
Satu hari itu berlalu, Zafira dan Candra telah saling menyatakan perasaan cinta mereka. Kini Candra harus menepati janjinya kepada teman temannya yaitu mentraktir semua temannya di kafe daerah sana.
“Stevan cepet kesini dong, kamu udah aku tunggu di kafe nih. Padahal kita satu apartemen tapi kamu selalu aja telat” Kata Candra melalui telepon.
“Iya iya bentar, ini juga lagi jalan. Tahu nggak disini tuh macet”
“Iya udah cepetan, aku sama yang lainnya udah nunggu nih” Kata Candra memaksa.
“Iya iya”
Tak lama kemudian, Stevan sampai di kafe itu. Candra dan teman temannya sudah menunggunya.
“Akhirnya sampai juga nih Stevan” Kata salah satu teman Candra yang bernama Willy.
“Iya iya maaf” Kata Stevan.
“Ya udah, sekarang ayo kita masuk. Nanti, aku kasih tahu siapa orang yang aku cintai” Kata Candra.
Ketika mereka hendak masuk, Candra terhenti karena dia melihat Zafira yang hendak menyebrangi jalan raya yang penuh dengan kendaraan.
Candra melihat hal itu merasa cemas dan khawatir akan terjadi sesuatu terhadap Zafira, dan itu benar saja Zafira nyaris tertabrak mobil yang melaju begitu kencang, untungnya Candra tepat waktu dalam menyelamatkannya.
“ZAFIRA AWASS!!” Teriak Candra histeris kemudian menyelamatkan Zafira.
“AAAAA!!!!!” Teriak Zafira histeris.
Mereka berdua berhasil selamat dari mobil yang nyaris menabrak Zafira.
Teman teman Candra juga menghampiri mereka berdua untuk melihat kondisi Zafira dan Candra.
“Zafira, kamu nggak apa apa?” Tanya Candra.
“A..Aku nggak apa apa. Kamu sendiri gimana?” Tanya Zafira kembali.
“Aku baik baik aja”
“Candra, untung aja kamu tepat waktu. Kalau nggak, udah deh, abiss semua” Kata Stevan.
“Iya”
“Udah udah, sekarang gimana? Kalian berdua nggak apa apa kan?” Tanya Alex.
“Iya nggak apa apa” Jawab Candra dan Zafira.
Tidak lama setelah kejadian itu, Zafira merasakan pusing dan seluruh kondisi di sampingnya terasa berputar. Dia pun pingsan.
“Zafira? Zafira? Kamu kenapa?” Tanya Candra sembari menepuk nepuk pipinya.
“Can, kita bawa dia ke UGD terdekat aja ya” Kata Stevan dengan cemas.
Candra mengangguk iya.
Mereka membawa Zafira ke UGD terdekat, di sana dia mendapat pertolongan pertama dari dokter.
“Dok, gimana keadaan Zafira?” Tanya Candra dengan begitu cemas.
“Keadaan Zafira untuk saat ini masih belum stabil. Dia mengalami syok yang begitu berat karena kecelakaan yang hampir saja menimpanya, untung saja kalian semua sigap dalam membawa Zafira k sini” Jelas dokter itu.
“Ya udah dok, pokoknya saya mau yang terbaik untuk Zafira. Lakukan apa saja ya dok” Kata Candra.
“Iya, kami akan berusaha”
“Baik dok, makasih ya” Kata Candra.
“Iya sama sama” Jawab dokter itu kemudian pergi.
“Candra, kamu yang sabar ya” Kata Stevan.
“Iya”
“Jadi, itu Can orang yang kamu cintai? Dia cantik ya” Kata Willy.
“Willy, udah tahu kondisinya kayak gini malah bercanda lagi” Kata Alex yang menyela pembicaraan.
“Nggak apa apa kok” Kata Candra.
Setelah 30 menit, akhirnya Zafira tersadar, dia membuka matanya perlahan dan di depannya sudah ada ayahnya yakni Tuan William.
“Papi?” Kata Zafira lemas.
“Fir, kamu baik baik aja?” Tanya Tuan William dengan begitu cemas.
“Iya pi, aku baik baik aja” Jawab Zafira.
“Iya bagus deh. Oh iya tadi yang bawa kamu kesini tuh Candra dan teman temannya, mereka juga yang ngasih tahu papi”
“Oh ya? Dimana Candra sekarang? Candra? Candra? Kamu dimana? “ Panggil Zafira.
“Sayanh sayang, bentar kamu tunggu disini aja ya. Biar, papi aja yang panggil Candra” Kata Tuan William.
“Oh iya pi, tapi panggilnya Candra aja ya pi. Teman temannya nggak perlu diajak masuk kesini” Kata Zafira.
“Iya”
Tuan William memanggil Candra dan Candra pun masuk ke ruang rawat Zafira sendiri.
“Zafira kamu baik baik aja? Ada yang sakit nggak? Atau mungkin kamu pusing?” Tanya Candra dengan begitu cemas.
“Aku baik baik aja Candra, kamu nggak usah cemas. Lagi pula ini juga luka kecil, kalau kecil kan nggak perlu dibesar besarkan” Kata Zafira.
Perkataan Zafira membuat Candra terkejut dan kembali teringat kepada sahabat masa kecilnya yakni Alisha, karena perkataan yang diucapkan Zafira sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Alisha dulu.
“Kenapa Candra? Kok bengong?” Tanya Zafira dengan polos.
“M.. Ng.. Nggak, nggak apa apa” Jawab Candra.
“Ah bohong, aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu” Kata Zafira.
“Ya udah aku ngaku. Jadi sebenarnya aku kembali teringat sama Alisha. Karena perkataan yang kamu ucapin tadi sama persis dengan perkataan yang pernah dikatakan Alisha dulu” Jelas Candra.
“Oh ya? Tapi aku penasaran deh, kamu udah dua kali loh bilang kalau aku itu begitu mirip sama Alisha bahkan lebih dari dua kali. Pertama di bandara, kedua di pesawat, ketiga di taman, dan keempat di sini”
“Iya, aku juga nggak tahu sayang” Jawab Candra.
Zafira dan Candra berpikir sejenak.
“Oh iya, aku tuh penasaran, kenapa kamu tadi nekat nyebrang kayak gitu? Bahaya tahu” Kata Candra.
“Iya aku tadi udah ada janji dan aku buru buru sampai sampai aku nggak merhatiin jalan” Jawab Zafira.
“Makannya lain kali tuh hati hati, kan kamu tadi bisa minta tolong sama aku buat nyebrangin kamu” Kata Candra.
“Aku aja nggak tahu kalau kamu ada di kafe itu”
“Ya udah deh sekarang yang penting kamu baik baik aja” Kata Candra dengan lega.
Sementara itu, salah satu teman Zafira yang bernama Amira tiba tiba saja masuk ke ruang rawat Zafira.
“Zafira? Zafira? Kamu gimana keadaannya?” Tanya Amira dengan begitu khawatir.
“Amira?” Kata Zafira kemudian memeluk Amira.
“Iya, gimana keadaan kamu sekarang?” Tanya Amira kembali.
“Aku baik baik aja. Oh ya ngomong ngomong, kamu tahu dari mana kalau aku ada disini?” Tanya Zafira dengan penasaran.
“Aku tahu, soalnya tadi temannya Candra yaitu Alex nelpon aku katanya kamu pingsan dan di bawa ke sini. Jadi ya udah aku jenguk kamu”
“Mm Candra, kamu bisa keluar dulu nggak? Aku mau ngobrol ngobrol dulu sama Amira” Kata Zafira kepada Candra.
Candra pun menuruti apa yang diminta oleh Zafira.
“Amira jadi tadi aku hampir ketabrak mobil waktu aku mau ke kafe”
“Ya ampun, kamu tuh ya ada ada aja. Udah tahu ada mobil yang melaju dengan kecepatan yang besar, eh kamu malah nekat nyebrang” Kata Amira dengan cemas.
“Ya namanya juga buru buru, aku takutnya kamu nungguin aku”
“Ya maaf ya kalau aku bikin kamu jadi buru buru. Udah sekarang kamu istirahat dulu ya, jangan lupa makan makanan yang dikasih sama dokternya” Kata Amira.
“Iya Amira”
“Ya udah sekarang aku pulang dulu ya, mungkin lain kali aja kita bisa ngobrol soal kantor. Kan sekarang kondisi kamu masih kayak gini” Jelas Amira kemudian pergi.
“Iya”
•
•
•
•
•
Malam hari tiba, kini saatnya untuk Zafira beristirahat dan tidur setelah kecelakaan yang nyaris menimpanya. Kini dia harus tidur di ranjang UGD dan bukan di tempat tidurnya yang nyaman di apartemennya dengan di temani oleh ayahnya.
Tetapi, ketika dia hendak memejamkan matanya sang ibu datang untuk menjenguk kondisinya.
“Zafira?” Panggil Nyonya Pretty.
“Mama? Mama kenapa disini?” Tanya Zafira dengan nada sedikit kesal.
“Tadi mama dapet kabar kalau kamu hampir aja ketabrak mobil” Jelas Nyonya Pretty.
“Aku sekarang udah baik baik aja kok ma. Oh ya, mama dapet kabar darimana emangnya?” Tanya Zafira penasaran.
“Baguslah kalau gitu, tadi mama dapet kabar dari berita yang tersebar di status whatsapp mama. Kan mama punya teman yang rumahnya dekat kafe itu, dia mengupload kabar kalau kamu nyaris tertimpa kecelakaan” Jelas Nyonya Pretty.
“Oh gitu. Ya udah ma, sekarang aku tidur, dan ya mama jangan bangunin papa dulu, soalnya kasihan dia tadi nggak istirahat karena jagain Zafira”
“Iya, kamu tenang aja. Lagian mama mau langsung pulang sekarang karena ada pekerjaan penting”
“Ya udah ma”
“Mama pergi dulu ya”
“Iya ma. Hati hati” Jawab Zafira.
Sang ibu merasa tersentuh dengan kata kata Zafira.
“Ini baru pertama kalinya Zafira ngucapin hati hati sama aku setelah sekian lama. Aku harap, Zafira bisa maafin aku karena aku udah nggak percaya sama William” Batin Nyonya Pretty.
“Ma? Kok malah bengong?”
“Mm.. Nggak, ini mama mau pergi. Da sayang”
“Da ma” Jawab Zafira kemudian tidur.
Keesokan hari tiba, Zafira sudah diperbolehkan pulang dari UGD.
“Gimana dok? Apa Zafira udah boleh pulang?” Tanya Tuan William.
