
Eris terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. Perlahan, ia membuka matanya dan mencoba menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Badannya terasa lemas dan ia juga bingung mengapa dirinya bisa terbaring di ranjang UKS. Kemudian diingatnya kembali kejadian sebelumnya, ia sedang bermain kasti. Lalu...
Astaga hidung gue! Batinnya menjerit.
Reflek, Eris mencoba memegang hidungnya untuk memastikan apakah baik-baik saja, namun belum juga tangannya sampai, sebuah tangan lain sudah menahannya dahulu. Eris yang terkaget pun langsung menoleh.
"Ethan!" serunya. Matanya membelalak begitu melihat cowok itu.
"Jangan dipegang, nanti sakit." kata Ethan sambil menurunkan tangan Eris. Lalu ia menarik kursi lalu duduk di samping ranjang yang Eris tempati.
"Gu-- gue gak tahu lo ada di sini." ucap Eris tergagap. Ia masih kaget Ethan ada di sini bersamanya. Padahal sekarang kan bisa dipastikan sudah berganti jam pelajaran, dan Ethan tidak satu kelas dengannya. Mengapa cowok itu sampai mau ke sini?
Namun Ethan hanya tersenyum. "Gue juga baru masuk tadi. Lo udah lama bangun?" tanyanya.
Eris menggeleng sebagai jawaban. "Gue juga baru bangun."
Kemudian hening beberapa detik sebelum akhirnya Ethan memecah keheningan itu dengan berkata,"Ini ada salep, buat dioles ke hidung lo biar nanti lebih enakan." ujarnya setelah mengambil salep dari saku celana.
Eris pun menerima dan mengamati bungkus salepnya dari berbagai sisi. "Wadahnya masih disegel. Lo baru beli?" tebaknya kemudian.
Bukannya menjawab pertanyaan Eris, Ethan malah tiba-tiba saja merebut kembali salep yang sudah di tangan Eris. Gerakannya terkesan buru-buru. "Tadi anak PMR yang ngasih." saut Ethan sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Eris hanya bergumama mengiyakan. "Kalau gitu gue harus berterima kasih sama anak PMR itu. Lo kenal sama anaknya?"
"Gak."
"Tahu namanya ?"
"Gak."
"Kira-kira kelas berapa?"
"Gak tahu."
"Beneran sama sekali gak lihat di seragamnya dia namanya siapa?"
"Enggak. Sekarang lebih baik lo diam karena gue mau olesin nih salep ke hidung lo." tegas Ethan yang membuat Eris langsung terdiam tak bertanya lagi.
Sambil melihat Ethan yang sedang membuka salepnya, pikiran Eris jadi melayang-layang. Kalau Ethan yang olesin, baginya suasananya pasti akan terasa romantis, entah menurut Ethan bagaimana. Tapi kalau begitu, bisa juga nanti malah jadi canggung. Mau dipakai sendiri, sayang juga. Lagian ini kesempatan yang sangat langka yang mungkin gak akan terjadi untuk kedua kalinya. Sudah wajar, bukan, kalau ia tidak boleh menolak kesempatan selangka ini. Tapi.... Ahhh Eris jadi bingung sendiri.
"Ada apa?"
Eris mengerjap langsung. "Ehh lo ngomong apa?"
"Ada apa?"
"Emangnya ada apa?"
"Gak tahu. Lo tadi geleng-geleng sendiri."
Tuh kan. Eris meringis dalam hati. Terlalu banyak berpikir membuatnya sampai tidak sadar kalau ia geleng-geleng sendiri. Ia sangsi, mungkin sejatinya ia memang punya bakat malu-maluin diri sendiri.
"Ehh... Ethan, begini..."
"Apa?"
"Itu... Salepnya biar gue sendiri aja yang pakai." Eris berusaha merebut salep yang ada di tangan Ethan tapi oleh cowok itu langsung dijauhkan dari jangkauan.
"Gue aja. Kali ini gak ada bantahan." perintah Ethan.
Dan lagi-lagi Eris hanya bisa diam menurut. Setelah itu Ethan bergeser agar lebih dekat dan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat dengan Eris.
"Kalaupun lo mau pake sendiri, lo gak akan tahu di bagian mana yang harus kena salepnya. Jadi biar kali ini gue bantuin lo, paham?" jelas Ethan dan dijawab dengan anggukan oleh Eris.
