
"Bangun! Tukang tidur."
Eris merasakan goncangan di bahunya. Ia hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban, tapi goncangan itu datang lagi dan kali ini lebih hebat. Mau tidak mau Eris harus bangun dari tidur ayamnya. Dengan posisi kepala yang ia benamkan ke meja dan tangan menekuk sebagai bantal, Eris perlahan membuka matanya lalu menyipit ke arah Gina yang sudah berdiri menjulang di depannya.
Gina sendiri adalah sahabatnya sejak mereka berkenalan di taman kanak-kanak sampai saat ini, dan selama itu pula keduanya selalu satu sekolah dan duduk bersama. Tidak ada rasa bosan dalam persahabatan mereka, malah karena selalu berdampingan, keduanya kerap dijuluki anak kembar yang tidak terpisahkan.
"Udah sepuluh menit?" tanya Eris yang masih mengantuk. Ia mengucek matanya dan menyesuaikan pandangan ke sekitar kelas. Tidak banyak anak yang tinggal, kebanyakan dari mereka memilih pergi ke kantin atau sekedar duduk di teras kelas sambil menikmati wifi gratis yang disediakan sekolah.
"Udah, malah hampir lima belas menit." kata Gina sambil menunjuk ke arah jam dinding yang terpasang di dinding belakang mereka.
Eris mendesah. Ia tadi memang meminta Gina untuk memberinya waktu sepuluh menit untuk bisa tidur. Dan sekarang rasanya Eris ingin tidur kembali. Matanya masih mengantuk. Untuk membuka lebar saja rasanya butuh perjuangan keras. Salahkanlah dirinya yang tadi malam begadang sampai jam tiga pagi hanya karena ingin memuaskan diri menonton film Romeo And Juliet sampai dua kali putaran.
"Gimana kalau lo pergi sendiri aja?" tawar Eris yang ditolak Gina dengan satu gelengan.
"Lo tadi udah janji bakalan nemenin gue. Sekarang, ayo, bangun! Kita ke kantin. Gue udah laper." rengek Gina.
"Tapi gue masih ngantuk."
"Justru karena lo akan jalan dan nanti lo makan, kalau bisa yang pedas, nanti mata lo jadi melek. Percaya sama gue." Tanpa memberi aba-aba, Gina sudah menarik lengan Eris.
Eris hanya bisa pasrah saja ketika lengannya ditarik Gina sampai keduanya tiba di kantin. Suasana kantin hari ini lumayan sesak dari biasanya. Anak-anak berdesakan untuk mendapatkan makanan dari stand di kantin. Padahal kalau mereka mau mengantre dengan benar, tidak perlu ada yang namanya saling teriak, membentak dan saling membela diri siapa yang duluan sampai untuk membeli. Bahkan kadang ada yang kelewat mencaci maki karena merasa pesanannya diambil orang lain.
Beberapa anak terdorong-dorong ke arah Eris. Eris dan Gina spontan mundur dua langkah ke belakang. Saat-saat kantin seperti inilah yang membuat Eris takut karena khawatir akan bersentuhan dengan lawan jenis. Kalau bukan karena jaketnya yang selalu ia pakai---
Tunggu dulu! Rasanya seperti ada yang salah.
Eris menunduk memeriksa badannya dan matanya melebar begitu sadar kalau ia tidak memakai jaketnya. Diingatnya kembali tadi Gina yang langsung menariknya keluar kelas jadi Eris tidak sempat memakai jaketnya terlebih dahulu.
Bahaya, batin Eris.
Sekarang pilihan satu-satunya adalah kembali ke kelas, atau kalau tidak ia bisa saja bersentuhan kulit dengan makhluk berjenis kelamin cowok, yang akan berakhir dengan kulitnya gatal-gatal dan pipinya memerah.
Tidak, Eris tidak mau mereka melihat Eris dalam keadaan kambuh. Eris tidak ingin anak sekolahnya tahu tentang penyakitnya. Ia tidak ingin mereka memandanganya dengan pandangan mengasihani. Sudah cukup mereka memandanganya dengan tatapan aneh karena selalu memakai jaket, tidak perlu ada pandangan kasihan atau bahkan mungkin mengejek.
Touchibia, penyakit ini terasa sangat menyebalkan bagi Eris karena membuat ruang geraknya sangat terbatas. Ia tidak bisa leluasa ke sana ke mari layaknya remaja normal lainnya. Eris harus menghindar setiap kali ada cowok. Akibatnya Eris tidak mempunyai teman cowok satupun.