“Udah, dan ini obat yang harus diminum oleh Zafira selama 3 hari” Kata dokter seraya memberikan obat itu.
“Oh baik dok, terimakasih banyak” Kata Tuan William dan kemudian pergi.
“Zafira, kamu udah boleh pulang kata dokter”
“Syukurlah”
Mereka segera mengemas barang barang mereka dan kembali ke apartemen Zafira.
Setelah sampai di apartemen, Zafira langsung menghubungi Candra untuk memberitahunya bahwa dia sudah kembali ke apartemennya.
“Papi, aku mau telpon Candra dulu ya? aku mau ngasih tahu kalau aku udah di apartemen”
Ucap Zafira.
“Iya kamu kasih tahu dia” Jawab Tuan William.
“Candra?” Kata Zafira.
“Iya Zafira? Kenapa? Kamu ada keluhan?” Tanya Candra dari telepon dengan penuh perhatian.
“Nggak, aku baik baik aja kok. Justru aku mau ngasih tahu kalau aku udah kembali ke apartemen aku” Kata Zafira.
“Yang bener?”
“Iya Candraaa” Jawab Zafira seraya tersenyum.
“Syukurlah. Ya udah, sekarang aku ke apartemen kamu ya?”
“Ngapain?” Tanya Zafira.
“Ya mau lihat kondisi kamu sekarang lah” Jawab Candra dengan semangat.
“Ya ampun kamu nggak perlu repot repot” Ucap Zafira.
“Udah kamu tenang aja. Lagian aku mau ngasih kamu kejutan”
“Oh ya? Kejutan apa?” Tanya Zafira dengan penasaran.
“Kalau aku kasih tahu sekarang ya namanya bukan kejutan dong. Udah deh, kamu pasti suka nantinya” Kata Candra dengan penuh percaya diri.
Zafira tertawa sejenak.
“Haha, apaan sih. Ya udah hati hati di jalan ya” Kata Zafira.
“Iya Zafira sayang” Ucap Candra dengan percaya diri.
“Ih apaan sih?” Kata Zafira sambil menahan tawa kemudian menutup teleponnya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Candra sampai di apartemen Zafira.
“Zafira, ini ada Candra” Kata Tuan William dari luar kamar Zafira yang pintunya tertutup.
“Oh iya pi, sebentar” Jawab Zafira lalu keluar kamar.
“Mana pi Candranya?” Tanya Zafira penasaran.
“Ayo ikut papi” Ajak Tuan William kemudian pergi menghampiri Candra.
Di ruang tamu, Candra sudah duduk menunggu Zafira.
“Candra. Ini Zafira, kalian ngobrol dulu ya. Saya masih ada kerjaan kantor” Ucap Tuan William.
“Oh iya om. Nggak apa apa” Jawab Candra sembari berdiri.
Tuan William pergi, dan Zafira pun mengobrol dengan Candra.
“Katakan, ada apa kamu kesini Candra?” Tanya Zafira.
“Ya ampun aku kan udah bilang aku mau kasih kejutan buat kamu” Kata Candra sambil tersenyum.
“Apa dong kejutannya?” Tanya Zafira penasaran.
“Coba tebak dulu deh” Kata Candra.
“Mmm.. Lipstik?” Tanya Zafira dengan polos.
“Bukan” Jawab Candra.
“Eyeshadow?”
Candra menggelengkan kepala.
“Apa ah, susah banget” Kata Zafira.
“Ayo dong tebak lagi. Nggak seru kalau nggak gitu”
“Mungkin... Blushon?”
“Ya ampun, emang ya yang ada dipikiran perempuan tuh make up doang” Gurau Candra.
“Iya terus apa? Lagian kamu nggak mau ngasih tahu sih” Kata Zafira.
“Ya udah aku kasih tahu deh”
“Nah gitu dong” Ucap Zafira senang.
“Tapi ada syaratnya” Kata Candra.
“Ya ampun apa lagi?!” Tanya Zafira yang sudah mulai kesal dengan syarat Candra.
“Kamu tutup mata dulu dan jangan dibuka sebelum aku minta” Kata Candra.
“Ya udah iya” Jawab Zafira lalu menutup matanya.
Candra memasangkan kalung di leher Zafira dan memasangkan juga gelang di tangan Zafira. Setelah itu Candra meminta Zafira untuk membuka matanya.
“Udah kamu buka mata kamu sekarang” Kata Candra.
Zafira pun membuka matanya perlahan, dan dia merasa terkejut sekaligus senang dengan apa yang diberikan oleh Candra.
“Ya ampun Candra. Ini tuh bagus bangeeett!!! Berliannya besar banget lagi” Ucap Zafira dengan begitu bahagia.
“Iya dong, bagus. Siapa dulu yang milihin” Gurau Candra.
“Mmm, iya.. Makasih banyak ya Can. Oh iya pasti ini mahal banget kan?” Tanya Zafira.
“Apa sih yang nggak buat kamu. Aku bakal lakuin apa pun untuk kamu”
“Iya, makasih ya” Kata Zafira.
“Iya sama sama. Tapi Fir, aku mau ngomong sesuatu juga boleh nggak?”
“Ngomong aja” Jawab Zafira polos.
“Aku berniat untuk bertunangan sama kamu. Kamu mau nggak terima pertunangan ini?” Tanya Candra dengan nada tak yakin.
Zafira merasa terkejut dengan perkataan Candra.
“Apa? Tunangan?”
“Iya, aku ini udah cinta banget sama kamu, dan aku mau hubungan kita lebih dekat lagi”
“Aku nggak bisa jawab sekarang. Aku harus tanya dulu sama papi aku” Ucap Zafira.
Candra menunduk kemudian berkata..
“Ya udah, aku tunggu jawaban kamu besok pagi ya. Kita bicara lewat telepon aja” Jawab Candra.
“Iya”
Setelah itu Candra berpamitan dan pulang ke apartemennya.
•
•
•
•
•
Malam hari tiba. Disaat makan malam, Zafira menceritakan apa yang dikatakan oleh Candra tadi siang.
“Papi” Panggil Zafira.
“Iya ada apa?” Tanya Tuan William.
“Aku mau ngomong sesuatu” Ucap Zafira.
“Ngomong aja”
“Papi, setuju nggak kalau aku tunangan sama Candra?” Tanya Zafira dengan nada tidak yakin.
Seketika Tuan William menghentikan makannya.
“Apa? Tunangan? Kapan?”
“Aku tanya dulu sama papi, apa papi setuju?” Tanya Zafira kembali.
“Papi sebenarnya setuju aja. Lagi pula Candra itu baik banget, tinggal kamu aja setuju apa nggak” Jawab Tuan William dengan santai.
Zafira tersenyum manis lalu melanjutkan makan malamnya bersama dengan ayahnya.
•
•
•
•
•
Pagi hari tiba, Zafira yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung disambut dengan telepon yang berdering begitu keras.
KRRRIIINNNG KRRIIINNG suara telepon itu begitu memecah keheningan pagi itu.
“Aduh, siapa sih yang telepon pagi lagi gini?” Gumam Zafira dengan lemas.
“Hallo? Siapa sih? Ganggu tidur orang aja”
“Fir, apa maksud kamu? Ini aku Candra” Kata Candra dari telepon.
“Ya ampun? Candra? Ternyata ini kamu?”
“Ya iya lah, siapa lagi. Aku mau nagih janji kamu” Ucap Candra.
“Janji apa?” Tanya Zafira polos.
“Jangan pura pura lupa deh. Katanya kamu mau ngasih jawabannya pagi ini” Ucap Candra.
“Oh janji itu. Ya udah iya, aku setuju” Jawab Zafira.
“Hah? Beneran? Yessss!!!” Kata Candra dengan begitu bahagia.
“Senang banget ya” Ucap Zafira.
“Ya iya dong, nanti pulang kerja aku langsung ke apartemen kamu ya? Kira kira jam 9 an lah”
“Cepet banget?” Kata Zafira heran.
“Udah kamu tenang aja, nanti aku sutuh sekertaris aku buat ngurus semuanya. Lagian hari ini nggak ada meeting kok”
“Oh ya udah. Sekarang aku tutup teleponnya ya?” Kata Zafira.
“Iya” Jawab Candra lalu Zafira menutup teleponnya.
Candra kemudian pergi ke kantor untuk melaksanakan pekerjaannya, disana dia sudah disambut dengan pertengkaran antara Stevan dengan Alexaria. Mereka saling menuduh, melihat hal itu Candra langsung menghampiri mereka lau bertanya tentang apa yang sedang terjadi.
“Hei hei hei! Kalian ini kenapa sih? Bikin keributan disini!” Kata Candra dengan marah.
“Candra, dia ini ternyata udah ngerencanain buat ngehancurin perusahaan kamu!” Jawab Candra dengan yakin.
“Apaan sih? Kamu jangan nuduh aku kayak gitu ya!” Ucap Alexaria memotong pembicaraan.
“Ehh udah udah udah! Stevan, kamu punya buktinya?” Ucap Candra kesal.
“Aku tadi dengar sendiri Can. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa cek CCTV yang ada di kantor ini. Aku tadi dengar kalau dia ini lagi telponan terus ngomong kalau bentar lagi dia bakal mencapai tujuannya itu yaitu menghancurkan perusahaan kamu Can” Jelas Stevan.
Alexaria tidak bisa berkata kata, dia terlihat panik tidak karuan.
“Ya udah, kamu tadi di lantai mana?” Tanya Candra.
“Aku tadi di lantai 2, tepatnya di depan lift” Jawab Stevan.
“Ya udah sekarang kita kesana buat nge cek CCTV” Kata Candra.
“Iya. Ayo, kamu ikut kami” Kata Stevan sambil menarik tangan Alexaria dengan paksa.
“Aku nggak mau ih!” Ucap Alexaria sambil berusaha melepas tangannya yang ditarik oleh Stevan.
Mereka bertiga menuju ruang CCTV, dan di sana mereka melihat hasil rekaman CCTV nya.
“Gimana pak? Ada?” Tanya Candra kepada petugas CCTV.
Petugas CCTV itu memeriksa secara rinci, tetapi CCTV yang berada di lantai dua tiba tiba sara rusak sehingga menyebabkan bukti bukti tersebut masih belum pasti.
“Pak Candra, maaf tapi, CCTV yang ada di lantai dua ini rusak pak.. Jadi, kita nggak bisa melihat apapun disini” Ucap petugas CCTV tersebut dengan kecewa.
“Loh bagaimana bisa sih? Nggak mungkin! Pasti ini semua settingan” Ucap Stevam geram.