Ethan mengoleskan salep itu ke sekitaran hidung Eris. Rasa dingin langsung menyebar ke hidungnya bersamaan dengan rasa panas yang mengalir naik ke pipi Eris.
Apalagi dengan posisi Ethan yang condong ke arahnya membuat Eris jadi gerogi dan salah tingkah. Ia bingung akan melarikan matanya ke mana. Kalau lurus ke depan artinya ia melihat ke dadanya Ethan, yang mana Eris yakin ratusan cewek di sekolahnya akan berlomba-lomba ingin mendapat si posisinya sekarang. Kalau Eris lihat ke samping, sama saja memalingkan wajah. Bukan hal yang sopan dan pantas. Kalau ke atas... Eris mencoba saja kalau begitu.
Dan sialnya dari semua pilihan,itu adalah pilihan paling salah. Karena dengan begitu ia berhadapan langsung dengan wajah Ethan. Eris merasa dirinya seakan teraliri listrik ketika mata mereka bertemu walau hanya dalam hitungan sepersekian detik.
Secepat itu tatapan mereka bertemu, secepat itu pula Ethan menarik dirinya kembali. Ethan berdehem membasahi tenggorokannya yang kering. "Kayaknya udah semua. Ini simpan, kalau masih sakit tinggal dipakai lagi."
"O-oke, sekali lagi makasih." Eris menggigit bibirnya dahulu sebelum melanjutkan. "Kalau udah, kayaknya gue mau balik ke kelas lagi deh."
Dari kerutan di dahi Ethan, Eris ragu cowok itu senang akan keputusannya tadi.
"Lo yakin?"
Eris mengangguk mantap. "Iya."
__ADS_1
Daripada sama lo di sini terus-terusan bisa-bisa gue mati karena serangan jantung. Lanjutnya dalam hati.
"Baiklah kalau itu yang lo mau. Tapi sebelum lo pergi, ada yang mau gue omongin dulu."
Eris menunggu. Ia memberikan waktu untuk Ethan menjelaskan apa yang ingin dibicarakan cowok itu. Setelah beberapa detik dalam keheningan akhirnya Ethan membuka suara.
"Gue mau lo besok ke rumah gue."
Apa Eris tidak salah dengar tadi? Ethan meminta dia untuk datang ke rumahnya?
Maksudnya, dia mau ngenalin gue sama orang tuanya gitu?!
Mata Eris membelalak seketika. Tangannya spontan bergerak ke arah kanan kiri dengan cepat. "T-tapi kan kita kan gak sampai ke tahap itu. Gue rasa terlalu cepat buat gue ketemu sama...."
Ucapan Eris perlahan terhenti begitu mendengar tawa Ethan dan melihat Ethan tertawa sambil memegangi perutnya.
Ehh atau jangan-jangan gue yang salah?
Ethan menyeka air mata yang sempat keluar di sudut matanya, sebelum kemudian tanpa aba-aba sudah mengacak-acak rambutnya Eris.
"Anak kecil ngomong apa sih. Gue itu minta lo datang karena bakalan ada pesta kecil-kecilan buat ulang tahun gue."
Tuh kan jadi gue yang oon. Masa gue sampai lupa kalau besok itu bertepatan sama ulang tahun Ethan, batin Eris.
"Jadi bukan mau---"
"Stop! Jangan diterusin!" Dengan muka memerah Eris menutupi kedua telinganya. Hal itu tentunya malah menyulut tawa lain meluncur kembali dari mulut Ethan.
Masih dengan tangan menutupi telinga, Eris turun dari ranjang. Awalnya ia limbung sesaat namun dengan cepat menyeimbangkan badannya kembali sebelum Ethan membantunya.
"Gue balik ke kelas dulu, ya. Gina pasti udah nyariin. Byee..."
Tanpa memberi waktu untuk Ethan bicara, Eris sudah berlari keluar. Teringat sesuatu, Eris berhenti mendadak. Kemudian ia berseru, "Terima kasih salepnya...!"
Setelah itu ia berlari kembali sampai ke kelas sambil menangkupkan kedua tangannya ke pipi.
Astaga bagaimana tadi ia bisa berpikir sampai ke situ. Apa jangan-jangan tadi waktu bermain kasti yang terkena bola itu bukan hidungnya tapi kepalanya makanya otaknya cidera dan jadi seperti ini. Pikirannya jadi gak waras. Karena sudah begini, bagaimana Eris bisa menghadap Ethan lagi tanpa malu dan keingat akan perkataannya tadi.
