That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 7


__ADS_3

Menjadi pusat perhatian tentu tidak pernah terbayangkan oleh Eris sebelumnya. Jadi begitu sekarang ia menjadi objek tersebut, ia merasa risih sekaligus takut. Setiap kali bergerak ia merasa seakan-akan ada seribu pasang mata yang mengintainya. Mereka semua menatapnya ingin tahu. Hal ini dikarenakan tadi pagi ia berangkat sekolah bersama Ethan dan dilanjut cowok itu mengantarkannya sampai ke kelas.




Kabar tersebut tentu saja menyebar dengan sangat cepat ke seluruh antero sekolah. Dirinya akhirnya memilih menghabiskan waktu istirahatnya untuk berdiam diri saja di kelas, begitupun dengan Gina. Bedanya Gina sedang terhanyut pada ponsel yang digenggamnya sambil sesekali cekikikan tanpa menghiraukan sekitarnya, sedangkan Eris terhanyut dalam rasa khawatir. Apalagi mengingat banyaknya anak kelas lain yang penasaran tentang dirinya, jadi sepanjang koridor kelasnya tak sedikit anak yang sengaja lewat situ lalu berhenti sebentar untuk melihat siapa sih cewek yang bareng Ethan tadi pagi.



Kalau begini terus, Eris bisa dalam bahaya. Ia tidak tahu watak dari orang-orang itu dan apa yang mereka pikirkan tentangnya. Bagaimana kalau salah satu dari mereka ada yang iri dan berniat jahat padanya lalu mencoba mengorek-orek informasi tentang dirinya dan berhasil menemukan penyakitnya, lalu menyebarluaskannya ke sekolah. Astaga, Eris tidak bisa membayangkan yang lebih buruk lagi dari itu.



Ia beberapa kali sempat mendengar perkataan seperti, "Ehh itu bukannya cewek yang pakai jaket mulu yah? Kok bisa yah Ethan demen sama dia."



Bahkan ada tanpa perasaan berkata seperti ini, "Ooh cewek itu, gue penasaran kenapa dia pakai jaket terus."



"Kayaknya dia cewek penyakitan."



"Ihh serem, kalau gue jadi Ethan, mana mau gue jalan sama cewek penyakitan sama dia. Takutnya nanti dia malah nularin. Hiihhh..."



Lalu tawa meledek masuk ke telinganya. Gina yang hanyut sendiri dalam ponselnya jelas tidak mendengar krasak-krusuk seperti itu. Kalau sampai dengar, mungkin Gina akan menemui kedua cewek itu lalu menghajarnya. Jangan salah, Gina ini pernah ikutan ekstrakulikuler karate, jadi ilmu bela dirinya bisa diacungi jempol.



Tiba-tiba saja bisik-bisikan tentang dirinya berhenti dan kelasnya menjadi hening. Bahkan anak yang di luar pun tidak ada yang berhenti melihat ke arahnya lagi. Eris mengedarkan pandangan mencoba mencari sumber penyebabnya, dan pertanyaannya terjawab ketika dilihatnya Ethan masuk ke kelas Eris dengan gayanya yang tetap santai. Jantung Eris langsung memompa lenih cepat. Ia dilanda rasa penasaran ada apa sampai Ethan mendatangi kelasnya.



Cowok itu berjalan seakan-akan hanya dirinya di kelas ini. Ia kelihatan sama sekali tidak menghiraukan orang lain disekitarnya yang menatapnya kagum dan ingin tahu. Dan yang membuat Eris jadi sampai merinding adalah tatapan cowok itu yang selalu tertuju ke arahnya selagi berjalan. Menatap langsung ke dalam matanya hingga Eris merasa ingin tenggelam ke dalam bola mata Ethan yang tenang itu.



Setibanya di meja Eris, Ethan menyapa dan Eris balas menyapa. Eris kemudian menanyakan maksud kedatangan Ethan yang dijawab dengan pertanyaan lain dari cowok itu.



"Lo berdua kenapa gak ke kantin?" tanya Ethan sambil menunjuk Eris dan Gina dengan jarinya.



Eris melirik ke Gina lalu menyenggol lengan sahabatnya itu, kemudian melemparkan pandangan agar Gina membantunya menjawab pertanyaan Ethan begitu Gina berhasil mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Eris bingung lalu menatap Ethan dengan dahi berkerut. Astaga, Eris mengerang dalam hati. Pasti Gina baru sadar kalau ada Ethan, pasti kalau bukan karena senggolan Eris di siku cewek itu pasti Gina tidak akan pernah tahu.



