
Hari ini merupakan hari istimewa bagi Candra, karena hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 22 tahun. Tetapi walaupun hari ini begitu istimewa dia tidak bisa terlihat begitu bahagia karena dia selalu saja mengingat tentang Alisha, sahabat masa kecilnya yang selalu membuat kejutan untuknya di saat hari ulang tahunnya ketika dia masih hidup.
Candra mencoba melupakan apa yang telah terjadi dua belas tahun yang lalu dan mengikhlaskannya, tetapi semua itu tidak dapat dilakukan oleh Candra. Karena Alisha merupakan sahabat paling baik dan selalu ada di saat dia senang maupun susah.
"Alisha, andai kamu masih ada di sini. Pasti kamu ngasih kejutan buat aku" Gumamnya sembari menatap foto masa kecil Alisha.
Ketika Candra sedang menatap foto Alisha, ibunya datang bersama dengan anggota keluarga yang lainnya dengan membawa kue ulang tahun kesukaannya, dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Candra.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun" Nyanyian mengiringi kejutan spesial itu.
Candra terkejut, dan merasa senang ketika dia diberi kejutan oleh keluarganya.
"Mama? Apa semua ini?" Tanya Candra dengan terkejut.
"Ini kejutan spesial untuk kamu" Jawab sang ibu sambil menyerahkan kue ulang tahun itu untuk Candra.
"Ya ampun ma, Candra kan udah besar"
"Ah kakak ini, kalau kak Alisha masih ada kan pasti dia juga bakal ngasih suprise buat kakak" Jawab adik Candra yang menyela pembicaraan Candra dengan ibunya.
Mendengar perkataan adiknya, Candra menjadi ingat kepada Alisha dan merasa sedih. Melihat Candra bersedih, sang ibu mencoba mengalihkan pembicaraan adiknya.
"Mmm.. Ayo kita potong kuenya" Kata sang ibu mencoba mengalihkan.
Candra pun mencoba melupakan apa yang dikatakan oleh adiknya.
Seluruh keluarga duduk di atas kasur Candra dan memotong kue ulang tahunnya.
"Candra, kamu potong kuenya ya.." Kata sang ibu sambil memberikan pisau roti
"Iya ma"
Candra memotong kuenya dan memberi seluruh keluarga potongan potongan kuenya.
Dibenaknya terlintas wajah Alisha kecil dihadapannya, dan Candra hendak memberikan kue itu untuknya.
"Alisha?" Batinnya
Dia menodorkan kue itu kepada Alisha.
"Candra? Kami di sini nak, kenapa kamu ngasih kuenya ke sana?" Tanya sang ibu yang sontak membuat Candra terkejut.
Candra mengangguk dan memberikan kue itu kepada ibunya.
Ketika Candra melihat kembali dimana ada wajah Alisha, wajah sudah menghilang dan pergi entah kemana.
"Perasaan tadi ada Alisha, tapi kemana dia sekarang? Ah mungkin itu cuma halusinasiku" Batinnya sambil menggelengkan kepala.
"Candra, kamu terima ini ya.. Ini hadiah dari kami semua" Kata sang ayah memberikan kado ulang tahun untuk Candra.
"Apa ini pa?" Tanya Candra dengan penasaran.
"Kamu buka aja"
Candra membuka kado yang diberikan oleh ayahnya, dan di dalamnya tertulis bahwa dia akan melanjutkan bisnis ayahnya secara resmi di London. Tidak hanya itu, di dalam kotak kado itu juga terdapat pakaian kantor seperti jas, dasi, kemeja, celana kantor.
"Pa, ini apa? Masa papa mau menyerahkan bisnis papa gitu aja?" Kata Candra dengan terkejut.
"Iya Candra, papa yakin kamu bisa melanjutkan bisnis papa, karena papa lihat waktu kamu kuliah juga mendapat prestasi yang begitu baik. Jadi papa yakin kamu bisa melanjutkan bisnis papa dengan begitu baik" Kata sang ayahu dengan begitu yakin.
"Ya udah deh pa, kalau papa yakin. Aku akan melakukan apa yang papa putuskan sekarang. Tapi apa nggak ada jalan lain selain di London pa?" Candra kembali bertanya kepada ayahnya.
