
🎵Ingatlah hari ini-Project Pop
...Happy Reading...
Sudah sejak pagi Raina ngambek tidak mau keluar dari kamarnya, "Raina sayang, kamu jangan begini ayo keluar kita bicarain baik-baik." teriak Indah dari luar, anaknya melakukan aksi mogok makan karena menolak perintah ayahnya untuk menikah dengan Abi.
"Rai nggak bakal keluar, kalau Ayah nggak batalin perjodohan itu!" teriak Raina dari dalam kamar.
"Jangan gitu sayang, emang kamu mau nikah sama kakek-kakek?"
Pintu kamar Raina langsung terbuka setelah mendengar pertanyaan mamanya itu, "emang sumpah Papa nggak bisa ditarik kembali, Ma?" tanya Raina memelas menatap mamanya.
"Nggak bisa sayang, Papa bisa aja batalin perjodohan ini tapi apa kamu mau nanti kalau jodoh kamu diganti jadi kakek-kakek?" Mama Raina mengusap lembut rambut anaknya, mencoba memberinya pengertian.
"Nggak mau Ma, tapi aku juga nggak mau nikah sama kak Abi."
"Kenapa kamu nggak mau nikah sama Abi?" tanya Mama Raina penasaran.
"Pacarnya kak Abi itu galak banget Ma, aku nggak mau dihajar sama dia nanti. Mana orangnya anak karate lagi," keluh Raina, dulu dia pernah dilabrak oleh pacar Abi untung saja saat itu pacarnya Abi tidak melakukan kekerasan fisik, hanya menyudutkannya disudut toilet dan mengancamnya untuk tidak dekat dengan Abi.
"Nanti Mama bicarakan dengan Abi, sekarang kamu makan dulu yah? Nanti kamu sakit kan Mama yang repot," ucapan Mama Raina membuat Raina langsung melotot.
"Halah Mama baik ke aku karena nggak mau aku kabur 'kan? Biasanya Mama juga nggak peduli kalau aku mogok makan," ucap Raina kesal.
"Hehehe, kok kamu tahu sih? Kan jadi gagal akting Mama," mama Raina menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terkekeh malu.
"Kok Mama malah ngaku sih!? Harusnya kan Mama ngelak," kesal Raina.
"Iya yah, harusnya Mama tadi ngelak." Raina memutar kedua bola matanya dan berjalan menuju ruang makan meninggalkan mamanya yang masih sibuk bergumam sendiri.
...🍒...
Setelah merasa kenyang karena telah menghabiskan nasi dan lauknya sebanyak tiga piring, Raina kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di meja makan. Setelah dari pagi menahan lapar akhirnya Raina makan juga, padahal ini masih pukul dua sore tapi dia seolah tidak makan selama sehari.
__ADS_1
"Hmm, pokoknya masakan Mama itu yang paling the best deh. Enak banget!" puji Raina, mama Raina yang mendengar itu hanya memutar kedua bola matanya malas. Anaknya itu masakan jenis apapun asal bisa dimakan pasti bakalan diterobos, semua makanan dilidahnya semuanya terasa enak. Yang paling parah dia pernah ngemil dengan makanan kucing, pada akhirnya dia diare dan dilarikan ke rumah sakit karena dia sudah kekurangan cairan.
"Halah, kamu makan makanan bebek aja pasti dibilang enak."
"Idih, aku nggak pernah makan makanan bebek yah Ma. Jangan pitnah-pitnah anak mama yang cantik jelita ini deh!" kesal Raina.
"Yang---" ucapan Mama Raina terpotong dengan kedatangan Reina Putri-kakak Raina yang terpaut tiga tahun dengannya.
"Lho kak Rei, kok udah pulang?" tanya Raina, biasanya Reina akan pulang paling cepat jam lima sore. Namun ini masih jam dua, pertama kalinya Reina cepat pulang ke rumah.
Reina bekerja sebagai seorang sekretaris manager di perusahaan ternama di kota mereka. Hanya Reina yang bisa mamanya pamerkan saat acara arisan, sedangkan Raina? Tidak ada yang bisa dipamerkan darinya, dia bisa lulus tepat waktu juga karena keberuntungannya. Jika ada yang bertanya mengapa dia bisa lulus kuliah diusia 20 tahun, maka jawabannya adalah karena sewaktu SD dia cepat masuk sekolah bukan karena dia jenius.