Eris yang tahu tidak bisa mengabdalkan bantuan ke Gina tidak sempat mencari jawaban yang lebih baik ketika mulutnya terbuka, "Gak laper aja." bohongnya.



Baru juga sedetik kalimat itu terlontar dari mulutnya, detik selanjutnya perutnya malah berbunyi cukup keras sampai ia sangat yakin seratus persen kalau Ethan mampu mendengarnya. Wajar saja kalau Eris langsung meringis, ia melirik ke arah lain demi menghindari tatapan Ethan, dan malah mendapati Gina sedang membungkam mulutnya dengan tangan karena menahan tawa. Sepertinya Gina sudah paham kemana arah pembicaraan mereka.



"Jadi yang kayak gitu yang lo bilang gak laper ya?" Sudut bibir Ethan terangkat ketika mengucapkannya. Tidak salah lagi kalau cowok itu pasti sedang menertawakannya, pikir Eris.



"I--iya." cicit Eris malu. Ia melihat ke bawah ke arah tangan yang ada letakkan di pangkuan dan belum mau mendongakkan kepala kembali. Astaga, ia malu sekali. Eris jadi bingung mengapa setiap ada Ethan ia harus bertingkah begitu memalukan. Kalau bisa, Eris lebih memilih menghilang saja saat ini juga. Berharap muncul lubang besar di tanah yang dipijaknya kemudian menelannya dalam-dalam tanpa memuntahkannya kembali.



Di saat pikiran Eris mulai ngelantur, Ethan sudah membuka suaranya kembali. "Gue padahal tadi nungguin lo di kantin." cowok itu menyandarkan badannya ke meja, lalu menyelipkan satu tangannya ke dalam saku.



Jantung Eris berirama lebih cepat lagi dan lagi seakan sedang ikutan lomba lari marathon. Bukan hanya karena perkataan Ethan saja barusan yang mengejutkannya, melainkan karena Ethan yang berdiri dekat dengannya membuat Eris dapat menangkap aroma parfum dari tubuh cowok itu.



"Kenapa nungguin gue?" tanya Eris tercekat.



Ethan menoleh alu memiringkan kepala ke arahnya. Cowok itu menyeringai, "Gue mau jawab, tapi lo harus liat ke gue. Lo ngomongnya sama gue ya liatnya gue. Jangan lihat ke tempat lain."



Sambil mengumpati Ethan diam-diam dalam hati, Eris memberanikan diri melihat langsung ke cowok itu dan berhati-hati agar tidak melihat ke dalam matanya yang jernih itu. "Jadi kenapa lo nungguin gue?" ulang Eris yang bersyukur karena berhasil membuat suaranya tidak bergetar.



Ethan menarik kepalanya lagi lalu meluruskan punggungnya sesaat. "Lo kan masih utang makan bareng sama gue. Kemarin lo ngilang tiba-tiba dan gak balik lagi. Jadi hari ini niatnya gue mau nagih janji lo."



Eris mengernyit mencoba mengingat-ingat. "Setahu gue, kayaknya gue gak pernah janjiin apa-apa deh."



"Janji atau enggak, yang jelas lo harus nemenin gue makan kali ini." paksa Ethan. Tanpa ragu sedikitpun, ia meraih tangan Eris yang ada di pangkuan dan mencoba menarik cewek itu untuk berdiri. Membuat Eris terkesiap tajam. Kaget dengan gerakan tiba-tiba ini. Eris lebih kaget lagi ketika tubuhnya berkhianat dengan menuruti Ethan dan dia sudah beranjak dari kursinya padahal pikirannya masih belum bisa jalan dengan sempurna.



Ketika ditarik untuk jarak yang lebih dekat dengan Ethan, otak Eris sudah mulai jalan lagi setelah masa blank-nya tadi. Ia menahan kakinya agar tetap tetap ditempat.



"Tunggu! Tunggu dulu!" ujar Eris cepat dan menyadari bahwa nafasnya berubah tersengal dan pendek-pendek, seakan ia baru saja berlari ribuan kilometer.



Cowok ini ternyata gak ada malunya, batin Eris menjerit.



Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat banyak mata terkejut melihat ke arah mereka. Sekiranya bukan gue aja yang kaget, pikirnya. Walau ia sudah pernah dipegang tangannya oleh Ethan, tetap saja sensasinya seakan baru pertama kali. Jantungnya berirama semakin menggila dan seakan belum cukup mengejeknya, kupu-kupu yang tadinya tidur tenang sekarang mulai bangun dan mengepakkan sayap-sayapnya dalam perut Eris.



Selagi Ethan menunggu apa yang akan ia ucapkan, disempatkannya untuk mencari alasan agar ia bisa menolak menemani Ethan ke kantin.


__ADS_1


"Oh iya, kasihan Gina di kelas sendirian, mending gue nemenin dia. Dia tadi sempat sakit perut dan gue takut---"



"Mana ada, perut gue sehat-sehat aja."



"---bakalan kambuh lagi."



Ethan ******** senyum. "Gina aja bilang gak apa-apa."



Eris sedikit cemberut karena Gina bukannya membantunya agar tetap tinggal malah mendorongnya pergi. Seharusnya kan Gina tahu kalau Eris tidak mau keluar kelas karena--- astaga. Badan Eris langsung menegang begitu merasakan usapan halus di puncak kepalanya bersamaan dengan suara Ethan yang berkata, "Udah jangan ngambek. Gue juga niatnya baik biar lo gak kelaperan."



Dengan digituin gimana Eris gak langsung meleleh coba.



"Gue cuman mau lo makan gue makan. Gak lebih. Kalau udah selesai, gue janji anterin lo lagi ke kelas."



Seketika Eris jadi merasa tidak enak. "Oke, maaf kalau tadi sedikit--- hhmm.. Gitulah."



Ethan membalasnya dengan tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang samar-samar. "Gak apa, gue maklum kok. Lo pasti gak nyaman keluar sama gue disaat semua orang liatin kita berdua."



Eris membenarkan ucapan Ethan dalam hati.



Sebelum pergi ke kantin, Ethan menyempatkan diri untuk bertanya ke Gina. "Gin, lo mau nitip sesuatu?"



"Enggak, makasih."



"Gue traktir, biar nanti Eris yang bawain buat lo."



Gina diam sesaat. "Enggak usah deh. Biar lo sama Eris aja."



"Yakin nih?"



Gina diam lagi. Kemudian ia menyengir lebar menampilkan deretan giginya yang putih layaknya iklan pasta gigi di televisi. "Tapi beneran gratis kan?"




Gina berpikir sesaat dan ia memutuskan untuk tidak menolak rejeki. Kapan lagi coba ia makan dibayarin orang lain selain Eris. "Hmm kalau bakso beranaknya Pak Rahmat boleh?"



"Boleh. Jadi mau bakso beranak nih?"



Eris menertawakan Ethan dalam hati, cowok ini salah kalau nanya soal makanan ke Gina. Sahabatnya itu kalau ditanya soal makanan sih semuanya jelas bakalan mau. Apalagi gratisan. Jadi bakalan susah buat milih.



"Eh enggak-enggak. Kayaknya gue lebih pengen bubur ayam aja." ralat Gina.



Nah baru saja dibilang.



"Oke, bubur ayam. Lengkap?"



"Lengkap. Kacangnya suruh banyakin."



Setelah selesai, Ethan membawa Eris pergi dengan tangan mereka yang masih bertautan. Keduanya berjalan bersisian. Baru sampai pintu, suara Gina yang berteriak menghentikan keduanya.



"Gak jadi bubur ayam, gue mau nasi goreng!"



***



Ethan menuntun Eris mendekati mejanya yang sudah ada Gio dan dan Juna. Ledekan demi ledekan dilontarkan dua orang itu begitu keduanya sampai. Berbeda dengan Ethan yang mengabaikan dengan tenang, pipi Eris malah menjadi merah padam.



Beruntung Ethan langsung mendudukannya, jadi rasa malunya mulai berkurang. Dan tangan mereka yang awalnya bertautan sekarang sudah terlepas. Walau tidak melihat sekelilingnya secara langsung, namun Eris tahu kalau pandangan anak di sekitar kantin sedang tertuju ke arahnya. Bahkan sebelum di sini, selama di jalan, ia sudah merasakan banyaknya pasang mata yang melihatinya. Sengaja Eris tidak menatap ke arah mereka dan sebisa mungkin untuk menatap ke arah lain selain ke orang-orang itu. Ia takut akan melihat pandangan mencemooh kepadanya.



