Tetangga Tapi Menikah

Tetangga Tapi Menikah
Bab 3 Lamaran


__ADS_3

🎵Status Palsu-Vidi Aldino


...Happy Reading...


Raut wajah mama Raina masih berseri-seri seperti tadi siang, bahkan hingga malam kini senyum bahagia belum luntur dari wajahnya. "Mama kenapa senyam-senyum gitu?" tanya Reina kepada Raina.


"Lagi senang banget si Mama, aku nerima perjodohan dengan kak Abi." jawab Raina membuat Reina mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Kamu yakin nikah sama Abi?" tanya Reina.


"Yakin nggak yakin aku terpaksa nikah sama kak Abi, dia udah lama putus dengan kak Karin." jawab Raina lesu. "Kakak nggak apa-apa dilangkahin?" tanya Raina.


"Kakak nggak apa-apa dilangkahin, tapi Kakak nggak yakin mama mau aku dilangkahin. Pasti Mama bakal maksa aku bicara sama Raihan, agar cepat dilamar."


"Mau gimana lagi, Mama emang gitu orangnya." ucap Raina semakin lesu, tapi setidaknya mamanya sangat senang mendengar dia mau dijodohkan. Mamanya bahkan tidak mau dibantu mengerjakan pekerjaan dapur khusus malam ini saking bahagianya.


"Selamat makan semuanya, *itadakimasu," ucap mama sok berbahasa Jepang.


"Selamat makan," jawab mereka pelan, dengan raut yang bingung dan kaget karena mamanya yang tiba-tiba bisa bahasa Jepang.


Setelah mereka selesai makan, ayah kemudian membuka suaranya. "Kata Mama, kamu sudah setuju dijodohkan dengan Abi?" tanya Papa harap-harap cemas Raina tiba-tiba mengubah keputusannya.


"Iya Pa," jawab Raina singkat.


"Syukurlah kalau gitu, besok Abi dan kedua orang tuanya akan datang lamar kamu." ucapan papanya itu membuat Raina yang tadi lemas menjadi berjengkit kaget.


"Lho kok cepet banget, Pa?" ucap Raina dengan menatap papanya kaget.


"Bagus dong Rai, niat baik itu harus disegerakan." jawab mama membuat Raina mendelik.


"Iya sih Ma, tapi masa langsung besok. Aku kan harus nyiapin mental dulu," Raina cemberut.


"Nggak apa-apa, lagian mental kamu udah siap kok. Tenang aja Mama bakal bantuin kamu dandan besok,"


"Mama tega bener, saking mau Rai cepat-cepat keluar dari rumah ini." ucap Raina kemudian berlari meninggalkan meja makan.


Raina saat ini sedang menangis di dalam kamarnya, Raina menangis bukan karena perkataan mamanya tadi di meja makan, dia juga tidak tahu mengapa dia menangis. Air matanya terjatuh begitu saja, mungkin karena dia sedang PMS makanya dia sangat sensitif.

__ADS_1


"Ini air mata kok nggak mau berhenti keluar sih? Hiks hiks, aku harus gimana air matanya nggak mau berhenti," ucap Raina pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar Raina terbuka, sosok Reina diambang pintu yang kemudian melangkah tergesa-gesa masuk kedalam kamar Raina setelah melihat Raina menangis.


"Rai, sabar yah? Kok kamu nangis sih?" ucap Reina seraya memeluk adiknya itu.


"Nggak tahu, air matanya keluar sendiri. Nggak mau berhenti juga, huaaaa...." tangisan Raina semakin besar membuat Reina kelabakan sendiri. Mama yang lewat menjadi kaget melihat Raina yang menangis didalam dekapan kakaknya.


"Lho, Rai kok nangis sih? Mama nggak bermaksud untuk ngusir Rai dari rumah, kok." ucap mama khawatir, beliau kemudian menggantikan Reina memeluk Raina, Reina pun keluar dari kamar adiknya itu.


Lama Raina menangis di dalam dekapan mamanya, setelah lelah menangis Raina malah tertidur dalam pelukan mamanya. "Maafin Mama yah kalau lukain hati Rai, Mama benar-benar nggak ada maksud gitu kok." ucap mama pada Raina yang sudah terlelap, beliau kemudian memindahkan kepala Raina keatas bantal dan membaringkan tubuh anak bungsunya itu.


Setelah memandangi anaknya cukup lama, mama Raina kemudian mematikan lampu dan berjalan keluar dari kamar Raina.


...❣️❣️❣️...