“Udahlah Stevan, kamu nggak usah ngotot mau nyalahin aku!” Kata Alexaria dengan nada ketus.
“Stevan, apa kamu yakin pelakunya Alexaria?” Tanya Candra.
“Yakin banget Can”
“Tapi, buktinya masih belum pasti. Jadi, terpaksa kita harus menunggu smapai CCTV nya kembali berfungsi” Kata Candra kemudian pergi.
Alexaria juga demikian, dia pergi meninggalkan Stevan, dan ketika di luar Alexaria membatin sesuatu.
“Stevan, Stevan. Emang kamu pikir aku ini bodoh apa sampai sampai kamu ngecek CCTV. Kalau masalah CCTV sih, pasti paling pertama aku urus. Sekarang kamu adalah sasaran keduaku sesudah Candra. Lihat aja, apa yang bakalan aku lakuin sama kamu Stevan” Batin Alexaria sambil terus berjalan.
Disisi lain, Candra juga sedang bingung memikirkan masalah perusahaannya.
“Pak,maaf” Kata salah satu pegawai kantornya.
“Ada apa? Kenapa kamu tiba minta maaf?” Tanya Candra penasaran.
“Keuangan di kantor kita ini semakin memburuk pak, sejak beberapa minggu lalu” Ucap pegawai itu.
“Kok bisa sih? Perasaan dulu itu baik baik aja, tapi kenapa sekarang bisa seperti itu?”
“Maaf pak, saya nggak tahu masalah itu. Tapi yang saya tahu, perusahaan ini mengalami kemunduran setelah melakukan kerja sama dengan PT. WALLIRAYA”
Candra merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pegawainya itu, karena dia tidak pernah ada hubungan perusahaan dengan PT. WALLIRAYA.
“Apa kamu bilang? PT. WALLIRAYA?” Tanya Candra heran.
Pegawai itu mengangguk.
“Kamu kata siapa? Saya itu nggak pernah berhubungan dengan perusahaan itu. Bahkan saya baru pertama kalinya mendengar ada perusahaan yang namanya itu”
“Maaf pak, saya waktu itu diberi tahu oleh Alexaria bahwa bapak ada meeting dengan perusahaan WALLIRAYA, dan dia meminta saya untuk mencatat laporan keuangan setelahnya” Jelas pegawai itu.
Candra berpikir sejenak, kemudian menuruh pegawainya itu untuk keluar dari ruangannya.
“Ya udah, sekarang kamu lanjutkan aja pekerjaan kamu ya” Kata Candra.
“Baik pak. Saya permisi” Jawab pegawai itu kemudian pergi.
Setelah pegawai itu pergi, Candra memikirkan tentang PT. WALLIRAYA.
“Kenapa akir akhir akhir ini, banyak yang terjadi ya di perusahaan aku, dan tadi pegawai itu bilang klau Alexaria yang mengatakan soal meeting ku sama PT. WALLIRAYA, perusahaan yang bahkan belum aku kenal. Apa jangan jangan yang dibilang sama Stevan itu benar ya? Aku harus nyelidikin semuanya” Batin Candra seraya mengerutkan dahinya.
Tiba tiba saja, Stevan datang dengan perasaan kesal.
“Candra” Panggil Stevan.
“Stevan? Kamu kenapa datang sambil marah gitu?” Tanya Candra heran.
“Can, aku tuh tadi ngomong yang sebenarnya. Masa kamu nggak percaya sih? Padahal aku sendiri yang dengar percakapan Alexaria sama seseorang di telepon” Jelas Stevan dengan kesal.
“Stevan, dengar. Aku bukan nggak percaya sama kamu, tapi kita harus tahu kondisi dong, biar Alexaria nggak curiga kalau kita berdua bekerja sama”
“Iya Can, tapi...”
Perkataan Stevan disela oleh Candra.
“Udah, kamu tenang aja. Aku percaya kok” Ucap Candra.
Disisi lain, Alexaria menyeret pegawai yang tadi berbicara dengan Candra secara kasar kemudian memarahinya.
“Aduh kamu kenapa sih?” Tanya pegawai itu.
“Kamu ini nggak usah sok polos ya!” Ucap Alexaria dengan nada ketus.
“Apa maksud kamu? Aku nggak ngerti apa apa!” Jawab pegawai itu.
“Apa maksud kamu menceritakan semua itu kepada Candra?”
“Menceritakan apa?”
“Soal kalau aku bilang ke kamu bahwa Candra meeting sama PT. WALLIRAYA” Kata Alexaria.
“Oh itu, ya aku Cuma ngejalanin tugas aku sebagai manager keuangan. Lagian kenapa sih kamu pakai marah marah gitu?”
“Halah nggak usah banyak alesan deh. Ingat! Kalau sekali lagi kamu nyebut nama aku di antara percakapan kamu sama Candra lihat aja, aku bakal memastikan kalau kamu bakalan menderita!” Ancam Alexaria kemudian pergi.
“Kenapa sih sama Alexaria? Aku harus bilang soal ini ke Candra sekarang juga” Gumam pegawai itu.
Pegawai itu segera menuju ke ruangan Candra, dan menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
“Pak Candra” Panggil pegawai itu dengan ketakutan.
“Ada apa Alousia? Kenapa kamu ketakutan begitu?” Tanya Candra kepada pegawai itu yang ternyata bernama Alousia.
“Pak, Alexaria, Alexaria” Kata Alousia dengan begitu ketakutan.
“Alexaria kenapa?”
“Dia, dia.. Dia mengancamku! Katanya aku nggak boleh menceritakan apapun soal dia kepada bapak” Kata Alousia.
“Ya udah, sekarang kamu tenang, dan kembali ke ruanganmu sekarang ya”
“Baik pak” Jawab Alousia kemudian pergi.
•
•
__ADS_1
•
•
•
Malam hari tiba, Candra bergegas menuju apartemen Zafira. Disana mereka merencanakan soal pertunangan mereka.
“Candra, jadi gimana? Perencanaan pertunangan kita?” Tanya Zafira.
“Bentar, papi kamu mana?”
“Ada, bentar aku panggil dulu” Jawab Zafira kemudian memanggil Tuan William, dan setelah itu mereka membicarakannya bersama sama.
“Gimana, Candra kamu udah atur semuanya?” Tanya Tuan William.
“Aku udah atur om, dan saya pikir gimana kalau pertunangannya kita selenggarakan minggu depan?” Tanya Candra.
“Oke, saya setuju. Zafira gimana setuju nggak?” Tanya Tuan William.
“aku, setuju pi” Jawab Zafira.
“Bagus deh kalau gitu. Oh ya Candra, orang tua kamu dimana? Harusnya kan kita merencanakan ini secara bersama sama supaya nanti kita tahu apa orang tua kamu setuju atau nggak”
“Oh iya, saya hampir lupa. Sebenarnya, orang tua saya berada di Indonesia. Saya di London karena harus meneruskan bisnis papa saya” Jelas Candra.
“Oh gitu, sebenarnya nggak masalah sih, tapi apa mereka setuju?”
“Om tenang aja, mereka berdua pasti setuju kok sama pilihan Candra sendiri, karena pilihan Candra itu selalu tepat” Jawab Candra sambil melirik Zafira.
“Oh iya, bagus kalau gitu”
“Bqik om, sekarang saya pulang dulu ya” Kata Candra.
“Baik”
“Hati hati Candra” Kata Zafira.
Candra mengangguk lalu pergi.
Sesampainya di apartemen, Candra langsung menelpon keluarganya yang ada di Indonesia.
“Hallo?” Kata ibu Candra dari telepon.
“Hallo ma?” Tanya Candra.
“Candra? Ya ampun sayang?” Kata Ibu Candra dari telepon, mendengar sang ibu sedang berbicara dengan Candra melalui telepon, seluruh keluarga berkumpul untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“Iya ma, aku mau ngomomg sesuatu” Kata Candra.
“Sebentar, sebelum kamu ngomong, mama mau tanya. Kenapa kamu nggak pernah telepon kami semua?”
“Hehe, maaf ma. Tapi barang yang aku kirim selalu datang tepat waktu kan ma?” Tanya Candra.
“Iya, tapi walaupun gitu kami sangat merindukan suaramu sayang” Kata sang ibu.
“Iya ma. Sekarang aku mau ngomong sesuatu yang begitu penting sama mama”
“Ayo sekarang ngomong aja”
“Aku, minggu depan akan bertunangan sama wanita pilihanku ma, dan aku mau mama hadir saat acara pertunangan aku” Jelas Candra.
Sang ibu dan seluruh keluarga Candra begitu bahagia mendengar Candra akan bertunangan seseorang, karena itu artinya Candra sudah berhasil melupakan Alisha.
“Haa?? Benarkah?”
“Iya ma”
“Apa kakak akan bertunangan?” Tanya sang adik.
“Aisyah? Ya ampun kakak rindu banget sama kamu” Ucap Candra bahagia.
“Iya kak, aku juga rindu sama kakak. Oh iya, tadi katanya kakak mau bertuangan apa iya? Sama siapa kakak bertunangan?”
“Sama seorang wanita yang cantik, baik, pinter, penyayang, lembut pokoknya masih banyak hal istimewa darinya” Kata Candra.
“Haaaa ya ampun kakak ini pinter banget ya milih wanita”
“Pasti dong. Oh iya, nanti kalian semua datang ya ke acara pertunangan kami” Ucap Candra.
“Iya kak, kami inginnya begitu, tapi biaya kesana itu mahal apalagi keluarga kita kan ya lumayan banyak ya. Ada aku, mama, papa, nenek”
“Udah, kalian tenang aja. Soal biaya biar kak Candra yang mengurus. Jadi kalian tinggal mengemas barang yang akan kalian bawa ke London, dan apartemen kalian bisa tinggal di apartemen kakak” Jelas Candra.
“Wah Candra, kamu baik banget” Kata sang ibu yang tiba tiba menyela pembicaraan Candra dan adiknya di telpon.
“Hehe iya ma, ini kan udah kewajiban Candra. Ya udah, besok pagi kalian pergi ke bandara, nah habis itu kalau udah sampai di bandara yang ada di London, biar Candra jemput kalian semua”
“Iya Candra. Ya udah, mama tutup teleponnya ya?”
“Iya ma. Selamat malam” Kata Candra.
“Malam juga” Jawab sang ibu.
Keesokan pagi tiba, seluruh keluarga Candra yang ada di Indonesia bergegas menuju bandara.
“Hei ayo cepat, kita hampir telat nih” Kata sang nenek.
“Iya nenek ini udah selesai semua kok, kita tinggal pergi ke bandara” Kata sang adik yang sibuk dengan fashionnya.
