
Pagi berlalu, senja pun datang. Zafira masih saja memikirkan apa yang dikatakan Candra tadi di tempat duduk yang ada di balkon apartemennya dan dia hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa memberi jawabannya sekarang.
Tuan William melihat Zafira melamun seperti itu merasa kasihan dan bingung, akhirnya Tuan William bertanya kepada Zafira.
“Zafira, kenapa kamu ngelamun aja?” Tanya Tuan William.
“Aku bingung pi, harus jawab apa”
“Emangnya kamu kenapa?” Tanya Tuan William dengan lemah lembut.
“Apa aku kasih tahu papi aja ya”
“Jadi gini pi, tadi Candra mengatakan bahwa dia...”
“Dia kenapa?”
“Dia suka sama aku pi” Jawab Zafira
Tuan William terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zafira, dia pun memberi masukan yang sebaik baiknya kepada putri satu satunya.
“Kamu suka nggak sama dia?” Tanya Tuan William.
“Gimana ya, aku tuh takut pi”
“Takut kenapa?”
“Aku takut pada cinta, bahkan aku sendiri nggak tahu apa itu cinta dan bagaimana cinta yang sebenarnya. Aku cuma nggak mau kisah cinta aku berakhir kayak mami dan papi” Jawab Zafira.
“Iya tapi takut kenapa? Ya udah sekarang gini, besok kamu temui Candra”
“Buat apa? Nanti dia malah nanya hal itu lagi”
“Udah kamu temui aja dulu, nanti kamu tahu jawaban dari semua pertanyaan kamu itu. Sekarang hari udah mulai gelap, kamu masuk lalu mandi dan kemudian kita makan malam bersama ya” Kata Tuan William.
“Iya pi”
•
•
•
•
•
Disisi lain, Candra juga sedang berpikir jawaban apa yang akan dikatakan oleh Zafira.
“Kira kira Zafira jawab apa ya? Dan kenapa waktu aku ungkapkan perasaan suka ku kepadanya aku lihat matanya berkaca kaca, apa aku salah?” Gumam Candra.
Gumaman Candra itu tidak sengaja terdengar oleh temannya yaitu Stevan.
“Apa? Jadi kamu udah ngungkapin perasaan kamu?” Tanya Stevan tiba tiba.
Candra terkejut karena ternyata perkataannya tadi didengar oleh Stevan, dia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Eh, Stevan. Ayo masuk” Kata Candra gugup.
“Iya Can, tapi tadi aku nggak sengaja dengar kalau kamu...”
“Mm kamu mau tidur pakai bantal ini kan? Ambil aja” Kata Candra menangalihkan.
“Candra, jawab dulu. Jangan coba ngalihin pembicaraan deh” Kata Stevan memaksa.
Candra menghela nafas sejenak.
“Hhhhhh”
“Iya” Jawab Candra.
Stevan terkejut sekaligus merasa senang karena temannya sedang jatuh cinta.
“Ya Ampun Candra... Aku nggak nyangka, aku turut bahagia ya. Mmmm, tapi gimana, Zafira udah jawab belum?”
“Nah itu dia, aku tuh takut dia kenapa kenapa”
“Maksud kamu apa? Bukannya kamu ngomong baik baik?”
“Iya, tapi aku lihat tadi matanya itu berkaca kaca”
“Mungkin aja dia itu merasa terharu Can”
“Iya deh. Oh ya, kamu udah dapet informasi baru apa belum soal Alexaria?” Tanya Candra penasaran.
“Udah dong”
“Wah iya?! Apa informasinya? Cepat bilang” Kata Candra tergesa gesa.
“Iya iya, sabar ngapa. Jadi informasinya gini, dia itu ternyata nggak pernah bekerja di PT. INDRAJAYA”.
“Oh ya? Terus dimana dia pernah bekerja sebelumnya?”
“Ya kalau soal itu sih, aku belum tahu. Sementara itu informasi terbarunya” Jawab Stevan.
“Mm.. Ya udah nggak apa apa, makasih ya atas informasinya. Tolong kamu pantau terus gerak geriknya dan cari tahu informasi soal dia” Kata Candra.
“Iya, sekarang aku mau tidur. Sampai jumpa besok pagi” Kata Stevan.
__ADS_1
“Sampai jumpa”
“Eh iya, bantalku!” Kata Stevan lalu mengambil bantalnya dan kemudian pergi.