"Arggghh... Bego banget gue bego!" rutuknya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Tanpa Eris ketahui, jauh dari tempatnya sekarang, seorang cowok sedang tersenyum akan tingkahnya.
***
Ethan memberhentikan motornya tepat di samping Eris tapi Eris memilih untuk terus berjalan. Melihat Eris yang terus berjalan, Ethan melajukan motornya lambat-lambat agar tetap bersisian dengan Eris.
"Gue tadi ke rumah lo tapi lo udah berangkat duluan." kata Ethan duluan.
Memang benar. Eris sengaja berangkat lebih cepat dari biasanya karena ia harus mengambil pesanan miniaturnya yang untuk hadiah Ethan. Kalau pulang sekolah takutnya tidak keburu jadi sengaja ia meminta janji kepada si pemilik toko untuk mengambilnya pagi-pagi sekali.
"Gue kan gak tahu lo mau jemput. Lo juga gak bilang."
Benar lagi, soal Ethan datang ke rumahnya, Eris sama sekali tidak tahu menahu soal hal tersebut. Kalaupun tahu, kali ini Eris tentu juga akan menolaknya. Dengan kejadian salah sangka kemarin, Eris masih terlalu malu untuk bertatap muka langsung dengan Ethan.
"Kalau begitu..." Ethan bicara, kemudian berhenti, merogoh ke saku celananya untuk mengambil sesuatu.
"Siniin tangan lo."
"Buat apa?"
"Udah sini aja."
Eris menengadahkan tangannya. Lalu sedetik kemudian Ethan menempatkan benda pipih di atasnya. Ponsel Ethan. Tapi untuk apa?
"Ini...?"
"Simpan nomor lo di hape gue."
Belum juga Eris mencerna apa permintaan Ethan, cowok itu sudah menyela kembali.
"Selagi no nyimpan, gue markirin motor dulu." dengan itu, Ethan melajukan motornya kembali dengan Eris yang terpaku di tempatnya.
Ethan minta nomor gue.
Ethan minta nomor gue.
Ethan minta nomor gue.
Astaga! Seumur-umur belum pernah ada cowok yang secara terang-terangan minta nomor padanya. Apakah ia terlalu berlebihan kalau merasa sangat senang sampai jantungnya terasa seperti akan meloncat keluar dari sarangnya. Apalagi yang meminta sendiri adalah Ethan, cowok yang ia sukai. Lengkap sudah kebahagiaanya.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri sekarang, Eris bisa melihat Ethan sedang melepas helm. Anggap saja ia lebay, tapi baginya hal seperti melepas helm saja sama Ethan oleh Eris sudah terlihat keren.
Tidak mau berpikir terus melantur, Eris cepat-cepat mengetik nomornya dan menyimpannya di ponsel Ethan.
Tidak berselang lama, Ethan muncul kembali ke hadapannya. Sekarang cowok itu sudah bebas dari helm dan jaket yang tadi dipakai. Hanya memakai seragam sekolah biasa dan tas yang tersampir di bahu.
"Gimana, udah?" tanya Ethan.
Eris hanya mengangguk seraya menyodorkan balik ponsel milik Ethan.
"Ayo ke kelas. Gue antar."
Kebiasaan yang membuat Eris kalang kabut adalah Ethan yang tanpa aba-aba suka menggandeng tangannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Seperti sekarang ini, tangan hangat cowok itu sedang melingkupi tangan Eris. Membuka sela-sela jari Eris dan melengkapi dengan miliknya.
Mereka berjalan bersisian. Beberapa kali Eris hampir saja tersandung karena kurang memperhatikan jalan karena terlalu memfokuskan diri ke tangannya yang entah kenapa kalau bergandengan dengan Ethan itu tampak lebih indah rasanya.
Beberapa kali juga ia menangkap nyinyiran dari seseorang yang mungkin iri padanya. Kalau ia tidak salah tangkap, ia sempat mendengar suara Monic, namun belum sempat Eris menoleh melihat orangnya, Ethan mengeratkan genggamannya dan terus berjalan sehingga Eris tidak punya kesempatan.
Biarlah, kalau begitu akan ia anggap angin lalu saja kalau ada yang membicarakan hal-hal jelek tentangnya. Kalau ia pikirkan, ia juga yang akan rugi sendiri.
Saat sudah hampir mencapai kelas Eris, Eris dengan sengaja berhenti berjalan. Ethan mengikuti.
"Ada masalah?" tanya Ethan.