“Supir ayo antar kami berangkat bersama” Kata sang ibu.
“Baik nyonya” Jawab supir.
Mereka semua berangjat ke bandara. Disisi lain, Candra mengajak Zafira untuk membeli cincin pertunangan sekaligus berbelanja gaun yang akan dikenakan oleh Zafira saat acara pertunangan mereka nanti.
“Zafira, ayo kita pergi sekarang” Ajak Candra di depan apartemen Zafira.
“Iya, ayo. Papi, aku berangkat dulu ya”
“Iya Fir, kalian hati hati ya.. Terutama kamu Candra, harus hati hati membawa calon kekasih kamu ini” Kata Tuan William.
“Siap om, om tenang aja”
Mereka berdua pergi menuju toko perhiasan yang ada di London. Disana mereka memilih cincin pertunangan mereka, dan pemikiran mereka juga sama.
“Fir, kamu suka yang ini nggak?” Tanya Candra.
“Ya ampun ini tuh bagus banget, aku suka banget. Kalau kamu gimana?” Tanya Zafira.
“Aku juga suka” Jawab Candra.
“Ya udah, kita beli yang ini aja gimana?” Tanya Zafira.
“Setuju, ini tuh bagus banget. Kami pesan yang ini ya. Tolong bungkus sekalian” Kata Candra kepada penjual perhiasan itu.
“Baik Tuan” Jawab si penjual.
Setelah mereka membeli cincin, mereka pergi menuju mall untuk membeli gaun pertunangan mereka.
“Candra, ini bagus nggak?” Tanya Zafira seraya mencoba gaun itu.
“Kayaknya kurang bagus deh, masa warnanya putih pucat gitu. Kita harus cari yang warna....biru cerah” Kata Candra.
“Gimana kalau, aku pakai gaun warna biru cerah sedangkan kamu pakai warna biru tua tapi nggak terlalu gelap. Soalnya, masa sih laki laki mau pakai warna biru cerah” Gurau Zafira.
Mendengar perkataan Zafira, Candra tuba tiba saja kembali teringat kepada sahabatnya yang bernama Alisha.
“Kenapa Zafira bisa mengucapkan kalimat yang sama persis kayak Alisha dulu ya? Aku jadi makin curiga dan semakin yakin kalau Zafira adalah Alisha. Tapi mana mungkin, Alisha kan udah meninggal bertahun tahun yang lalu” Batin Candra.
“Hehe, benar juga ya. Ya udah aku setuju” Kata Candra seraya menutupi kecurigaannya itu.
“Candra, kalau gaun yang ini gimana? Ini juga kan warnanya biru cerah dan manik maniknya juga cantik “ Ucap Zafira.
“Hmmmm... Bagus juga, ya udah kita beli yang ini untuk kamu” Jawab Candra.
“Sekarang kita tinggal cari kemeja biru tua untuk kamu” Kata Zafira.
Zafira membuka tiap tumpukan dan tiap gantungan baju yang ada di mall itu, dan pada akhirnya dia berhasil menemukan kemeja seperti yang ia dan Candra harapkan.
“Candra, lihat ini, bagus banget asli. Warnanya cocok banget sama keinginan kita” Kata Zafira dengan bahagia.
“Eh iya, ya udah kita beli yang itu juga” Jawab Candra.
Mereka pergi ke kasir untuk membayar semuanya, dan setelah selesai Candra mengantar Zafira pulang dan kemudian menjemput keluarganya di bandara.
“Bye Zafira” Kata Candra dari dalam mobil.
“Bye Candra. Aku masuk dulu ya, oh iya kamu nggak mampir dulu?”
“Nggak, aku langsung aja. Soalnya aku mau jemput keluargaku di bandara” Jawab Candra.
“Oh ya udah kalau gitu, hati hati ya” Kata Zafira.
“Iya” Jawab Candra kemudian pergi.
Zafira masuk ke dalam dan pergi menuju kamarnya, di kamar dia membuka seluruh isi belanjaannya. Tuan William datang dan langsung bertanya kepada Zafira tentang perasaannya ketika diajak Candra pergi berbelanja.
“Zafira?” Panggil Tuan William.
“Iya pi?”
“Gimana perasaan kamu? Bahagia?” Tanya Tuan William.
“Aku bahagia banget pi. Karena, semua barang yang kami inginkan ada dan sesuai selera kami” Kata Zafira.
“Oke kalau gitu. Kalian udah bicarain soal gedung belum?”
“Belum, kata Candra nanti kita bahas itu bersama sama dengan keluarganya yang dari Indonesia” Jawab Zafira santai.
“Oh ya? Keluarga Candra mau datang?”
“Iya. Tadi dia jemput keluarganya di bandara, makannya dia nggak mampir dulu kesini” Jawab Zafira.
“Oh gitu, bagus deh jadi nanti kita bisa silaturahmi sama keluarga Candra”
“Iya pi”
•
•
•
•
.•
Candra sudah sampai di bandara, dia segera menghampiri keluarganya uang sudah menunggu di depan bandara.
“Mama?” Panggil Candra.
“Candra, ya ampun sayang. Mama tuh rindu banget tahu” Jawab sang ibu seraya memeluk Candra.
“Iya ma, Candra juga rindu sama kalian semua. Ya udah, sekarang kita langsung ke apartemen Candra aja ya. Ayo, kita masuk ke mobil”
“Iya, ayo”
Mereka semua masuk ke dalam mobil dan pergi menuju apartemen Candra. Setelah sampai, mereka semua masuk ke dalam, dan di dalam ada Stevan yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Assalamu’alaikum” Kata sang ibu.
Mendengar ada yang mengucap salam, Stevan seketika langsung menengok ke arah pimtu dan disana sudah ada keluarga Candra yang tengah berkumpul.
“Wa’alaikumsalam” Jawab Stevan.
Candra menghampiri Stevan untuk memberitahu tentang keluarganya.
“Stevan, jadi ini keluarga aku yang dari Indonesia” Kata Candra.
“Kok kamu nggak ngasih tahu aku sih kalau keluarga kamy mau dateng, kalau aku tahu pasti aku nggak akan ngerjain pekerjaan aku di ruang tamu kayak gini” Bisik Stevan.
“Udah nggak apa apa. Emang acaranya juga mendadak, kan aku minggu depan mau tunangan jadi aku undang mereka kemari” Jelas Candra.
Stevan mengangguk iya.
“Ma, kenalin ini Stevan teman satu apartemen. Aku sengaja nyuruh dia buat tinggal disini, ya itung itung buat nemenin aku. Biar nggak bosan” Jelas Candra kepada keluarganya.
“Oh gitu, bagus dong. Stevan, kelihatannya kamu sibuk banget ya?” Tanya sang ibu.
bagus banget, nyaman lagi” Kata Aisyah dengan bahagia.
“Emangnya kamar kamu yang di Indonesia kenapa? Kan sama sama newah”
“Iya emang sih, tapi kakak tahu kan kalau aku ini paling nggak bisa membuat kamarku itu terlihat lebih dewasa. Kamarku di Indonesia kebanyakan gambar gambar boneka, aku bosen dengan konsep seramai itu” Jawab Aisyah.
“Ya tinggal ganti wallpaper aja” Kata Candra.
Tiba tiba, sang ibu memotong pembicaraan Candra dengan Aisyah.
“Udah udah kalian jangan ribut di sini. Mendingan sekarang kamu taruh koper kamu di sana, udah itu mandi lalu kita berkunjung ke rumah calon menantu mama” Ujar sang ibu.
“Iya ma” Jawab Aisyah kemudian melakukan apa yang disuruh oleh ibunya.
Setelah semua selesai membersihkan diri, mereka pergi menuju apartemen Zafira.
“Stevan, aku pergi dulu ya” Kata Candra.
“Oh iya Can, hati hati ya” Jawab Stevan.
Mereka pergi ke apartemen Zafira.
•
•
•
•
•
Zafira berniat memberitahu sahabatnya yakni Amira bahwa dia akan bertunangan minggu depan, tetapi Amira tampak tidak begitu bahagia dengan apa yang diberitahu oleh Zafira melalui telepon.
“Hallo?” Kata Zafira.
“Iya Fir, ada apa?” Jawab Amira.
“Aku mau ngasih tahu sesuatu sama kamu” Ucap Zafira.
“Bentar, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu” Jawab Amira.
“Bentar itu nanti aja, ini jauh lebuh penting”
“Ya udah apa?”
“Aku mau ngasih tahu kalau minggu depan aku bertunangan dengan Candra, nanti kamu datang ya. Aku juga bakal ngasih kamu undangannya kok, tenang aja” Kata Zafira bahagia.
Amira terkejut dan merasa lemas setelah mendengar berita Zafira, karena Amira juga menyukai Candra secara diam diam. Tetapi walaupun begitu, dia berusaha untuk tetap tegar demi sahabatnya.
“Iya. Kamu, kenapa kedengaran kaget gitu?” Tanya Zafira heran.
“Gimana aku nggak kaget Fir, kalau aku dengar kamu bakalan bertunangan sama orang yang aku cintai secara diam diam selama ini” Batin Amira seraya meneteskan air mata.
“Amira? Hallo?” Kata Zafira.
“Eemm iya?” Kata Amira.
“Kamu kenapa? Kok diam aja?”
“Ng... Nggak, nggak apa apa kok. Ya aku kaget karena kamu bilang bilang dulu sama aku” Jawab Amira mengalihkan.
“Iya, ini acaranya juga mendadak Mir” Jawab Zafira.
“Ya udah, aku turut bahagia ya, dan aku pasti datang kok ke acara pertunangan kamu sana Candra” Kata Amira mencoba menutupi perasaannya yang hancur melebur.
“Iya oke, makasih”
Tiba tiba, ada suara Candra yang memanggil sehingga membuat Zafira menghentikan pembicaraannya dengan Amira di telepon.
“Zafira?” Panggil Candra.
“Amira, kita udahan dulu ya nelponnya. Kayaknya, Candra udah datang deh” Kata Zafira.
“Oh.. I.. Iya”
“Bye” Kata Zafira.
“Bye” Jawab Amira.
Zafira menutup teleponnya lalu pergi menuju ke lantai satu untuk membukakan pintu.
“Candra?” Kata Zafira.
“Iya Fir, kamu sibuk nggak?” Tanya Candra.
“Nggak kok. Oh iya, mereka siapa?”
“Oh iya, kenalin. Ini keluarga aku yang dari indonesia. Ini mama aku, ini papa aku, dan ini adik aku” Jawab Candra seraya menunjuk satu per satu anggota keluarganya.
