
๐ตNyaman-Andmesh Kamaleng
Warning!!! : Di part ini mengandung unsur 18+ jadi readers di harap harus bijak dalam memilih bacaan.๐๐
...Happy Reading...
Malam kini kembali menguasai bumi, keluarga kecil Brahmono yang sudah bertambah satu orang kini sedang makan malam bersama. "Bi, gimana, kamu udah siap lanjutin usaha Papa?" tanya Papa Abi di sela-sela kegiatan makan malam mereka.
"Iya Pa," balas Abi singkat masih fokus dengan kegiatan makannya.
"Pa, kebiasaan deh!! Kalau lagi makan jangan bicara, nanti aja bicaranya kalau udah makan!" tegur mama Abi.
"Iya Ma, maaf." jawab papa Abi pelan.
Setelah selesai makan malam, mereka kemudian duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang sebentar. "Kamu yakin Nak, udah siap kerja di perusahaan?" tanya mama Abi memastikan.
"Iya Ma, lagian sekarang Abi udah berkeluarga. Abi bukan bujang lagi yang hanya memikirkan diri Abi sendiri," ucap Abi membuat Raina menatap Abi takjub dengan pemikiran pria yang sudah menjadi suaminya.
"Tapi untuk dua bulan ke depan, aku belum bisa masuk karena buku terakhir aku mau terbit." lanjut Abi membuat kedua orang tuanya menganggukkan kepalanya sedangkan istrinya melongo terkejut mendengar fakta bahwa beberapa hari sebelumnya suaminya sibuk karena akan menerbitkan sebuah buku.
"Syukurlah kalau gitu, semoga lancar yah Nak."
"Iya Ma, amin."
"Ya udah kalau gitu kita masuk ke kamar kita masing-masing, pasti Rai udah ngantuk kan?" ucap mama Abi setelah lama mereka berbincang-bincang.
Abi dan Raina pun berjalan menuju kamar mereka, setelah sampai di dalam mereka pun duduk di sofa. "Kok Kakak nggak bilang dari kemarin kalau Kakak sibuk nulis sih? Kalau tahu kan aku bisa maklum," ucap Raina merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, lagian kemarin itu Kakak ngerjainnya karena terpaksa, editor Kakak udah marah-marah karena belum revisi bagian yang menurutnya kurang bagus." jelas Abi.
"Kalau boleh tahu, Kakak nulis buku seperti apa?" tanya Raina ragu.
"Aku pernah sekali nulis buku motivasi, tapi buku yang paling banyak aku buat itu yah novel. Buku aku yang udah terbit itu baru tiga, mau empat dengan novel terakhir aku yang akan terbit dua bulan lagi." jawab Abi menatap Raina hangat.
"Oo, novel yang sekarang Kakak buat genre apa?"
"Genre romansa komedi,"
"Kakak mau berhenti jadi penulis saat Kakak nanti mulai kerja di perusahaan Papa?" tanya Raina memastikan.
__ADS_1
"Iya, lagian Kakak takut nanti nggak bisa membagi waktu. Mungkin banyak orang berpikir jadi penulis itu mudah, nyatanya nggak semudah itu." ucap Abi seraya mengusap kepala Raina pelan.
"Kakak nanti benar-benar hanya mau fokus ke perusahaan Papa?"
"Hmm, nanti aja di lihat. Kalau memang sibuk banget yah mungkin fokusnya di perusahaan aja." jawab Abi yakin.
"Kak Abi keren yah? Padahal dulu aku kira Kak Abi itu pengangguran ulung, hehehe..." ucap Raina terkekeh pelan takut Abi marah.
"Hahaha, bisa aja kamu. Padahal kamu yang pengangguran ulung," balas Abi tertawa geli, membuat Raina mendelik kesal.
"Ihh.. Kak Abi nyebelin!!!" Raina mencubit perut Abi karena kesal.
"Aduh, Rai, lepasin!! Ya ampun, sakit baget!!!" keluh Abi.
"Rasain, makanya jangan ngeselin." ucap Raina setelah melepaskan cubitannya.
