
Eris ingat pernah berjanji akan mengatakan masalah sentuhannya dengan Ethan kepada Kak Keenan dan juga papanya. Sekarang setelah Kak Keenan ada di rumah, dan karena mereka sudah hampir selesai makan malam, Eris berpikir ini waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu.
Eris meletakkan sendoknya hati-hati ke atas piring begitu acara makannya selesai. Lalu ia beranikan diri untuk bersuara. "Kak, ada sesuatu yang mau aku omongin." katanya.
"Apa?" tanya Keenan tanpa langsung melihat Eris. Ia masih disibukkan dengan acara mengunyah makanannya.
Melihat itu Eris jadi tidak enak dan merasa tak sopan kalau menyela acara makan Kak Keenan. "Nanti aja deh, aku ceritanya kalau kakak sudah selesai makan."
"Sekarang aja. Kakak juga udah selesai." Keenan menyingkirkan piring kotornya ke pinggir. Ia menandaskan segelas air putih dahulu sebelum mulai memusatkan pandangan serta pikirannya untuk Eris. "Jadi, mau cerita apa? Apa ada yang nakal sama kamu di sekolah?" tebak Keenan.
Eris praktis menggeleng. "Bukan. Malah bisa dikatakan ini berita bagus."
"Kamu jadi buat kakak penasaran aja."
"Aku udah boleh mulai cerita?" tanya Eris dan dijawab anggukan oleh Keenan. Cewek itu menghela nafas sesaat. "Ada cowok namanya---"
"Kamu suka sama dia?" sela Ethan cepat sebelum Eris menyelesaikam kalimatnya.
"Kakak, aku belum selesai ngomongnya. Dengerin dulu." protes Eris.
"Oke oke. Silahkan dilanjut tuan putri." kata Keenan disertai kedipan mata menggoda adiknya.
"Kakak! Aku serius." sungut Eris kesal.
Mau tak mau Keenan tergelak. Senang rasanya melihat Eris marah, menurutnya adiknya itu akan terlihat lebih lucu. "Oke, maafin kakak. Sekarang coba lanjutin ceritanya."
Eris berdehem dahulu sebelum mulai. "Jadi ada cowok namanya Ethan. Sebenarnya, benar apa yang kakak katakan tadi kalau aku emang suka sama dia."
"Nah kan kakak bener." sahut Keenan disusul dengan tepukan keras dari telapak tangannya yang beradu.
Hampir saja Eris terlonjak dari kursinya tatkala mendengar tepukan tangan kakak laki-lakinya itu yang terdengar nyaring di rumahnya yang sepi.
"Waktu itu aku ke kantin sama Gina, dan aku gak sengaja lupa pakai jaket. Terus aku balik ke kelas buat ngambil jaketnya. Di tengah jalan aku gak sengaja nabrak Ethan. Dan dia megang tanganku." Eris menjeda sesaat sebelum akan bicara lagi. Dilihatnya sekarang mata Kak Keenan sudah menatapnya dengan pandangan serius. Karena kakaknya itu tidak memberi tanggapan, jadilah Eris melanjutkan.
"Tapi anehnya, badanku gak bereaksi apa-apa. Waktu itu aku langsung sembunyi ke toilet, aku udah ketakutan apalagi tahu obatnya gak sama aku. Yang mana itu jatuh waktu aku tabrakan sama Ethan. Di toilet, aku nunggu rasa gatalnya datang, tapi gak muncul-muncul. Sampai akhirnya Gina datengin aku beberapa menit kemudian, dia bawain obat yang aku simpan di tas. Tapi sejak aku sentuhan sama Ethan sampai Gina bawain aku obat, badanku gak muncul reaksi apa-apa. Aku... baik-baik saja dan... normal."
Eris selesai bercerita dan dilihatnya kening Keenan mengernyit dalam. Pandangan Keenan memang tertuju padanya, hanya saja kali ini pikiran Keenan pasti sedang tidak di tempatnya. Memikirkan cerita yang baru diselesaikan Eris tadi. Hening cukup lama, sampai Keenan yang pertama memecahnya.
