
Satu hari berlalu, dia hendak menuju kantornya. Tiba tiba ponselnya berdering.
KRRIIINNG KRRIINNNG
Candra pun mengangkat telepon itu, dan ternyata telepon itu dari nomor yang tak dikenal.
“Hallo?” Kata Candra.
“Hallo, papi nanti jemput aku ya.. Aku tunggu papi di teras rumah ya.. Nanti papi anterin aku ke mall” Kata orang itu. Suara orang itu adlah suara seorang wanita yang sudah tidak asing di telinga Candra.
“Maaf, ini siapa ya?” Tanya Candra dengan kebingungan.
“Ini papi kan?” Tanya wanita itu.
“Maaf, saya Candra dan saya belum punya anak” Kata Candra.
“Apa!? Bentar bentar, ini dengan nomor telepon yang berakhiran 65 bukan?” Tanya wanita itu.
“Bukan, nomor ini berakhiran 95, bukan 65” Jawab Candra menahan tawa.
“Oh My God, maaf ya saya salah sambung. Tapi bentar deh, kamu tadi nyebutnama kamu itu Candra?”
“Iya, kalau boleh tahu ini siapa ya?” Tanya Candra kembali.
“Ini saya Zafira. Sekali lagi maaf ya”
“Apa!? Zafira!? Kalau begitu kamu kenal sama aku dong. Aku Candra yang kemarin nunggu taksi sama kamu”
“Wah iya? Kebetulan sekali” Jawab Zafira.
“Oh iya, tadi kamu bilang kamu mau ke mall ya? Mau aku temenin?” Tanya Candra.
“Bukannya kamu harus kerja ya?”
“Kalau aku berangkat kerja sekarang, maka kesempatan aku buat ngetes dja apakah dia Alisha atau bukan nanti terlewat dong” Batin Candra.
“Nggak, aku hari ini masuk siang. Klien aku udah urus semua” Kata Candra meyakinkan Zafira.
“Oh gitu, tapi maaf ya.. Aku nggak terbiasa pergi dengan laki laki seoranh diri kecuali sama papi aku” Kata Zafira.
“Tapi kenapa? Kamu tanya aja ke papi kamu”
“KAMU ITU BANYAK BICARA YA?! UDAH AKU BILANG NGGAK YA NGGAK! TITIK! LAGI PULA SIAPA SIH YANG MAU PERGI SAMA ORANG YANG NGGAK AKU KENAL” Kata Zafira dengan amarah.
“Zafira, kamu kenapa? Kalau nggak mau ya santai aja dong jawabnya. Kenapa kamu tiba tiba marah gitu?” Tanya Candra.
“Gawat, jangan sampai Candra tahu kalau aku itu nggak bisa mengendalikan amarahku dan jika aku merasa sedikit kesal maka aku akan marah besar” Batin Zafira merasa cemas.
“Nggak nggak apa apa, maaf ya sekali lagi”
“Iya, tapi jawab dulu pertanyaan aku” Kata Candra meyakinkan.
“KAMU TUH EMANG NGGAK BISA DIBILANGIN! KALAU AKU NGGAK APA APA YA NGGAK APA APA! JANGAN MAKSA DONG” Teriak Zafira dengan begitu marah kemudian menutup telepon.
“Sial! Kenapa aku harus salah sambung coba! Padahalkan aku cuma pengen nelpon papi buat anterin aku ke mall” Gumam Zafira seraya menyilangkan tangan.
Zafira pergi keluar rumah dengan wajah memerah. Untung saja di luar sudah ada ayahnya yang selalu siap dalam kondisi apapun.
“Papi?” Panggil Zafira heran.
“Iya, ini memang papi. Oh iya, kamu kenapa?” Tanya sang ayah menyentuh dagu Zafira.
Ketika Zafira hendak menjawab, yiba tiba dadanya sesak dan kemudian pingsan. Dang ayah sudah tidak heran apabila Zafira mengalami hal itu, karena dia tahu bahwa Zafira memiliki penyakit sesak napas yang berlebih, dan ketika dia merasa marah maka dia akan pingsan.