"Gak ada." bisik Eris. "Cuma..."
Belum selesai ia bicara, Ethan sudah menyela. Kali ini tangan cowok itu masing-masing menutupi kedua telinga Eris. Namun bukan itu yang membuat hati Eris menghangat, melainkan ucapan Ethan selanjutnya.
"Jangan pernah lo dengerin apa kata orang lain. Jangan dengerin kalau ada berita buruk tentang lo. Mereka itu sebenarnya gak tahu hidup lo seperti apa tapi mereka terus membuat spekulasi seakan-akan tahu hidup lo kayak apa. Anggap aja mereka gak ada, paham?"
Butuh waktu beberapa detik bagi Eris untuk mengembalikan nafasnya lagi. Karena saat Ethan bicara tadi, tanpa sadar ia sudah menahan nafasnya.
"Tapi, bukan itu yang mau gue omongin." Eris bersyukur suaranya masih bisa keluar walau hanya dalam berupa bisikan lirih.
Dahi Ethan berkerut. "Gue kira lo gak nyaman sama omongan orang lain."
"Bukan, bukan. Gue juga akan anggap mereka angin lalu."
"Terus tadi mau ngomong apa?" Ethan menaikkan salah satu alisnya.
"Gue mau ngomong..."
"Apa?"
"Se---"
"Se?"
Eris menarik nafas terlebih dahulu. "Selamat ulang tahun." suaranya kecil sekali sampai Eris sempat berpikir kalau Ethan tidak mendengarnya.
Namun sepertinya Ethan masih mampu mendengarnya dan tiba-tiba setelah melirik ke sekitar, ia mendekatkan wajahnya lalu berbisik ke telinga Eris.
"Nanti malam pakai baju warna putih. Biar kembar. Sama gue."
Dan dengan itu Eris merasa hatinya sudah tidak tertolong lagi. Ya, ia sudah jatuh terlalu dalam.
***
"Lo beneran udah yakin mau datang ke pestanya Ethan?"
Pertanyaan dari Gina itu membuat Eris terdiam seketika dari kegiatannya yang sedang mencatat materi yang ada di papan tulis. Kemudian Eris mengangguk mantap sebelum melanjutkan kembali acara mencatatnya.
"Gue yakin. Dan lo juga harus ikut nemenin gue." balasnya.
"Seyakin itu? Lo tahu kan di sana bakalan ramainya seperti apa." Gina menunggu jawaban Eris sambil menopang dagunya dengan tangan.
Kali ini, Eris benar-benar berhenti. Pulpen yang ia gunakan langsung ia letakkan ke meja. Dalam hatinya jujur ia saja sempat ragu, tapi ini ultahnya Ethan. Tidak semua orang diundang langsung oleh Ethan. Dan yang paling utama adalah Ethan adalah cowok yang ia suka. Mana mungkin Eris akan menghilangkan kesempatan emas untuk lebih dekat dengan cowok itu.
Oleh karena itu, Eris meneguhkan hatinya kalau ia tidak boleh ragu. Ia tidak boleh khawatir akan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Selama ini ia selalu menghindar kalau ada acara pesta, dan kali ini Eris ingin ikut dan merasakan bagaimana rasanya seperti yang dirasakan orang lain. Eris ingin merasakannya.
"Gue akan hati-hati. Gue bisa pakai gaun yang lengannya panjang." guman Eris.
"Gue percaya kalau lo bisa hati-hati. Tapi bagaimana dengan orang lain, gue rasanya gak percaya sama mereka." desah Gina. "Apa lo gak mau mempertimbangkan lagi keputusan lo itu? Gue ragu Kak Keenan akan ngeizinin lo pergi." tambahnya.
Eris mengerang. Astaga, ia bahkan lupa dengan Kak Keenan. Pasti kalau ia cerita ke kakaknya itu, ia tidak akan dapat izin untuk pergi. Berbohong pun tidak ada gunanya karena Keenan pasti akan langsung mengetahui kebohongannya. Bisa-bisa ia diadukan ke papa.
Tidak tidak tidak. Eris tidak boleh mudah menyerah seperti itu. Ia akan datang bagaimanapun caranya. Kalau kakaknya menolak mengizinkannya, Eris akan terus membujuk kakak laki-lakinya itu sampai setuju dan mengizinkannya pergi.
"Lo tenang aja. Gimanapun caranya, gue akan bujuk Kak KeenanĀ sampai ngizinin gue pergi."
__ADS_1