"Dia beneran megang tangan kamu? Maksud kakak adalah, apa kamu beneran sentuhan kulit sama dia? Bukan khayalan kamu doang kan?"
Eris menggeleng mantap. "Aku yakin seyakin-yakinnya kalau Ethan beneran megang tanganku. Waktu sorenya kan aku niatnya nyari kotak obatku yang jatuh, nah di situ aku ketemu Ethan lagi. Rupanya dia yang nemuin obatnya dan dia juga nyari aku buat balikin obat itu. Terus aku gunain kesempatan ini buat nyoba nyentuh dia lagi. Aku megang tangannya selama lima detik. Dan hasil akhirnya, aku benar-benar baik-baik saja bahkan sampai pulang dan bangun keesokan paginya aku tetap baik-baik saja. Gak ada yang aneh ataupun berubah satupun. Semua berjalan normal seperti aku nyentuh kakak atau papa."
"Ini aneh." gumam Keenan. Dan Eris menyetujuinya dalam hati.
"Ada lagi yang mau kamu ceritain ke kakak?"
"Ada. Tadi siang di sekolah aku ketemu sama Ethan lagi dan dia ngajak makan bareng di kantin. Aku baik-baik aja sama dia sampai waktu abang tukang baksonya gak sengaja nyentuh tanganku, lalu aku kambuh."
Ketukan jari Keenan di meja menjadi pertanda bahwa kakak Eris ini berpikir dalam. Hening beberapa saat lalu ia mengambil kesimpulan. "Jadi inti dari semua cerita ini adalah ketika kamu sentuhan sama Dian---"
"Ethan." sahut Eris mengoreksi.
"---badan kamu gak bereaksi apa-apa dan kamu tetap baik-baik aja. Tapi waktu kamu sentuhan sama laki-laki lain selain dia, kamu tetap kambuh, begitu?"
Samar-samar Eris mengangguk. "Iya. Intinya begitu. Aku awalnya juga kaget. Aku kira reaksinya mungkin datang telat. Tapi setelah sekian lama, gak ada apa-apa."
Eris melanjutkan. "Kak, apa jangan-jangan aku udah mulai sembuh?"
Keenan ingin sekali menghibur adiknya dengan mengatakan mungkin saja Eris sembuh. Tapi ia tahu itu adalah hal yang mustahil. Karena ayahnya pernah mengatakan padanya kalau touchibia itu tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Melalui pengobatan lah baru penyakit ini bisa dihilangkan. Sayangnya, Eris tidak tahu menahu akan hal ini.
Ia dan ayahnya sepakat untuk menyembunyikan berita itu dari Eris agar adik Keenan itu tidak merasa sedih dengan penyakitnya dan tidak kehilangan semangat. Jadi untuk membalas perkataan Eris, Keenan memilih untuk mengalihkan topik.
"Tadi bibi cerita sama kakak kalau kamu diantar cowok. Apa yang mengantar kamu ini si Ethan Ethan ini?"
Eris sendiri berusaha menekan rasa sakit di hatinya begitu kak Keenan dengan sengaja mengalihkan topik dan tidak menanggapi perkataannya tadi mengenai apakah dirinya mulai sembuh.
Tidak ingin Kak Keenan tahu rasa sakit yang ia rasakan, Eris memilih mengalihkan pandangannya ke bawah. Tangannya memilin ujung-ujung bajunya menjadi gulungan-gulungan kecil. Eris yakin gerakannya ini akan membuat Keenan berpikir kalau ia malu dan tersipu, alih-alih sedang merasa sakit hati.
"Iya dia yang tadi sore nganter aku." jawab Eris lirih.
__ADS_1
"Kamu sekarang pintar bohongin kakak, ya. Ngakunya pulang sama Gina. Tahunya pulang sama cowok." goda Keenan tanpa tahu Eris berusaha untuk tidak menitikkan air matanya saat itu juga.