“Zafira? Kamu jangan pingsan lagi” Kata sang ayah sambil menepuk pipi Zafira yang tergeletak di lantai.
Tidak menunggu lama, sang ayah langsung membawa Zafira ke kamarnya dan kemudian memanggil dokter agar segera memeriksa Zafira.
Setelah dokter datang, Zafira pun diperiksa. Setelah diperiksa, dokter memberitahu kondisi Zafira kepada ayahnya.
“Gimana dok?” Tanya sang ayah cemas.
“Kondisi Zafira sudah membaik, oh iya yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai Zafira merasa marah, sedih, atau kecewa. Atau jika tidak, nanti kondisi Zafira kembali memburuk” Jawab dokter.
“Baik dok, tapi kira kira kapan ya riwayat penyakit Zafira ini sembuh?” Sang ayah kembali bertanya.
“Kalau untuk itu, masih belum bisa dipastikan. Karena, apabila Zafira merasa marah dia akan kembali seperti itu” Jawab sang dokter.
“Oh gitu ya dok”
“Iya. Sementara itu, saya akan membuatkan obat untuk Zafira”
Setelah sang dokter membuat obat, dokter pun memberikan obatnya kepada ayah Zafira. Kemudian, dokter itu pun pergi.
Sang ayah mencoba menelpon istrinya yang belum lama bercerai.
“Hallo?” Kata sang ayah di telepon.
“Hallo, ini siapa ya?” Jawab istrinya.
“Ini aku, William” Jawab sang ayah yang bernama William.
“Kamu? Kenapa kamu nelpon aku lagi? Bukannya aku sudah memberikan Zafira untuk kamu? Apalagi yang kurang?” Tanya sang istri yang bernama Ranilia.
“Dengar, ini penting banget. Kalau bisa, kita bertemu sekarang” Kata sang ayah.
“Apa maksud kamu? Aku sibuk” Jawab sang istri tegas.
“Apa kamu bakal terus sibuk walaupun anak kamu sakit?” Tanya sang ayah.
“Memang kenapa? Apa yang terjadi dengan Zafira? Kalau kamu nggak bisa jaga dia mendingan aku aja yang merawatnya” Kata sang istri menahan amarah.
“Dengar ini sangat penting” Kata sang ayah dengan nada memaksa
“Bicara aja dari telepon” Jawab sang istri.
“Ya udah. Jadi, semenjak kita berpisah, Zafira jadi memiliki penyakit sesak napas, dan penyakit sesak napasnya ini nggak kayak orang orang yang lainnya. Jadi, akan lebih baik kalau kita untuk sementara ini bersatu” Bujuk sang ayah dengan penuh harap.
“Ya udah, aku nanti kesana. Oh iya, tapi ingat kalau aku kesana itu Cuma buat Zafira bukan yang lain, apalagi buat pengkhianat kayak kamu” Jawab sang istri dengan ketus.
Sang ayah merasa sedikit kesal setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Tapi dia harus bisa menahan rasa kesalnya itu demi Zafira.
•
•
•
•
•
TING TUNG
Bel rumah milik ayah Zafira berbunyi, sang ayah tahu jika yang menekan bel nya adalah mantan istrinya. Dia pun segera bergegas membukakan pintu untuk mantan istrinya.
“Bagus kau sudah datang, sekarang ayo masuk” Kata sang ayah.
Sang istri tidak menjawab perkataan mantan suaminya, dia hanya terfokus kepada anaknya yaitu Zafira.
Sang istri langsung pergi menuju kamar Zafira untuk melihat kondisi Zafira.
“Ya ampun Zafira, kamu kenapa sayang?” Kata sang istri kepada anaknya sembari membelai dahi Zafira yang masih pingsan diatas ranjang tidurnya.