“Oh ya? Ya udah kalau gitu, ayo masuk” Kata Zafira.
Mereka semua masuk kedalam apartemen Zafira dan duduk di ruang tamu.
“Candra, aku siapin minuman buat kamu dan keluarga kamu dulu ya” Kata Zafira.
“Zafira, kamu nggak usah repot repot” Kata sang ibu.
“Nggak repot kok tante. Lagi pula ini kan, udah kewajiban calon menantu kepada calon mertuanya” Jawab Zafira.
“Oh ya udah kalau gitu”
Zafira pergi ke dapur dan setelah selesai membuat minuman, dia pun memberikannya kepada keluarga Candra.
“Tanya, om, dan kamu siapa namanya?” Tanya Zafira.
“Aisyah” Jawab Aisyah dengan wajah ceria.
“Oh Aisyah, iya. Ayo, kalian minum minumannya, ini spesial banget” Kata Zafira.
“Makasih ya” Kata sang ibu dengan senyum ramahnya.
“Iya tante sama sama”
“Oh ya, orang tua kamu di mana ya? Kok belum kelihatan?” Tanya ayah Candra.
“Oh iya om saya hampir lupa. Papi saya lagi kerja di kantor, katanya ada meeting yang begitu penting, tapi om tenang aja. Bentar lagi juga pulang kok” Jelas Zafira.
“Oh, iya kalau begitu”
Zafira begitu bahagia dengan kedatangan keluarga Candra. Tetapi, disisi lain Amira begitu sedih karena dia harus merelakan orang yang ia cintai bertunangan dengan sahabat baiknya.
“Kenapa semua ini terjadi?! Harusnya aku nggak suka sama Candra!” Teriak Amira seraya mendorong peralatan yang ada di meja Make up nya.
Ibunya terkejut dan bertanya kepada Amira tentang apa yang terjadi sebenarnya.
“Amira, kamu kenapa sayang?” Tanya sang ibu khawatir.
“Ma, aku benci ma! Aku benci!” Kata Amira seraya berteriak.
“Iya tapi kenapa?”
“Aku benci sama diri aku sendiri. Kenapa aku harus mencintai orang yang nggak cinta sama aku” Teriak Amira.
“Apa kamu bilang? Maksudnya apa?”
“Iya ma, Zafira sama Candra minggu depan mau tunangan dan aku baru tahu soal itu. Kalau aja aku tahu dari awal, pasti aku nggak akan sakit hati ma, dan aku nggak akan menyukai Candra” Jawab Amira.
“Sayang kamu tenang dulu, dan coba cerita pelan pelan sama mama biar mama bisa kasih solusinya sama kamu” Kata sang ibu.
Amira mengangguk, dan sang ibu membawanya untuk duduk di atas kasur.
“Udah, sekarang kamu coba cerita sama mama”
“Jadi gini ma, waktu aku pertama kali bertemu sama Candra, aku udah suka sama dia. Tapi, waktu itu aku juga nggak tahu kalau Candra udah cinta sama Zafira” Jelas Amira sambil menahan tangis.
“Oh gitu ya sayang. Ya udah, sekarang gini. Kamu harus bisa lupain Candra sdcara perlahan lahan sayang, karena dia udah bukan milik orang lain. Dia udah punya calon, Amira. Kamu juga harus ingat, jangan sampai Zafira tahu soal perasaan kamu ke Candra. Nanti bisa bisa dia sedih, karena selama ini dia udah banyak berjasa sama kita” Saran sang ibu.
“Iya ma, aku juga satu pemikiran sama mama” Jawab Amira kemudian menghapus air matanya.
•
•
•
•
•
Di apartemen Zafira, Tuan William datang setelah dari kantor. Ia terkejut karena melihat ada keluarga Candra.
“Assalamu’alaikum” Kata Tuan William seraya menuju ruang utama atau ruang tamu.
“Wa’alaikumsalam. Papi? Papi udah pulang?” Kata Zafira menyambut ayahnya.
“Iya sayang, papi udah pulang. Tapi, ngomong ngomong mereka siapa ya?”
“Oh, kenalin pi. Mereka keluarga Candra yang dari Indonesia” Jawab Zafira senang.
“Oh ya? Bagus kalau gitu. Ayo kita berbincang bincang sama mereka” Kata Tuan William.
Tuan William dengan keluarga Candra saling bersalaman dan berkenalan. Setelah itu, mereka mulai membicarakan tentang pertunangan Zafira dengan Candra.
“Baik pak, ini rencananya konsepnya mau seperti apa ya?” Tanya ayah Candra yang bernama Tuan Alex.
“Saya punya saran, bagaimana kalau kita mengadakan acara pertunangannya dengan tema alam yang indah. Jadi nanti, kita hias taman yang nanti kita sewa dengan benda alam dan juga berbagai hiasan unik lainnya” Saran Tuan William.
“Saya setuju, tapi. Bagaimana dengan anak anak?” Tanya Tuan Alex.
“Kami setuju kok pi. Lagi pula dengan tema alam kita nggak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya. Jadi nanti, uang sisanya bisa ditabung untuk pernikahan aku sama Candra nanti” Jawab Zafira.
“Iya om, kami setuju” Kata Candra.
“Oke kalau gitu, kita pakai tema itu aja?” Tanya Tuan William.
Seluruh keluarga setuju dengan keputusan Tuan William.
Satu hari berlalu, Candra berniat untuk mengajak Zafira melihat lokasi yang akan digunakan untuk acara pertunangan mereka nantinya. Ia berpamitan kepada keluarganya dan kemudian pergi menuju apartemen Zafira.
Setelah sampai apartemen, mereka pun pergi menuju taman itu, ditengah perjalaman Zafira menanyakan sesuatu yang membuat Candra tidak nyaman.
“Candra” Panggil Zafira.
“Iya, kenapa?” Tanya Candra polos.
“Aku mau tanya boleh nggak?”
“Kamu tuh kenapa sih? Tanya tinggal tanya” Gurau Candra.
“Aku mau tanya, kalau suatu hari nanti aku pergi ninggalin kalian semua gimana? Apa, kamu mau nurutin permintaan aku sesaat sebelum aku pergi nanti?” Tanya Zafira.
Candra menghentikan mobilnya, dan bertanya kembali kepada Zafira mengapa ia mengatakan semua itu.
“Zafira, kok kamu ngomong gitu sih? Jangan aneh aneh deh, jangan bikin aku takut” Ucap Candra sedikit kesal.
“Iya, yang namanya hidup kan nggak ada yang tahu mau sampai kapan. Ya, aku Cuma mau tanya aja” Kata Zafira.
“Udah deh, jangan nanya yang aneh aneh. Mendingan kita sekarang fokus sama perjalanan kita” Alih Candra.
Zafira memegang tangan Candra, dan kembali menanyakan hal yang sama.
“Candra, aku serius. Kamu mau kan nurutin permintaan aku suatu hari nanti?”
“Iya aku mau. Bahkan kamu nggak usah nunggu nanti, aku bakal nurutin permintaan kamu sekarang juga” Kata Candra.
Zafira mengangguk.
“Iya, aku Cuma mau mastiin aja. Ya udah, sekarang kita lanjut aja yuk perjalanannya” Ucap Zafira.
Candra pun melanjutkan perjalanannya. Ketika di tengah perjalanan, ia ditelepon oleh seseorang, dan ia pun menerima telepon seraya menyetir.
“Hallo?” Tanya Candra.
“Hallo pak, saya Velleria, mau ngasih tahu kalau nanti siang ada meeting di kafe yang biasanya ya pak” Kata Velleria ditelepon.
“Oh iya, nanti saya usahakan hadir” Jawab Candra kemudian menutup teleponnya.
“Siapa Can?” Tanya Zafira.
“Itu, klien aku. Katanya, nanti siang ada meeting” Jawab Candra.
“Oh gitu? Ya udah, sekarang kita cepat ke taman udah itu kamu langsung meeting aja” Kata Zafira.
“Iya”
Candra melaju dengan kecepatan yang tinggi, sampai sampai ketika ada jalan menurun dia tidak bisa mengerem mobilnya karena tiba tiba remnya blong.
Ia begitu cemas, begitu juga Zafira.
“Candra, ini kok kenceng banget ya mobilnya?” Tanya Zafira cemas.
“Iya nih,, aku juga bingung” Jawab Candra yang terus berusaha mengerem mobilnya tapi tidak juga berhasil.
Mobil Candra melaju begitu kencang sehingga ia tidak bisa mengerem sedangkan di depan ada truk yang melaju kencang juga.
“Candra AWASSS!!!” Teriak Zafira.
Candra membanting stir mobilnya ke arah kiri dengan begitu kencang sampai menabrak pohon besar yang ada di depannya. Zafira seketika terbanting keluar dari mobil karena kencangnya kecepatan mobil yang dikkemudikan oleh Candra, dan begitu pula Candra, ia seketika tidak sadarkan diri karena kepalanya terbentur stir mobil yang ia gunakan.
Orang yang ada di daerah situ seketika melihat dan juga mencoba menghubungi keluarga Candra dan Zafira sekaligus membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
“Gimana ini? Kita telepon keluarganya aja?” Tanya salah seorang penduduk yang ada di sana.
“Iya. Saya aja yang menghubungi keluarga mereka, dan kalian coba telepon ambulance. Soalnya ini mobilnya rusak parah” Saran salah seorang penduduk di sana.
Ia menghubungi keluarga Candra, dan kebetulan sang ibu lah yang menjawabnya.
“Hallo?” Tanya sang ibu dari telepon.
“Iya, apa benar ini dengan ibunya Candra?” Tanya orang itu.
“Iya benar pak, ini saya mamanya. Ada apa ya?” Tanya sang ibu cemas.
“Anak ibu, dan juga perempuan yang dibawanya mengalami kecelakaan yang cukup parah”
Sang ibu sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh orang itu.
“Apa?! Sekarang mereka gimana?” Tanya sang ibu seraya menahan isak tangis.
“Sekarang kami sedang menunggu ambulance supaya dibawa ke rumah sakit terdekat”
“Baik pak, nanti bapak tolong share lock posisi anak saya ya” Kata sang ibu.
“Baik bu” Jawab orang itu lalu menutup teleponnya.
Tak lama kemudian ambulance datang dan membawa Candra serta Zafira ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu, sang ibu memberitahu suaminya, Aisyah, dan juga Tuan William soal kecelakaan itu.
“Sayang!! Aisyah!!! Ayo sini!” Panggil sang ibu seraya menahan tangis.