"Gina, gue ke kelas dulu ya." bisik Eris buru-buru sambil melepaskan pegangan Gina di lengannya.
"Ngapain ke kelas lagi?" tanya Gina dengan dahi berkerut.
Eris mengarahkan pandangannya ke bawah dan saat itu juga pandangan Gina ikutan turun. Barulah saat itu sahabat Eris itu tersadar.
"Astaga, jaket lo!" pekik Gina tertahan. Beruntung suasana kantin yang sedang riuh jadi tidak ada anak yang menganggap pekikan Gina sebagai sesuatu yang menarik untuk dilihat.
__ADS_1
"Nanti gue ke sini lagi." kata Eris yang dijawab dengan anggukan oleh Gina.
Dengan itu Eris berbalik dan segera berjalan cepat menuju kelasnya. Ia sempat mendengar teriakan Gina yang mengatakan agar ia berhati-hati.
Sepanjang jalan Eris berusaha untuk tidak menabrak siapapun bahkan yang cewek yang lewat sekalipun. Eris berjalan terlalu ke tepi dan kalau ada cowok yang berpapasan, ia akan berhenti lalu memiringkan tubuh agar jalan cowok itu lebih lebar. Padahal kalau Eris tetap jalan menghadap ke depan masih muat jalannya.
Perjalanan ke kelasnya entah kenapa rasanya jadi lama sekali dan pandangan Eris sedikit mengabur. Mungkin karena rasa kantuknya tadi yang belum sepenuhnya hilang. Ingin lebih cepat sampai, Eris memutuskan untuk berlari saja.
Oke, mungkin lari adalah pilihan yang lebih baik, pikirnya.
Eris pun berlari, kelas demi kelas sudah ia lewati dengan mulus tanpa hambatan. Namun lama-lama Eris malah mendapati dirinya tidak bisa menghentikan laju kedua kakinya yang seakan sudah bergerak sendiri. Dan sedetik kemudian Eris tidak menyadari apapun, tahu-tahu saja dirinya sudah menabrak sesuatu. Atau mungkin seseorang lebih tepatnya.
Bugh.
Eris tidak tahu apa yang terjadi detikĀ selanjutnya setelah ia menabrak keras orang itu, yang ia lihat di hadapannya sekarang adalah lantai yang tak jauh dari depan mukanya.
Eris memejamkan matanya rapat-rapat dan menunggu rasa sakit karena mukanya akan menghantam lantai. Anehnya rasa sakit yang ia tunggu itu tidak kunjung datang.
Perlahan, Eris mencoba peruntungam dengan membuka matanya. Dan pemandangan di depannya membuat Eris harus menahan nafas. Demi apa, ia tidak pernah sekalipun berpikir akan bertatapan langsung dengan Ethanael Giancarlo dalam jarak tidak kurang dari dua jengkal. Ethan sendiri adalah cowok yan ia sukai diam-diam selama ini sejak jaman MOS sampai sekarang ia kelas sebelas.
Jantung Eris berdegup dengan cepat begitu mendapati tatapan Ethan yang tertuju ke wajahnya. Samar-samar setelah Eris mampu bernafas kembali, ia bisa mencium bau mint dari tubuh Ethan. Baunya sangat menenangkan dan membuat Eris rileks.
Perutnya tergelitik ketika ia merasakan sesuatu bergerak di pergelangan tangan dan juga sekitar pinggangnya. Terasa seperti jari--- atau mungkin tangan lebih tepat.
"Kyaaa!!!" Eris bergerak kesetanan melepaskan diri dari Ethan. Usahanya memang berhasil membuatnya lepas, tapi ternyata tidak semulus perkiraannya. Karena setelah lepas dari Ethan, Eris malah terjatuh kembali. Kali ini dengan bokong yang mendarat duluan ke lantai sekolah yang dingin.
"Aduhh..." Eris meringis karena merasa nyeri di bokongnya. Eris baru mendongak ketika mendengar suara Ethan.
"Lo gak apa-apa?" Ethan bertanya dengan senyuman tertahan. Namun Eris dapat melihat sudut bibir Ethan tertarik ke atas.
Memalukan, batin Eris. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah membuat malu diri sendiri di depan cowok yang jelas ia suka. Pasti sekarang Ethan akan memandangnya sebagai cewek aneh, alih-alih cewek yang tertarik pada cowok itu. Lengkap sudah penderitan Eris sekarang.