Tidak lama setelah itu, Zafira membuka matanya perlahan, dan yang ia lihat di depannya ada ibunya.
__ADS_1
“Mami?” Kata Zafira dengan nada lemas.
“Sayang, kamu kenapa?”
Zafira duduk perlahan kemudian bersandar pada bantal yang ada di belakangnya.
“Mami ngapain disini?” Tanya Zafira dengan nada sedikit kesal.
“Apa maksud kamu Fir? Mama kesini itu mau jenguk kamu” Jawab sang ibu.
“Oh jadi mami kesini Cuma mau jenguk Zafira?”
“Iya sayang, apa lagi kalau nggak itu?”
“Apa mami nggak pengen seperti dulu lagi? Kita bertukar cerita, makan bersama, senyum bersama, dan bahagia bersama mami dan juga papi” Kata Zafira dengan menahan tangis.
“Sayang, kamu ngerti ya apa yang terjadi. Kamu pasti tahu apa alasan mami pergi ninggalin papi” Jawab sang ibu yang mencoba membujuk Zafira.
“Iya mi aku ngerti, tapi semua itu salah paham” Kata Zafira dengan begitu yakin.
“Apa maksud kamu? Udah jelas jelas waktu itu papi kamu sedang berduaan sam perempuan lain di belakang mami, jadi udah jelas mami langsung ceraikan papi kamu” Jawab sang ibu dengan nada sedikit tinggi.
Sang ayah hanya melihat dari luar kamar Zafira saja, karena mantan istrinya melarangnya masuk ke kamar bersama Zafira.
Setelah sang ibu mengatakan hal itu, Zafira pun mencoba menjawabnya, tetapi dia tidak sempat melanjutkan perkataannya karena sesak nafasnya kambuh kembali.
“Tapi mi...” Perkataan Zafira terhenti karena sesak nafasnya, dan setelah itu dia pingsan kembali.
Sang ibu merasa terkejut dan cemas melihat kondisi Zafira seperti itu. Sang ibu pun memanggil William dengan cemas.
“Zafira? Kamu kenapa sayang? Ayo bangun. WILLIAAM!! WILLIAAM!!” Panggil sang ibu dengan begitu cemas.
Sang suami pun datang dengan perasaan khawatir dan sangat cemas.
“Kenapa? Ada apa dengan Zafira?” Tanya sang suami dengan begitu cemas.
“Nggak tahu, tadi aku ngobrol sama Zafira terus tiba tiba aja dia sesak nafas lalu pingsan”
“Emangnya kamu ngomong apa?!” Tanya sang suami.
“Tadi Zafira sempat nanya kenapa kita bisa cerai, jadi aku jawab sejujurnya”
“APA!? Apa kamu tahu, kalau Zafira itu nggak boleh diberitahu sesuatu yang dapat membuat dia sedih, apalagi marah” Jawab sang suami dengan begitu marah dan cemas.
“Ya mana aku tahu. Udah, sekarang mendingan kamu telepon dokter, suruh dia kesini” Jawab sang istri.
“Iya”
Sang ayah menelepon dokter dan menyuruh dokter untuk datang ke rumahnya
Setelah dokter tiba, dia langsung memeriksa kondisi Zafira dan memberi pernyataan seperti yang suda dikatakan tadi.
“Sudah saya bilang sebelumnya, kalau Zafira itu nggak boleh merasa sedih ataupun marah. Itu bisa membuat dia sesak napaas” Ucap dokter itu.
“Baik dok, terimakasih ya..”
“Baik saya langsung pergi lagi” Jawab dokter itu, kemudian pergi.
Setelah dokter itu pergi, sang suami dengan sang istri melanjutkan pembicaraan mereka tadi.
“William, sebenarnya apa sih yang terjadi?” Tanya sang istri kesal.
“Aku juga nggak tahu. Tadi waktu aku pulang dari kantor, Zafira pingsan. Aku ngagak tahu apa penyebab pastinya. Udah deh, sekarang gini aja, nanti waktu Zafira sadar kita tanya langsung ke dia ya” Jawab sang suami meyakinkan.