Eris berdehem menjernihkan suaranya agar tak terdengar bergetar. "Sebenarnya waktu kakak nelfon, Gina udah pulang duluan soalnya dia lagi bantu-bantu di rumah saudaranya yang lagi ada hajatan dan harus pulang cepat. Terus ada Ethan nawarin pulang bareng. Ya udah, aku terima."
"Lain kalau mau pulang selain sama Gina atau Pak Darmo, kamu kasih tahu kakak juga. Kamu gak tahu gimana terkejutnya kakak waktu nelfon Gina dan dia bilang kamu gak pulang sama dia."
"Iya, aku janji lain kali bakalan ngasih tahu."
"Terus itu pipi kamu kenapa?"
"Ooh ini kena bola bakset. Waktu aku lewat koridor, anak basket lagi latihan dan gak sengaja bolanya kena ke pipi aku. Ethan selaku kapten tim minta maaf. Sebagai tanda permintaan maafnya, dia nawarin pulang bareng." Eris mengusap pipinya. Ia sudah mendongakkan kepalanya ke atas lagi, takut kalau melihat ke bawah terlalu lama akan menimbulkan kecurigaan pada Keenan. Sebagai gantinya ia mengalihkan pandangan ke arah lain menghindar dari tatapan kakaknya.
"Harusnya mereka lebih hati hati. Sakit?"
Eris bisa mendengar nada khawatir mewarnai suara Kak Keenan. "Awalnya sih nyeri. Tapi lama-lama biasa aja."
"Oiya, soal masalah Ethan, kamu udah kasih tahu papa belum?"
"Belum. Aku sengaja gak ngasih tahu papa dulu. Aku mau Kak Keenan yang tahu duluan."
Keenan lalu berdiri dari kursinya. "Kalau begitu sekarang kakak ambil laptop, biar bisa skype sama papa. Nanti kita bicarain masalah ini sama-sama."
Eris mengangguk mengiyakan. Yang terjadi selanjutnya adalah Kak Keenan pergi dari hadapan Eris menuju kamarnya di lantai atas untuk mengambil laptop.
Selama menunggu kakaknya turun, Eris memih membereskan meja makan. Mendesah lelah, ia merenung apa ada kemungkinan dirinya sembuh dan bisa punya kebebasan seperti orang normal lainnya yang bisa bersentuhan dengan siapa saja. Bisa hidup tanpa terkekang rasa khawatir setiap saatnya. Eris sangat tahu dirinya tidak boleh putus semangat, apalagi ada pengobatan di negeri luar sana yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Tapi, tetap saja Eris merasa takut. Ia takut kalau-kalau pengobatan yang akan ia jalani nanti berujung gagal. Ia takut semua tidak berhasil untuknya.
Eris menggelengkan kepalanya kuat-kuat menghilangkan pikiran negatif di otaknya. Ia masih punya Kak Keenan dan papa. Tidak seharusnya Eris putus asa. Apalagi dua orang paling disayanginya ini selalu mendukung Eris, memberikannya semangat. Jadi tidak pantas baginya untuk mudah menyerah dan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Ya, seperti itu seharusnya dia berpikir.
Selesai meletakkan piring kotornya ke tempat cucian, Eris memilih duduk di kursinya kembali. Kakinya ia ayunkan pelan-pelan depan belakang. Tanpa sengaja ia menendang sesuatu. Hidup dan berbulu. Eris melongok ke kolong meja.
"Meow."
Rupanya ada Kyupi di sana, kucingnya atau tepatnya kucing kesayangan Kak Keenan, yang tadi sedang tiduran di bawah meja mengeong keras karena perutnya tanpa sengaja tertendang kaki Eris sampai kucing itu terlempar beberapa senti dari tempatnya.
Kyupi menggeliat sebelum memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Kucing itu lalu menyodorkan kepalanya ke Eris, kepalanya digesek-gesekan ke kaki Eris, minta dibelai. Eris membelainya dengan perhatian membuat Kyupi mengerang keenakan. Ketika tangannya terhenti karena mendengar seruan Ethan dari atas, kucing betina itu memicingkan mata jengkel ke arahnya seakan tidak suka kegiatan membelainya berhenti.
