Tetangga Tapi Menikah

Tetangga Tapi Menikah
Bab 6 Kunjungan Mama dan Papa Abi


__ADS_3

🎵The Lazy Song-Bruno Mars


...Happy Reading...


Tidak seperti kemarin dimana Raina dan Abi terbangun setelah matahari sudah menancap tinggi di langit, Hari ini mereka berdua telah bangun sejak pukul tujuh. Mereka baru saja selesai sarapan, dan kini Raina bingung ingin melakukan apa. Dia sangat bosan sekarang sedangkan Abi, entah apa yang dia kerjakan di laptopnya.


"Kak, aku bosen banget." keluh Raina menatap Abi sebal karena sedari tadi Abi seolah mengabaikannya.


"Kamu nonton aja sana, Kakak masih sibuk." ucap Abi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya, tangannya masih sibuk menari-nari diatas keyboard laptop.


"Aku males banget nonton Kak, kita jalan-jalan yuk!" ajak Raina.


"Nanti yah? Sore nanti kita pergi jalan-jalan, Kakak nggak bisa kalau sekarang, masih sibuk soalnya." ucap Abi menatap Raina sekilas.


"Huh, iyadeh. Kakak ngapain sih?" ucap Raina penasaran dengan kegiatan yang dilakukan Abi sedari tadi, dia ingin melihat layar laptop Abi namun saat akan melihat Abi langsung menutup laptopnya.


"K-amu nonton sana, jangan gangguin Kakak!" ucap Abi kemudian berjalan kearah balkon kamar hotel.


"Iss, padahal aku kan cuma pengen liat bentar, pelit amat sih." gerutu Raina kesal kemudian mengalihkan atensinya kearah televisi yang sedang menyala.


Lama mereka berdua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing hingga tak terasa hari sudah berganti sore, Raina kini masih setiap menatap layar televisi yang menampilkan drama romansa k*rea. Abi masih berada di balkon kamar hotel, dia masih setia bergelut dengan laptopnya.


"Kak Abi...." teriak Raina kesal.


Abi yang mendengar teriakan Raina langsung meninggalkan pekerjaannya di laptop, dan berjalan masuk ke dalam kamar hotel melihat mengapa Raina berteriak. "Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Abi seraya memegang kedua bahu Raina dan mengguncangnya.


"Ihh, Kak Abi...." Raina memukul-mukul pelan bahu Abi.


"Aduh... Kenapa?" tanya Abi khawatir melihat Raina yang sudah meneteskan air matanya.


"Kak Abi jahat, liat udah jam berapa sekarang? Kak Abi tadi kan udah janji bakal ngajak aku jalan-jalan." ucap Raina kesal masih dengan memukul Abi.


"Ya ampun, maaf Kakak lupa. Kamu kenapa nggak ingetin?" tanya Abi memegang kedua tangan Raina agar tak memukulnya lagi.


"Aku tadi sibuk nonton, harusnya Kakak yang ingetin." kesal Raina.


"Iya maaf, Kakak yang salah. Maaf yah?"


"Nggak mau!"

__ADS_1


"Dosa lho, kalau nggak maafin sesama manusia apalagi Kakak sekarang udah jadi suami kamu." ucap Abi membuat Raina tertegun.


"Tapi Kakak juga dosa ngingkarin janji,"


"Iya, Kakak salah. Maafin yah? Kakak benar-benar lupa tadi, lagian kerjaan Kakak juga belum selesai." ucap Abi halus.


"Kakak kerja apa?" tanya Raina membuat Abi gelagapan sendiri.


"Eh, Kakak kerja..." ucapan Abi terpotong dengan bunyi bel kamar mereka.


"Kakak bukain pintu sana!" perintah Raina masih kesal dengan Abi, berbeda dengan Abi yang merasa lega karena tak harus mengungkapkan rahasianya sekarang kepada Raina.


"Iya," ucap Abi seraya berjalan kearah pintu.


Setelah membuka pintu, Abi dikejutkan dengan kedatangan mama dan papanya. "Lho, Mama sama Papa ngapain kesini?" tanya Abi membuat Raina langsung melompat dari duduknya seraya merapikan tatanan rambutnya.


"Mama dan Papa mau lihat keadaan kalian, kata karyawan di hotel ini kalian jarang keluar jadi kami penasaran." jawab mama Abi.