“Ya udah”
Mereka semua cemas terhadap Zafira. Disisi lain, Candra kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Sebenarnya kenapa sih? Kenapa coba Zafira tutup teleponnya, padahal kan niatku baik Cuma mau antar dia. Aneh banget sih” Gumam William.
“Iya ini aku mau berangkat” Jawab Candra
Candra pun hendak pergi dengan ekspresi kebingungan, temannya melihat dia kebingungan akhirnya bertanya.
“Candra, kamu tuh ngapain sih? Dari tadi kayak orang bingung aja” Tanya Stevan penasaran.
“Oh nggak, nggak apa apa” Jawab Candra tak yakin.
“Beneran? Tapi kalau dilihat lihat sih, kamu nggak kayak biasanya. Kayaknya hari ini kamu ada masalah ya?” Stevan kembali bertanya kepada Candra.
“Nggak kok” Jawab Candra tak yakin.
“Udah jujur aja, kita ini kan udah berteman lama. Jadi kamu harus cerita ke aku” Kata Stevan meyakinkan.
Candra pun mengatakan yang sebenarnya.
“Ya udah deh. Jadi gini, aku tadi ditelepon sama Zafira”
Ketika Candra berbicara, Stevan memotong pembicaraannya begitu saja.
“APA!? Zafira? Dia kan orang yang sering kamu ceritain itu” Kata Stevan terkejut.
“Iya dengar dulu, tadi dia itu nelpon. Tapi katanya salah sambung, dia niatnya mau nelepom papinya, tapi yang kepencet nomor aku. Soalnya nomor telepon aku kan mirip sama nomor telepon papinya”
“Wah masa sih? Emang nomor papinya Zafira berapa?” Tanya Stevan.
“Nomornya berakhiran 65, sedangkan nomorku berakhiran 95” Jawab Candra.
“Terus kamu kok kebingungan gitu?”
“Iya aku bingung, soalnya aku nawarin dia yang mau ke mall bareng sama aku sekalian. Eh tapi dianya nggak mau, katanya nggak mau pergi sama orang yang nggak terlalu dekat sama dia” Jelas Candra.
“Oh jadi karena itu aja kamu merasa bingung. Kayaknya, kamu suka ya sama Zafira?” Gelak Stevan.
“Kamu, jangan asal! Aku bingung karena, dia tiba tiba marah marah, terus sesak nafas. Udah itu, teleponnya mati” Jawab Candra.
“Apa? Bentar bentar, coba kamu pikir. Masa sih ada orang marah marah terus sesak nafas terus teleponnya mati?” Stevan pun juga kebingungan.
“Iya makannya itu”
Mereka berdua berpikir, dan Stevan menemukan jawabannya.
“Candra, aku tahu” Kata Stevan mengejutkan.
“Tahu apa?”
“Jangan jangan dia pingsan?” Perkataan Stevan membuat Candra merasa bingung dan cemas.
“Apaan sih kamu, masa sih ada orang yang marah marah terus pingsan begitu saja. Ya nggak mungkin lah, nggak sesuai logika tahu” Jawab Candra kesal.
“Mungkin aja Can, mungkin aja dia punya penyakit khusus. Soalnya nih ya, dulu temen aku juga ada yang kayak Zafira Zafira itu, dan parahnya lagi temen aku meninggal setelah 1 minggu mengalami hal itu” Kata Stevan.
Perkataan Stevan tentu membuat Candra semakin takut dan kesal. Akhirnya, Candra memutuskan untuk pergi ke kantornya.
“Jangan ngaco deh kamu! Udah ah, aku mau ke kantor. Udah telat tahu nggak?!” Ucap Candra kesal, kemudian pergi.
“Ih nggak jelas banget coba.Dia yang nanya dia yang marah” Gumam Stevan.
