian 'kan?" lerai Papa Abi.
"Iya udah Pa," jawab Raina membuat Abi semakin merasa bersalah karena tidak menepati janjinya membantu Raina tadi beres-beres.
__ADS_1
"Ya udah, Abi, ambil koper kalian! Kita pulang," perintah papa Abi langsung ditiruti oleh Abi.
"Udah nggak ada lagi yang ketinggalan 'kan?" tanya mama Abi setelah mereka sudah bersiap untuk keluar dari kamar hotel dimana Abi dan Raina menginap selama beberapa hari.
Raina memperhatikan kamar hotel beberapa saat sebelum berucap dengan yakin bahwa sudah tidak ada lagi yang tertinggal. "Udah nggak ada kok, Ma."
"Ya udah, ayo kita pulang."
Mereka berempat kemudian berjalan ke luar dari kamar hotel dengan Abi yang menarik kedua koper miliknya dan milik Raina dibelakang, sedangkan kedua orang tuanya dan istrinya berjalan di depan sibuk berbincang-bincang.
***
"Duh, akhirnya kita sampai juga..." ucap mama Abi lega setelah mereka sudah sampai di rumah.
"Rai, untuk sementara waktu kalian tinggal bareng kami dulu, nanti kalau rumah kalian udah jadi, kalian boleh pindah." ucap papa Abi menerangkan kepada Raina agar tidak salah paham mengira bahwa dia dan Abi akan tinggal selamanya di rumah orang tua Abi.
"Iya Pa..." ucap Raina merasa lega.
"Pa, Ma, kami ke kamar kami yah?" ucap Abi merasa bosan dengan basa-basi kedua orang tuanya.
"Duh, anak kita Pa... Silahkan masuk kamar kalian, jangan lupa bikinin kami cucu yang imut-imut." jawab mama Abi tersenyum jenaka kearah anak dan menantunya.
"Iya Ma..." ucap Abi pasrah.
Berbeda dengan Abi yang terlihat biasa saja, Raina benar-benar merasa sangat malu sekarang. Ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya di rawa-rawa, dia kemudian berjalan mengikuti Abi dari belakang.
Setelah mereka sudah berada di dalam kamar, Raina segera mencubit pinggang Abi dengan keras. "Awww... Rai, please lepasin!" keluh Abi.
"Kakak ngeselin banget sih," ucap Raina kembali menekan keras cubitannya kemudian melepaskannya.
"Astaga Rai, kita baru nikah beberapa hari tapi kamu udah KDRT aja." keluh Abi mengusap pinggangnya yang tadi di cubit Raina.
"Lagian Kakak sih, ngeselin banget!! Ngapain tadi ngomong kek gitu sama mama, papa?!"
"Kita itu butuh istirahat Rai, kalau kita ngejabanin mereka mulu nggak bakal ada habis-habisnya." ucap Abi seraya menundukkan bokongnya di atas tempat tidur.
"Tetep aja, Kakak ngeselin!" ucap Raina masih marah.
Bersambung....
__ADS_1