"Cielah tadi berangkat bareng. Helmnya kembaran juga, Bro." celetuk Gio meledek Ethan, namun badanya condong kepada Juna seakan mengajak temannya itu untuk ikutan meledeki Ethan.



Benar saja, Juna tak mau kalah dengan ikutan menimpali, "Jadi ceritanya udah ada yang official nih." katanya dengan kilat jahil di matanya. "Bisa minta pj kita." tambahnya.


__ADS_1


Eris bisa tahu Ethan menahan diri untuk tidak memutar bola matanya melihat kelakuan dua temannya itu. Cowok yang duduk tepat di sebelahnya itu menganggapinya tetap dengan kalem dan tenang, "Apaan sih lo berdua. Gue kan cuman berangkat bareng doang sama Eris. Gak ada yang lebih." katanya. Kemudian tanpa izin dahulu Ethan menarik es teh milik Gio yang tinggal setengah lalu menyeruputnya.



"Lebih juga gak apa-apa, iya nggak?" celetuk Juna sambil meminta persetujuan kepada Gio.



"Yoi. Selama gue sama Juna temanan sama lo dari masih SD, belum pernah kita berdua lihat lo benar-benar deket sama cewek kayak sekarang. Mungkin okelah pernah sekali dua kali tapi gak pernah sampe sedekat itu sampe mau berangkat sekolah bareng. Paling-paling cuman jalan di kelas, makan bareng di kantin. Udah gitu doang. Itupun terakhir kali gue lihat waktu masih SMP." papar Gio.



Ethan hanya menatap datar kedua temannya itu dari pinggiran gelas lalu dengan cepat menandaskan isinya. Lalu melirik Eris sebentar sebelum memandang ke depan lagi, kemudian berdehem, "Gue cuma belum nemu yang sreg sama hati gue." katanya kemudian.



Hati Eris terasa berdesir mendengar kata-kata Ethan. Apakah ia tidak salah tangkap kalau itu artinya ada kemungkinan Ethan ada hati padanya. Buktinya, Gio dan Juna juga berkata kalau Ethan tidak pernah dekat dengan cewek manapun sampai berangkat sekolah bersama. Lalu dengan kalimat Ethan selanjutnya itu tentu saja membuat Eris berharap lebih.



Gio dan Juna sudah membuka mulut ketika Ethan dengan cepat menyela. "Lo berdua udah pesan?"



Gio terlihat menelan kembali apa yang akan ia ucapkan tadi. Lalu ia menggeleng dan berkata bahwa ia dan Juna belum pesan apa-apa kecuali es teh yang sudah dihabiskan Ethan.



"Kalau begitu biar gue aja yang pesan. Lo semua mau apa?" tiba-tiba saja Juna sudah berdiri dan menawarkan diri untuk ia yang pesan makanan.



Ia menunjuk Gio dan cowok itu mau bakso, kalau Ethan dia mau nasi uduknya "Mamake", Eris ditanya terakhir sendiri dan ia ingin bakso seperti yang Gio pesan.



Eris dan Ethan sempat ribut sesaat gara-gara masalah bayarnya. Eris ingin membayarnya sendiri tapi Ethan bersikeras untuk dibayarkan cowok itu saja. Eris ngotot tapi Ethan rupanya lebih ngotot lagi. Jadilah ia yang kalah dan terima saja makanannya dibayarkan oleh Ethan.



Baru saja Juna akan pergi, seorang cewek berkulit putih dengan rambutnya yang sepanjang bahu datang dan langsung merangkul Juna dari belakang. Lalu seakan tidak malu ada yang melihat mereka berdua, cewek itu mengecup pipi Juna. "Sayang, aku gabung boleh?"



"Boleh dong." Juna melepaskan tangan cewek itu yang sedang merangkulnya lalu mendudukannya ke tempatnya duduk tadi.



Barulah saat itu Eris bisa dengan jelas melihat siapa cewek itu, ia tahu namanya adalah Ines. Nama panjangnya ia tidak hafal. Ines adalah pacarnya Juna. Sudah satu tahun lebih mereka pacaran. Dulu sekali waktu masih kelas sepuluh, ia ingat Juna menembak Ines di lapangan basket dan kejadian itu menjadi trending topick di sekolahnya sampai tiga bulan lamanya.