Aisyah dan Tuan Alex pun datang dan bertanya kenapa sang ibu memanggil mereka.
“Ada apa sih sayang?” Tanya Tuan William cemas.
“Candra!”
“Kak Candra kenapa ma?” Tanya Aisyah khawatir.
“Candra dan juga Zafira mengalami kecelakaan yang begitu parah”
Tuan William dan juga Aisyah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu.
“Apa?!” Reaksi Tuan William dan Aisyah..
“Iya, tadi barusan mama terima telepon dari orang nggak dikenal dan dia ngasih tahu kalau Candra dan Zafira mengalami kecelakaan. Katanya, dia bakalan nge share lokasi Candra setelah dibawa ke rumah sakit”
“Ya udah, sekarang coba kamu cek apa orang itu udah nge share lokasinya belum” Saran Tuan Alex.
Sang ibu pun mengecek ponselnya, dan benar saja orang itu telah memberitahu lokasi terkini.
“Nah ini sayang, dia udah ngasih” Kata sang ibu seraya menunjukkan teleponnya.
“Oke, sekarang kita ke rumah sakit ya” Kata Tuan Alex.
“Aisyah ikut ya pa” Kata Aisyah.
“Iya”
Mereka segera menuju rumah sakit, dab sesampainya di sana mereka diberi tahu bahwa Candra dan Zafira harus dioperasi. Mereka hanya bisa pasrah demi keselamatan Candra dan Zafira.
“Pa, gimana ini pa. Mama takut kalau Candra dan Zafira kenapa kenapa” Ucap sang ibu sedih.
“Ma, mama tenang aja ya. Kita berdoa aja supaya mereka berdua bisa selamat. Oh ya, mama udah ngasih tahu Tuan William apa belum?”
“Belum” Jawab sang ibu.
“Ya udah, sekarang papa telepon Tuan William dulu ya. Mama sama Aisyah tenang dulu ya” Kata Tuan Alex lalu menelpon Tuan William.
Setelah Tuan Alex memberitahu Tuan William. Tuan William langsung datang ke rumah sakit itu dan menanyakan bagaimana kondisi Zafira dan juga Candra.
“Pak, gimana keadaan Zafira dan Candra?” Tanya Tuan William cemas.
“Mereka harus dioperasi terlebih dahulu” Jawab Aisyah memotong pembicaraan.
“Ya ampun, apa parah sekali ya pak?” Tanya Tuan William.
__ADS_1
“Kami juga belum tahu, soalnya tadi waktu kami di rumah. Kami juga diberitahu sama orang lewat telepon” Jawab Tuan Alex.
“Ya udah, sekarang kita semua jangan panik. Kita harus tenang” Saran Tuan William.
Mereka berdua mencoba untuk tenang. Disisi lain, Amira harus berusaha melupakan Candra, ia mencoba menghibur dirinya dengan cara menonton televisi. Tapi, hal itu tidak terjadi, karena ia malah mendapat berita melalui televisi bahwa Candra dan Zafira kecelakaan.
“Ya ampun. Itu kan bukannya Zafira?” Gumam Amira.
“Mamaa!! Mamaaa!!” Panggil Amira histeris.
“Iya sayang, kenapa?” Tanya sang ibu cemas.
“Itu kan bukannya Zafira ya ma yang ada di televisi itu? Dia kecelakaan ma!” Jawab Amira.
“Eh iya deh”
“Ya udah ma sekarang kita ke rumah sakit ya. Biar aku lacak lokasinya melalui nomor teleponnya” Kata Amira dengan terburu buru.
“Iya iya, ayo kita kesana”
Mereka berdua pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil pribadi mereka.
Setelah sampai, merek langsung bertanya bagaimana kondisi Candra dan Zafira.
“Tuan William, gimana kondisi Zafira dan Candra sekarang?” Tanya Amira cemas.
“Mereka sedang ditangani oleh dokter” Jawab Tuan William.
Tuan Alex dan juga ibunya Candra yang bernama Nyonya Rosa serta Aisyah merasa bingung dan tidak tahu siapa itu Amira.
“Maaf pak, mereka siapa ya?” Tanya Nyonya Rosa.
“Oh iya, saya lupa ngasih tahu kalian. Dia Amira, sahabat baiknya Zafira, dan ini mamanya Amira, namanya Nyonya Michail” Jelas Tuan William.
“Oh gitu ya, salam kenal ya” Kata Nyonya Rosa kepada Amira dan juga ibunya.
Tidak lama kemudian, dokter selesai menangani Zafira dan juga Candra. Ia keluar dari ruang operasi, melihat dokter itu keluar, seluruh keluarga bertanya bagaimana kondisi Candra dan Zafira sekarang.
“Dok, gimana kondisi mereka sekarang dok?” Tanya Nyonya Rosa dengan cemas.
“Mereka, sudah kami tangani, dan sekarang mereka masih dalam keadaan belum tesadarkan diri. Kami minta, supaya kalian tidak mengganggu keduanya. Karena itu, bisa menyebabkan keadaan mereka semakin buruk. Jadi, kalau mau melihat nanti ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan kamu segera melakukan itu” Jelas sang dokter.
Candra dan Zafira dipindahkan ke ruang rawat, dan orang tua Zafira dan Candra setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter termasuk dengan Amira dan ibunya. Pada akhirnya, mereka memutuskan bahwa Nyonya Rosa yang masuk ke ruang rawat Candra, dan Tuan William masuk ke ruang rawat Zafira.
“Saya masuk dulu ya” Kata Nyonya Rosa kemudian masuk ke ruang rawat Candra.
Di dalam, Nyonya Rosa memberi semangat kepada Candra agar bisa segera sadar.
“Candra, kamu yang kuat ya sayang. Kamu harus ingat kalau kamu bentar lagi tunangan sama Zafira, dia juga sekarang sedang berjuang sama seperti kamu, mama harap kamu bisa segera sadar ya” Kata Nyonya Rosa.
Tuan William juga memberi semangat kepada Zafira di ruang rawatnya.
“Zafira, kamu harus kuat. Papi tahu kamu bukan perempuan yang lemah. Ingat, masih banyak yang menantikanmu untuk kembali sehat seperti semula” Kata Tuan William.
Tidak lama kemudian, Amira masuk ke ruang rawat Zafira, dan Tuan William pun pergi keluar.
“Amira, ayo kamu ke sini. Temenin Zafira ya, saya mau keluar dulu sebentar” Kata Tuan William.
Amira mengangguk dan Tuan William pergi keluar.
“Fir, aku nggak mau semua ini terjadi sama kamu. Aku mau kamu bahagia bersama dengan Candra. Walaupun aku juga mencintai Candra, tapi aku bakal lakuin apapun buat kamu. Termasuk merelakan Candra, maafin aku karena aku nggak cerita semua ini dari awal. Tapi tolong, kamu cepat sadar biar kita bisa ngerayain pertunangan kamu sama Candra” Kata Amira kepada Zafira.
Amira tidak sadar kalau sebenarnya Zafira bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya, dan Zafira sebenarnya sudah mulai sadar walaupun belum sadar secara total. Mendengar hal itu, Zafira berusaha untuk bangun atau sadar secara total, tapi itu tidak berhasil. Malah, hal itu semakin membuat detak jantung Zafira semakin lemah. Pada akhirnya, Amira memanggil dokter untuk mengetahui apa yang terjadi kepada Zafira.
“Ya ampun Amira. Kamu kenapa? Dokter!! Dokter!!” Panggil Amira histeris.
Seluruh keluarga merasa terkejut dan secara spontan Tuan William masuk ke ruang Rawat Zafira.
“Ada apa Amira?” Tanya Tuan William cemas.
Dokter pun datang dan memeriksa Zafira.
“Sebentar, kalian keluar dulu biar saya periksa kondisi Zafira” Kata dokter itu.
Tuan William dan Amira keluar dari ruang rawat, dan setelah menunggu beberapa saat dokter pun selesai memeriksa Zafira dan keluar dari ruang rawat.
“Dok, gimana kondisi anak saya?” Tanya Tuan William khawatir.
“Kalian tenang saja, pasien sudah mulai sadar tetapi belum sadar secara total, jadi dia belum bisa membuka matanya secara total tapi bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang lain” Jelas dokter itu.
“Alhamdulillah. Jadi, sekarang kami boleh masuk kedalam?” Tanya Amira.
“Saya sarankan supaya kalian jangan mengganggu pasien, biarkan dia beristirahat dulu”
“Baik dok” Jawab seluruh keluarga.
Disisi lain, Candra belum sadar, dia dalam pingsannya itu bermimpi melihat sahabat masa kecilnya berkata..
“Candra” Panggil Alisha.
“Alisha? Kamu kok bisa ada di sini sih?” Tanya Candra heran.
“Bisa dong. Candra, kita sebentar lagi akan segera bersama” Kata Alisha.
“Apa maksud kamu?” Tanya Candra penasaran.
“Hehehe” Alisha malah tertawa tidak jelas lalu menghilang.
“Alisha? Alishaaa?!!” Panggil Candra seraya mencarinya.
“Alisha!” Kata Candra dengan lemas lalu sadar dari pingsannya.
Sang ibu yang tengah menemaninya merasa terkrjut sekaligus senang karena Candra sudah tersadarkan diri.
“Candra?” Kata sang ibu lalu menghampirinya.
Candra melihat sang ibu yang ada di depannya.
“Mama?” Kata Candra seraya berusaha untuk duduk.
Sang ibu begitu bahagia karena anaknya sudah sadar. Ia pun memanggil keluarganya untuk melihat kondisi Candra.
“Sayang, Aisyah, Tuan William ayo kemari. Candra udah sadar” Panggil Nyonya Rosa.
Seluruh keluarga termasuk dengan Amira dan ibunya menghampiri Candra.
“Sayang, kamu udah bangun” Kata Tuan Alex.
“Kakak, akhirnya kakak bangun” Kata Aisyah seraya memeluk Candra.
Candra juga memeluk Aisyah. Setelah itu melepas pelukannya.
Dia mencoba mengingat apa yang ada di mimpinya, tapi tidak berhasil. Akhirnya, dia bertanya kepada ibunya tentang keadaan Zafira.
“Mama, Zafira dimana? Dia baik baik aja kan?” Tanya Candra cemas.
“Zafira belum sadar juga” Jawab Nyonya Rosa.
“Kalau gitu aku mau kesana, aku mau lihat kondisi Zafira” Kata Candra seraya mencoba untuk turun dari ranjangnya, tapi hal itu dihentikan oleh Tuan William.
“Candra Candra, kamu nggak usah maksain diri” Kata Tuan William.