Ethan pasti tidak akan melirik ke arahnya setelah kejadian ini. Lagian semisal Ethan melirik kepadanya, mana mungkin mereka bisa bersama. Eris tentu tidak melupakan tentang penyakitnya yang jelas membuat dia tidak bisa bersama dengan Ethan. Ethan juga tentu lebih memilih bersama cewek normal, daripada dengannya, cewek aneh dengan penyakit yang aneh pula.
"Lo belum jawab pertanyaan gue." kata Ethan kembali, membuyarkan lamunan Eris. Namun bukannya menjawab, Eris hanya melongo.
"Sini gue bantu." Tangan cowok itu terulur ke depan seakan hendak membantu Eris berdiri.
Namun dengan cepat, Eris malah mundur ke belakang, menghindar dari sentuhan Ethan. Ia bisa melihat kening cowok itu berkerut. Tapi Eris sekarang sudah tidak peduli karena yang ia butuhkan saat ini adalah menghilang secepat mungkin.
Oleh karena itu, Eris segera berdiri dan kabur menjauh. Meninggalkan Ethan yang terdiam di posisinya memandang Eris pergi dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya.
***
__ADS_1
Toilet.
Hanya tempat itu yang Eris pikirkan saat ini. Bukannya ke kelas, tapi ia malah memilih ke toilet untuk bersembunyi. Setelah ketemu, Eris masuk.
Isi. Isi. Isi. Kosong. Eris masuk ke bilik toilet yang ada di pojok lalu menguncinya dari dalam.
"Obat, gue butuh obat." rapal Eris dengan gerakan tergesa-gesa mencari ke dalam saku rok dan bajunya. Tangannya terhenti ketika yang ia cari tidak ketemu. Obatnya tidak ia bawa.
Diingatnya kembali tadi pagi sebelum berangkat sekolah ia sudah menyimpan obatnya ke saku bajunya. Tapi kenapa sekarang malah menghilang.
Jangan bilang kalau obatnya tadi terjatuh ketika ia menabrak Ethan. "Ahh Sial." desah Eris sambil menepuk dahinya dengan tangan. "Bego, bego, bego. Sekarang gimana caranya buat dapatin tuh obat lagi."
Gina. Iya, sahabatnya itu mungkin bisa membantu. Eris ingat ia masih punya persediaan satu kotak kecil lagi di tasnya. Ia akan menelpon Gina dan meminta sahabatnya itu untuk mengambilnya.
Eris menarik hpnya dari dalam saku rok dan segera menelpon partner in crime-nya itu. Eris berdoa semoga saja Gina belum makan di kantin, karena kalau sudah makan, bisa saja Gina tidak menghiraukan panggilannya.
Selama menunggu telfonnya diangkat. Eris menaikkan sebelah tangannya ke atas. Ia memandangi sekitaran tangannya sambil menunggu rasa gatal luar biasa yang muncul sebagai akibat setelah ia bersentuhan kulit dengan cowok.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Sampai detik kelima, rasa gatal itu tidak kunjung muncul. Pipinya pun tidak memerah ketika ia memusatkan pandangannya ke arah cermin di dalam toilet.
Mungkin reaksinya belum muncul, pikirnya, tapi biasanya lima detik aja udah muncul.
"Halo." sapa Gina akhirnya setelah mengangkat telefon Eris.
"Gina, maaf banget karena gue ganggu acara makan lo, tapi sekarang gue bener-bener butuh bantuan lo." bisik Eris cepat dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Eris, ada apa?" tanya Gina di seberang sana. Suaranya terdengar sangat khawatir.
Eris menarik nafas dahulu sebelum bicara. "Gue tadi gak sengaja sentuhan sama Ethan. Dan sekarang gue di toilet gak jauh dari kelasnya dia."
"Kenapa lo di toilet? Obatnya udah diminum?"
Eris menggigit jarinya. "Itu dia masalahnya. Gue gak bisa minum obatnya, karena obatnya kayaknya jatuh waktu gue tabrakan sama Ethan dan anehnya sekarang---"
"Oke gue segera datang. Lo tetap di sana jangan kemana-mana." sambungan terputus sebelum Eris sempat menyelesaikan kalimatnya.
"--- gue gak ngerasa gatal."
[ Lots Of Love. Chocolovas ]
__ADS_1