“Dasar” Gurau Candra kemudian tidur.
Keesokan hari tiba, Zafira bangun dari tidurnya, dan yang terlintas dipikirannya langsung perkataan Candra.
“Aduh, kenapa sih si Candra selalu aja gangguin pikiran aku”
“Zafira, ayo sarapan dulu” Panggil Tuan William.
“Iya pii” Jawab Zafira kemudian pergi menghampiri Tuan William.
Setelah sampai di ruang makan, Tuan William kembali bertanya soal perasaan Zafira.
“Fir, gimana? Kamu udah mutusin sesuatu belum?”
“Mm belum pi” Jawab Zafira ragu.
“Sekarang gini, kamu tuh sebenarnya suka kan sama Candra?” Tanya Tuan William.
“Papi kenapa tanya gitu sih?”
“Iya, papi tahu dari mata kamu, mata kamu menandakan kalau kamu itu suka sama Candra”
“Ih papi, bikin bete aja deh. Udah ah sekarang aku mau nemuin Candra seperti yang papi suruh” Jawab Zafira kemudian pergi.
“Loh, kok marah gitu sih? Haha Zafira Zafira. Walaupun kamy nyembunyiin semua itu dari papi, tapi papi tahu” Gumam Tuan William.
•
•
•
•
•
“Candra mana sih? Lama banget, biasanya juga dia udah stand by duluan. Duh bikin kesel aja, tapi apa ini gara gara kemarin ya?” Gumam Zafira di taman.
Tak lama kemudian, Candra datang menghampiri Zafira.
“Zafira, maaf ya aku udah bikin kamu nunggu” Kata Candra.
“Duuh, kamu tuh kemana aja sih? Bukannya stand by tapi malah molor. Untung aku sabar, kalau nggak aku pasti udah pergi”
“Itu, aneh banget. Udah jelas jelas kamu yang nyuruh tapi kamu yang marah. Maaf tadi aku ada kerjaan sebentar. Sekarang bilang kamu mau ngomong apa?” Tanya Candra.
“Mm. Aku, mau bilang...”
“Bilang apa?” Tanya Candra.
“Bilang...”
“Haaaa!! Jangan jangan kamu mau bilang kalau kamu cinta sama aku, iya kan?” Tanya Candra tiba tiba.
“Ih apaan sih! Aku aja nggak tahu apa itu cinta” Jawab Zafira.
“Masa sih, aku nggak percaya. Udah jujur aja, kamu cinta kan sama aku?”
“Nggak” Jawab Zafira bulat.
“Iya” Kata Candra
“Nggak”
“Iya”
“Ya udah iya!” Jawab Zafira dengan nada tinggi.
“Tuh kan, bener”
“Aduh, aku keceplosan lagi” Batin Zafira.
“Berarti sekarang kita pacaran ya?” Tanya Candra girang.
“Mm.. Gimana ya?” Gurau Zafira.
“Ayo dong” Kata Candra.
Zafira mengangguk iya.
“Haaa!!! Yaaayyyy, bersyukur banget akuu” Kata Candra dengan begitu bahagia.
“Udah deh nggak usah lebay” Kata Zafira.
“Tapi sebelum itu, aku boleh nggak tanya sama kamu?” Kata Zafira.
“Ya bolehlah sayang” Jawab Candra.
“Ih, nggak usah pakai sayang sayang deh. Lebay tahu!”
“Ya udah, boleh Zafira. Ayo tanya apa?”
“Apa itu cinta?” Tanya Zafira.
__ADS_1
Pertanyaan Zafira membuat Candra teringat akan Alisha yang pernah melontarkan pertanyaan yang sama persis dengan Zafira.
“Candra, ayo jawab. Kamu nggak bisa jawab ya?” Tanya Zafira.
“Candra, kamu tuh dengar nggak sih? Kok malah bengong gitu” Kata Zafira.
“Iya, aku dengar, dan pertanyaan kamu itu membuat aku teringat sama Alisha, sahabat kecilku dulu” Jawab Candra.
“Maksud kamu apa? Maaf ya kalau aku bikin kamu sedih”.