“Iya tapi aku mau lihat kondisi Zafira” Kata Candra keras kepala.
“Ya udah gini aja, kamu pakai kursi roda aja ya. Soalnya takut kalau kamu masih pusing atau gimana” Kata Tuan William.
“Iya om. Makasih ya” Kata Candra lalu pergi ke ruang rawat Zafira dengan diantar oleh seluruh keluarga.
Candra masuk ke ruang rawat Zafira dengan di antar oleh Tuan William.
“Zafira, maafin aku ya. Gara gara aku kamu jadi kayak gini, harusnya kita nggak usah pakai acara lihat lokasi segala. Aku mohon, sekarang kamu cepat sadar ya” Kata Candra seraya memegang tangan Zafira.
Tidak lama kemudian, Zafira membuka matanya perlahan. Dia sedikit terkejut melihat ada Candra dan juga Tuan William di depannya.
“Zafira, kamu udah sadar?” Kata Candra bahagia.
“Sayang kamu udah sadar?” Kata Tuan William.
Candra membantu Zafira untuk duduk dan bersandar. Lalu ia memanggil keluarganya yang ada di luar ruang rawat.
“Mama, Papa, ayo kesini. Zafira udah sadar” Panggil Candra.
Seluruh keluarga merasa senang mendengarnya dan mereka masuk ke dalam ruang rawat Zafira.
Di sana, Zafira terlihat tidak seperti biasanya. Dia terlihat kebingungan akan kondisinya.
“Zafira, kamu baik baik aja?” Tanya Candra.
“Zafira? Siapa Zafira?” Tanya Zafira polos.
Seluruh keluarga terkejut mendengar kalau Zafira tidak tahu siapa dirinya.
“Apa maksud kamu Zafira? Coba, aku siapa?” Kata Candra memastikan.
Zafira menggelengkan kepalanya.
“Zafira, aku Candra” Kata Candra.
“Candra? Apa kamu, Candra Wijaya?” Tanya Zafira ragu.
Candra terkejut karena sebelumnya ia tidak pernah memberitahu nama lengkapnya.
“Apa? Gimana kamu bisa tahu nama lengkapku, padahal aku kan sebelumnya nggak pernah ngasih tahu kamu” Ucap Candra heran.
“Apa maksud kamu Can, aku Alisha. Sahabatmu, kok kamu bisa lupa sih? Kamu tahu nggak, aku udah lama nyari kamu” Kata Zafira.
Candra, Nyonya Rosa, Tuan Alex, Tuan William, Amira, dan juga Nyonya Michail terkejut mendengar bahwa Zafira mengaku jika dirinya adalah Alisha.
“Alisha, apa maksud kamu. Kamu Zafira nak” Kata Tuan William.
“Maaf, om ini siapa ya? Saya nggak kenal” Kata Zafira.
Mendengar hal itu Tuan William merasa sedih dan ia pun pergi keluar ruang rawat.
“Alisha?” Kata Nyonya Rosa.
“Tante, tante ini tante Rosa kan?” Kata Alisha memastikan.
Nyonya Rosa mengangguk kemudian memeluk Alisha.
Amira merasa sedih, dan ia hendak pergi keluar. Tetapi hal itu dihentikan oleh Alisha.
“Tunggu” Kata Alisha.
Amira berhenti sejenak.
“Namamu siapa?” Kata Alisha penasaran.
“Zafira, lebih baik kita bicarakan itu nanti ya. Sekarang kamu istirahat dulu” Kata Amira.
Candra, Nyonya Rosa, Tuan Alex pergi keluar ruangan. Mereka bertanya kepada Tuan William tentang apa yang terjadi sebelumnya.
“Tuan William” Panggil Tuan Alex.
“Iya, ada apa?”
“Kalau boleh tahu...” Perkataan Tuan Alex disela oleh Tuan William.
“Saya tahu apa yang mau Tuan Alex tanyakan. Pasti anda mau tanya kenapa Alisha bisa ada di tangan saya dan kenapa bisa dia memanggil saya dengan sebutan papi”
Tuan Alex mengangguk, dan Tuan William mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi sebenarnya, bertahun tahun lalu, saya menemukan ada anak kecil yang pingsan di pinggir jalan. Saya melihat dan saya langsung membawa anak itu ke rumah sakit. Waktu itu dokter menyatakan kalau Alisha mengalami amnesia, dan kebetulan ketika itu saya nggak tahu siapa keluarganya. Jadi saya memutuskan kalau saya dan mantan istri saya untuk mengasuh dia dan memberinya nama Zafira. Mulai hari itu, kami merawat Zafira seperti anak kami sendiri, kami memberi dia pendidikan, kasih sayang, dan bahkan apartemen untuk ia tinggali ketika ia bekerja” Jelas Tuan William.
“Oh gitu ya, jujur saya sangat salut dengan Tuan William karena Tuan William memberinya hak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seorang anak” Kata Tuan Alex.
“Iya, makasih ya” Kata Tuan William.
“Om, tapi kenapa om nggak cerita sama kami sebelumnya?” Tanya Candra.
“Karena saya nggak tahu kalau kalian kenal sama Alisha. Bahkan, saya udah ngelupain apa yang terjadi bertahun tahun lalu”
“Iya tapi kan” Perkataan Candra disela ibunya.
“Candra udah dong. Tuan William, maaf ya. Oh ya, sekarang lebih baik kita biarkan Alisha sama Candra istirahat dulu. Biar mereka cepat pulih” Kata Nyonya Rosa.
“Iya” Kata Tuan William.
Nyonya Rosa membawa Candra ke ruang rawatnya dengan mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Candra.
Disisi lain, Amira merasa begitu sedih karena ternyata Zafira yang selama ini dia kenal adalah Alisha.
“Zafira, aku nggak bisa lupain persahabatan kita. Kita selama ini sangat dekat, tapi sekarang kamu malah nggak kenal sama aku” Gumam Amira di ruang tunggu.
Nyonya Michail datang dan membujuk Amira.
“Amira, kamu jangan sedih ya” Kata sang ibu menyemangati.
“Gimana aku nggak sedih ma, Zafira lupa sama aku!”
“Iya tapi itu semua kan nggak disengaja” Kata Nyonya Michail.
“Iya ma, tapi aku tetap sedih”
“Udah, sekarang kamu coba tenang dan kita berdoa semoga Alisha dan Candra cepat sembuh”
Amira mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu.
•
•
•
•
•
Beberapa hari kemudian...
Alisha dan Candra diperbolehkan untuk pulang. Tuan William membawa Alisha dengan menggunakan kursi roda, sedangkan Candra sudah bisa berjalan walaupun masih harus didampingi karena kecelakaan yang terjadi.
Alisha merasa aneh, bingung, asing dengan apartemen yang pernah ia tinggali ketika ia masih menjadi Zafira.
“Alisha, ini tempat tinggal kamu” Kata Tuan William.
“Maaf om, tapi ini bukan rumah saya. Rumah saya bentuk nya nggak seperti ini” Kata Alisha.
Nyonya Rosa mencoba membujuk Alisha.
“Alisha, tadi mama dan papamu bilang kalau mereka ada pekerjaan, dan kamu harus tinggal bersama dengan Tuan William” Bujuk Nyonya Rosa.
“Tapi tante” Perkataan Alisha dihentikan oleh Nyonya Rosa.
“Ssstt, udah. Kamu nurut aja ya, semua ini juga demi kebaikan kamu kok”
Alisha mengangguk, lalu diantar ke kamarnya.
Di kamar Alisha mengamati sekeliling yang seolah olah sudah tidak asing baginya, Amira datang menghampirinya dan berusaha untuk mengajaknya mengobrol.
“Zafira”
Seketika Alisha menoleh ke arahnya dengan wajah heran.
“Maksudku, Alisha. Aku boleh nggak tanya sesuatu sama kamu?” Tanya Amira lalu duduk di atas tempat tidur Alisha.
“Boleh, tapi sebelumnya aku boleh nggak tanya siapa nama kamu?”
“Namaku Amira” Jawab Amira.
“Oh, Amira. Boleh, silahkan mau tanya apa?”
“Sebenarnya, kamu itu siapanya Candra sih?” Tanya Amira.
“Jadi, aku itu sahabatnya Candra dari kecil. Bahkan saking akrabnya aku sama Candra, sampai ada orang yang mau jodohin aku sama Candra”
“Tapi bukannya kamu emang mau tunangan ya sama Candra?” Tanya Amira heran.
Alisha berpikir sejenak dengan wajah heran.
“Apa?”
“Iya, kamu kan udah mau tunangan sama Candra minggu depan” Kata Amira.
“Maksud kamu apa ya? Aku nggak ngerti” Kata Alisha polos.
“Iya, coba gini aja deh. Kamu cek isi lemari kamu, kalau kamu nemu gaun berarti kamu emang mau tunangan minggu depan”
Alisha mengangguk kemudian melakukan apa yang Amira perintahkan dengan menggunakan kursi roda, dan benar saja, Alisha menemukan gaun berwarna biru yang sudah ia beli ketika berbelanja bebetapa hari lalu, tapi dia sudah tidak mengingatnya karena amnesianya.
“Nah kan ada, apa aku bilang” Kata Amira.
Alisha menatap Amira.
“Kenapa, kok kamu lihatin aku kayak gitu?” Tanya Amira.
“Kamu tahu darimana kalau aku minggu depan bakal tunangan?”
“Ya aku tahu, beberapa hari lalu kamu sendiri yang ceritain hal itu sama aku. Tapi mungkin kamu lupa karena kecelakaan yang menimpa kamu” Jelas Amira.
“Iya mungkin ya, ya udah sekarang aku coba mau telepon Candra dulu” Kata Alisha, tetapi Amira menghentikannya.
“Alisha, udah kamu nanti aja nelponnya. Sekarang kamu istirahat dulu ya” Kata Amira.
“Tapi Amira...”
“Sstt, udah. Istirahat dulu” Kata Amira kemudian membantu Alisha untuk berbaring di atas tempat tidurnya.
“Amira, aku boleh ngga minta tolong sama kamu buat panggil, Om.. William, iya om William” Kata Alisha.
“Iya, nanti aku panggilin” Kata Amira kemudian pergi.
Tuan William datang dengan membawakan susu hangat untuk Alisha.
“Alisha?” Kata Tuan William.
“Iya om, masuk aja” Kata Alisha.
Tuan William memberikan susu hangat tersebut untuk Alisha.
“Ini kamu minum ya Sha, biar kamu cepat sembuh” Kata Tuan William dengan lemah lembut.
Alisha mengangguk kemudian bertanya kepada Tuan William.