"Iya, Kak." balas Eris tak kalah keras. Kemudian dipandanginya si Kyupi. "Mau ikut ke kamar Kak Keenan?"
Kyupi yang tadinya melihat Eris dengan pandangan tidak bersahabat berubah melonjak kegirangan dan langsung melompat-lompat. Eris tertawa, lalu ia membungkuk, membiarkan Kyupi naik ke tangannya yang ia lipat di depan dada.
"Kakak, aku masuk." ucap Eris begitu ia yang sedang membawa Kyupi di tangannya masuk ke kamar Keenan.
"Meow." Kyupi si kucing genit juga tak kalah memberikan suara manisnya.
Tanpa aba-aba, Kyupi langsung meluncur begitu melihat Keenan dan kucing betina itu langsung naik ke pangkuan Keenan yang sedang duduk menyila di atas ranjang.
Kucing gila. Batin Eris.
Sama gilanya kayak Kak Keenan. Sambungya kemudian begitu melihat Keenan yang mengelus perut Kyupi sampa kucingnya itu mengerang keenakan untuk kedua kalinya malam ini.
"Meow... meow..."
Eris menggeleng-geleng melihat tingkah kakaknya itu ketika bersama Kyupi. Kyupi sendiri adalah kucing persia dengan bulu sedikit panjang berwarna oranye yang halus. Dulu kucing itu hanya kucing buangan. Entah siapa yang tega membuang kucing selucu itu di pinggir tempat sampai kompleks rumahnya. Keenan lah yang pertama kali menyelamatkan Kyupi, membawanya pulang ke rumah dan merawatnya. Mungkin karena itu Kyupi langsung jatuh cinta ke Keenan. Mungkin karena itu juga sekarang pasti Kyupi sudah menganggap Keenan sebagai malaikat penyelamatnya.
"Coba kamu yang sambungin ke papa." perintah Kak Keenan yang segera dituruti Eris. Tidak lama kemudian mereka sudah tersambung dengan Jefri. Wajah ayah keduanya muncul memenuhi layar.
"Hai, papa!" sapa Eris senang.
"Hai, princess."
"Gimana kabarnya, Pa?"
"Sehat selalu dong. Papa kan dokter, dokter kan gak boleh sakit. Kalau kamu sama Keenan gimana?"
"Seratus persen sehat."
"Papa jadi senang dengarnya. Kamu di kamar Keenan ya? Mana kakakmu kok gak kelihatan?"
"Iya, Pa, ini lagi di kamar kakak. Kak Keenan lagi sibuk ngelusin pacarnya." tawa Eris.
__ADS_1
"Heh?! Sini, mana kakakmu?!"
"Astaga, papa, Eris cuma bercanda. Nih pacarku." gerutu Keenan.
Ia beranjak turun dari ranjangnya lalu muncul di belakang Eris yang sedang duduk di meja belajar. Kemudian memperlihatkan Kyupi ke depan layar. Kyupi yang melihat wajah manusia di layar seketika langsung heboh. Tangannya berusaha mencakar-cakar ke depan. Mengetahui respon kucingnya kurang bersahabat, Keenan memilih menurunkan Kyupi ke lantai, menyuruhnya pergi jalan-jalan sendiri. Tanpa diberitahu dua kali pun, kucing yang selalu menuruti apa kata Keenan itupun langsung ngacir pergi.
"Pa, ada yang mau Eris ceritain ke papa." kata Eris mulai serius. Keenan yang tadi di berdiri belakangnya sudah menarik kursi dan duduk di sebelah Eris. Mendampingi adiknya.
Lalu mengalirlah cerita Eris seperti ia bercerita ke Keenan tanpa ada yang ditambah atau dikurangi. Di seberang sana Jefri mendengarkan cerita Eris dengan seksama.
