Tetangga Tapi Menikah

Tetangga Tapi Menikah
Bab 7 Deep Talk


__ADS_3

🎵Into You-Ariana Grande


...Happy Reading...


Ditengah malam Raina terbangun dari tidurnya, karena matanya tidak mau tertutup lagi Raina memilih untuk memainkan gawainya, membuka salah satu aplikasi yang sedang ngetrend di kalangan anak muda sekarang. Lagipula siapa yang akan dia telpon tengah malam begini?


Saking larutnya dengan apa yang dilihatnya, Raina tidak sadar tertawa terbahak-bahak membuat tidur Abi terganggu. "Rai, kok nggak tidur?" tanya Abi pelan karena masih mengantuk.


"Duh, maaf Kak. Kakak terganggu yah? Lanjutin aja tidurnya, aku tadi nggak sadar keras banget ketawanya." jawab Raina merasa tidak enak.


"Nggak terganggu kok," ucap Abi seraya bangun dari tidurnya dan duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Em, Kakak nggak mau lanjut tidur?"


"Nanti aja, Kakak juga mau buang air kecil dulu." ucap Abi menatap Raina dalam.


"Oo..." jawab Raina singkat kembali mengalihkan atensinya ke gawainya, berpura-pura tidak sadar di tatap Abi.


"Kakak ke toilet dulu," ucap Abi setelah lama menatap Raina.


"Iya..."


"Ya ampun, Kak Abi kok gitu amat natapnya." ucap Raina pada dirinya sendiri seraya mengelus dadanya karena jantungnya berdegup kencang tadi.


Setelah selesai dengan kegiatan buang air kecilnya, Abi membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Abi berjalan keluar dari kamar mandi dan masih mendapati istrinya yang masih sibuk dengan gawainya.


"Rai, kamu udah dari tadi bangunnya?" tanya Abi setelah duduk dengan Raina di atas tempat tidur.


"Mungkin udah lebih dari satu jam tadi, tadi kebangun jadinya nggak bisa tidur lagi."

__ADS_1


"Oo..."


Lama mereka berdua terdiam hingga akhirnya Abi membuka suaranya, "Rai..." panggil Abi pelan.


Raina yang tadi sibuk dengan gawainya, kini menatap Abi bingung. "Iya? Kenapa Kak?" tanya Raina.


Abi menghela napasnya pelan dan berkata, "mungkin kehidupan pernikahan kita kedepannya tidak akan mudah untuk kita lalui, tapi aku mohon sama kamu agar kata perpisahan nggak ada diantara kita."


"..." Raina terdiam tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya menatap Abi intens berharap Abi akan melanjutkan perkataannya.


"Kita memang masih belum saling mencintai, tapi aku harap kita berdua saling berusaha untuk membangun cinta. Nggak gampang, tapi aku yakin kita pasti bisa. Pengalaman memang adalah guru yang terbaik, tapi kita tak harus berpengalaman terlebih dahulu baru kemudian mencoba melakukan. Aku ngerti mungkin kamu ragu banget dengan hubungan kita, tapi please sebelum kamu ragu kita jalanin dulu kehidupan pernikahan kita ini." ucap Abi panjang lebar seraya menatap lurus kedepan.


"Aku juga pengennya kita langgeng, pernikahan ini memang bukan pernikahan impian kita. Tapi aku yakin sebelum kedua orang tua kita menyetujui perjodohan ini, mereka pasti udah mikirin semuanya matang-matang. Nggak ada kehidupan yang nggak punya masalah Kak, tapi di setiap masalah itu selalu ada jalan keluarnya. Aku setuju kita jalanin aja pernikahan ini terlebih dahulu, dan Aku bakal upayain agar nggak ada kata pisah diantara kita. Kakak udah benar-benar selesai dengan masa lalu Kakak 'kan?" tanya Raina membuat Abi tertegun.


"Kakak sih udah selesai, tapi Kakak nggak yakin apakah Karin udah selesai atau belum." jawab Abi jujur.


"Maksud Kakak?"


"Aku terpaksa jalanin hubungan dengan Karin, ada banyak alasan aku buat pertahanin hubungan aku dengan dia tapi aku cuma punya satu alasan buat putusin hubungan kami." lanjut Abi.


"Apa alasan Kakak mau putusin hubungan kalian dulu?"


"Aku nggak pernah cinta sama dia..." jawab Abi membuat Raina membelalakkan matanya kaget.


"Kok gitu? Kalau Kakak nggak cinta kenapa Kakak bisa pacaran dengan Kak Karin?"


"Kan udah Kakak bilang tadi, ada banyak alasan buat pertahanin hubungan kami. Kamu nggak usah tahu alasannya, yang penting alasannya nggak akan berpengaruh buat hubungan kita kedepannya. Yang Kakak takutin, dia akan berusaha buat nyakitin kamu." jelas Abi.


"Kakak tenang aja, aku pandai jaga diri kok."

__ADS_1


"Kakak tahu, tapi Karin itu nggak sebaik yang kamu pikirin, dia itu sangat tidak bisa dimengerti dan juga sangat licik."


"Hum, kita serahin aja semuanya ke tangan Tuhan. Seperti yang aku bilang tadi, nggak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Jadi Kakak jangan terlalu banyak pikiran," ucap Raina seraya mengusap pelan kepala Abi.


"Iya... Kamu selama beberapa tahun ini punya gebetan atau orang yang kamu sukai?" tanya Abi seraya menyandarkan kepalanya di bahu Raina.


"Ada sih senior yang aku kagumi sejak lama, tapi perasaan aku nggak sedalam itu. Lagian dia udah punya pacar sekarang," jawab Raina membuat Abi berdecak kesal.


"Ck, ganteng nggak? Kamu kagum karena apa?" tanya Abi nyolot.


"Udah pasti gantenglah Kak, dia itu salah satu senior yang baik hati selain itu dia juga pinter." jawab Raina membuat Abi menegakkan kepalanya kembali.


"Idih..."


"Kak Abi kok jadi *jeles sih?" tanya Raina bingung.


"Bukan *jeles tapi nggak suka aja," jawab Abi ketus.


"Iyadeh... Yuk tidur, aku udah ngantuk nih." ajak Raina tidak di jawab oleh Abi tapi dia hanya membaringkan tubuhnya dan tidur membelakangi Raina padahal biasanya dia akan tidur terlentang.


"Kak Abi kok masih marah sih? Udahan dong," bujuk Raina seraya mengguncang pelan tubuh Abi.


Abi yang merasa terganggu pun membalikkan badannya dan memeluk Raina, "nih, udah nggak marah lagi." ucap Abi membuat Raina kaget dengan Abi yang memeluknya.


"Astaga Kak, sesak ih,"


"Lho, katanya tadi jangan marah makanya aku meluk kamu sebagai obat penawar marah." ucap Abi bukannya melepas pelukannya malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Astaga..." Raina pun kemudian pasrah saja dipeluk Abi, hingga tak lama mereka berduapun tertidur dengan lelap.

__ADS_1


Note : *jeles \= Jealous \= Cemburu


Bersambung...


__ADS_2