"Nggak ada Candra. Kamu harus melanjutkan bisnis papa di London" Jawab sang ayah memperjelas pertanyaan Candra.
"Tapi pa, sulit bagi aku buat ngelupain semua kenangan di kota ini. Mama, papa, adik, kakak, nenek, kakek, dan terutama Alisha. Sulit bagiku melupakan Alisha apalagi mengikhlaskannya"
__ADS_1
"Justru itu Candra, tujuan papa nyuruh kamu lanjutin bisnis papa di London itu agar kamu bisa melupakan Alisha. Papa nggak mau kamu terus terusan mikirin Alisha dan nggak fokus buat ngelanjutin bisnis papa" Batin sang ayah menatap Candra.
"Papa? Kok papa malah bengong sih?" Tanya Candra yang membuat sang ayah terkejut.
"Gini Candra, papa mau kamu fokus buat lanjutin bisnis papa, dan memang bisnis papa sekarang ada di London, dan itu keputusan terkahir papa. Kamu harus lanjutin bisinis papa di London, di sana itu peluangnya besar, ada banyak investor yang mau bekerja sama dengan perusahaan papa, dan iya nanti nama perusahaan akan diganti dengan nama Candra Wijaya" Kata sang ayah mencoba meyakinkan Candra.
"Tapi pa"
Perkataan Candra tidak dihiraukan oleh ayahnya.
"Nggak ada tapi tapi. Pokoknya kamu harus melakukan apa yang papa suruh, karena itu demi kebaikan kamu Candra" Kata sang ayah
"Udah udah, Candra lebih baik kamu terima keputusan papa kamu. Karena itu yang terbaik untuk kamu" Kata sang ibu menyela pembicaraan
"Ya udah deh ma" Jawab Candra pasrah.
•
•
•
•
•
Malam hari pun tiba, bintang bintang menghiasi langit langit, bulan bersinar dengan cahayanya yang terang, semakin membuat Candra merasa ragu untuk meninggalkan kota yang penuh kenangan itu. Candra melihat keindahan malam itu dari dalam kamarnya melalui jendela
"Hhhh" Candra menghela napas sebentar
"Andai kamu masih ada disini Sha, pasti kita akan menyaksikan keindahan langit ini secara bersama sama. Karena aku tahu kalau luar angkasa merupakan sesuatu yang sangat kamu sukai bahkan kamu banyak sekali mengkoleksi buku buku tentang bulan dan bintang" Gumam Candra sembari menatap langit yang dihiasi oleh bintang dan bulan itu.
Dari luar kamar Candra sang adik datang dengan membawa segelas teh hangat yang akan diberikan kepada Candra.
TOK TOK TOK
"Masuk" Kata Candra sambil melihat kearah pintu kamarnya.
Aisyah masuk ke kamar kakaknya dan menaruh gelas yang berisi teh hangat itu di meja samping kamar tidur Candra.
"Kakak, kok kakak belum tidur sih?" Tanya Aisyah.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur? Pake bawa bawa teh lagi" Kata Candra membalik pertanyaan yang diberikan Aisyah.
"Sebenarnya, aku itu bikin teh hangat ini buat nemenin aku nonton film di kamar aku, tapi aku lihat kamar kakak pintunya kebuka dan kakak berdiri, melamun, menatap langit di sana. Jadi aku samperin kakak" Jawab Aisyah.
"Oh gitu"
"Iya. Lagian ngapain sih kakak ngelamun? Mikirin pacar ya?" Tanya Aisyah mencoba menghibur Candra.
"Ih apaan sih, inget ya kakak nggak akan semudah itu melupakan Alisha, sahabat masa kecil kakak" Jawab Candra.
"Ternyata kakak masih mikirin kak Alisha, kasihan kakak pasti berat banget buat dia ngelupain kak Alisha" Batin Aisyah menatap Candra.
“Aisyah, kamu kenapa lihatin kakak kayak gitu?" Tanya Candra yang membuat Aisyah terkejut.
"Mm.. Nggak, nggak apa apa. Aku kasihan aja sama kakak setiap hari itu sedih mulu mikirin kak Alisha"
"Ya gimana mau nggak sedih Syah, kematian Alisha itu gara gara kakak. Kalau saja hari itu kakak nggak kejar dia, pasti dia nggak akan jatuh di lubang itu. Kakak nggak bisa maafin diri kakak sendiri" Jawab Candra dengan begitu menyesal.