Ines ini bisa dibilang salah satu cewek paling populer di sekolahnya. Wajahnya kelewatan cantik, kulitnya putih, badannya langsing, dan segala hal yang diinginkan oleh cewek ada padanya. Belum lagi pembawannya yang tenang dan halus membuat siapa saja iri kepadanya. Untuk cowok saja yang berpapasan dengan Ines tidak ragu untuk menengok ke belakang berkali-kali. Sayangnya mereka hanya bisa menengok, tak bisa memiliki karena Ines sudah menjadi milik Juna seorang.



"Aku mau beli makan dulu. Kamu mau aku beliin apa?" kata Juna sambil mengelus rambut cewek itu.



"Samain aja sama kamu maunya beli apa." cewek itu tersenyum lebar. Lebar sekali sampai Eris berpikir apa pipinya tidak sakit.



"Gue aja yang pesan."



Ethan berdiri terlalu cepat dan tiba-tiba sampai hampir saja Eris terlonjak karena kaget. Ia menoleh dan melihat Ethan yang sudah berdiri dengan rahang yang mengeras. Mungkin tiga orang lainnya tidak bisa melihatnya, tapi Eris dengan jarak yang paling dekat, bisa. Ia bisa melihat otot Ethan menonjol dan berkedut samar seakan cowok itu menahan amarah.



Eris yang masih melihati Ethan dapat mendengar Juna yang mengatakan kalau tidak apa-apa kalau Juna saja yang pergi. Tapi bukannya menyerah, Eris malah melihat Ethan menggertakan giginya. Eris bingung. Ia terlalu bingung dengan rekasi Ethan ini yang terlalu tiba-tiba. Sebenarnya ada apa sampai suasana hati cowok itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat.



Eris mengalihkan pandangannya ke arah lain berharap tidak memandang ke wajah Ethan lagi yang penuh teka-teki hanya untuk mendapati tangan cowok itu terkepal di sisi tubuh. Buku jarinya sampai memutih karena saking kuatnya.



"Gue aja. Sekalian mau beli titipan temannya Eris." kata Ethan serak tanpa melirik ke Juna.



"Kalau gitu yaudah. Ini uangnya."



Eris melihat tangan Ethan yang terkepal tadi perlahan mulai mengendur. Lalu cowok itu menerima uang dari Juna dan mulai berjalan pergi. Bahkan untuk melihat ke arah Eris sedetikpun tidak. Sekarang setelah dari kejauhan, Eris tetap bisa melihat badan cowok itu kaku.



Kalau begini, Eris hanya bisa punya satu kesimpulan : cowok itu... cemburu.



Tapi cemburu kepada siapa. Disini kan tidak ada--- Oh, astaga!



Jantung Eris terasa mencelus begitu bisa merangkai kepingan kejadian ini. Sebelumnya Ethan baik-baik saja dan santai. Lalu setelah kedatangan Ines--  Eris merasa tenggorokkannya tercekat memikirkannya-- Ethan mulai bersikap aneh layaknya orang marah. Dan itu tidak berarti apa-apa lagi kalau bukan karena Ethan suka sama Ines padahal Ines adalah pacar Juna.



Melihat dari reaksi Ethan tadi, Eris jelas tidak salah lagi kalau Ethan memang cemburu.



Seakan ada ikatan batin antara dirinya dengan Ethan, Eris yang masig memandang kepergian Ethan melihat cowok itu perlahan berbalik dan menatap tepat ke arahnya. Dari tatapan mata cowok itu, Eris tahu kalau kesimpulannya itu benar.



Lalu apa maksudnya perkataan dan perlakuan Ethan padanya beberapa hari ini. Apa ia hanya dijadikan sebuah pelarian karena cowok itu tidak bisa memiliki Ines. Apakah Ethan sengaja menginginkannya ikutan makan bersama cowok itu hanya untuk dijadikan tameng. Eris sedih memikirkannya. Seharusnya sejak awal ia tidak boleh berharap lebih. Seharusnya ia tahu kalau ia tidal berarti apa-apa bagi Ethan.



Dan Eris belum apa-apa sudah merasakan hatinya mulai retak.



[Lots Of Love. Chocolovas]

__ADS_1




__ADS_2