“Iya nggak apa apa. Kamu tahu, Alisha itu punya sifat yang sama persis dengan kamu. Dia polos, pemarah, nggak sabaran. Tapi dibalik semua itu, dia punya sifat yang begitu luar biasa, dia sangat penyayang, periang, penghibur, ceria, cantik. Jadi kalau aku lagi sedih, dia selalu ngehibur aku. Tapi, semua itu sekarang hanyalah kenangan. Tapi walaupun begitu, entah kenapa waktu aku bersama kamu, aku selalu merasa Alisha itu masih hidup, dia selalu bersamaku, dan dia bisa menghiburku” Jelas Candra.
Zafira sempat terharu dengan penjelasan Candra dan dia sempat meneteskan air mata.
“Eh, Zafira kok malah kamu yang nangis?” Tanya Candra.
“Iya, aku terharu sama penjelasan kamu. Kayaknya, kamu terpukul banget ya sama kepergian sahabat kamu itu? Sampai sampai kamu nggak percaya kalau dia udah pergi ninggalin kamu untuk selamanya” Kata Zafira.
“Makasih ya, kamu udah mau dengar cerita singkat aku. Tapi udahlah, aku akan berusaha buat mengikhlaskan Alisha. Apalagi sekarang udah ada kamu yang bisa menghibur aku, dan menemaniku selalu” Kata Candra.
“Ah bisa aja” Kata Zafira.
Kemudian mereka berpelukan, lalu pergi menuju apartemen masing masing.
•
•
•
•
•
Malam pun tiba, bintang bintang tidak seperti biasanya, malam ini tidak ada satu pun bintang yang terlihat, dan yang terlihat hanyalah kilatan kilatan petir dan suara gemuruh dari gumpalan kapas raksasa.
Candra sedang menyelesaikan pekerjaan kantornya, dan setelah selesai dia terlihat begitu bahagia sampai sampai Stevan bertanya kepadanya.
“Akhirnya selesaiii” Kata Candra girang.
“Ya ampun girang banget bisa nyelesaiin pekerjaan. Walaupun sedikit” Kata Stevan.
“Ya iya lah, Stevan aku mau kasih tahu sesuatu sama kamu” Kata Candra.
“Apa?”
“Aku udah jadian sama Zafira”
“Oh. Eh Apa?! Kamu udah jadian?” Tanya Stevan.
Candra mengangguk.
“Ya ampun selamat ya Candrakuuuu” Kata Stevan kemudian memeluk Candra.
“Iya iya udah, makasih ya. Sekarang karena aku udah jadian sama Zafira aku mau ngajak kamu, Alex, dan Willy untuk makan siang besok” Kata Candra.
“Kenapa harus besok sih?”
“Kamu nggak lihat apa kalau diluar mendung kayak gitu? Apalagi menurut penelitian malam ini tuh bakal ada badai” Kata Candra.
“Iya iya, aku bercanda” Kata Stevan.
“Ya udah, sekarang tidur sana”
“Iya iya, tapi aku mau bawa bantal aku dulu”
“Iya sana” Kata Candra
Stevan pun pergi ke kamarnya.
“Dasar aneh, emang nggak bisa banget ya? Tidur nggak pakai bantal balap?” Gumam gurau Candra.
Candra begitu bahagia dengan apa yang telah terjadi. Disisi lain, Zafira merasa gelisah dan bingung bagaimana akan mengatakan semuanya kepada ayahnya yaitu Tuan William. Akhirnya dia pun memutuskan untuk membicarakannya dengan baik baik.
“Papi” Panggil Zafira di teras.
“Iya Fir, ada apa?” Tanya tuan William sambil menyeruput tehnya.
“Aku, mau bicara sama papi” Kata Zafira dengan nada tak yakin.
“Ayo bicara aja”
“Tapi papi janji nggak akan marah ya?” Tanya Zafira kembali.
“Iya, nggak akan marah kok papi”
“Aku... Udah jadian sama Candra” Jawab Zafira.
“Apa? Bukannya kamu bilang kalau kamu nggak mau sama dia” Kata Tuan William.
“Iya pi, tadinya aku mau nolak, tapi karena perasaan entah kenapa aku bisa ngomong ‘iya’, aku bingung deh sama diri aku sendiri” Jawab Zafira.
“Itu tandanya kamu sudah benar benar mencintai Candra dari hati sampai sampai kamu menerima permintaan cinta dari Candra”
“Ah papi bisa aja deh. Udah ah sekarang aku mau istirahat dulu, aku capek banget” Kata Zafira kemudian pergi.
“Iya sana” Jawab Tuan William
__ADS_1