Candra menuju halte taksi dimana dia bertemu dengan Zafira. Disana dia merasa bersalah kepada Zafira, sampai sampai dia tidak konsentrasi.
“Zafira kenapa ya? Kok dia tiba tiba marah sampai segitunya sih, padahal kan niatku baik, Cuma mau nganterin dia ke mall. Udah deh, lebih baik sekarang aku cari rumah dia, dan meminta maaf kepadanya. Tapi gimana caranya aku bisa nemuin rumahnya!” Batin Candra sembari menyangga dagu.
Dia berpikir dan terus berpikir, sampai akhirnya dia memutuskan untuk melacak rumahnya melalui nomor telepon Zafira.
“Oh iya, aku kan bisa lacak keberadaan dia melaui nomor teleponnya. Aku cek sekarang deh” Batin Candra sembari melihat handphonenya.
__ADS_1
Dia berhasil menemukan keberadaan Zafira, dan dia pun naik taksi kemudian pergi ke apartemen Zafira.
Setelah sampai di apartemen Zafira, dia memanggil Zafira dengan ekspresi gugup.
TOK TOK TOK
“Zafira? Apa kamu di rumah?” Panggil Candra.
Tiak lama setelah itu, Tuan William membuka pintu apartemen Zafira.
Tuan William tidak tahu siapa itu Candra, akhirnya dia pun mempersilahkan Candra untuk masuk ke dalam apartemen Zafira.
“Maaf, ada keperluan apa ya?” Tanya Tuan William.
“Saya Candra, dan saya adalah teman Zafira. Apa ini benar apartemen milik Zafira?” Respon Candra.
“Oh gitu, iya ini apartemen Zafira. Kalau begitu ayo masuk”
“Baik om”
Candra diantarkan oleh Tuan William menuju kamar Zafira. Melihat Zafira terbaring di atas tempat tidurnya dengan wajah pucat, Candra terkejut dan merasa cemas.
“Ya ampun, ternyata benar apa yang dibilang sama Stevan tadi! Aku jadi merasa bersalah sama Zafira” Batin Candra.
“Candra, kamu mau minum apa?” Tanya Tuan William.
“Mmm.. Nggak usah repot repot om, saya kesini mau jenguk Zafira. Oh iya om, ngomong ngomong, Zafira kenapa bisa kayak gini ya om?” Tanya Candra penasaran.
“Saya juga nggak tahu, tadi waktu saya pulang dari kantor. Tiba tiba Zafira udah kayak gini, saya juga nggak tahu apa penyebabnya” Jawab Tuan William.
Tiba tiba ketika mereka sedang berbincang, dari luar kamar datang nyonya Pretty, yaitu ibu dari Zafira.
“William, apa Zafira udah sadar?” Kata Nyonya Pretty tiba tiba.
Candra dan Tuan William melihat Nyonya Pretty, dan Nyonya Pretty pun berhenti berbicara.
“Nyonya?” Kata Candra.
“Ya, kamu siapa ya?” Tanya Nyonya Pretty.
“Saya Candra, saya kesini mau jenguk Zafira” Jawab Candra.
“Oh iya” Jawab Nyonya Pretty.
“William, aku pergi dulu. Nanti kalau Zafira udah sadar kabarin aku” Kata Nyonya Pretty dengan nada ketus.
“Tapi nggak bisa gitu dong” Jawab Tuan William pelan.
Nyonya Pretty tidak menghiraukan perkataan Tuan William, dia pergi beti saja.
Candra merasa bingung kenapa Nyonya Pretty pergi begitu saja.
“Kenapa Nyonya Pretty pergi gitu aja ya? Apa ini karena kehadiranku?” Batin Candra penasaran.
Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada Tuan William.
“Tuan William, maaf sebelumnya. Nyonya Pretty kenapa pergi gitu aja ya? Apa mungkin ini karena kehadiran Candra?” Tanya Candra.