“Om, aku mau tanya soal pertunangan aku” Kata Alisha.
“Tanya aja. Tapi, ngomomg ngomong kamu kok bisa tahu soal itu sih?” Tanya Tuan William bingung.
“Iya tadi Amira nyeritain itu ke aku” Jawabnya.
“Oh iya, ayo tanya aja”
“Apa benar, minggu depan aku tunangan sama Candra?” Tanya Alisha.
“Iya, minggu depan kamu harus tunangan sama dia”
“Tapi om, orang tua aku aja nggak tahu lagi di mana. Aku juga, belum siap buat tunangan sama Candra, karena aku nganggep dia itu Cuma sahabat aku” Kata Alisha.
“Alisha, om tahu kondisi kamu sekarang. Lebih baik, kamu istirahat dulu. Nanti kalau kamu udah mendingan kita bicarakan bersama sama” Alih Tuan William.
“Ya udah deh om” Kata Alisha.
“Kamu jangan lupa minum susunya ya, sekarang om tinggal. Selamat malam” Kata Tuan William.
“Iya om.. Selamat malam juga om William”
Tuan William seketika merindukan Alisha memanggilnya dengan panggilan ‘papi’.
“Dulu kamu panggil saya dengan panggilan papi, tapi sekarang kamu panggil saya dengan panggilan om. Saya rindu kamu memanggil saya dengan panggilan papi” Gumam Tuan William kemudian pergi.
Keluarga Candra juga sudah pulang ke apartemennya, di sana Candra sedang memikirkan soal mimpinya ketika di rumah sakit. Dia berpikir di kamarnya.
“Apa arti mimpiku waktu itu, ada kaitannya sama kembalinya Alisha?” Gumam Candra.
Tiba tiba, Aisyah datang dengan membawakan biskuit beserta teh hangat untuk Candra.
“Kakak?” Panggil Aisyah dari depan pintu kamar Candra.
“Aisyah? Ayo masuk” Kata Candra.
Aisyah pun masuk ke kamar Candra dan memberikan biskuit serta teh hangat itu untuk Candra.
“Kakak, aku bawa biskuit sama teh hangat untuk kakak, kakak makan ya” Ucap Aisyah seraya memberikan biskuit dan teh hangat itu.
“Iya, tapi. Tumben kamu datang ke sini, ada apa?”
“Ya ampun kak, masa adiknya datang mau jenguk kakaknya nggak boleh” Jawab Aisyah.
“Haha, iya iya kakak bercanda. Sekarang bilang, kenapa kamu kesini?”
“Kak, aku mau tanya. Minggu depan kakak jadi bertunangan apa nggak? Karena kan, waktu itu Kak Alisha masih jadi kak Zafira, jadi otomatis dia lupa siapa dirinya waktu itu” Kata Aisyah.
“Kalau untuk itu sih, kakak juga masih bingung, apalagi sekarang kondisinya udah berbeda sama waktu itu” Jawab Candra.
“Kakak, kenapa kakak nggak ngungkapin perasaan kakak lagi aja ke kak Alisha? Siapa tahu dia mau” Saran Aisyah.
“Ya nggak bisa gitu dong”
“Udah, kakak lakuin aja. Siapa tahu, itu menjadi keberuntungan kakak. Ya udah , sekarang aku pergi ke kamar ku dulu ya kak, aku mau lanjutin pekerjaan kuliahku” Kata Aisyah.
“Iya”
Aisyah pun pergi, dan Candra memikirkan saran yang diberikan oleh Aisyah.
“Apa aku ngikutin saran Aisyah aja ya?” Gumamnya kemudian memakan biskuit yang diberikan oleh Aisyah untuknya.
•
•
•
•
•
Keesokan harinya, Candra memutuskan untuk melakukan apa yang disarankan oleh Aisyah. Dia menelepon Alisha untuk bertemu.
“Hallo?” Kata Alisha dari telepon.
“Alisha, ini aku Candra”
“Haa Candra? Aku senang banget kamu nelpon aku” Jawab Alisha dengan begitu riang.
“Iya, nanti kita bisa ketemuan nggak?” Kata Candra
Ketika Alisha hendak menjawab ‘bisa’ pikirannya teringat akan perkataan Amira bahwa ia akan bertunangan dengan Candra beberapa hari lagi.
“Kayaknya nggak bisa deh, aku capek” Jawab Alisha singkat kemudian menutup teleponnya.
“Loh, Alisha! Alisha!” Kata Candra.
“Kok malah ditutup sih teleponnya? Apa, Alisha udah tahu ya kalau lima hari lagi kita bakal tunangan?” Gumam Candra.
•
•
•
•
•
Alisha tidak berhenti berpikir, ia memikirkan bagaimana ia akan bertunangan dengan Candra lima hari lagi.
“Aduh kenapa sih harus kayak gini?!” Kata Alisha dengan nada kesal.
“Gimana aku bisa nolak sedangkan pertunangannya aja udah ditetapkan dan aku nggak tahu apa rencananya” Gumam Alisha.
Dia akhirnya memutuskan untuk memanggil Amira.
“Amira, kamu bisa datang ke sini kan?” Kata Alisha dari telepon.
“Bisa bisa, aku ke sana sekarang” Jawab Amira kemudian menutup teleponnya dan pergi menuju apartemen Alisha.
Setelah beberapa saat Alisha menunggu, Amira datang dan masuk ke kamarnya.
“Alisha, katakan kenapa kamu manggil aku? Apa, kamu sakit lagi?” Tanya Amira dengan penuh perhatian.
“Oh nggak kok, aku nggak sakit. Aku manggil kamu kesini cuma mau tanya soal pertunangan aku sama Candra” Kata Alisha.
“Oh gitu, ya udah tanya aja” Jawab Amira dengan nada tak yakin.
“Mir, gimana caranya aku menghadapi pertunangan itu? Karena kan keluarga aku masih di mana aku juga nggak tahu, masa iya aku mau tunangan sama Candra tanpa keluarga kandungku? Lagian ya, aku nganggep Candra itu Cuma sebagai sahabat, nggak lebih kok” Jeas Alisha.
“Alisha, kamu udah benar benar berbeda sama Zafira yang dulu aku kenal. Kamu dulu sangat mencintai Candra, dan kamu selalu menganggap kalau Tuan William itu adalah papi kamu” Batin Alisha.
“Gini aja, lebih baik kamu terima. Karena Tuan William udah nyiapin semuanya, dia udah bagiin undangan ke teman temannya. Lagi pula, aku tahu kok kalau Candra itu tulus sama kamu. Apalagi kamu itu sahabatnya, pasti dia bakal jagain kamu kok. Kamu tenang aja” Jelas Amira.
“Tapi Amira.....” Kata Alisha lalu disela oleh Amira.
“Udah, kamu tenang aja, kamu harus terima. Percaya sama aku, dan untuk keluarga kandungmu nanti biar aku kasih tahu Nyonya Rosa soal itu” Kata Amira.
Alisha pun mengangguk.
Disisi lain, teman Candra yaitu Stevan memberitahu kabar tentang Alexaria.
“Candra” Panggil Stevan.
“Stevan, masuk aja ke sini”
“Candra, jujur aku sedih banget kamu kayak gini, ditambah lagi Alexaria hampir aja ngehancurin perusahaan kamu” Kata Stevan.
“Ha? Ngehancurin gimana?”
Stevan pun menunjukkan video bahwa Alexaria sedang berkompromi dan sedang merencanakan suatu hal yang buruk untuk perusahaan Candra.
Melihat hal itu, Candra tidak tinggal diam. Dia bergegas menuju kantor untuk memecat Alexaria.
“Candra kamu mau kemana?” Tanya sang ibu cemas.
“Aku mau ke kantor ma, ini penting banget” Jawab Candra lalu pergi ke kamtor bersama dengan Stevan.
“Candra?” Panggil Nyonya Rosa tapi tidak dihiraukan oleh Candra.
“Kenapa ma?” Tanya Tuan Alex yang tiba tiba datang.
“Itu Candra kenapa buru buru banget gitu ya? Mama khawatir terjadi apa apa sama Candra, kan kondisinya baru aja pulang dari rumah sakit kemarin” Jelas Nyonya Rosa.
“Udah mama tenang aja, ada Stevan yang jaga dia. Kita berdoa aja ya” Saran Tuan Alex.
Candra sudah sampai di kantornya, di sana ia berteriak memanggil Alexaria.
“Alexaria! Alexaria!” Teriak Candra.
Seketika Alexaria datang menghampiri Candra dengan wajah ketakutan. Semua karyawan Candra juga datang melihat apa yang terjadi.
“Iya pak ada apa?” Tanya Alexaria cemas.
Candra menunjukkan video yang diberi oleh Stevan tadi.
“Ini maksudnya apa, ha?!!” Teriak Candra.
Alexaria berusaha untuk mengelak tapi tidak bisa.
“Pak, saya bisa jelasin semuanya” Bujuk Alexaria.
“Saya nggak mau dengar satu kata pun dari mulut kamu. Berani beraninya kamu mau hancurin perusahaan saya! Sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini!” Kata Candra dengan tegas.
Alexaria merasa malu karena ia dipecat secara tidak hormat di depan seluruh karyawan Candra. Ia pergi dengan menahan rasa malu dan marah, dia luar ia membatin...
“Lihat aja Candra, aku bakal balas aemua penghinaan kamu ini suatu hari nanti!” Batin Alexaria kemudian pergi.
Di dalam Candra merasa sangat kecewa.
“Stevan, aku benar benar nggak nyangka kalau Alexaria bisa ngelakuin semua ini. Aku minta maaf karena sebelummya aku nggak percaya sama kamu” Kata Candra.
“Iya Can, aku paham kamu tenang aja. Yang penting sekarang masalah Alexaria udah kelar” Kata Stevan.
Candra mengangguk kemudian kembali ke apartemennya bersama dengan Stevan.
•
•
•
•
•
“Hehe, iya tante. Aku lagi ngerjain pekerjaan kantor” Jawab Stevan.
“Oh ya? Emangnya kamu kerja di kantor mana?” Tanya sang ibu.
“Saya kerja di kantornya Candra, tante”
“Wah bagus dong. Ya udah, Candra, sekarang kamu antar kami ke kamar kami ya” Kata sang ibu.
“Oh iya ma, ayo” Jawab Candra.
Candra mengantar keluarganya ke kamar mereka masing masing, dan Stevan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah mereka sampai di kamar mereka, mereka sangat senang dengan keadaan kamar mereka.
“Wah kakak, ini kamarnya
__ADS_1