"Kakak, udah. Semua yang sudah berlalu biarlah berlalu, kakak ikhlasin aja kak Alisha, biar dia tenang disana. Lagi pula semua yang sudah terjadi itu bukan kesalahan kakak, itu adalah kecelakaan" Kata Aisyah yang mencoba menghibur Candra.
"Iya, mulai sekarang kakak akan mencoba mengikhlaskan Alisha" Kata Candra.
"Nah gitu dong, itu baru kak Candranya Aisyah" Kata Aisyah.
__ADS_1
"Iya"
"Sekarang kakak minum teh nya ya, ini enak banget loh" Kata Aisyah sambil memberikan tehnya untuk Candra.
"Masa sih?" Kata Candra dengan nada bergurau.
"Ya iya lah"
•
•
•
•
•
Malam hari berlalu, pagi pun datang. Candra bersiap untuk menuju kampusnya, tetapi hal itu dihentikan oleh ayahnya karena dia harus pergi ke London.
"Candra, kamu mau kemana?" Tanya Sang Ayah.
"Mau ke kampus lah pa" Jawab Candra dengan santai.
"Kamu lupa ya, kalau hari ini tuh kamu harus ke London?" Tanya Sang Ayah.
Candra seketika menghentikan persiapannya untuk bergegas menuju kampus karena terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Apa? Hari ini? Bukannya masih satu bulan lagi ya aku pergi ke Londonnya?" Tanya Candra dengan terkejut.
"Memang di jadwal masih satu bulan lagi, tapi itu terlalu lama buat kamu Candra. Di London sudah banyak sekali investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan yang akan kamu kuasai. Jadi papa sudah mengubah jadwalnya menjadi hari ini jam 9 pagi nanti, dan papa sudah bicara sama mama kamu, dan dia setuju" Kata Sang Ayah secara rinci.
"Tapi pa, aku nggak bisa pergi hari ini, karena ada ujian di kampus aku"
"Kamu tenang aja kata dosen kamu, kamu nggak apa apa kalau pergi hari ini. Lagi pula kamu kan sudah S3" Kata sang ayah yang mencoba untuk membujuk Candra.
"Ya udah deh pa, kalau gitu. Sekarang Candra beres beres pakaian Candra dulu" Jawab Candra dengan tidak ikhlas.
Candra pergi ke kamarnya untuk mengemas pakaiannya yang akan dia bawa ke London. Di samping itu, sang ibu juga sudah mempersiapkan peralatan yang akan dibawa oleh Candra.
"Candra" Panggil sang ibu dengan lemah lembut.
"Iya ma? Kenapa?" Tanya Candra spontan.
"Ini mama bawain peralatan yang akan kamu bawa" Kata sang ibu sambil menyerahkan kotak peralatan itu.
Candra membuka isi kotak itu, dan tidak sengaja di dalam kotak itu terselip liontin mainan yang pernah dibuat oleh Candra bersama dengan Alisha.
"Liontin ini?" Kata Candra dengan terkejut.
Sang ibu juga terkejut, karena waktu beliau mengemasi perlatan tidak ada liontin itu.
"Candra, mama juga nggak tahu kalau ternyata ada liontin di kotak itu" Kata sang ibu.
"Mama tahukan kalau liontin ini tuh buatan Candra sama Alisha waktu dulu" Kata Candra sambi mengingat masa kecilnya bersama dengan Alisha.
"Iya mama tahu, coba sekarang mama simpan" Kata sang ibu sambil meminta liontin itu, tetapi Candra menolak.
"Nggak ma. Liontin ini begitu berharga bagiku. Aku ingat gimana Alisha bilang kalau liontin ini begitu bagus, dan dulu ini kami buat agar ketika kami berpisah masih ada kenangan berharga ini. Tapi ternyata perpisahan itu tetap terjadi" Kata Candra.
Sang ibu membelai Candra, dan menasehatinya.
"Candra, kamu harus bisa ikhlasih Alisha ya. Kita doain biar dia tenang disana" Kata sang ibu sambil membelai Candra.
"Iya ma. Walaupun itu sangat sulit"
__ADS_1
Jawab Candra. Sang ibu pun memeluk Candra dengan penuh kasih.