Raina terbangun dengan kepala yang sangat sakit, selain itu matanya juga terasa sangat berat. Meskipun sulit untuk bangun, tapi Raina tetap memaksakan dirinya untuk bangun dan masuk ke dalam kamar mandi kamarnya.


Raina tak kaget lagi melihat matanya yang sangat bengkak di dalam cermin kamar mandinya, kini dia sedang menggosok giginya. 'Mata aku kek baru aja disengat tawon,' batin Raina. Setelah selesai mencuci wajah dan menggosok giginya, Raina keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lumayan segar.


"Ya ampun Rai, mata kamu bengkak banget!" pekik mama setelah melihat Raina.


"Iya Rai, nanti kalian ke salon. Tenang aja, kakak yang bandar." ucap Reina menyetujui permintaan mamanya.


"Iya, makasih Kak." ucap Raina lesu.


"Kamu yang semangat dong Rai, jangan lemes-lemes gitu." tegur mama.


"Iya Ma, baru bangun jadinya gini." jawab Raina.


"Nanti Papa antar bentar yah?" pinta mama.


"Iya..."


Setelah mereka selesai sarapan, Raina dan mamanya pun bergegas untuk mandi kemudian diantar oleh papanya ke salon. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di salon, mereka baru pulang sekitar jam dua sore.


Mama Raina memang sudah membereskan rumah sebelum mereka pergi, dan tentang makanan mama Raina dibantu oleh dua tetangganya -- yakni Ibu Mamat dan Ibu Cintya untuk menyiapkannya. Mungkin nanti malam sekitar jam 19.00 baru keluarga Abi akan datang ke rumah mereka.

__ADS_1


"Duh, Jeng. Makasih banget loh udah bantuin," ucap mama Raina setelah semuanya telah selesai.


"Nggak apa-apa Jeng, sebagai tetangga yang baik harusnya tolong menolong." jawab Ibu Mamat.


"Seneng banget deh punya tetangga kayak kalian, ini buat Bu Mamat dan ini buat Bu Cintya." ucap mama Raina memberikan bungkusan berupa lauk-pauk yang tadi mereka buat.


"Duh, nggak perlu repot-repot Jeng." ucap mereka sungkan.


"Nggak apa-apa, ini ambil aja tanda terima kasih." ucap mama Raina membuat keduanya mengambil bungkusan yang diberikan.


"Makasih lho Jeng, kita pulang dulu yah? Udah magrib," pamit mereka.


"Iya, hati-hati Jeng."


Keluarga Abi datang ke rumah Raina lebih cepat dari perkiraan keluarga Raina, mereka datang satu jam lebih awal membuat mama Raina kelimpungan sendiri.


"Aduh, yaampun. Rei, kamu cepetan dong make up- in Raina. Keluarga Brahmono udah ada di bawah," panik mama Raina.


"Sabar Ma, Mama mau kalau make up- nya belepotan?"


"Nggak gitu, tapi cepetan dikit lah. Nanti keluarga Brahmono kelamaan nunggunya," ucap mama masih dengan raut yang panik.


"Salah mereka lah, mereka yang ngatur waktu katanya jam tujuh malah datang jam enam." jawab Reina santai.


"Ya ampun, terserah kamu deh Rei. Kalau udah kamu antar Raina ke ruang tamu nanti!" ucap mama memperingati, beliau kemudian berjalan keluar dari kamar Raina.


"Nah, udah." ucap Reina mengakhiri aktivitasnya menjadi *MUA dadakan adiknya.


"Makasih Kak," ucap Raina seraya berdecak kagum melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, seolah bukan dia yang biasanya.


"Iya, ya udah kita keluar nemuin keluarga Abi." Reina menggandeng Raina keluar dari kamar adiknya.


Meskipun Raina tidak mencintai Abi, tapi tetap saja jantungnya berdetak kencang saat dia sudah sampai di ruang tamu. 'Duh, gugup banget aku.' ucap Raina dalam hati, seraya tersenyum manis kearah semua yang ada di ruang tamu.


Hanya mama, papa dan satu paman Abi yang datang ke rumah keluarga Raina, hal ini dikarenakan rata-rata keluarga besar Brahmono ada di luar kota bahkan di luar negeri.


Lama mereka berbincang-bincang menentukan tanggal pernikahan Abi dan Raina yang akan dilaksanakan dua bulan lagi, sebenarnya Raina sedikit keberatan namun karena terus dipelototi mamanya saat akan berbicara jadinya dia tidak jadi memberikan penolakan.Setelah selesai berbincang-bincang mereka kemudian makan malam bersama.

__ADS_1


Note : *MUA \= Make Up Artist


Bersambung...


__ADS_2