"Rai, ini sakit banget loh. Tuh kan, ada bekasnya!" keluh Abi setelah melihat bekas cubitan Raina yang kini sudah berwarna ungu.
"Ututu.. Sakit baget yah?? Makanya jangan buat aku kesel," Raina mengelus sebentar perut Abi yang tadi dia cubit.
"Gitu amat kamu sama suami, lagian tadi kamu yang mulai." ucap Abi menatap Raina seraya memonyongkan bibirnya.
"Gini amat istri aku, bibir suaminya bukannya di cium malah mau di tampol." ucap Abi pura-pura sedih.
"Ckckck, gini amat suami aku, raja drama!" Raina meninggalkan Abi yang masih bersungut-sungut di sofa, dan memilih ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya sebelum tidur yaitu mencuci wajah, kaki Dan tangannya serta mengganti bajunya dengan piyama. Raina tidak perlu lagi membawa pakaian ke dalam kamar mandi karena kamar mandi milik Abi sudah terhubung dengan walk in closet.
Setelah selesai dengan ritualnya, Raina pun keluar dari walk in closet dengan wajah yang segar. "Kak Abi nggak cuci kaki dulu sebelum tidur?" tanya Raina seraya mengaplikasikan krim malam di wajahnya.
"Ini udah mau," ucap Abi pelan seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan krim malamnya, Raina pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Seraya menunggu Abi keluar dari kamar mandi, Raina memilih untuk membuka aplikasi hijaunya melihat pesan-pesan dari teman dan juga pesan dari mamanya.
"Rai..." panggil Abi setelah keluar dari kamar mandi dengan piyama yang berwarna senada dengan milik Raina. Abi mempercepat langkahnya agar cepat sampai di tempat tidur, setelah tiba di tempat tidur Abi langsung memeluk pinggang Raina erat.
Raina yang tadi sibuk berbalas pesan dengan mamanya menjadi terkejut dengan Abi yang tiba-tiba datang memeluknya. "Kakak kenapa?" tanya Raina.
"Nggak tahu, aku tiba-tiba pengen peluk kamu aja." jawab Abi semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Raina.
Raina pun menyimpan ponselnya di atas meja dan mengusap lembut rambut suaminya. "Bau kamu wangi," ucap Abi tiba-tiba.
__ADS_1
"Jangan berhenti usap kepalanya!" ucap Abi saat Raina tidak lagi mengusap kepalanya.
"Iya, iya, udah tidur gih."
"Masih belum mau tidur," jawab Abi manja.
"Rai..."
"Hmmm,"
"Aku boleh minta hak aku malam ini?" tanya Abi dengan suara serak.
"Ta--"
"Kalau kamu belum siap, nggak apa-apa kok." ucap Abi langsung memotong ucapan Raina.
"Iss, bukan gitu! Kakak yakin?"
"Iya Rai, yakin." ucap Abi masih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Raina.
"Tapi yang harus kamu tahu, kalau kamu mau berarti kamu siap jadi milik aku sepenuhnya. Your truly mine," lanjut Abi menjelaskan.
"Maksudnya jadi milik Kakak sepenuhnya itu gimana?" tanya Raina bingung.
"Artinya kamu siap hidup sama aku sampai kita di panggil Tuhan."
"A-ku..."
"Aku harap kamu berpikir jernih sebelum menjawab, jangan sampai nanti kamu nyesel di masa depan." Abi kembali memotong ucapan Raina.
"Aku siap Kak, lagian saat Kakak ngucapin ijab kabul, aku udah jadi milik Kakak sepenuhnya." jawab Raina pelan.
"Kakak tahu, Kakak hanya takut kamu belum siap." ucap Abi menatap Raina dalam.
"Sekali lagi, Kakak nggak mau nanti kamu nyesel. Kamu udah siap?" tanya Abi kembali memastikan.
"A-ku siap Kak," jawab Raina gugup di tatap Abi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka segera melakukan hal yang seharusnya sudah mereka lakukan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Bersambung...