Tuan William mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi gini. Nyonya Pretty itu dulu istri saya, tapi karena kesalahpahaman akhirnya kami berpisah. Karena perpisahan itu, Zafira harus menanggung semuanya salah satunya ya penyakit ini” Jelas Tuan William.
Candra terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tuan William.
“Oh ternyata gitu om. Kalau saran Candra ya om, lebih baik om perbaiki lagi hubungannya dengan Nyonya Pretty”
“Maksud kamu apa?” Tanya Tuan William penasaran.
“Maaf ya Tuan William. Maksud saya, lebih baik om kasih tahu yang sebenarnya kepada Nyonya Pretty”.
“Keinginan saya juga gitu, tapi apa boleh buat. Dia aja nggak mau dengar penjelasan saya” Jawab Tuan William seraya menyilangkan tangannya.
“Oh gitu ya. Gimana kalau saya bantu om buat memperbaiki semuanya?” Tanya Candra.
Tuan William berpikir sejenak, dan pada akhirnya dia menolak saran Candra.
“ Terima kasih atas bantuan dan sarannya ya Candra. Tapi, lebih baik kamu nggak usah ikut campur urusan keluarga saya, karena saya takut kamu bakal kena masalah” Jawab Tuan William.
“Oh ya udah om”
Tidak lama kemudian, terdengar suara Zafira yang mulai sadar dan memanggil ayahnya.
“Papi” Panggil Zafira lemas.
Sang ayah merasa terkejut dan senang, beliau langsung menghampiri tempat tidur Zafira.
“Zafira, kamu udah sadar sayang?” Kata sang ayah dengan senang.
Sang ayah hendak menelepon mantan istrinya, tetapi hal itu dihentikan oleh Zafira.
“Bentar papi telepon mami kamu dulu ya” Kata sang ayah sambil mengambil ponselnya.
Zafira menahan tangan ayahnya.
“Jangan pi” Kata Zafira.
“Tapi kenapa Zafira?” Tanya sang ayah keheranan.
“Aku nggak mau mami kesini” Jawab Zafira bulat.
“Zafira, kamu baik baik aja?” Tanya Candra tiba tiba.
“Kamu? Kamu bukannya orang yang tadi aku telepon tapi salah sambung ya?” Tanya Zafira.
Candra mengangguk iya.
“Kamu kok bisa ada di sini sih?” Tanya Zafita terkejut.
Tuan William terkejut karena ternyata Zafira dengan Candra sudah saling mengenal.
“Loh, kalian udah saling kenal?” Tanya Tuan William terkejut.
“Iya pi, dulu kita ketemu di bandara. Dulu sih dia baik banget, tapi semakin kesini dia semakin nyebelin”
“Maksud kamu apa Fir?” Tanya Candra heran.
“Iya, kalau bukan karena kamu. Aku nggak akan kayak gini” Jawab Zafira dengan nada ketus.
“Zafira, kamu tuh nggak seharusnya ngomong kayak gitu” Kata sang ayah.
“Mau gimana lagi pi, dia maksa maksa aku buat ke mall sama dia. Aku kan udah bilang nggak mau” Jawab Zafira dengan kesal.
“Maksud aku kan baik Fir, aku mau nganter kamu” Kata Candra
“Aku tahu, tapi aku udah bilang nggak mau. Bahkan sampai aku ngotot pun kamu tetep aja maksa aku” Jawab Zafira.
“Apa? Jadi ini semua gara gara kamu Candra?” Tanya Tuan William tiba tiba.
“Om, dengar dulu penjelasan saya” Kata Candra memohon.
“Nggak, sekarang kamu cepat keluar dari apartemen ini” Kata Tuan William seraya menarik tangan Candra.
“Baik om, saya akan keluar dari sini. Tapi ingat, kalau Zafira nanti mencari saya, saya nggak akan datang lagi untuk menolongnya” Kata Candra tegas.
Candra kemudian pergi menahan amarah.
__ADS_1
“PD amat!” Gumam Zafira.