"Eh, Tante, Om, apa kabar? Kok, tiba-tiba datang?" tanya Raina berjalan kearah mereka kemudian mencium tangan kedua mertuanya.


"Kami baik Nak, liat tuh Bi, istri kamu. Kalau ketemu orang tua di salim," tegur papa Abi, membuat Abi dengan terpaksa ikut menyalimi kedua orang tuanya.


"Raina? Jangan panggil kita lagi dengan panggilan tante dan om yah? Kan kamu udah nikah sama Abi, jadi sekarang kami udah jadi orang tua kamu juga." tegur mama Abi halus, membuat Raina tersenyum kikuk.


"Iya nggak apa-apa,"


"Ayo, Ma, Pa, silahkan masuk." ucap Raina lupa mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam kamar hotel.


"Iya yah, sampai lupa."


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam kamar hotel tempat Raina dan Abi menginap. "Kalian ngapain aja dalam kamar seharian ini?" tanya mama Abi setelah mereka duduk di sofa.


"Kalau Rai nonton, Kak Abi katanya kerja di laptopnya." jawab Raina jujur.


"Udah kami duga, kalian masih belum mau bikin cucu buat kami?" tanya mama Abi membuat Raina dan Abi membelalakkan mata mereka kaget.


"Ehm, nggak dulu Ma, kita kan baru nikah kemaren masa mau langsung bikin dedek bayi." tolak Raina halus.


"Iya Ma, lagian kita juga harus mengenal dekat lebih dulu. Baru nanti mikirin yang gituan," lanjut Abi.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, tapi jangan lama-lama pacarannya." putus mama Abi sedikit kecewa.


"Kalian belum makan malam 'kan?" tanya mama Abi dijawab Raina dan Abi menggelengkan kepala mereka.


"Kita makan dulu, Mama sama Papa tadi bawa makanan kesini." ucap mama Abi membuka bungkusan yang mereka bawa.


Mereka makan dengan tenang, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang terdengar bersahutan. Setelah selesai makan, orang tua Abi masih tinggal sebentar untuk berbincang-bincang dengan anak dan menantu mereka, hingga setelah malam mulai larut mereka kemudian bepamitan untuk pulang.


"Mama, Papa pulang dulu. Ingat jangan kelamaan nunda buat cucu kami!" peringat mama Abi sebelum mereka pulang.


***


"Kak, aku masih marah yah sama Kakak!" ucap Raina setelah lama mereka larut dalam keheningan.


"Kakak 'kan udah minta maaf tadi," jawab Abi.


"Huh, tapi aku belum maafin yah?!"


"Kakak harus apa biar kamu bisa maafin?" tanya Abi masih bersabar dengan tingkah istrinya.


"Nggak tahu,"


"Kita tidur yuk? Kakak udah capek banget," ajak Abi.


"Kakak nggak bakal minta hak Kakak sekarang 'kan?" tanya Raina was-was.


"Nggak sekarang, kamu cuci wajah dulu setelah itu kita tidur. Kakak ambil laptop Kakak di balkon dulu," ucap Abi seraya berjalan kearah balkon.


"Iyaaa" jawab Raina.


Raina dan Abi kini sudah membaringkan tubuh mereka di atas ranjang, mereka masih belum tidur. Mata mereka masih menatap langit-langit kamar hotel, ada banyak hal yang mereka pikirkan sekarang.


"Kak?"


"Ya?" jawab Abi menatap Raina yang masih setia menatap langit-langit kamar.


"Aku takut jalanin hubungan ini, aku bingung harus ngapain." jawab Raina setelah lama terdiam.


Abi kembali menatap langit-langit kamar hotel, "Kakak juga," mereka terdiam lama hingga mereka tertidur dengan pikiran yang rumit. Masih ada banyak hal yang belum mereka pikirkan untuk kedepannya, menikah memang bukan akhir dari hidup yang bahagia justru itu adalah awal dari kehidupan-kehidupan yang amat sulit bahkan tidak mudah untuk dijalani, bukan berarti tidak mudah dijalani. Apalagi dengan mereka yang menikah karena dijodohkan, pasti akan ada banyak permasalahan yang akan mereka alami kedepannya.

__ADS_1


Merry Christmas to all who celebrate❤️❤️


Bersambung...


__ADS_2