"Apa papa sudah menemukan jawabannya?" tanya Eris penuh harap begitu selesai bercerita.
Di seberang sana Jefri hanya menggeleng lemah. "Maafin papa kalau mengecewakan Eris, tapi papa beneran gak tahu. Karena ini baru pertama kali terjadi dan papa juga belum pernah nemuin kasus seperti ini sebelumnya."
"Satupun belum pernah, Pa?" sekarang Keenan yang bertanya. Dan jawaban Jefri tetap sama. Belum ada.
"Ngomong-ngomong tadi nama cowoknya siapa?" tanya Jefri.
"Dian." sahut Keenan lebih cepat.
"Bukan." koreksi Eris, lalu disempatkannya untuk melototkan matanya ke Keenan sebelum berpaling ke Jefri lagi. "Namanya Ethan, Pa."
"Ethan." Jefri manggut-manggut. Dahinya berkerut dalam. "Namanya... kayak gak asing."
"Papa kan kerja di rumah sakit besar, tiap hari bertemu sama orang berbeda. Mungkin nama Ethan cukup sering jadi pasien papa."
Perkataan Eris cukup masuk akal. "Bisa jadi begitu. Tapi maaf karena papa belum bisa menemukan jawaban yang tepat."
"Pa, apa mungkin dia saudara kita?" tanya Keenan.
"Saudara?"
"Mungkin masih berhubungan saudara sama kita."
"Kemungkinan juga bisa begitu. Tapi papa gak bisa memastikan. Karena setahu papa kita gak ada saudara yang bernma Dian."
Hampir saja Eris merengek. Apalagi ketika mendengar Kak Keenan langsung tertawa keras di sampingnya.
Ayah dan anak sama aja, batin Eris.
"Pa, namanya Ethan. Kakak sama papa sama aja nyebutnya Dian." desah Eris.
"Iya-iya namanya Ethan. Kalau dilihat-lihat yang paling mendekati benar menurut papa adalah mungkin Ethan saudara kita."
Ethan yang sudah berhenti tertawa kembali memberikan suaranya. "Tapi, Pa, aku mau nanya sesuatu deh."
"Silahkan, boy, mau nanya apa?"
"Kulit Eris kan sensitif banget dan hanya bisa sentuhan sama cewek atau gak ya cowok yang sehubungan darah. Nah, dari kesensitifannya ini, apa mungkin Ethan pernah dapat donor darah dari papa sehingga darah papa ada yang ngalir dalam darah Ethan? Makanya Ethan bisa sentuhan sama Eris."
"Astaga, pikiran kamu sampai jauh ke sana." Jefri terdiam beberapa saat. "Tapi sayangnya papa udah lama banget gak ikutan donor darah. Papa bahkan gak ingat kapan terakhir donor darah, mungkin sepuluh tahun yang lalu." lanjutnya.
"Iya juga sih. Aku jadi ikutan bingung.
"Daripada bingung dan malah berakhir pusing nantinya, sekarang kalian berdua mendingan tidur, ini udah malam. Jangan terlalu dipikirkan soal masalah tadi, biar papa di sini yang nyari tahu masalahnya. Semoga saja ini bisa bawa kabar gembira buat kita semua."
"Iya, Pa." jawab Eris dan Keenan berbarengan.
"Untuk Eris, kamu nikmati saja alurnya saat ini. Papa bolehin kalau kamu mau berteman sama Ethan. Syukur-syukur nanti kalau kamu dapat informasi terkait Ethan yang kehubung sama penyakit kamu. Dan untuk kamu, Keenan, jaga adikmu baik-baik di sana selama papa gak bisa turun langsung jaga kalian saat ini. Kalian paham?"
"Paham, Pa." jawab Eris. Sedangkan Keenan hanya mengangguk mantap.
"Kalau begitu malam ini sampai di sini aja dulu. Selamat malam my prince, my princess."
"Selamat malam, Pa." ucap kakak beradik itu bersamaan.
[Lots Of Love. Chocolovas]
__ADS_1