"Bos Kakak besok mau nikah, jadi hari ini bisa pulang lebih cepat." Jawab Reina mendudukkan bokongnya di kursi samping Raina.
"Ooh... Raihan kapan lamar kamu juga? Masa kalian udah pacaran lama tapi sampai sekarang dia belum lamar kamu." kesal Mama, Reina dan Raihan sudah berpacaran sejak mereka menempuh sekolah menengah atas, namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan melanjutkan kejenjang pernikahan.
"Ma, kami masih mau nikmatin masa muda kami! Pliss, nggak usah bahas masalah inilah Ma, kami pasti bakal kabarin kalau kami sudah siap untuk menikah." jawab Reina juga kesal.
"Ayo Ma, kita pergi nonton film azab. Pasti sekarang udah main," Raina menarik tangan mamanya menuju ruang tamu untuk menonton acara TV kesukaan mamanya.
*
"Gimana Rai? Kamu mau nikah sama Abi 'kan?" tanya Papa, mereka saat ini sedang duduk bersama di ruang tamu.
"Huft... Aku nggak yakin dengan perjodohan ini! Aku mau ngomong dulu sama kak Abi, setelah itu baru aku kasi keputusan." jawab Raina lesu, dia sangat ingin menolak tapi sumpah Papanya yang selalu menghantuinya. Dia sangat takut jika benar-benar akan berjodoh dengan kakek-kakek, membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Ya sudah, besok kamu ke rumah pak Brahmono."
"Iya..."
Keesokan harinya
"Rai!! Tolong beliin Mama sayur kangkung dan tempe di Bang Tejo, kamu tungguin aja di depan gang." perintah mama tak bisa dibantah.
__ADS_1
"Iya, uangnya mana?" Raina menghampiri mamanya di dapur, dan menengadahkan tangannya meminta uang.
"Ini masing-masing sepuluh ribu yah!"
"Lho kok cuma segini? Trus bayaran aku mana?" protes Raina saat melihat uang yang diberikan mamanya hanya selembar uang berwarna hijau.
"Ya ampun, kamu ini udah besar masih minta uang jajan! Ini..." kesal Mama Reina tapi tetap memberikan anaknya itu selembar uang berwarna kuning.
"Astaga gini amat punya mama tiri, inimah cuma habis buat beli donat lima biji."
Mendengar itu mama Raina langsung melototkan matanya kearah Raina, Raina yang mendapatkan sinyal merah langsung berlari terbirit-birit kearah pintu.
"Huh, dasar anak tiri, masih untung dikasi gopek buat jajan. Eh, malah masih ngeluh," omel mama Raina.
*
"Lho, Raina tumben banget keluar pagi-pagi." tegur ibu Zubaidah-tetangga Raina, sekaligus ibu RT di komplek mereka.
"Iya Bu, disuruh Mama beli sayur di Bang Tejo." jawab Willy halus.
"Oalah, sok atuh Ibu juga mau beli sayur di Mang Tejo." mereka berdua kemudian berjalan ke ujung gang menunggu Bang Tejo datang membawa dagangannya.
"Raina belum dapat kerja yah?" tanya ibu Malika-tetangga Raina yang rumahnya tidak terlalu dekat dengan rumah Raina.
"Belum Bu, ini juga udah ngirim lamaran dimana-mana tapi belum dapat panggilan." jawab Raina yang kemudian memberikan uang yang tadi diberikan oleh mamanya ke Bang Tejo.
"Makasih Neng," ucap Bang Tejo setelah menerima uang Raina, hanya dibalas Raina dengan anggukan.
"Oalah, harusnya kamu berusaha lebih keras lagi! Liat tuh Ani yang seumuran kamu, udah kerja di Bank sekarang." ucap Ibu Malika menyombongkan anaknya yang bungsu, yang sekarang sudah bekerja di Bank.
"Iya Bu, saya usahakan." ucap Raina berlalu dari sana, inilah yang membuat Raina sangat malas jika disuruh membeli sayur di pagi hari, selalu saja ada ibu-ibu yang memojokkannya karena masih belum bekerja. Padahal Raina baru enam bulan lulus kuliah.
Bersambung...
__ADS_1